BANK BANTEN

BANK BANTEN

Oleh D. Soedjana

Di sudut kota Pandeglang, tak jauh dari alun-alun, terpampang sebuah baliho Kantor Pos, dengan warnanya yang ngejreng. Tak ada yang istimewa dari nama dan logo Kantor Pos itu, akan tetapi tulisan kecil di bagian bawah yang menunjukkan alamat sekretariatnya sedikit “mengganggu” pikiran orang yang melintas. Tulisan itu adalah, “Sekretariat: Jalan Bank Banten, Pandeglang”.

Memang tidak banyak yang bertanya, terutama orangtua, benarkah Bank Banten pernah ada? Tidakkah mungkin nama jalan yang hanya ratusan meter tersebut dinamai demikian, jika tak pernah ada institusi atau gedung yang difungsikan sebagai Bank Banten. Kalau saja pada tahun 1997 Pemerintah Daerah Kabupaten Pandeglang tidak membongkar bangunan bergaya art deco yang di bagian atas dindingnya bertuliskan ‘BANK BANTEN’, tentunya pertanyaan-pertanyaan di atas akan langsung terjawab.

Padahal, pada tahun 1950-an, Bank Banten pernah menjadi ikon ibukota Daerah Swatantra Tingkat II Pandeglang, sekaligus menjadi salahsatu penggerak roda perekonomian masyarakat bukan hanya di wilayah Pandeglang, melainkan di wilayah Karesidenan Banten. Keberadaan Bank Banten tak bisa dilepaskan dari kiprah para veteran pejuang kemerdekaan, khususnya di wilayah Kabupaten Pandeglang.

Berawal dari terbitnya Keputusan Menteri Pertahanan RI nomor 193 tahun 1950 tertanggal 9 Mei 1950, tentang prosedur pengembalian tenaga-tenaga darurat Tentara Nasional Indonesia (TNI) ke masyarakat, semasa clach (agresi militer Belanda) kedua, yang isinya: (1) bagi yang inginmasuk TNI, diberikan kesempatan melalui keuring (tes/ujian); (2) bagi yang tidak ingin masuk TNI, dan/atau yang tidak lulus keuring, akan dikembalikan ke masyarakat disertai perlakukan/pemberian berupa Surat Keputusan demobilisasi, surat tanda penghargaan, demobilisasi paket pakaian, dan demobilisasi bonus untuk satu kali pemberian (eenmalig).

Rupanya keputusan menteri tersebut “dimanfaatkan” oleh para petinggi militer di Pandeglang untuk kembali menggabungkan para veteran pejuang , dalam bentuk dan wadah yang berbeda. Adalah Mayor Raden Sjachra Sastrakusumah, petinggi militer yang pernah menjadi komandan Sektor XV (dibaca: lima belas) Kabupaten Pandeglang, saat memimpin pasukan bersama laskar rakyat menghadapi tentara Belanda pada Agresi Militer ke-2 tahun 1949, yang menggagas mendirikan sebuah instelling koperasi dan perbankan milik para veteran.

Terkumpul tidak kurang dari 5000 orang nama pejuang yang pernah tergabung dalam laskar rakyat di Sektor XV/Kabupaten Pandeglang, yang kemudian diajukan untuk memperoleh tunjangan atas hak-hak mereka sebagai veteran pejuang, sebagaimana yang diatur dalam Surat Keputusan Menteri Pertahanan RI tersebut di atas.

Pada periode pertama, pengajuan tunjangan bagi ribuan demobilisant terelasisasi sebanyak 3.733 orang Tenaga Darurat TNI fase pertama, yang memperoleh tunjangan sebesar Rp 187,30 per-orangnya. Kiranya sejumlah dana tersebut, “dikompromikan” untuk tidak diberikan seluruhnya kepada para veteran, mengingat para veteran menyepakati membentuk sebuah wadah baru berbasis ekonomi koperasi dan perbankan “milik” mereka.

Sebesar Rp 100,- dari dana yang ada selanjutnya dijadikan “modal saham” untuk pendirian Bank Banten; Rp 50,- disalurkan kepada Koperasi Desa; Rp 20,- disampaikan ke Pusat Koperasi “Laksana” di Pandeglang; Rp 1,- disumbangkan ke Yayasan Beasiswa Pandeglang; Rp 2,30 sebagai biaya administrasi; sedangkan sisanya sebesar Rp 14,- merupakan bagian pegangan milik para demobilisant.

Hingga akhirnya Pada tanggal 27 September 1954, Raden Sjachra Sastrakusumah bersama delapan orang rekan sejawatnya mendirikan lembaga perbankan berbasis koperasi bernama Maskapai Andil Indonesia (MAI) Bank Banten, yang berpusat di Daerah Swatantra Tingkat II Pandeglang, bermodalkan dana gabungan saham milik ribuan veteran.

Perkembangan MAI Bank Banten, mencapai puncaknya pada tahun 1957, tatkala berhasil mendirikan gedung megah di jantung kota Pandeglang, yang peresmiannya digelar meriah pada hari Senin, tanggal 9 September tahun itu. Pembukaan selubung prasasti yang dilakukan oleh Bapak Koperasi Indonesia, Dr. Muhammad Hatta, didampingi Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal Mayor AH Nasution, Gubernur Bank Indonesia Mr. Sjafruddin Prawiranegara, menandai kebangkitan semangat juang para veteran dalam mengembangkan kekuatan ekonomi perbankan di Indonesia, khususnya di Banten.

Sayang, usia Bank Banten tidak terlalu lama, sepuluh tahun kemudian Bank yang berhasil membuka cabang di Jakarta dan Bandung ini mengalami kemunduran yang mengakibatkan bangkrutnya lembaga perbankan kebanggaan orang Banten ini.

Kalau saja gedung Bank Banten masih berdiri, tentu nasibnya tak sekedar dijadikan nama jalan semata, akan tetapi menjadi api penyemangat untuk kembali membangun kebesaran masa lalu. Kalau dulu para veteran berhasil menggabungkan kekuatan, kenapa kita sekarang tak bisa? Selamat Ulang Tahun Veteran…

Penulis Peneliti Banten Heritage,

Dosen Sejarah STKIP Setia Budhi Rangkasbitung

SILAKAN BERI KOMENTAR

Temui Kami di Facebook

Statistik

  • 1705Dibaca Hari Ini:
  • 1035Dibaca Kemarin:
  • 13803Dibaca Per Bulan:
  • 346745Total Pengunjung:
  • 1566Pengunjung Hari ini:
  • 13182Kunjungan Per Bulan:
  • 10Pengunjung Online: