Berlangganan Sebagai Siasat Penghidupan di Pedesaan Jawa

Dede Mulyanto

Pendahuluan

Salah satu gejala yang tampak hampir di semua saluran penghidupan adalah hubungan berlangganan. Langganan sendiri merupakan istilah yang mengakar dalam budaya dan praktik pertukaran di Jawa (Alexander dan Alexander 2004: 225). Di Wetankali, istilah langganan merujuk pada berbagai hubungan yang cukup luas cakupannya: mulai dari hubungan seorang pemilik warung dan tukang becak yang mengantarnya ke pasar setiap pagi; seorang pedagang pasar dengan bandar yang memasok dagangannya; atau rumah tangga petani dengan seorang pedagang pengangkut yang membeli kelapa dari pekarangannya.

Yang paling pokok dari hubungan berlangganan ini adalah bahwa hubungannya bersifat diadik dan timbal-balik meski salah satu di antaranya jelas-jelas lebih tinggi kedudukan atau kekayaannya. Berlangganan berbeda dengan kasus-kasus patronase, meski seringkali menunjukkan beberapa cirinya. Bila dalam patronase seorang tuan bisa mempunyai beberapa orang anak buah sekaligus dan sebaliknya seorang anak buah hanya boleh punya hubungan pengabdian dengan seorang tuan, maka dalam hubungan berlangganan, seseorang bisa menjalin lebih dari satu ikatan. Selain itu, dasar ikatan dalam berlangganan bukanlah pengabdian tapi tetap nilai tukar komoditi dalam jaringan pasarnya.

Berlangganan menghubungkan orang per orang dalam pasar komoditi. Terbentuknya hubungan berlangganan tidak ditentukan oleh hubungan di dalam pertukarannya semata. Pertukaran antar dua orang (diadik) ini selalu diiringi pencarian masing-masing pihak akan informasi, baik dari tawar-menawar masing-masing pihak maupun dari pihak-pihak lain di luar hubungan pertukaran tetapi mempunyai informasi mengenai orang atau komoditi yang sedang dijajaki. Saluran informasi ini bisa melalui ketetanggaan, kekerabatan, atau pertemanan. Penciptaan hubungan berlangganan dilandasi upaya coba-coba yang sering tidak sebentar. Tawar-menawar, yang sebenarnya merupakan sarana penjajagan, bisa berlangsung lebih dari satu kali pertukaran. Hubungan yang kemudian tercipta akan tetap berlangsung selama kedua belah pihak memperoleh keuntungan yang dianggap wajar. Kewajaran ini diukur dengan nilai tukar yang dianggap layak oleh kedua belah pihak. Artinya, kewajaran dilandasi nilai komoditi yang beredar di pasaran.

Penciptaan hubungan berlangganan berlaku baik dalam pertukaran barang atau pun tenaga kerja. Dalam pertanian, selain dalam derep yang relatif bersifat terbuka, sebagian kerja-kerja pertanian diorganisasi melalui hubungan langganan. Kerja-kerja pertanian, baik yang harian maupun yang borongan, terutama hubungan kerja antara pemilik lahan yang membutuhkan tenaga kerja di luar rumah tangga dengan buruhnya, pertama-tama terbuka bagi buruh-buruh yang secara tetap dibeli tenaga kerjanya. Buruh seperti ini jumlahnya hanya satu atau dua orang untuk seorang pemilik lahan. Lewat buruh langganan ini, buruh-buruh lain bisa memasuki kerja pertanian. Buruh langganan ini menjadi semacam penjaga gerbang menuju sawah. Berbeda dengan patronase yang mengandung arti pengabdian dan ketidaksetaraan, maka dalam hubungan berlangganan keduanya setara sebagai pelaku dalam pasar tenaga kerja. Pemilik lahan membeli dan buruh menjual tenaga kerjanya dengan landasan harga pasar yang berlaku umum di daerah tersebut.

Bagi pemilik lahan, hubungan berlangganan memberikan jaminan pasokan tenaga kerja yang tetap. Kerja-kerja pertanian harus cepat dan tepat waktu menyaratkan kecepatan dan ketepatan perolehan tenaga kerja. Di sisi lain, bagi buruhnya sendiri, hubungan berlangganan menjadikan saluran penghidupan lebih lebar. Ada kepastian sepanjang tahun akan ada kerja-kerja yang bisa dimasuki. Selain itu kepastian memperoleh nilai sesuai nilai tenaga kerja pasaran juga bisa diperoleh dengan berlangganan.

Muji, mantan pegawai dinas pemerintahan pulang kembali ke Wetan Kali ketika pensiun. Selain membuka toko kelontong yang terutama dikelola oleh istrinya, dia juga menyewa seperempat bau lahan. Sebelumnya, dia belum pernah menggarap lahan. Kerja-kerja pertanian di lahannya diserahkannya kepada seorang buruh tani. Seorang buruh tani yang tidak dikenalnya secara mendalam akhirnya dia pilih. Meski sudah memilih, Muji tetap menghubungi tetangga dan kerabat yang sudah lama berkecimpung di dalam pengolahan lahan dalam rangka menemukan âsiapaâ buruh tani ini. Kesimpulannya, si buruh tani bukanlah buruh tani yang baik. Tapi kontrak sudah diberikan dan kerja pertanian tetap dijalankan. Hasilnya, memang tidak baik sehingga pada musim berikutnya, Muji tidak lagi menarik si buruh untuk bekerja padanya. Setelah tiga tahun mencoba mencari-cari, barulah Muji menemukan buruh yang tepat. Sejak setahun yang lalu, buruh inilah yang mengerjakan semua kerja-kerja pertaniannya.

Pencarian nilai tukar yang layak atas upah yang dibayarkan Muji, mengorbankan beberapa kali pertukaran yang merugikan. Di sinilah pepatah âpengalaman adalah guru yang baikâ begitu berarti. Karena hanya melalui pengalamanlah pertukaran yang saling menguntungkan dan akhirnya hubungan berlangganan bisa diperoleh. Pengalaman tidak hanya diperoleh secara langsung. Meski tidak begitu meyakinkan betul, pengalaman tidak langsung yang diperoleh dari saluran-saluran informasi yang ada di sekitar bisa juga mempercepat terbentuknya hubungan berlangganan. Bila seseorang adalah âorang baruâ di bidang tertentu, pengalaman orang lain bisa dijadikannya pijakan menentukan pilihan. Dalam kasus seperti ini, si âorang baruâ bisa saja menjalin hubungan berlangganan dengan langganan orang lain. Inilah beda besar berlangganan dengan hubungan patronase.

Di dalam ekonomi pekarangan, hubungan antara pemilik pekarangan dengan pedagang pengangkut biasa juga melewati saluran berlangganan. Pedagang pengangkut mendatangi pemilik pekarangan. Setiap pedagang pengangkut seringnya hanya menawar komoditi tertentu saja yang menjadi bidang angkutnya. Di lahan pekarangan, baik pemilik maupun pedagang, saling mengajukan harga. Patokan yang dipegang keduanya sering tak sama. Sebabnya tentu saja karena nilai tukar komoditi dalam pertukaran mereka tidak diketahui secara pasti. Satu-satunya sumber yang dipercaya adalah harga pasar yang juga sering berubah. Tapi, kedua belah pihak juga mengetahui bahwa harga pasar berada di atas harga beli di tingkat produsen. Sebabnya tentu saja karena komoditi sudah melewati beberapa titik sebelum sampai ke tangan pedagang eceran di pasar sehingga ada banyak kerja yang tercurah sebelum akhirnya komoditi bisa diecer. Oleh karena itu, maka pemilik pekarangan mengajukan harga tertinggi yang masuk akal dan pedagang pengangkut menawar harga terendah yang masuk akal. Di antara harga tertinggi yang diajukan dan harga terendah yang ditawarkan, ada rentang harga yang mungkin akan dicapai bersama. Harga inilah yang dituju lewat tawar-menawar. Keberhasilan mencapai harga ini bisa membuahkan hubungan berlangganan. Tetapi, hubungan ini harus melewati berbagai ujian sebelum benar-benar terbentuk. Selain itu, setelah terbentuk hubungan ini juga harus dipelihara dengan selalu memberitahu perkembangan baru mengenai harga komoditi. Dengan cara ini hubungan berlangganan bisa dilanggengkan dan kepastian akan pertukaran yang adil bisa menjadi nilai bersama yang memelihara hubungan.

Dalam banyak kasus kerja-kerja pertanian, hubungan berlangganan ini bisa berjangka waktu lama dan bisa diwariskan. Seorang buruh langganan bisa mewariskan hubungan berlangganannya kepada suami/istri/anak. Sebaliknya, seorang pemilik lahan juga bisa mewariskan hubungan berlangganannya kepada orang lain. Tentu saja dengan syarat penerima warisan ini sudah mengenal kinerja buruhnya. Berlangganan dalam pengerahan tenaga kerja upahan di dalam budidaya sawah berkembang di Wetan Kali karena beberapa hal. Pertama-tama, dan mungkin yang pokok, adalah kecilnya luas rata-rata kepemilikan lahan sawah. Rata-rata luas kepemilikan sawah hanya 0,2 ha saja. Pemilik-pemilik terluas pun rata-rata hanya memiliki 1,1 hingga 2 hektar saja. Tiadanya hubungan patronase kemungkinan besar karena faktor luas kepemilikan petani kaya ini. Kedua, patronase adalah hubungan pertukaran yang mahal dari sisi patron. Dengan menghilangkan sisi pengabdian di kedua belah pihak, maka maraklah hubungan berlangganan sebagai saluran pertukaran yang lebih menguntungkan petani-petani kaya. Petani-petani kaya tidak perlu begitu khawatir dengan pengeluaran dana-dana bantuan bagi buruhnya tapi masih memperoleh jaminan ketepatan jumlah dan waktu pengerahan tenaga kerja yang dibutuhkan. Di daerah-daerah yang sebelumnya mengenal patronase pun, terjadi proses yang dalam istilah Jan Breman disebut de-patronisasi (Breman 1974: 220; lihat juga Breman dan Wiradi 2004: 28-30; Ihalaw 1993: 255-6).

Dalam kajian klasiknya mengenai pasar dan ekonomi petani, Clifford Geertz menggunakan konsep clientelization dalam arti yang serupa dengan berlangganan. Menurut Geertz, selain tawar-menawar, berlangganan merupakan kekhasan hubungan dalam ekonomi bazaar, yaitu suatu sistem pertukaran komoditi dalam ekonomi petani (peasant). Dalam ekonomi petani, faktor paling penting adalah langka dan tidak meratanya penguasaan informasi. Kepastian akan harga komoditi begitu langka sehingga yang ada hanyalah perkiraan-perkiraan wajar atas nilai komoditi berlandaskan desas-desus yang diperoleh dari macam-macam sumber informasi (Geertz 1992). Tidak seperti barang-barang buatan pabrik yang dijual di toko-toko, komoditi yang beredar di luar tempat pertukaran formal (toko, pabrik, atau lainnya) tidaklah berbandrol. Patokan harga yang baku tidak ada. Seorang penduduk Wetan Kali selalu mengeluh bila setelah pertukaran ternyata komoditi yang diperolehnya tidak sesuai dengan penilaian orang sekitar yang mengetahui nilai yang lebih rendah untuk komoditi yang sama atau sebanding. Kata kelarangen yang berarti âterlalu mahalâ sering dijadikan ungkapan yang mengiringi contoh-contoh dalam meyakinkan bahwa nilai tukar komoditi tidak sesuai dengan uang yang telah dikeluarkan untuk membelinya. Bila demikian, maka pencarian kembali saluran yang cocok pun dilakukan.

Pasar-pasar tempat penduduk Wetankali membeli atau menjual komoditi, seperti Pasar Kutocilik atau Pasar Rawakele, berkesan berisik. Kerumunan dan lalu-lalang merupakan latar sejatinya. Berisiknya pasar pertama-tama berasal dari seruan para pedagang kepada calon pembeli yang sedang melihat-lihat barang dagangan. Lalu, ada berbagai macam perbincangan antarpedagang yang lapak dagangnya bertetangga membicarakan berbagai hal, mulai dari perkembangan harga hingga masalah keluarga. Tapi, suara-suara berisik terutama berasal dari tawar-menawar harga barang antara penjual dan pembeli. Berlangganan bisa mengubah kerumunan dan lalu-lalang berisik ini menjadi sejumlah transaksi cepat dan akrab. Di luar pasar, di rumah-rumah atau di petak-petak lahan garapan, hal yang sama juga terjadi. Rumah, pekarangan, lahan sawah, acara yasinan, latihan perkumpulan seni, pertemuan arisan, atau kantor desa merupakan âpasarâ tempat berbagai komoditi mulai dari lahan, hasil tani, hingga tenaga kerja ditawarkan dan dijualbelikan.

Pertukaran-pertukaran yang berulang-ulang akhirnya mempertemukan dua pihak (penjual-pembeli) dalam jalinan hubungan yang relatif ajeg. Perulangan menandakan berkurangnya tawar-menawar dan mulai terbentuknya hubungan berlangganan. Namun, seperti hubungan sosial lainnya, berlangganan bisa tersambung atau terputus karena masalah yang bersifat pribadi dan tidak ada kaitannya dengan pertukaran komoditi.

Jennifer Alexander, yang mengkaji pedagang perempuan di pasar di Jawa, menemukan bahwa berlangganan merupakan hubungan yang paling dicari dalam pertukaran antara pedagang kecil-kecilan (bakul) dan bandar pemasoknya (juragan). Berlangganan dianggap menguntungkan karena dapat memastikan aliran uang tunai yang teratur sambil mengurangi risiko pelanggaran janji dalam pinjam-meminjam. Selain itu, hubungan berlangganan juga âpenting untuk mempertahankan omset tinggi, dan para pedagang yang tidak dapat mengembangkan hubungan itu harus bekerja jauh lebih keras dan lebih lama untuk pendapatan yang jauh lebih rendah (Alexander 2000: 294).

Dalam kajiannya tentang industri kecil pengolahan kayu di Jepara, Jennifer dan Paul Alexander juga menemukan hubungan berlangganan antara pengusaha besar dengan pengusaha kecil dalam jalur tata niaga industri pengolahan kayu. Banyak hubungan kontraktual yang sebelumnya banyak dijalankan sesuai dengan desakan pemerintah untuk menghubungkan pengusaha besar dan pengusaha kecil lewat hubungan bapak asuh-anak angkat, akhirnya dialihkan menjadi hubungan berlangganan yang informal ketika tercapai nilai yang dianggap layak bagi kedua belah pihak setelah penjajagan selama beberapa waktu. Bagi bapak asuh (pengusaha besar), pengubahan hubungan ini didorong kepentingan âto routinise administration as the business expandedâ. Bagi pengusaha kecil sendiri, pasokan pesanan dan ketepatan pembayaran dianggap penting diperoleh lewat hubungan berlangganan ini (Alexander dan Alexander 2004: 226).

Dari berbagai penelitian pemasaran di perdesaan, pertukaran komoditi di perdesaan Jawa biasanya terorganisasi ke dalam dua bentuk hubungan, yaitu tawar-menawar dan berlangganan. Bentuk-bentuk ini lebih tepat bila ditempatkan sebagai titik-titik dalam suatu kontinum. Berlangganan merupakan hasil dari sekumpulan tawar-menawar. Bila menawar menandakan keraguan akan nilai yang bisa diperoleh, maka berlangganan menandai tahap kepercayaan akan nilai sebenarnya yang bisa didapat. Seperti sudah diperlihatkan dalam kajian ini serta kajian-kajian lain yang mengangkat soal berlangganan (Geertz 1992; Alexander 2000; Alexander dan Alexander 1991; Alexander dan Alexander 2004) berlangganan memurahkan ongkos pencarian nilai komoditi yang cocok. Permintaan dan pasokan komoditi juga menjadi lebih pasti melalui hubungan berlangganan.

Dalam beberapa penelitian, berlangganan seringkali disalahartikan sebagai sebentuk monopoli dalam arti yang merugikan salah satu pihak. Padahal, lamanya jangka waktu dalam berlangganan saat peneliti mengamatinya tidak berarti hubungan ini abadi. Seperti semua bentuk pertukaran komoditi, berlangganan juga dikenai hukum pasokan dan permintaan. Kedua belah pihak dituntun oleh nilai yang sama (meski samar-samar karena tidak adanya mekanisme harga yang baku serta nilai tukar tidak hanya dilekatkan pada komoditi tapi juga pada hubungan pertukarannya itu sendiri), yaitu nilai komoditi di pasaran. Dengan demikian, pengalihan hubungan bukan sesuatu yang haram dan bisa setiap saat diputus bila salah satu atau kedua belah pihak merasa tidak memperoleh nilai yang setara dengan nilai tukar komoditi di pasaran.

Salah paham ini mungkin didasari oleh anggapan bahwa semua informasi tentang nilai komoditi yang beredar diserap secara sempurna oleh semua pihak yang akan bertransaksi sehingga setiap orang bisa memilih secara pasti siapa yang akan didatanginya untuk menjual atau membeli. Kenyataannya, komoditi-komoditi pedesaan tidaklah demikian keadaannya seperti dengan tepat ditunjukkan ungkapan setempat bodin ya laka bandrole (singkong tidak ada bandrol harganya). Di Wetankali, meski setiap malam RRI Semarang mengudarakan informasi harga-harga hasil pertanian di beberapa pasar induk di Jawa Tengah, namun baik petani maupun pedagang mengetahui betul bahwa nilai komoditi yang ada di sekitar mereka tidak bisa dipatok sepenuhnya berdasarkan harga baku pasar induk. Mereka tahu ada lebih dari satu titik singgah sebelum komoditi itu sampai ke pedagang eceran.

Dalam kasus hubungan berlangganan antara penderes dan juragan gula kelapa, bila juragan membayar gula lebih murah daripada juragan lain tanpa ada tambahan layanan untuk para penderesnya (misalnya pinjaman tanpa bunga atau bantuan-bantuan), maka usaha juragan bisa bangkrut. Penderes bisa pindah dan secara normatif alasan kepindahan karena juragan tidak âbaikâ bisa diterima banyak orang. Bahkan bila ada penderes yang nakal (misalnya mencampur nira dengan dedak, potongan singkong, atau tanah), seorang juragan tidak akan langsung menegur dan menghukum penderes sehingga membuatnya malu di mata orang lain. Juragan lebih memilih untuk membelinya dengan harga lebih murah sedikit lalu memroses kembali gula yang dicurigainya dengan menyiram air panas dan memisahkan gula dengan campurannya kemudian memasaknya kembali menjadi gula. Selain itu, untuk mencegah kecurangan-kecurangan, juragan harus mempunyai banyak informasi mengenai penderes-penderes yang menjual gula kepadanya, terutama mengenai kesusahan ekonomi rumah tangganya. Semua tindakan ini tentu saja untuk memelihara kesetiaan penderes kepadaya sehingga pasokan gula tidak terganggu. Dia menyadari bahwa dia bukanlah satu-satunya pedagang penampung yang ada di dalam jaringan tata niaga.

Sumber: http://akatiga.org/index.php/publikasi/sumber-referensi/item/360-berlangganan-sebagai-siasat-penghidupan-di-pedesaan-jawa

SILAKAN BERI KOMENTAR

Temui Kami di Facebook

Statistik

  • 860Dibaca Hari Ini:
  • 1996Dibaca Kemarin:
  • 16793Dibaca Per Bulan:
  • 349492Total Pengunjung:
  • 814Pengunjung Hari ini:
  • 15929Kunjungan Per Bulan:
  • 8Pengunjung Online: