Bandit Terorganisasi di Banten sejak Abad Ke-19

KOMPAS.com — Bicara soal kehidupan pedesaan di Banten pada abad ke-19 tak akan jauh dari perbanditan. Layaknya Robin Hood, bandit pada masa itu didukung dan dibantu oleh berbagai lapisan masyarakat yang mendukungnya. Pasalnya, bandit pada kala itu biasanya adalah sebutan orang yang merampok orang-orang kaya untuk kemudian dibagikan kepada rakyat jelata.

Di antara bandit yang terkenal adalah Mas Jakaria yang karier hidupnya dalam perbanditan berlangsung pada 1811-1827. Jakaria mengaku sebagai orang suci. Sebagai bandit, itu adalah turunan dari bapaknya yang juga seorang bandit yang oleh pemerintah kolonial dijuluki pemberontak.

Di sini terlihat bagaimana budaya mistik, berupa kekebalan, kekuatan supranatural yang melekat pada bandit, masih begitu dibanggakan. Dan, kekuatan itu tak lain demi membela rakyat. Demikian ditulis Suhartono W Pranoto dalam Bandit-bandit Pedesaan Jawa: Studi Historis 1850-1942.

Pranoto menjelaskan, bagaimana pemerintah kolonial menjuluki Jakaria sebagai pemberontak yang rohnya pun dapat membantu perlawanan Jakaria sebagai bandit sosial, yaitu dalam Peristiwa Cikandi pada 1845.

Pertengahan abad ke-19, suasana pedesaan Banten sangat tidak aman. Pegawai setingkat wedana kesulitan memberantas perbanditan. Masyarakat lokal tak ada yang mau buka mulut melaporkan perampokan yang terjadi meski perampokan merajalela. Para pemimpin pemerintahan tentu saja meminta anak buahnya untuk memberantas, tetapi para pamong praja atau wedana kesulitan mendapat informasi. Dari sinilah muncul upaya sogok menyogok alias jilat menjilat dari para pamong praja terhadap atasan agar posisinya aman.

Mereka sibuk mencari alibi, mengumumkan pemberian hadiah bagi siapa saja yang berhasil menyerahkan bandit, sebuah upaya melepas tanggung jawab.

Bandit lain adalah Sahab, Conat, Ija, Sakam, dan Kamudin meski mereka tak semuanya bandit sosial. Sahab beroperasi di Banten selatan dan berpengalaman masuk keluar penjara. Bahkan kemudian ia diangkat menjadi Patih Lebak supaya bisa melindungi sekaligus menjadi bayangan dari pemerintah yang sedang berkuasa. Dan dari semua itu yang berbicara paling kuat adalah uang.

Bandit lain, Ija dan Sakam, merajalela tanpa ada yang mampu menghentikan. Bahkan sampai jatuh korban dari pihak Belanda. Alhasil, setelah semua putus asa, dicarilah “pengganti” Sakam bernama Suhari untuk menggantikan Sakam. Pada 1886, Suhari dipenjara menggantikan Sakam. Dikatakan bahwa Sakam-lah yang sudah tertangkap. Padahal, Sakam masih bebas berkeliaran.

Sekadar informasi, Multatuli dalam buku Max Havelaar, sejak awal abad ke-19 di Banten yang namanya bandit sudah terorganisasi. Mereka beroperasi di Banten, Tangerang, Jatinegara, Karawang, dan Bogor.

WARTA KOTA Pradaningrum Mijarto

SILAKAN BERI KOMENTAR

Temui Kami di Facebook

Statistik

  • 36Dibaca Hari Ini:
  • 1839Dibaca Kemarin:
  • 13973Dibaca Per Bulan:
  • 346869Total Pengunjung:
  • 32Pengunjung Hari ini:
  • 13306Kunjungan Per Bulan:
  • 0Pengunjung Online: