Berlangganan Sebagai Siasat Penghidupan di Pedesaan Jawa

Diposting pada tanggal 24-5-2014 oleh Wayah

Dede Mulyanto Pendahuluan Salah satu gejala yang tampak hampir di semua saluran penghidupan adalah hubungan berlangganan. Langganan sendiri merupakan istilah yang mengakar dalam budaya dan praktik pertukaran di Jawa (Alexander dan Alexander 2004: 225). Di Wetankali, istilah langganan merujuk pada berbagai hubungan yang cukup luas cakupannya: mulai dari hubungan seorang pemilik warung dan tukang becak yang mengantarnya ke pasar setiap pagi; seorang pedagang pasar dengan bandar yang memasok dagangannya; atau rumah tangga petani dengan seorang pedagang pengangkut yang membeli kelapa dari pekarangannya. Yang paling pokok dari hubungan berlangganan ini adalah bahwa hubungannya bersifat diadik dan timbal-balik meski salah satu di antaranya jelas-jelas lebih tinggi kedudukan atau kekayaannya. Berlangganan berbeda dengan kasus-kasus patronase, meski seringkali menunjukkan beberapa cirinya. Bila dalam patronase seorang tuan bisa mempunyai beberapa orang anak buah sekaligus dan sebaliknya seorang anak buah hanya boleh punya hubungan pengabdian dengan seorang tuan, maka dalam hubungan berlangganan, seseorang bisa menjalin lebih dari satu ikatan. Selain itu, dasar ikatan dalam berlangganan bukanlah pengabdian tapi tetap nilai tukar komoditi dalam jaringan pasarnya. Berlangganan menghubungkan orang per orang dalam pasar komoditi. Terbentuknya hubungan berlangganan tidak ditentukan oleh hubungan di dalam pertukarannya semata. Pertukaran antar dua orang (diadik) ini selalu diiringi pencarian masing-masing pihak akan informasi, baik dari tawar-menawar masing-masing pihak maupun dari pihak-pihak lain di luar hubungan pertukaran tetapi mempunyai informasi mengenai orang atau komoditi yang sedang dijajaki. Saluran informasi ini bisa melalui ketetanggaan, kekerabatan, atau pertemanan. Penciptaan hubungan berlangganan dilandasi upaya coba-coba yang sering tidak sebentar. Tawar-menawar, yang sebenarnya merupakan sarana penjajagan, bisa berlangsung lebih dari satu kali pertukaran. Hubungan yang kemudian tercipta akan tetap berlangsung selama kedua belah pihak memperoleh keuntungan yang dianggap wajar. Kewajaran ini diukur dengan nilai tukar yang dianggap layak oleh kedua belah pihak. Artinya, kewajaran dilandasi nilai komoditi yang beredar di pasaran. Penciptaan hubungan berlangganan berlaku baik dalam pertukaran barang atau pun tenaga kerja. Dalam pertanian, selain dalam derep yang relatif bersifat terbuka, sebagian kerja-kerja pertanian diorganisasi melalui hubungan langganan. Baca Selengkapnya >>

Share
powered by
Socialbar

Galeri Foto

Kumpulan foto dan artikel-artikel berbasis foto.

[+] Selengkapnya

Abiwara

Publikasi Ilmiah Prodi Sejarah STKIP Setiabudhi Rangkasbitung

[+] Buka Link Abiwara

Perspektif Mahasiswa

Kumpulan artikel/opini yang ditulis oleh Mahasiswa Prodi Sejarah

[+] Selengkapnya

© Copyright Prodi Sejarah 2011. All rights reserved.