“ T a l i ”

(Oleh Dc Aryadi, at 29 februari 2014)

Sambil nyeracau Sidik lari sekencang-kencangnya menuju sebuah toko kelontong. Semua orang yang ada didalam toko keheran-heran melihat tingkah laku Sidik yang tak lazim. Ia nyeracau dengan suara yang tak begitu jelas. Kemudian ia membeli lima belas meter tali tambang berwarna kuning. Dengan bergegas ia pulang kerumah. Sesampainya dirumah, Ia langsung melempar tali tambang itu ke atas bubungan rumahnya tapi ujung yang satu tetap dipeganggnya. Setelah tali yang ia lempar itu jatuh kemudian Ujung kedua tali itu tetap meneyentuh lantai. Tali itu hanya sekedar membelit salah satu kuda-kuda atap rumahnya.

Warga kampung yang sedari tadi memperhatikan tingkah lakunya mulai resah. Kabar dari mulut kemulut pun mulai berterbangan. Hingga terbangunlah sebuah gosip bahwa sidik akan bunuh diri dengan cara manggantungkan dirinya didalam rumah. Orang-orang semakin risau. Orang-orang semakin resah. Ada yang berteriak histeris. Takut jikalau benar Sidik bunuh diri dengan cara menggantungkan dirinya pada seutas tali yang lumayan panjang didalam rumahnya. Beberapa orang dari mereka ada juga yang saling mengutuk, saling menuding agar mengakui kesalahan yang telah diperbuat bahkan minta maaf kepada Sidik agar Sidik mau mengurungkan niatnya untuk bunuh diri. Ada juga yang menangis histeris sambil guling-gulingan ketanah ketika mendengar kabar bahwa Sidik akan bunuh diri. Ada juga yang sengaja menagis atau pura-pura menangis. Agar terlihat ikut bela sungkawa atas masalah yang dihadapi Sidik.

Suara nyaring dari Toa-toa masjid mulai bersahutan bahkan. Suaranya seperti memerintahkan atau menegur kepada setiap orang mendengar agar ikut turut prihatin atas masalah yang dihadapi Sidik dan memaafkan segala kesalahan sidik. Dan yang punya hutang agar segera merelakannya. Dengan begitu Mudah-mudahan Sidik mengurungkan niatnya untuk bunuh diri. Yang jelas Suara toa seolah-olah memaksa setiap orang yang mendengar berbondong-bondong menjenguk kerumah sidik.

Berita tentang Sidik yang berniat akan bunuh diri, ternyata terdengar hingga kekampung sebelah. Toa-toa Masjid dari kampung sebelahpun mulai bersahutan. Orang-orang yang mendengar desas-desus itupun mulai terpengaruh. Mereka saling bertanya kesana kemari, apa penyebab utama bahwa Sidik Akan bunuh diri. Sebelum mereka bertanya kepad orang lain. Mereka mengoreksi diri mereka masing-masing. Apakah selama ini mereka telah beruat salah kepada Sidik. Bila mereka tidak menemukan secuilpun kesalahan mereka terhadap Sidik barulah mereka bertanya kepada orang lain tentang kesalahan apa yang pernah mereka perbuat terhadap Sidik. Suara toa dari beberapa masjid yang lain juga menghibau. Agar siapa saja yang membuat hidup Sidik Tertekan, untuk segera memaafkannya. Atau jika ada dari orang yang sempat dihutangi Sidik Baik materi maupun moral. Agar mengihlaskannya secara Sukarela atau tanpa embel-embel lain. Ibu-ibu majelis ta’lim pun berkumpul di masjid-masjid dan musholah-musholah kecil untuk mendoakan agar Sidik diberi jalan kemudahan.

Dan dilapangkan fikiranya. Pada intinya mereka mendokan agar Sidik mengurungkan niatnya untuk bunuh diri. Oarang-orangpun mulai ramai mendatangi rumah Sidik. Ada yang datang dari beberapa kampung sebelah. Bahkan diatara mereka ada yang datang dari luar pulau Mereka yang dari Sumatra pun tak mau ketinggalan moment berharga ini, dari Bali sengaja membawa patung Leak sebagai oleh-oleh agar sidik mengurungkan niatnya. Yang dari ambon, Palu dan Maluku juga datang sambil membawa badik dan mandau. Yang datang dari Ujung Papua sengaja memabawa potongan emas murni agar Sidik mengurungkan niatnya itu. Mereka semua berbondong-bondong ingin mengetahui sebenarnya masalah yang dihadapi Sidik sehingga Ia akan mengakhiri hidupnya dengan cara gantung diri.

Beberapa pertemuanpun digagas. Forum-forum diskusipun dibentuk oleh para intelektual, mahasiswa, tokoh pemuda, Celeg bahkan partai-partai yang biasa berdebat kursi kepemimpinanpun hadir. Tak tanggung-tanggung Forum-forum itu sengaja mendatangkan beberapa Fropesor, Doktor dan ahli Fsikologi. Mereka terus berdiskusi bahkan saling menegangkan urat. Para sastrawan terama pun hadir sebagai pembicara, tak lupa Para penyair salon diminta membacakan puisinya sebagai bentuk perlawanan logika. Musisi-musisi handalpun datang sebagai pengisi acara selingan untuk mengendorkan kembali urat-urat leher yang semuala saling menegang.

Akhirnya mereka sepakat untuk langsung bertanya kepada Sidik. Masalah Apa yang membuat Sidik akan mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri. Keributanpun kembali terjadi. Ribuan orang yang hadir dirumah Sidik ternyata tak satupun yang berani masuk kerumah Sidik. Mereka saling menuding tentang Siapa yang sebenarnya berhak masuk kerumah Sidik atau siapa sebenarnya berhak bertanya kepada Sidik tentang maslah sebanrnya.

Sebelum mereka mengambil keputusan tentang siapakah yang berhak untuk masuk kedalam rumah dan sekaligus melakukan negoisasi dengan Sidik. Tiba-tiba Puluhan Mobil polisi datang dengan membawa tiga unit mobil ambulan sekaligus. Satpol PP pun tak mau ketinggalan. Mereka menurunkan puluhan anggotanya lengkap dengan pentungan dan dua unit mobil pemadam kebakaran.

Didepan Rumah Sidik Keributanpun tak dapat dielakan, mereka saling cemooh, saling dorong dan akhirnya meraka saling baku hantam. Ada yang terluka kena bogem mentah polisi yang berseragam komplit. Ada juga yang kena hantaman pentungan dari petugas Satpol PP. yang pingsan langsung didorong kedalam ambulan. Yang terluka langsung dilarikan kerumah sakit terdekat. Yang rusuh langsung disemprot oleh mobil pemadam kebakaran. Ban mobil dibakar disana-sini. Asap menegepul menghitam, langit diam dan tak ada-tanda-tanda akan turun hujan. Suasana panas seolah dipandu oleh teriknya matahari.

Didalam rumah Dengan hanya menggunakan celana dalam yang bergambar Donald bebek. Sidik termenung didepan tivi. Ia tak menghiraukan keributan yang tengah terjadi diluar rumahnya. Dihadapannya segelas kopi hitam, sebatang rokok keretek yang sedang menyala dan sepiring daging anjing yang sudah digoreng kering. Rokok itu ia hisap dalam-dalam. Matanya tertumpu pada kedua ujung tali yang sudah ia belitkan pada bubungan kayu kuda-kuda rumahnya. Sesekali matanya menoleh pada di tivi yang terus menyala. Kemudian ia mengambil salah satu ujung tali itu dan mengikatkannya pada sebuah jam dinding. Kemudian Ujung tali yang satunya ia ikatkan pada sebauh kalender. Kalender itu agak sedikit kusam. Berdebu. Ya karena kalender itu adalah kalender tahun 1999.

Setelah ia Mengikat kedua ujung tali tersebut dengan kalender dan jam dinding. Ia pun membuka pintu rumah lalu iapun duduk digawang pintu yang terbuka itu. Sambil memegang gelas kopi yang belum tuntas diminumnya.

Orang-orang yang sedari tadi rusuh. Tiba-tiba diam. Baku hantampun terhenti. Mobil pemadam kebakaranpun mengehtikan semburan airnya. Mungkin memang karena stok airnya sudah habis. Atau karena mesinnya macet. Api dari beberapa ban yang dibakar pun sudah tak ada. Tapi asapnya masih tetap mengepul walau tidak setebal tadi. Orang-orang menunggu Sidik untuk menjelaskan tentang apa yang tengah terjadi.

Setelah kopinya habis dan rokok ditanganya juga padam. Sidik pun berdiri lalu berjalan ketengah-tengah kerumunan itu. Kemudian Orang-orang pun memberi jalan seolah-olah pemimpin sebuah Negara akan meninjau sebuah lokasi pabrik atau meninjau peresmian jalan kota. Dengan hanya menggunakan celana kolor bergambar Donald bebek. Sidik pun naik ke salah satu mobil pemadam kebakaran yang ada disitu. Ia kemudian meminta mic pengeras suara kepada salah seorang yang ada disana. Perlahan-lahan ia mulai bicara. “Saudara-saudara sekalian yang hadir disini. Baik yang datang dari kalangan pejabat, pencopet, mahasiswa, cendikiawan dan lain-lain. Juga kapada saudara-saudara yang sudah datang dari jauh. Baik yang datang dari Sumatra, Ambon, Bali, NTB, NTT, Maluku, Palu bahkan yang sengaja datang dari Papua dan Irian Jaya. Salam takzim saya. Untuk diketahui bahwa saat ini saya tidak bisa mengulur-ngulur waktu atau menunda-nunda waktu lagi. Karena saat ini jam dinding dan kalender dirumah saya sudah saya ikat dengan tali tambang sepanjang lima belas meter. Untuk itu saya yakin waktu tidak akan tertunda lagi. Sekian dan. Terima kasih “. Sidikpun Turun dan langsung masuk kedalam rumah. Kemudian ia mempersilahkan kepada wartawan agar mengambil gambar dirinya dengan tali tambang yang sudah di ikat dengan kalender usang dan jam dinding tua itu. Ia juga mempersilahkan kepada para wartawan untuk segera membuat jumpa pers. Sebelum jumpa pers dilaksanakan ia berbisik kepada seorang wartawan dari sebuah Koran nasional. “Jika ingin mengadakan jumpa pers. Saya harap jangan mengulur-ngulur atau menunda-nunda waktu lagi ya.”.

SILAKAN BERI KOMENTAR

Temui Kami di Facebook

Statistik

  • 110Dibaca Hari Ini:
  • 1067Dibaca Kemarin:
  • 53996Dibaca Per Bulan:
  • 570444Total Pengunjung:
  • 106Pengunjung Hari ini:
  • 51015Kunjungan Per Bulan:
  • 2Pengunjung Online: