AMERIKA SERIKAT 1844-1861

Pada pertengahan abad ke-19 bangsa Amerika sangat menjunjung tinggi nilai-nilai kebebasan individu dan equality dalam kesempatan politik dan ekonomi. Tumbuh dan berkeinbangnya nilai-nilai tersebut bersamaan dengan tumbuhnya keyakinan akan pentingnya pembebasan invividu dari batasan-batasan sosial politik. Sikap yang sama juga ditandai dengan upaya perluasan wilayah ke arah barat untuk kepentingan ekonomi. Lebih lanjut perkembangan ekonomi tersebut berpengaruh terhadap pembentukan perbedaan regional bam di bidang ekonomi. Kawasan timurlaut berkembang menjadi pusat industri, selatan berkembang menjadi pusat industri kapas dan barat menjadi pusat produsen bahan makanan. Perbedaan tersebut menjadi salah satu penyebab terjadinya ketegangan regional yang berkaitan dengan pola ekspansi serta penggunaan budak dalam kegiatan ekonomi. Pembentukan ekonomi nasional ditandai dengan terbentuknya polarisasi ekonomi antar daerah.

Ekspansi ke arah barat juga dipengaruhi serta tergantung pada pertumbuhan penduduk.

Pada tahun 1830 jumlah penduduk AS tercatat 30 juta. Tahun 1850 jumlah tersebut meningkat menjadi 23 juta dan pada tahun 1861 menjadi 31 juta. Dengan demikian dalam waktu 30 tahun jumlah tersebut meningkat hampir tiga kali Upat. Pertumbuhan tersebut terutama disebabkan oleh migrasi dari negara-negara Eropa. Misalnya dalam waktu sepuluh tahun 1840-an -1850-an Jerman dan Irlandia menyumbang empat juta imigran. Sebagian pendatang baru tersebut membeli tanah pertanian di AS bagian tengah dan sebagian lagi tinggal di perkotaan dan menjadi buruh di sektor industri. Didukung oleh kemajuan di bidang transportasi, ekspansi ke arah barat setnakin intensif hingga pada tahun 1850 setengah dari jumlah penduduk AS bermukim di sebelah barat pegunungan Appalacian. Mereka yang bermukim di kawasan barat memilih sektor agraria. Dengan meningkatnya permintaan bahan makanan dari Eropa seperti gandum, jagung, babi dan lain-lain menyebabkan usaha bidang agraria sangat menguntungkan dan mendorong petani untuk meningkatkan spesialisasi dan intensifikasi usahanya, Meningkatnya produksi pertanian ditunjang oleh peningkatkan sarana transportasi Sistem kanal yang menghubungkan daerah barat dan timur terus~ ditingkatkan sehingga memudahkan pengangkutan hasil pertanian dari daerah produsen ke daerah pemasaran Akhirnya New York menggantikan peran New Orleans sebagai kota pengekspor hasil pertanian. Distribusi dan pengangkutan hasil pertanian semakin meningkat setelah dibangunnya jaringan jalan raya tahun 1830-an. Sedangkan jaringan kereta api, walaupun akhirnya menyaingi jaringan jalan raya, telah memudalikan mobilitas penduduk bergerak dari satu daerah ke daerah lain. Dalam tahun 1848 telah dibangun jaringan kereta api sepanjang 6000 ‘mil yang membentang di sebelah timur pengununan Appalachian. Tahun 1850-an pembangunan jaringan jalan raya, yang sebagian besar dibiayai oleh para investor industri manufaktur dan pertanian, meningkat dengan sangat cepat sehingga pada tahun 1860-an telah terbangun jaringan jalanraya sepanjang 30.000 mil yang menghubungkan kota-kota seperti New York, Philadelphia, Baltimore dan lain-lain. Sedangkan enggunaan telegraph, yang pertama kali diciptakan oleh Samuel Morse, telah mengubah konsep jarak menjadi sangat relatif.

Periode ini juga ditandai dengan pertumbuhan industri yang sangat pesat. Pada tahun 1850-an sebagian besar negara-negara bagian telah memiliki undang-undang mengenai perusahaan korporasi yang mengatur masalah perusahan, permodalan dan penjualan saham. Tumbuhnya perusahan-perusahaan industri ditunjang oleh investor luar negeri serta ditemukannya emas di California. Diciptakannya mesin uap serta mesin pengolahan karet oleh Charles Goodyear dan mesin jahit oleh Elias Howe juga telah meningkatkan industrialisasi. Ditemukannya satu alat industri telah mendorong temuan di bidang industri lainnya, serta industrialisasi sektor agraria di kawasan Barat telah mendorong perdagangan luar negeri terutama dengan negara-negara Eropa, Asia seperti China (dalan perjanjian Wanghsia, 1844} dan Jepang (Perjanjian Kanagana, 1854, oleh Commodore Matthew Perry).

Petumbuhan idustri yang cepat berpengaruh terhadap pembentukan kelas sosial. Tidak semua golongan masyarakat memperoleh keuntungan dan mampu melakukan mobilitas sosial vertikal. Kelompok industriawan dan pedagang besar telah membentuk kelas tersendiri sebagai golongan menengah dan tingal di perkotaan, Sedangkan kelompok buruh tani dan industri serta pendatang bam yang belum bisa mengakomodasi kegiatan ekonomi setempat menempati golongan bawah. Mereka tinggal di daerah kumuh perkotaan (slum) serta di pedesaan. Meningkatnya jumlah imigran mendorong menurunnya upah buruh dan meningkatkan pengangguran. Para buruh yang sulit mendapat pekerjaan bersedia menerima upah rendah dan mendorong semua anggota keluarganya bekerja untuk memperoleh upah yang subsisten (cukup), Temyata meningkatnya perindustrian hanya terjadi di kawasan timur laut. Di kawasan Selatan, kegiatan ekonomi tetap terpusat pada sektor agraria seperti tembakau, gandum, padi dan gula. Sedangkan kapas merupakan komoditi yang paling menguntungkan dan menjadi primadona dalam kegiatan ekonomi agraris Selatan. Di bidang industri, daerah ini masih menggantungkan diri pada barang buatan kawasan utara (timur laut). Peningkatan sektor agraria di kawasan ini ternyata telah memperkuat lembaga perbudakan yang digunakan sebagai tenaga kerja di sektor agraria Kawasan ini juga menjadi puat perdagangan budak. Pada tahun 1860 sekitar 75 persen warga kulit pengusana industri agraria di kawasan ini memiliki dan mempekerjakan budak negro yang jumlahnya mencapai 4 juta orang.

Warga kulit putih Amerika yang menjunjung tinggi nilai-nilai demokrasi dan hak-hak individu serta equality ternyata tidak menerapkan nilai yang dianutnya pada orang-orang kulit hitam (negro). Mereka masih memperlakukan diskriminasi ras. Warga negro di Selatan tidak diakui hak-hak sipilnya. Mereka seringkali tidak memperoleh perlindungan hukum dari tindakan sewenang-wenang majikan; mereka dipersilit masuk gereja dan sekolah. Jual beli dan lelang budak di kawasan ini sering kali memecah belah keluarga budak. Satu keluarga budak dapat dipekerjakan di majikan yang berbeda-beda. Mereka yang dianggap sebagai bagian dari property atau barang milik bisa diperlakukan apapun menurut kehendak majikan. Perlakukan yang sewenang-wenang tersebut sering menimbulkan perlawanan dari para budak, seperti perlawanan yang dipimpin oleh Nat Turner tahun 1830 di Virginia dan membunuh 57 orang kulit putih sebelum akhirnya dia juga dibunuh pemerintah kulit putih.

Perlawanan para budak negro terhadap pemilik dan pemerintah kulit putih di negara- negara bagian Selatan AS menimbulkan pro dan kontra dan menjurus ke arah terbentuknya perbedaan ideologi antara Utara dan Selatan. Kelompok yang kontra terhadap perbudakan, terutama dari daerah Utara, disebut sebagai abolisionis Mereka sering kali mengkritik kelompok konservatif Selatan yang feodalis melakukan pelanggarari terhadap hak asasi manusia dan nilai- nilai equality Sedangkan warga Selatan, baik warga sipil maupun pemerintah menganggap bahwa kritikan kaum abolisio&is merupakan tindakan subversi yang akan menghancurkan tatanan hidup warga kulit putih Selatan. Sedangkan kaum abolisionis menuduh warga selatan

akan menghancurkan nilai-nilai republikan AS seperti dicita-citakan oleh para pendiri AS Penduduk Selatan merasa khawatir bahwa dihancurkannya lembaga perbudakan akan menghancurkan institusi sosial yang telah terbentuk. Perbedaan cara pandang tersebut menyebabkan perbedaan ideologis antara negara-negara bagian utara dan selatan dan menjurus ke arah perbedaan politik di antara elit politik mereka.

Ekspansi warga AS bukan hanya dilakukan ke wilayah AS belahan barat melainkan juga ke kawasan yang dikuasai oleh Mexico di selatan. Pada tahun 1820-an, sejumlah orang Amerika yang dipimpin oleh Stephen Austin mulai bermukim di Texas yang dikuasai oleh Mexico. Sebagian pemukim tersebut adalah pemilik budak. Dengan demikian perbudakan juga diberlakukan di sana. Setelah jumlah pemukim semakin banyak, warga Texas yang tidak begitu suka dengan pemerintah Mexico menyatakan kemerdekaannya tahun 1832. Amerika Serikat yang berkepentingan dengan Texas melakukan aneksasi tahun 1844.Setelah melalui perdebatan dalam perlemen AS akhirnya Texas menjadi negara bagian AS tahun 1945. Setelah memperoleh Texas, orang-orang AS ternyata masih terus melakukan ekspansi. Wilayah terakhir yang digabungkan dengan AS yang diperoleh dari Mexico adalah California. Dalam perang dengan Mexico, (lihat bab VII mengenai sejarah diplomasi) Mexico mengalami kekalahan total dan terpaksa menandatangani Perjanjiari Guadalupe Hidalgo tahun 1848.

Dalam perjanjian tersebut Mexico menarik klaimnya atas Texas dan menyerahkan New Mexico dan California serta mengakui Rio De Grande sebagai perbatasan kedua negara. Pada tahun 1853 AS juga memperoleh tambahan wilayah di sebelah selatan California yang berbatasan dengan Mexico. Sedangkan Oregon diperoleh dari Inggeris setelah ditandatangani perjanjian dengan negara itu tahun 1846.

Disintegrasi dan masalah Perbudakan (1852-1861).

Masalah perbudakan di beberapa negara bagian AS merupakan salah satu faktor yang menimbulkan pefahg’ sipil (civil war) tahun 1860-an. Sikap bangsa Amerika terhadap perbudakan dapat dijelaskan dari cara pandang budaya mereka mengenai kedudukan budak dalam sistem sosial mereka. Salah satu bagian penting dalam identitas budaya bangsa Amerika sejak tahun 1789 adalah adanya keyakinan para pendiri bangsa (founding fathers) bahwa orang-orang negro hitam secara biologis dianggap tidak bisa menjadi warganegara dewasa, rasiqnal dan bertanggungjawab. Para pendiri tersebut, termasuk Jefferson, berpandangan bahwa pada akhirnya orang-orang kulit hitam harus dikembalikan ke Afrika.

Identitas budaya lainriya adalah peranan kawasan Amerika Serikat bagian barat dalam pemeliharaan sifat republik. Jeferson, seperti halnya para pendiri AS lainnya, percaya bahwa rasionalistas tanggungjawab warga kulit putih hanya dapat menyebar ke berbagai kawasan AS apabila ditunjang dengan pemilikan lahan-lahan pertanian. Bagi Jefferson, dimana orang-orang kaya dan miskin di Eropa bergerombol bersama di kota-kota Eropa, ilmu politik adalah tidak rasional dan menghancurkan. Ketika penduduk, AS meningkat, wilayah toritorial AS akan menjadi katup yang aman sebab penduduk dapat menyebar dimana-mana dan memperoleh lahan pertanian yang memadai, tidak seperti di Eropa dimana penduduk hanya bergerolbol di perkotaan. Dengan demikian, bagi para pendiri bangsa, wilayah terotorial AS berkaitan erat pembentukan sifat politik nasional, dan orang-orang kulit hitam dianggap sebagai ancaman bagi sifat-sifat politik Amerika tersebut. Generasi Jefferson mendifinisikan perbudakan sebagai suatu kejahatan yang diperlukan untuk menjaga kulit berwarna terpisah dari kulit putih. Akan tetapi logika dari situsi ini, bagi Jefferson, adalah baik lembaga perbudakan maupun orang-orang negro tidak perlu mendiami wilayah teritori Amerika. Konsensus antara pemimpin Selatan dan Utara yang terjadi tahun 1780-an berusaha untuk membatasi perbudakan hanya pada kawasan yang sebelumnya sudah memberlakukan sistem tersebut. Sampai tahun 1830-an, sebagian besar pemimpin Selatan tetap menganggap perbudakan sebagai sebuah kejahatan yang diperlukan sambbil berharap bahwa pada akhirnya orang-orang negro akan dikembalikan ke Afrika dan sepakat bahwa Kongres “memiliki kewenangan dan tanggungjawab untuk membatasi semakin meluasnya sistem perbudakan ke arah barat. Namun demikian, di antara para pemimpin selatan telah terjadi perubahan cara pandang mengenai sistem tersebut. Terbukti pada tahun 1848 partai Whig dan Demokrat di kawasan tersebut tidak lagi sepakat dengan usulan agar perbudakan dihapuskan dari daerah mereka. Ini berarti bahwa sebagian besar warga kulit putih selatan mendefinisikan perbudakan sebagai sesuatu yang positif Perubahan sikap tersebut disebabkan sistem ini sangat menguntungkan bagi perkebunan. Para pemilik ladang pertariian dan perkebunan di Carolina Selatan, Georgia hingga Texas sangat diuntungkan dengan sistem tersebut. Adanya pandangan bahwa orang-orang negro itu dipulangkan saja ke Afrika disebabkan ketika sistem tersebut tidak terlalu menguntungkan di kawasan kawasan tertentu di perkebunan tembakau. Akan tetapi ketika penduduk negro meningkat jumlahnya di Georgia, Alabama, Mississippi, dan Louisiana maka sulit bagi warga kulit putih untuk berpikir menghapuskan sistem tersebut. Pergeseran cara pandang juga disebabkan adanya perubahan dalam kebudayaan Amerika sejak tahun 1789-1830-an. Perkembangan demokrasi model Jackson menyebabkan terjadinya partisipasi politik dari golongan menengah bawah. Sebagian dari kalangan tersebut mulai menganut Protestan Avangelis atau Protestan Penginjil yang bersifat kritis terhadap nilai-nilai filsafat dan agama yang dianut oleh para pendiri bangsa. Protestan Avangelis mencurigai cara pandang pencerahan abad ke-18 yang menekankan pada intelegensia, ilmu dan akal, Sedangkan kaum Avangelis berpendapat bahwa kebenaran itu harus ditemukan pada Bibel terutama pada Perjanjian Lama (Old Testament). Warga Amerika yang mengubah agamanya ke dalam Gereja Methodist dan Baptist diajarkan bahwa penganut agama tersebut harus menghindari korupsi moral atau berkompromi dengan dunia pendosa yang banyak dianut oleh golongan menengah atas pada akhir abad ke-18. Perubahan tersebut akan menjadikan mereka sebagai orang-orang sued yang sempurna. Bagi warga kulit putih di kawasan Selatan yang telah menganut Methodist dan Baptist adalah sulit untuk tetap mempertahankan pendapat bahwa perbudakan merupakan kejahatan yang diperlukan. Pendapat tersebut merupakan kompromi dengan korupsi. Jika mereka menganggap atau mendefinisikan perbudakan sebagai sesuatu pekerjaan yang positif berarti mereka tidak berkomoromi dengan kejahatan. Bagi sebagaian besar warga kulit putih di Selatan, yang pada tahun 1840-an sekitar 80 persennya adalah penganut Baptis dan Methodis (dan tahun 1844 mereka memisahkan diri dari Gereja Nasional), percaya bahwa dipertahankannya sistem perbudakan tersebut didasarkan atas ayat dalam Perjanjian Lama yang mengakui adanya sistem tersebut. Perbudakan sudah ditakdirkan oleh Tuhan. Institusi yang didirikan oleh Tuhan itu merupakan institusi atau lembaga yang sempurna. Banyak sejarawan masa lalu yang membesar-besarkan faktor sistem feodalisme abad pertengahan akhir (neo-medieval) sebagai penyebab utama perbudakan yang terjadi di Virginia, Karolina Selatan dan Georgia Fitzhugh, bukan atas faktor pandangan agama. Ketika sebagian besar warga kulit putih Selatan tahun 1830-an menganggap bahwa perbudakan merupakan sesuatu pekerjaan yang baik dan positif, mereka juga menjadi sangat sensitif mengenai makna kewarganegaraan nasional. Mereka sangat menjunjung tinggi liak persamaan (equal right) warga kulit putih terhadap warga kulit putih lainnya yang tinggal di kawasan utara. Ketika penduduk warga kulit putih Utara mempersoalkan perbudakan, sebagai sesuatu kejahatan yang harus dihapuskan dari kawasan teritorial AS, warga Selatan merasa terancam. Mereka menganggap bahwa tidak ada seorangpun yang memiliki alasan yang syah untuk menyanggah warga kulit putih Selatan yang memiliki hak persamaan seperti halnya warga Protestan dan warga negara yang demokratis Warga Selatan seperti memperoleh kemenangan ketika Mahkamah Agung melalui keputusan Dread Scott yang meminta Kongres untuk melindungi perbudakan di wilayah teritori tertentu di AS. Adanya mobilitas sosial vertikal warga kulit putih golongan bawah menjadi golongan menengah bawah berpengaruh terhadap semakin kuatnya perasaan anti kulit hitam. Waga kulit putih golongan bawah yang pada awal abad ke-18 belum dapat masuk ke dalam “sistem kasta” kulit putih yang menganggap kulit hitam tidak memiliki hak sama dengan warga kulit putih, seperti mendapat kesempatan untuk menunjukkan sikap rasialisnya. Setelah masuk menjadigolongan menengah, mereka meninggalkan sikap equalitynya dengan warga kulit hitam dan mendefinisikan konsep demokrasi sesuai dengan “sistem kasta” yang menganggap bahwa tidak sepantasnya warga kulit putih bekerjasama, bergaul dan menempatkan posisi sama dengan warga kulit hitam. Pada tahun 1857, sikap warga kulit putih selatan tersebut dikecam oleh pemimpin kulit putih Utara dan mengehendaki agar pasal dalam keputusan Dread Scott, mengenai tidak diakuinya status kulit hitam sebagai warganegara, dihapuskan.Partai-partai Politik dan Gerakan Pemisahan Diri. Perselisihan ideologis dan budaya antara warga kulit putih Utara dan Selatan mengenai masalah perbudakan juga terjadi dalam kehidupan partai-partai politik. Pada tahun 1854  terbentuk partai Republikan yang merupakan partai gabungan dari berbagai partai yang anti- perbudakan. Seperti halnya partau Liberty tahun 1844 dan Partai Free-Soil tahun 1848, Partai Republikan menjadikan anti-perbudakan sebagai prinsip partai. Partai ini semakin besar sejalan dengan runtuhnya Partai Whig yang bertikai sendiri dalam tubuh partai megenai masalah tersebut. Partai ini- juga tidak menjadi ancaman bagi partai yang sedang berkuasa tahun 1856, sebab kelompok Demokrat masih bersatu dan partai lain seperti Native American mampu menarik pecahan partai Whig di Utara dan Selatan. Partai ini berusaha mengatasi ketegangan antara wilayah dengan mengajukan memunculkan keaslian Protestanisme di AS dan menentang semakin meningkatnya imigran katholik dari Jerman dan Irlandia. Pada tahun 1856 Partai Republikan menjadi partai yang besar dan menjadikan konsep abolisi (pembebasan perbudakan) sebagai prinsip perjuangan partai. Partai ini memunculkan issu bahwa kaum aristokrat Selatan akan menyebarkan perbudakan ke seluruh negeri. Perbudakan arus dihapuskan dari seluruh negeri AS. Namun demikian, sikap Partai Republikan tidak terlalu mengancam partai-partai lain sebab pendukungnya sebagian besar berasaal dari warga Utara. Partai Demokrat di Selatan yang pendukungnya berasal dari kalangan petani menjadikan kawasan Utara dan Barat sebagai daerah yang sangat penting bagi AS sebab sebagain besar warganya adalah petani. Partai ini menganggap bahwa ancaman terhadap kebesaran partai ini berasal dari Utara, seperti dilakukan oleh Hamilton tahun 1790-an dan dari Sistem Perbankan AS tahun 1820-an yang berusaha mengeksploitasi potensi ekonomi Selatan. Pada tahun 1856 konflik terbuka antara yang pro dan anti-perbudakan terjadi di Kansas Territory. Ketika New England Emigrant Aid Company mengirimpan pemukim ke Kansas untuk mengolah tanah di sana, tiba-tiba penduduk pro-perbudakan dari Missouri mengintimidasi mereka. Pada tanggal 24 Mei 1856, pemimpin Free-Soil, John Brown, melakukan seranganbalasan terhadap pemukim pro-perbudakan di Pattowatomie Creek dan membunuh 5 orang. Peristiwa tersebut menimbulkan konflik dan pertikaian dalam tubuh Senate yang berasal dari Utara yang anti dan Selatan yang pro-perbudakan. Dalam konvensi Partai Republikan tahun 1860, posisi partai ini masih sama seperti tahun 1954, yaitu bahwa perbudakan harus dihapuskan dari AS. Namun demikian, untuk menghormati aspirasi politik warga selatan, partai ini mulai mengambil sikap moderat dengan mengakui eksistensi perbudakan di Selatan dan menentang tindakan John Brown sebagai seorang abilisionis ekstrim. Partai ini menominasikan Abraham Lincoln dari Illinios sebagai calon presiden. Partai Keempat, Constitusional Unionist yang merupakan gabungan dari sempalan Partai Whigs tahun 1852 dan Native American, menominasikan Senator John Bell dari Tennessee. Dalam pemilihan presiden tahun 1860, Douglas dari Partai Demokrat hanya menang di satu negara perbudakan, Missouri. Bell menang di negara budak Virginia, Kentucky, dan Tennessee. Breckinridge dari partai Demokrat menang di Delaware dan Maryland yang juga menerapkan sistem perbudakan. Sedangkan Abraham Lincoln menang di negara-negara utara yang anti-perbudakan. Lincoln memperoleh 1.866.452 suara, Douglas, 1.376.957 suara, Breckinridge, 849 781 suara, dan bell 588.879 suara. Melihat hasil pemilihan presiden, segera parlemen Carolina Selatan mengadakan si dang untuk mempertimbangkan pemisahan din dari Union AS. Pada tanggal 20 Desember 1860, secara resmi Carolina menyatakan pemisahan din dari AS. Konvensi parlemen negara bagian itu menyatakan bahwa peristiwa tersebut bukan merupakan pemberontakan melainkan hanya pernyataan hak sepertidiakui menurut Deklarasi Kemerdekaan tahun 1776 dan Artikel mengenai Konfederasi tahun 1778 yang menyatakan bahwa setiap negara bagian berhak menyatakan kedaulatan, kemerdekaan daa kebebasannya. Karolina juga menyatakan keluar dari Konstitusi tahun 1789 yang dibentuk oleh seluruh negara bagian. Tindakan negara bagian ini segera diikuti oleh negara bagian lainnya, yang ingin tetap mempertahankan sistem perbudakan, seperti Alabama, Georgia, Florida, Mississippi, Louisiana dan Texas. Sedangkan Karolina Utara, Virginia, Tennessee dan Arkansas menyatakan melakukan hal yang sama pada bulan April dan Mei 1861. Mereka akhimya membentuk Konfederasi Negara-negara bagian Selatan yang ingin tetap mempertahankan perbudakan dan beribukota di Montgomery, Alabama Warga Selatan yang mendukung para gubernuraya menyatakan bahwa mereka tidak bisa bekerjasama dengan partai Demokrat di Utara dan Patai Republikan yang memberi kemenangan pada Abraham Lincoln sebagai presiden. Akhimya setelah Abraham Lincoln dilantik sebagai presiden  baru bulan Maret 1861 dan berusaha mengatasi pemberontakan di Carolina Selatan tanggal 15 April 1861, perang sipil meletus dan melibatkan negara-negara bagian yang pro dan anti- perbudakan.

SILAKAN BERI KOMENTAR

Temui Kami di Facebook

Statistik

  • 1355Dibaca Hari Ini:
  • 1839Dibaca Kemarin:
  • 15292Dibaca Per Bulan:
  • 348082Total Pengunjung:
  • 1245Pengunjung Hari ini:
  • 14519Kunjungan Per Bulan:
  • 7Pengunjung Online: