Antara Bhineka Tunggal Ika dengan Manunggaling Kawula Gusti

Berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sejak 17 Agustus 1945 bukanlah suatu bangunan baru, yang terpisah dari sejarah bangsa ini. Jauh sebelumnya, sejak kehadiran kerajaan Sriwijaya dan Majapahit, kemudian diteruskan kerajaan-kerajaan Islam sekitar abad ke 13-16 M, sejarah bangsa dan Negara kita sudah terukir selama berabad-abad. Lahirnya Pancasila sebagai dasar Negara, sebagaimana diakui sendiri oleh Soekarno, merupakan kristalisasi nilai-nilai yang digali dari pengalaman sejarah tersebut. Demikian pula semboyan yang dicengkram oleh lambang negara burung Garuda, “Bhineka Tunggal Ika.”

Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika secara lughawi berasal dari bahasa sansakerta. Pancasila berarti lima prinsip (dasar), Bhineka Tunggal Ika berarti berbeda-beda tetapi tetap satu. Lebih dari itu, penggunaan istilah itu bukan ciptaan Soekarno dan Purbacaraka. Jauh sebelumnya, dalam sejumlah naskah kitab para pujangga dan empu serta inskripsi sejumlah prasasti semasa keemasan kerajaan Nusantara Sriwijaya ataupun Majapahit, semboyan tersebut sudah muncul.

Meski berasal dari bahasa Sansakerta, yang dikatakan identik dengan ajaran Hindu/Budha, sebetulnya semboyan Bhineka Tunggal Ika sangat relevan pula dengan ajaran-ajaran agama besar sesudahnya. Dalam agama Islam misalnya, secara tegas Allah berfirman:

Artinya: “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”

Selanjutnya, kemajemukan manusia tersebut dipungkasi pula dengan firman-Nya dalam ayat yang sama, sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertaqwa diantara kamu (paling taat dan patuh kepada-Nya)

Esensi firman Tuhan tersebut berlaku bagi semua agama di dunia, terutama agama monoteis (Yahudi, Kristen, dan Islam). Kristen Protestan, Katolik, Islam, Hindu, Budha, Konghucu, ataupun agama-agama lain, hakikatnya sama, yakni mengaku adanya zat yang menciptakan dunia dan seisinya. Zat inilah yang wajib disembah dan ditaati oleh semua orang tanpa pandang bulu sehingga kualitas ketaan seorang manusia berada di atas ras, golongan, status sosial, warna kulit, serta perbedaan-perbedaan lahiriah laninnya.

Tidaklah mengherankan jika kemudian dalam tradisi tasawuf atau mistisime islam, ada diskursus yang lebih menekankan sisi esoteric dan esensi atau hakikat. Di sana, banyak kita jumpai para asketis dan kaum sufi tidak henti-hentinya mengajak pentingnya persatuan agama-agama (wihdatul adyan). Al Mughiths Husain Al Hallaj (w.309 H), misalnya, rela dihukum mati untuk mempertaruhkan teror hululnya yang terkenal itu. Menurut tokoh mistis agung ini, semua agama itu hakikatnya satu, yaitu mengakui, mengabdi, dan menyembah kepada Tuhan alam semesta, Tuhan semua agama. Ini adalah hakikat agama, sementara namanya, yakni atribut dan simbol-simbolnya, bisa saja bervariasi, Yahudi, Nasrani, Islam, dan sebagainya namun jelas sekali lagi hakikatnya itu tidak ada bedanya.

Gagasan Al-Hallaj tersebut merupakan konsekuensi logis dari teori “Nur Muhammad” yang pernah dikedepankannya sebagai teori asal mula segala sesuatu, peristiwa, amal perbuatan, serta ilmu pengetahuan yang ada. Menurut teori ini, Tuhan dalam kesendirian-Nya ingin melihat dan memperkenalkan diri-Nya. Maka, setelah dalam Kesendirinan-Nya, Tuhan menciptakan sifat dan asma-NYa. Namun, sifat dan asma tersebut masih belum jelas, masih gelap, karena belum ada tajalli (cermin) yang memantulkannya. Adalah Nur Muhammad ciptaan Tuhan yang paling tepat memancarkan sifat dan asma-Nya. Teori ini kemudian oleh sufi besar Ibn Arabi (w.638 H) dengan konsepnya “al insanul kamil”. Salah satu karya monumental Ibn Arabi adalah konsep tentang wihdatul wujud sebagai landasan untuk memperkaya teori tersebut dalam kaitannya yang terkenal Futuhatul Makkiyyah dan Fushufhul Hikam.

Dalam sejarah islam, perpecahan pertama kali yang dialami umat islam mencapai titik kulminasinya pada peristiwa “Al Fitnatul Kubra” (malapetaka besar). Malapetaka besar tersebut bermula dari terbunuhnya Khalifah Utsman ibn Affan oleh para demonstran. Kemudian, Ali ibn Abi Thalib, sebagai penggantinya, dituntut oleh umat islam (termasuk Thalhah, Zubair, dan Aisyah) untuk mengeksekusi para pelaku pembunuhan tersebut. Karena tidak puas, mereka kemudian melancarkan perang terhadap Ali yang dikemudian dikenal dengan Perang Jamal. Tuntutan serupa juga dilayangkan Mu’awwiyah, keluarga Utsman, yang kemudian terlibat perang dengan Ali, dikenal dengan Perang Shiffin.

Namun dibalik semua itu, keberhasilan Mu’awiyah memindahkan pusat kekuasaan dari Madinah ke Damaskus, menguatkan dugaan akan ambisinya untuk merebut pemerintahan. Jika ditelusuri secara seksama, ini bukan karena ajaran agama yang diyakini, melainkan lebih karena berkobarnya intrik-intrik politik antara sesama umat islam. Konflik-konflik semacam ini hampir berlaku pula dalam setiap kasus pertikaian umat islam di seluruh dunia. Eksekusi Al-Hallaj yang didakwa sebagai penganjur ajaran sesat oleh kaum formalis dan juris islam. Jika ditelusuri dengan detail, justru dilatarbelakangi oleh nuansa politis. Pasalnya, Al-Hallaj dilihat sangat toleran terhadap sekte Syi’ah Qaromithah, suatu kelompok oposisi terhadap dinasti Abbasiyah saat itu.

Demikian pula kasus yang menimpa Syaikh Siti Jenar, seorang wali agung di tanah jawa pada masa Wali Songo, dalam banyak kisah disebutkan Syaikh Siti Jenar dieksekusi karena menganut paham ”Manunggaling Kawula Gusti” (ittihad) yang dikembangkanny. Namun, jika ditelaah lebih jauh, pembelaan Siti Jenar terhadap rakyat untuk menegakkan keadilan, membuat penguasa saat itu kebakaran jenggot sehingga berinisiatif menyingkirkannya dengan bantuan legitimasi para Wali Songo.

Demikian pula kasus-kasus yang muncul belakangan yang kita saksikan sendiri dari kerusuhan di sejumlah daerah, konflik antar penganut agama dan etnis, hingga kerusuhan berdarah Mei 1998. Itu semua merupakan ujian bagi kelangsungan Bhineka Tunggal Ika di Nusantara. Semuanya bersifat “Politis”. Tetapi dibungkus dengan bermacam-macam bentuk dan kemasan. Semua mengarah pada upaya merobek-robek semboyan Bhineka Tunggal Ika itu.

Diambil dari:

Prof. Dr. KH. Said Aqil Siradj dalam Risalah Nahdlatul Ulama, No. 17/Thn III/1432H/2010, h.41-43.

SILAKAN BERI KOMENTAR

Temui Kami di Facebook

Statistik

  • 1355Dibaca Hari Ini:
  • 1839Dibaca Kemarin:
  • 15292Dibaca Per Bulan:
  • 348082Total Pengunjung:
  • 1245Pengunjung Hari ini:
  • 14519Kunjungan Per Bulan:
  • 3Pengunjung Online: