Apakah Belajar itu ?

Hakikat Belajar

Pada hakikatnya belajar adalah usaha untuk mewujudkan perubahan tingkah laku. Jadi walaupun kita telah berusaha sekuat tenaga namun perubahan tingkah laku tidak terwujud maka kita tidak bisa mengklaim bahwa kita telah belajar. Tingkah laku akan berubah jika kita mempelajari sesuatu yang belum pernah kita ketahui sebelumnya, kemudian kita menjadi tahu, paham dan mampu menerapkannya. Dengan demikian, bila kita keluar dali kelas atau setelah membaca sesuatu, hal yang harus kita lakukan adalah bertanya pada diri sendiri, “apa yang telas saya peroleh?”. Apabila ternyata kita tidak mendapat apa-apa, maka berarti kita tidak belajar sama sekali. Belajar juga bisa di dapat melalui pengalaman. Apabila ada orang yang selalu membuat kesalahan yang sama, anda bisa mengatakan padanya, “anda tidak pernah belajar dari pengalaman”.

 

Asas-asas Belajar

a. Tujuan Belajar

Upaya yang dilakukan untuk mengarahkan perhatian siswa kepada tujuan pelajaran, antara lain sebagai berikut :

Bagi siswa yang berada pada tingkat lanjutan, diberikan tes nyata, lalu individu menerima umpan balikan, serta bantuan mengerjakan tes, dan melaksanakan diskusi kelompok kecil.

Bagi siswa tingkat SD, menggunakan situasi kehidupan nyata berdasarkan pengalaman siswa sendiri.

Mempertunjukkan nilai pelajaran itu bagi pribadi dan intelektual siswa.

 

b. Motivasi Belajar

Motivasi dapat bersumber dari dalam diri siswa sendiri berdasarkan kebutuhan, dorongan dan kesadaran pada tujuan belajaryang disebut motivasi intrinsik. Motivasi belajar dapat juga tumbuh berkat rangsangan dan tekanan atas desakan dari luar, yang disebut motivasi ekstrinsik.

Kondisi-kondisi kelas berikut ini dapat meningkatkan motivasi di dalam kelas: suasana lingkungan kelas, keterlibatan siswa secara langsung, mendorong keberhasilan, transfer dan retensi.

 

c. Umpan Balik Hasil Belajar

Beberapa contoh pelaksanaan asas pengetahuan tentang hasil di dalam kelas:

• Kelompok baca.

• Guru menjelaskan hasil-hasil tes bentuk esay.

 

d. Transfer Hasil Belajar

Tiga teori tentang transfer hasil belajar yaitu :

• Teori disiplin formal (The formal discipline theory).

• Teori unsur-unsur yang identik (The identical elements theory).

• Teori generalisasi (The generalization theory).

 

e. Aktivitas Belajar/Keterlibatan Langsung

Jenis-jenis Aktivitas

Paul D Dierich membagi kegiatan belajar menjadi 8 kelompok, yaitu :

1. Kegiatan-kegiatan visual.

2. Kegiatan-kegiatan lisan (oral).

3. Kegiatan-kegiatan mendengarkan.

4. Kegiatan-kegiatan menulis.

5. Kegiatan-kegiatan menggambar.

6. Kegiatan-kegiatan metrik.

7. Kegiatan-kegiatan mental.

8. Kegiatan-kegiatan emosional.

 

 

 

 

 

Hakikat Belajar Mengajar

Belajar sebagai suatu kegiatan yang dilakukan manusia sejak lama dan telah menjadi objek kajian dari beberapa pakar. Bahkan banyak teori yang dikemukakan untuk menjawab pertanyaan tentang konsep belajar atau pembelajaran ini, teori-teori yang muncul tersebut antara lain dikemukakan oleh Thorpe (1950), menkonsepsikan belajar sebagai suatu perubahan nilai, kecakapan, sikap dan perilaku yang terjadi dengan usaha yang disengaja melalui rangsangan atau stimuli. Perubahan yang terjadi pada diri peserta didik adalah dalam bentuk tanggapan atau respon terhadap rangsangan tersebut. Gagne (1970) dan Trafers (1972), mendefinisikan belajar sebagai suatu perubahan disposisi atau kecakapan baru yang terjadi karena adanya usaha yang disengaja. Sedangkan Munn (1965) berpendapat bahwa belajar merupakan upaya untuk merubah (memodifikasi) tingkah laku sebagai perolehan dari suatu kegiatan. Beberapa prinsip belajar berdasarkan konsep dan aliran pembelajaran, dikemukakan oleh beberapa orang pakar sebagai mana ditulis di bawah ini

 

Asas-Asas Didaktik

1. Azas Motivasi

Untuk memperoleh hasil pengajaran yang sebaik-baiknya dalam proses mengajar guru harus selalu berusaha membangkitkan minat para murid sehingga seluruh perhatian mereka tertuju dan terpusat kepada bahan pelajaran yang sedang diajarkan.

Guru menyadari bahwa tidak setiap bahan pelajaran menarik perhatian murid sebagaimana juga tidak setiap murid menaruh perhatian terhadap bahan pelajaran yang sama.

Ditinjau dari segi didaktik, jika minat murid dapat dibangkitkan untuk kemudian seluruh perhatiannya dapat dipusatkan kepada bahan pelajaran yang diberikan oleh guru, maka keadaan kelas menjadi tenang sebab murid tidak mempunyai kesempatan melakukan hal-hal yang melanggar ketertiban kelas.

Dipandang dari sudut psychologis, perhatian adalah suatu gejala kejiwaan yang erat hubungannya dengan dorongan minat dan tingkah laku seseorang. Ilmu jiwa anak mengajarkan, hanya hal-hal yang menarik perhatianlah yang ia amati secara sungguh-sungguh sehingga timbul reaksi-reaksi organis yang dapat memungkinkan terjadinya pengalaman secara tajam dan jelas terhadap objek itu.

Selanjutnya dipandang dari sudut pendidikan, pemusatan perhatian sangat penting artinya bagi pembentukan watak, sebab anak-anak yang sudah terlatih dan menjadi terbiasa memusatkan perhatian tidak semata-mata pada hal yang digemari melainkan juga terhadap objek yang tidak menarik perhatiannya, berarti memaksa dirinya untuk mengerahkan kemampuan memberikan perhatian yang berarti pula memperkeras kemauannya. Kemauan yang keras besar sekali peranannya bagi kehidupan anak bilamana terjun ke tengah-tengah masyarakat.

Perhatian yang dibangkitkan oleh guru disebut perhatian disengaja, sedang perhatian yang timbul dari diri si anak itu sendiri disebut perhatian spontan.

Usaha-usaha untuk membangkitkan perhatian spontan ialah:

• Mengajar dengan cara yang menarik sesuai dengan tingkat perkembangan anak;

• Mengadakan selingan yang sehat;

• Menggunakan alat-alat peraga sesuai dengan bahan pelajaran yang diberikan;

• Mengurangi sejauh mungkin pengaruh-pengaruh yang dapat mengganggu konsentrasi anak.

 

Usaha-usaha untuk membangkitkan perhatian disengaja ialah:

 Dengan memberikan pengertian tentang manpaat bahan pelajaran yang diajarkan bagi murid;

 Berusaha menghubungkan antara apa yang sudah diketahui murid dengan apa yang akan diketahui;

 Mengadakan kompetisi yang sehat dalam belajar;

 Menerapkan hukuman dan hadiah yang bijaksana.

Selanjutnya untuk kedua jenis usaha tersebut di atas baik dalam membangkitkan perhatian spontan maupun perhatian disengaja, sikap guru merupakan paktor penting pula. Pada waktu mengajar guru harus memperlihatkan perhatiannya yang sungguh-sungguh terhadap bahan pelajaran yang sedang diajarkan. Guru yang bersikap acuh tak acuh akan menimbulkan sikap yang sama terhadap murid.

Motivasi berpangkal dari kata “motif” yang dapat diartikan daya penggerak yang ada dalam diri seseorang untuk melakukan aktivitas-aktivitas tertentu demi tercapainya suatu tujuan. Ada tiga elemen atau ciri pokok dalam motivasi itu, yakni motivasi ini mengawali terjadinya perubahan energi, ditandai dengan adanya feeling dan rangsangan karena adanya tujuan.

Motivasi sebagai motor penggerak segala aktivitas, sehingga jika motornya tidak ada, maka aktivitas tidak akan terjadi. Jika motornya lemah, aktivitas yang terjadi pun akan lemah pula.

Motivasi belajar erat kaitannya dengan tujuan yang hendak dicapai oleh individu yang sedang belajar itu sendiri. Bila seseorang yang sedang belajar menyadari bahwa tujuan yang hendak dicapai berguna atau bermanpaat bagi dirinya, maka motivasi belajar akan muncul dengan kuat. Motivasi belajar ini ada yang timbul dari dalam diri siswa sendiri (motivasi intrinsik). Motivasi intrinsik disebut juga motivasi murni, karena muncul dari diri siswa sendiri. Oleh karena itu guru sedapat mungkin harus berusaha untuk memunculkan motivasi intrinsik di kalangan siswa pada saat mereka belajar, umpamanya dengan cara menjelaskan kaitan tujuan pembelajaran dengan kepentingan atau kebutuhan siswa. Sedangkan untuk memunculkan motivasi ekstrinsik dapat dilakukan antara lain dengan cara memberi pujian, hadiah, menciptakan situasi belajar yang menyenangkan, memberi nasihat, atau upaya-upaya lain yang dapat membangkitkan

Disamping itu ada teori-teori lain yang perlu diketahui:

a. Teori insting

b. Teori fisiologis

c. Teori psikoanalitik

 

2. Azas Aktifitas

Pada waktu mengajar guru harus memberikan kesempatan kepada murid-murid untuk mengambil bagian yang aktif baik rohani maupun jasmani terhadap pengajaran yang diberikan, secara perorangan maupun kelompok.

Yang dimaksud keaktipan jasmani ialah berbagai kegiatan yang dilakukan murid seperti kesibukan melakukan penelitian, percobaan, membuat konstruksi model, bercocok tanam dan sebagainya.

Sedangkan keaktifan rohani ialah bekerjanya unsur-unsur kejiwaan murid dalam pengajaran yang tampak jelas pada ketekunan mengikuti pelajaran, mengamati secara cermat, mengingat, berfikir untuk memecahkan persoalan dan mengambil kesimpulan. Terdorong oleh perasaan dan kemauan yang kuat unsure-unsur kejiwaan itu akan berfungsi dengan baik untuk mendapatkan hasil pelajarna sebanyak mungkin.

Menurut Piaget (psycholog kelahiran Swiss), seseorang anak berfikir sepanjang ia berbuat. Tanpa perbuatan anak tak berfikir, agar anak berfiir sendiri, harus diberi kesempatan untuk berbuat sendiri.

Tanpa aktifitas belajar, pengajaran tidak akan memberi hasil yang baik.

Usaha-usaha guru untuk membangkitkan keaktifan jasmani murid, antara lain:

 Dengan menyelenggarakan baerbagai bentuk pekerjaan yang bersifat keterampilan pembengkelan, pertukangan, pertanian, perikanan, kerajinan, penelitian di laboratorium dan sebagainya.

 Mengadakan pekan olahraga dan seni, pameran, karya wisata dan sebagainya.

 

Usaha-usaha guru untuk membangkitkan keaktifan rohani murid antara lain:

 Membimbing serta mendorong anak-anak dalam berdiskusi.

 Memberi tugas kepada anak-anak untuk memecahkan sesuatu masalah.

 Mengadakan berbagai penelitian dan percobaan, menganalisa data, membuat kesimpulan, menyusun laporan dan sebagainya.

 

 

2.5 Didaktik Metodik Mengajar

Di dalam pembahasan masalah didaktik-metodik tidak dapat dipisahkan dengan pembahasan masalah pendidikan dan pengajaran. Sebab didaktik dan metodik merupakan bagian dari proses pendidikan dan pengajaran. Atau dengan perkataan lain proses pendidikan meliputi beberapa faktor, diantaranya didaktik dan metodik.

Menurut pengertian baru, didaktik diartikan sebagai ilmu yang memberi uraian tentang kegiatan proses mengajar yang menimbulkan proses belajar. Dari sudut pandang ini, didaktik mengandung dua macam kegiatan yakni kegiatan mengajar dan kegiatan belajar. Baik murid maupun guru, kedua-duanya aktif sehingga terwujud kegiatan mengajar dan kegiatan belajar bersama-sama. Agar proses belajar mengajar dimaksud membuahkan hasil yang diharapkan, baik murid maupun guru perlu memiliki sikap, kemampuan dan keterampilan yang mendukung proses belajar mengajar itu.

Prinsip-prinsip dalam aktivitas mengajar disebut juga dengan azas-azas didaktik.

Azas-azas didaktik tidak berdiri sendiri malainkan merupakan satu kesatuan yang saling berhubungan, saling isi mengisi dan saling melengkapi satu sama lain.

 

 

SILAKAN BERI KOMENTAR

Temui Kami di Facebook

Statistik

  • 808Dibaca Hari Ini:
  • 1839Dibaca Kemarin:
  • 14745Dibaca Per Bulan:
  • 347576Total Pengunjung:
  • 739Pengunjung Hari ini:
  • 14013Kunjungan Per Bulan:
  • 19Pengunjung Online: