Apakah Aku (Mahasiswa) Harus Lulus Tepat Waktu?

Saya rasa pertanyaan ini merupakan pertanyaan yang tidak asing lagi bagi sebagian besar mahasiswa. Tapi uniknya, saya begitu heran mengapa pertanyaan ini baru mengendap diotak mahasiswa saat mereka telah mencapai tahun keempat akademiknya (atau bisa dikatakan tingkat akhir) di dalam kampusnya. Saya pikir, sebagai seorang mahasiswa yang baik, harusnya dia telah memiliki visi yang jelas didalam hidupnya, baik itu jangka pendek, menengah dan panjang termasuk dalam penentuan tahun kelulusan. Jadi bisa dikatakan, seharusnya pertanyaan ini harusnya telah lama diendapkan didalam otak mahasiswa, sedari dia menapakkan kaki dikampus tempat ia menuntut ilmu.

Mungkin inilah yang membedakan kehidupan mahasiswa negara maju dengan negara berkembang terutama dalam penitian karir pendidikannya. Para mahasiswa di negara maju telah merencanakan jenjang pendidikannya sedini mungkin, hingga kita telah ketahui bersama bahwa kebanyakan lulusan dari negara maju kebanyakan bertitle paling minimal S2 (Master Degree) karena mereka faham, bahwa untuk berkompetisi dalam bidang manapun di era globalisasi ini, sangat penting memperhatikan keahlian bidang mereka. Berbeda dengan para mahasiswa di negara berkembang, kebanyakan dari mahasiswanya terjebak pada algoritma berpikir ‘belajar-lulus S1 (Bachelor Degree) – bekerja’ sehingga penetapan waktu kelulusan dan apa saja hal yang akan dilakukan di kampus tidak termanajemen dengan baik karena orientasinya adalah cukup bekerja , keluarga dia menjadi makmur, dan selesailah pula hidupnya. Terlepas dari usaha keras dan nasib, maka tak salah jika jalur karir alumni mahasiswa negara maju jauh lebih berkembang dengan cepat alih-alih mahasiswa negara berkembang.

Setiap zaman memiliki tantangannya sendiri. Dahulu para aktivis mahasiswa harus mengorbankan waktu kelulusan kuliah mereka hingga bertahun-tahun lamanya karena tantangan waktu dosen yang terbatas dan perjuangan radikal mereka bergelut dengan pemerintah yang otoriter. Sekarang kita dapat melihat kurikulum yang telah rapi, dosen yang mumpuni, dan pemerintah yang tidak seotoriter dahulu, saya pikir perlu adanya gebrakan pembuatan sistem dan paradigma baru dalam dunia mahasiswa, karena tantangan zaman kita sangat berbeda dengan tantangan dizaman mereka. Tantangan zaman kita adalah ‘bagaimana cara kita lulus tepat waktu tanpa menurunkan standar kualitas mahasiswa kita?’ Inilah pertanyaan yang harus kita jawab bersama-sama di era globalisasi dan pasar bebas saat ini.

Orientasi mahasiswa menjadi titik penting dalam penanamana paradigma mulai dia menjadi seorang mahasiswa hingga nanti akan melebur menjadi satu dengan masyarakat. Setidaknya ada tiga tahap yang sebaiknya dilakukan dalam orientasi mahasiswa untuk menjawab tantangan saat ini. Tiga tahap yang harus dilalui ini adalah Proyeksi, Proteksi, dan Prestasi. Ketiga tahap ini harus dilalui para mahasiswa agar mereka dapat mengoptimalkan diri mereka sebagai seorang mahasiswa tekun dimasa kini dan menjadi seorang alumni mahasiswa gigih dimasa depan.

Tahap proyeksi adalah tahap untuk membuka cakrawala berpikir mahasiswa tentang fungsi, peran dan posisinya di kehidupan berbangsa serta tantangan kontemporer yang akan mereka hadapi dimasa depan nanti. Diharapkan mereka nantinya akan sadar, dan mereka pun akan memikirkan jawaban pertanyaan ‘mau jadi apa saya?’, ‘mau kemana saya?’, ‘kapan saya harus lulus?’ dan pertanyaan lainnya yang menjadi cikal bakal life plan’s track mereka. Mereka akan memilih jalur kehidupan mereka untuk dapat memaksimalkan potensi mereka selama mereka menjadi mahasiswa.

Tahap proteksi adalah tahap untuk melindungi jalur pilihan kehidupan mahasiswa. Tak dapat dipungkiri bahwa setiap perjalanan hidup seseorang pasti terdapat rintangan didalamnya hingga dapat menyebabkan stagnansi gerak dan pembelokan jalan yang tidak sesuai dengan jalan yang seharusnya. Untuk itu, penting sekali kepada pihak-pihak terkait untuk melakukan proteksi pada perjalanan mereka menuju apa yang mereka cita-citakan pada bangsa ini.

Tahap terakhir adalah tahap prestasi. Pada tahap ini, mahasiswa telah mencapai level aktualisasi diri mereka dengan berprestasi sesuai dengan bakat, minat, dan potensi keprofesian mereka. Mungkin ada diantara mereka yang menjadi tokoh-tokoh mahasiswa didalam kampusnya, ada yang menjadi pemenang dalam berbagai kompetisi, dan mungkin bahkan ada diantara mereka yang menjadi seorang penulis handal diberbagai media masa dan maya. Sebenarnya keberhasilan tahap proyeksi dan proteksi dapat diukur pada tahap ini. Jika kedua tahapan ini berjalan dengan baik maka tahap ketiga ini pun seharusnya juga dapat berjalan dengan baik.

Saat ini memang paradigma mahasiswa lulus tepat waktu masih sulit sekali berkembang di negara kita. Sementara para mahasiswa diluar negeri sana telah berlomba-lomba untuk meraih tingkat pendidikan setinggi-tingginya, kita masih terjebak pada paradigma lama butuh waktu lebih dari empat tahun untuk menjadi mahasiswa seutuhnya. Padahal Rhenald Kasali pernah berkata didalam bukunya, ubahlah sesuatu dengan kata ‘mengapa’. Pernahkah kita bertanya mengapa kita tidak berupaya mengubah paradigma lama itu menjadi paradigma baru dimana kita dapat menjadi mahasiswa seutuhnya dalam empat tahun? Dan mengapa kita terus bercengkrama dengan paradigma lama tersebut? Anda (mahasiswa) lah yang dapat menjawabnya.

( BAGAIMANA DENGAN MAHASISWA PRODI SEJARAH ???)

1 Komentar

  • nna

    Nov 02, 2010

    ya pasti bagi mahasiswa , waktu sangat penting, bagaimana mengisi waktu itu menunjukkan kualitas mahasiswa, terutama tepat waktu, terima kasih ya materi sejarahnya banyak sekali

SILAKAN BERI KOMENTAR

Temui Kami di Facebook

Statistik

  • 1445Dibaca Hari Ini:
  • 1839Dibaca Kemarin:
  • 15382Dibaca Per Bulan:
  • 348163Total Pengunjung:
  • 1326Pengunjung Hari ini:
  • 14600Kunjungan Per Bulan:
  • 7Pengunjung Online: