Banten = Tangerang

Tangerang = Banten

(Sebuah Kajian Toponim)

Oleh Dadan Soedjana

Seorang teman pernah bertanya kepada orang Bali soal peristiwa yang menghebohkan dunia, yaitu ’bom Bali’. Tatkala pelaku ditangkap dan diketahui salahsatunya berasal dari Banten, bagaiman sikap dan perasaan orang Bali, marahkah? dendamkah? atau bagaimana?

Dengan santai kawan dari Bali menjawab, “wajar jika kami marah, tapi kami tidak dendam, sebab orang Banten saudara kami,” demikian kira-kira jawaban orang Bali saat itu.

Jawaban singkat yang bijak dan manusiawi itu tidak membuat kaget, yang mengherankan tatkala kawan dari Bali mengatakan bahwa orang Banten dianggap sebagai saudaranya Bali, yang barang tentu tidak sekedar berucap atau hanya sebuah nada menghibur.

Ternyata, jika ditelaah dari sisi bahasa, kata ’banten’ bagi orang Bali mengandung nilai-nilai agung dan sakral. Banten menurut orang Bali adalah sesembahan atau sesajen yang merupakan salahsatu unsur penting dalam setiap upacara keagamaan Hindu di Pulau Dewata tersebut.

Makna ‘banten’ sebagai sesembahan ternyata ditemukan juga di sebagian masyarakat Banten Selatan, yaitu di Mandala Kanekes yang mendefinisikan ‘banten’ sebagai ‘qurban’, yang artinya juga ‘sesembahan’.

Ada banyak arti kata banten, selain dari sesajen yang tercatat dalam kamus besar Bahasa Indonesia. Menurut Tb. Haji Achmad, dalam buku Pakem Banten yang diluncurkan tahun 1935, bahwa kata banten berasal dari bantahan. Definisi ini boleh jadi berdasarkan banyaknya peristiwa pemberontakan di Banten, baik masa Kesultanan maupun pendudukan Belanda.

Lihat saja pemberontakan petani Banten 1888, lima tahun pasca meletusnya Gunung Krakatau, yang dikomandoi KH Wasid di Cilegon atau pemberontakan-pemberontakan lain, sehingga Gubernur Jenderal Herdaman pernah mengumpat “pemberontakan di Banten adalah sebuah tradisi”.

Selain itu, kata banten diambil dari istilah ‘ban inten’ yang berarti daerah yang dikelilingi (ban) kemakmuran (inten). Boleh jadi istilah ini mengacu pada kejayaan Kesultanan Banten pada periode Sultan Ageng Tirtayasa, hingga diibaratkan dikelilingi intan permata.

Masih dalam Pakem Banten (1935), istilah banten disadur dari ‘ketiban inten’, yang artinya kurang lebih kejatuhan (ketiban) inten (kemakmuran). Terjemahan ini rupanya tak jauh berbeda dengan ‘ban-inten’ terdahulu.

Ada yang berbeda jika melihat naskah kuno “Carita Parahyangan” yang menyebut wilayah Banten dengan sebutan ‘wahanten’. Ada banyak terjemahan dari kata yang satu ini. Arkeolog Dr. Moh. Ali Fadillah, menterjemahkan ‘wahanten’ sebagai wahana, yang berarti alam raya. Dugaan ini berdasarkan kondisi keterkenalan Banten, yang jauh sebelum Kesultanan Islam Banten sudah menjadi tujuan para pengelana dunia. Sebagaimana diketahui, bahwa pra Kesultanan Islam Banten, di wilayah ujung barat Pulau Jawa ini pernah berdiri kerajaan yang memiliki peran penting, yaitu Nagari Wahanten Girang, yang kini dikenal sebagai Banten Girang. Hasil penelitian arkeologi tim Puslit Arkenas dan EFEO Perancis, bahwa di lokasi Banten Girang kini, diduga kuat pernah berdiri pusat kekuasaan (Guillot, 1990).

Ada pula yang menterjemahkan ‘wahanten’ sebagai ‘wahangan inten’ yang berarti sungai (wahangan [Sunda]) yang meliuk bagaikan intan permata. Dugaan ini mungkin karena wilayah Kesultanan Banten dibelah aliran sungai Cibanten yang bersumber di Gunung Karang dan berlabuh di Laut Jawa.

Selain itu, ada juga yang mengartikan ’wahanten’ sama dengan ’wanten’ yang berarti berani (wani = wanten[sunda]). Dengan meluluhkan ‘ha’ di tengahnya, kata ini boleh jadi didasarkan pada prototype orang Banten yang dikenal dengan perangainya seorang pemberani. Contohnya pada salah satu pertunjukan debus, kesenian yang kerap dimainkan orang Banten, yang menonjolkan keberanian seseorang bermain dengan senjata tajam.

Dalam sebuah catatan Cina Kuno, naskah Sung Feng Xiang Song sekitar abad ke-13, bahwa orang-orang pengelana Cina, menyebut wilayah Banten saat ini dengan ‘wantan’. Mungkin kata ‘wantan’ merupakan lafal orang Tionghoa ketika menyebut Wahanten maupun Banten. Meskipun kata ‘wantan’ itu sendiri mengandung arti perahu-perahu kecil, yang memang banyak dijumpai di pesisir utara wilayah Banten.

Yang menarik adalah kajian arkeolog Dr. Agus Aris Munandar yang mengidentifikasikan kata ’banten’ atau ’wahanten’ maupun ’wantan’ bersumber dari satu kata, yaitu ’antan’. Kata ini mengandung arti alu, alat yang digunakan untuk menumbuk padi. Makna alu di sini, tidak sekedar perkakas penumbuk padi semata, melainkan memiliki arti lain, yaitu sebagai patok atau tanda.

Dalam dunia sejarah dan arkeologi, dikenal istilah ‘menhir’ kata yang berasal dari Bahasa Bruton yang berati ‘batu berdiri’. Fungsi menhir bisa sebagai patok atau tanda sebuah batas wilayah atau media pemujaan maupun ‘nisan’. Di wilayah Banten ditemukan ratusan menhir yang tersebar dari Utara hingga Selatan. Sebut saja menhir Baros di Serang yang jumlahnya tujuh buah dan berukuran besar, atau di komplek Balawiku Lereng Pulasari Pandeglang ratusan menhir berjajar, maupun di Punden Berundak Lebak Cibedug, Kabupaten Lebak.

Kalau hipotesa ini benar maka istilah Banten yang berarti patok atau tanda, sama dengan arti kata yang digunakan oleh orang Tangerang untuk menyebut nama kotanya. Bukankah istilah ‘tangerang’ berasal dari kata ‘tetengger’ yang dalam bahasa Sunda artinya patok atau tanda?

Maka, Banten sama dengan Tangerang. Wallahu’alam bi shawab…

SILAKAN BERI KOMENTAR

Temui Kami di Facebook

Statistik

  • 45Dibaca Hari Ini:
  • 1839Dibaca Kemarin:
  • 13982Dibaca Per Bulan:
  • 346876Total Pengunjung:
  • 39Pengunjung Hari ini:
  • 13313Kunjungan Per Bulan:
  • 1Pengunjung Online: