BOSSCHA

Pendirian Observatorium Bosscha diLembang pada dekade 1920an dapat dilihat dalam konteks merembesnya ilmu pengetahuan modern keluar dari Eropa dan pelaksanaan riset ilmu alam dalam situasi kolonial. Kolonialisme, bagaimanapun, adalah hubungan yang tak setara tidak hanya antara para kolonis dengan penduduk asli, namun juga antara negara induk—negara metropolitan—dengan koloni (dalam konteks ini, Hindia Belanda). Ketidaksetaraan ini juga timbul dalam pelaksanaan penelitian ilmu alam, di mana penelitian di koloni didikte oleh institut-institut metropolitan berdasarkan ambisi dan kepentingan mereka. Penelitian astronomi di koloni, misalnya, dilakukan untuk keperluan pemetaan dan pencatatan waktu. Penelitian ilmu alam yang bertujuan untuk berkontribusi pada badan ilmu pengetahuan, tidaklah banyak dan kalaupun ada merupakan program yang ditetapkan oleh institut metropolitan di Negeri Belanda.

Salah satu astronom yang relatif sukses dalam menyeimbangkan dua kepentingan ini adalah Jean Oudemans. Pada tahun 1843, dalam usia 16, ia mendaftar sebagai mahasiswa Universitas Leiden dan kemudian menjadi murid astronom ternama Leiden,Frederik Kaiser. Di bawah bimbingan Kaiser, pada tahun 1852 ia menyelesaikan disertasi doktoralnya mengenai penentuan garis bujur Leiden. Pada tahun 1857, atas perintah Kaiser dan sponsor dari Kerajaan Belanda sendiri, Oudemans berangkat ke Hindia Belanda untuk melakukan pemetaan. Selama 18 tahun berikutnya ia melakukan pemetaan pulau Jawa yang kemudian diterbitkan dalam enam volume. Namun demikian, di sela-sela aktivitasnya sebagai kartografer, ia masih dapat melakukan aktivitas penelitian ilmu murni dengan mengamati okultasi bintang dan mengkoordinasikan pengamatan gerhana. Sekembalinya dari Hindia Belanda Oudemans menjadi direktur Observatorium Utrecht, namun pemerintah kolonial memintanya untuk kembali ke Hindia Belanda dan memetakan pulau-pulau di luar Jawa. Oudemans berhasil mendapatkan komitmen dari pemerintah Belanda untuk membiayai penelitian astronomi di Utrecht, namun ia harus mencurahkan perhatian dan keahliannya kepada keperluan praktis seperti pemetaan.

Memasuki dekade kedua di abad ke dua puluh, penelitian astronomi di Eropa dan Amerika mulai memasuki babak baru. Pada waktu itu mulai disadari bahwa Matahari dan bintang-bintang lain terikat satu sama lain secara gravitasi membentuk sistem bintang yang dinamakan Galaksi. Keinginan untuk memahami lebih baik struktur sistem bintang ini mendorong pembangunan teleskop-teleskop besar di Bumi belahan selatan. Pada awal abad ke-20, teleskop-teleskop terbesar terletak di belahan utara Bumi: di Eropa atau di Amerika Utara. Ini membuat program-program pengamatan terkonsentrasi pada belahan langit bagian utara, membuat langit belahan selatan praktis adalah “terra incognita” atau daerah tak dikenal. Kebutuhan untuk mengumpulkan data secara lebih lengkap juga didorong oleh munculnya pembagian kerja dalam pelaksanaan penelitian ilmiah: Munculnya ahli teori dan pengamat. Untuk memformulasikan teori-teori mereka, ahli-ahli teori metropolitan membutuhkan data secara lebih menyeluruh, lebih dari yang bisa dikumpulkan oleh teleskop-teleskop di utara.

Kekuatan-kekuatan kolonial di Eropa mulai membangun stasiun pengamatan di selatan: Inggris membangun observatorium di Afrika Selatan, Perancis membangun di Madagascar, Jerman membangun di Argentina dan Samoa, dan donor-donor swasta di Amerika Serikat pun membiayai pembangunan observatorium di Amerika Selatan. Hanya Negeri Belanda, sebagai salah satu kekuatan kolonial, yang tidak memiliki stasiun pengamatan baik di metropolitan maupun di koloni mereka di Hindia Belanda. Situasi ini tidak lepas dari kondisi geografis di Belanda: Negeri Belanda sering hujan dan berkabut, sebagian besar daratannya lebih rendah dari permukaan laut, dan tidak banyak memiliki bukit-bukit. Hal ini mendorong astronom-astronom Belanda untuk mencari kolaborasi internasional dan bekerja sama dengan astronom dari negara-negara yang mengendalikan teleskop-teleskop besar.

Dengan cara ini, astronom-astronom di Negeri Belanda memperoleh reputasi internasional baik sebagai pengamat maupun ahli teori. Direktur Observatorium Leiden, Willem de Sitter, bekerja di Observatorium Semenanjung di Afrika Selatan dan kemudian terkenal dengan penelitiannya mengenai hakikat alam semesta. Jacobus Cornelius Kapteyn, pendiri “laboratorium” astronomi di Groningen, telah meneliti gerak dan distribusi bintang di Galaksi kita melalui penelaahan ribuan plat foto yang diambil oleh astronom David Gill di Observatorium Semenanjung Afrika Selatan. Kapteyn menyadari bahwa kurangnya pengamatan langit selatan berakibat pada kurangnya data dan pemahaman mengenai keseluruhan distribusi bintang di Galaksi. Gayung bersambut, kepentingan astronom metropolitan untuk membangun stasiun pengamatan di koloni muncul bersamaan dengan antusiasme insinyur-astronom Joan Voûte untuk mendirikan observatorium di Hindia Belanda.

Lahir pada tahun 1879 di Madiun, Joan George Erardus Gijsbert Voûte berasal dari keluarga kolonis Belanda. Nenek moyang Voûte adalah kaum Huguenot Perancis yang mengungsi ke Belanda setelah Raja Perancis Louis XIV mencabut Edik Nantes pada tahun 1685. Mengikuti tradisi kolonis Belanda, orang tua Voûte mengirim ia dan saudara-saudaranya ke Negeri Belanda untuk sekolah. Pada tahun 1908, setelah menyelesaikan studi teknik sipil di Institut Teknologi Delft, ia bekerja di Observatorium Leiden. Selama menjadi mahasiswa teknik sipil di Delft, Voûte tertarik untuk mengamati bintang variabel dan memutuskan untuk menjadi astronom. Voûte tinggal di Leiden selama lima tahun, bekerja tanpa bayaran selama dua tahun pertama dan kemudian menjadi asisten pengamat. Spesialisasinya adalah bintang ganda dan publikasi pertamanya keluar pada tahun yang sama. Tanpa gelar doktor, Voûte menyadari bahwa akan sulit untuk bisa memimpin penelitian astronomi di Negeri Belanda. Pandangannya mengarah keluar, dan ia melihat bahwa penelitian astronomi terhambat karena kurangnya jumlah observatorium dan pengamat di langit selatan. Voûte ingin mengamati langit selatan, dan berkat bantuan Kapteyn ia berhasil mendapatkan posisi di Observatorium Semenanjung dan bekerja mengamati bintang ganda dan mengukur paralaks bintang.

Di Afrika Selatan, Voûte berusaha untuk memperoleh posisi tetap di universitas setempat, namun Voûte mengeluhkan ketidakpedulian pemerintah setempat pada proposalnya. Ia mulai memikirkan untuk kembali ke Hindia Belanda dan meneliti di sana. Pada tahun 1919, kepala Observatorium Meteorologi dan Magnetik Kerajaan di Batavia, Willem van Bemmelen, menawarkan Voûte posisi sementara di institutnya untuk melakukan pengamatan dengan teleskop institut. Voûte menerima tawaran itu, berharap agar posisinya dapat berubah menjadi posisi tetap. Pada awal tahun 1920, Voûte mulai berpikir untuk mendirikan sebuah observatorium yang berdiri terpisah dengan Institut Meteorologi milik van Bemmelen.

Apa yang ada di pikiran Voûte pada waktu itu adalah sebuah observatorium yang terikat dengan astronom-astronom metropolitan, “negara-negara lain sudah memiliki institusi serupa di koloni mereka,” tulis Voûte kepada mantan direktur Observatorium Leiden, Hendricus van de Sande Bakhuyzen, yang saat itu sudah pensiun. Voûte juga menulis surat kepada rekan-rekannya di Akademi Ilmu Pengetahuan Amsterdam, meminta mereka agar menekan Kementrian Kolonial agar mempertimbangkan penelitian astronomi di Hindia Belanda. Voûte juga meminta dukungan dari de Sitter dan Kapteyn, berharap bahwa dukungan dari keduanya dapat mendorong pemerintah kolonial agar membiayai pembangunan observatorium. Voûte berargumen bahwa observatorium ini akan memenuhi tidak hanya kebutuhan ilmu pengetahuan namun juga kebutuhan nasional: Observatorium ini akan dapat menyeimbangkan dominasi sekaligus melengkapi observatorium-observatorium di Utara. Perihal manajemen, saat itu Voûte menawarkan jalan tengah antara kasus Observatorium Greenwich dan Tanjung Harapan—dua observatorium yang dikendalikan Angkatan Laut Inggris namun pada praktiknya independen satu sama lain—dengan kasus Observatorium Harvarddengan Observatorium Arequipa, Peru—di mana Observatorium Peru berada di bawah kendali Observatorium Harvard. Voûte menawarkan posisi direktur yang independen namun akan mengikuti program penelitian di Leiden.

Tawaran Voûte mengenai hubungan atasan-bawahan antara astronom metropolitan dengan koloni ini berubah ketika ia mulai menjalin persahabatan dengan dua orang pengusaha teh dari Bandung: Karel Albert Rudolf Bosscha dan Rudolf Albert Kerkhoven. Voûte yakin, kolaborasinya dengan kedua pengusaha ini akan berbuah dukungan dari Pemerintah Kolonial dan juga akan mengangkat pamornya di mata astronom-astronom metropolitan.

Berbekal dukungan Bosscha dan Kerkhoven, Voûte menulis surat kepada pejabat sementara direktur Observatorium Leiden (de Sitter sedang berobat karena TBC di Swiss), Ejnar Hertzsprung, agar mengangkat Bosscha sebagai perwakilan Observatorium Leiden di Hindia Belanda dan juga agar Voûte diangkat sebagai direktur observatorium yang akan dibangun. Voûte juga menuliskan rencananya bahwa observatorium ini akan dilengkapi dengan teleskop refraktor dengan panjang fokus 7 meter dan akan menjadi teleskop yang unik di belahan Bumi selatan serta yang terbesar di teritori Belanda. Tentunya ini akan menarik perhatian para astronom metropolitan baik di Leiden maupun Groningen, dan Bosscha akan membiayai pembangunannya.

Voûte juga meminta dukungan Kapteyn, dan Kapteyn mendukung dengan antusias. Sebagai seorang astronom tanpa akses teleskop, Kapteyn memiliki kepentingan terbesar. Ia menekankan pentingnya kerja sama antara pengamat dengan ahli teori, dan menawarkan agar plat-plat foto yang akan dihasilkan observatorium baru ini agar diolah di Groningen.

Kapteyn berpendapat bahwa astronom-astronom metropolitan juga harus bisa menentukan apa-apa yang akan dilakukan di koloni. Ia setuju dengan keputusan Voute bahwa observatorium Jawa akan berada di bawah kendali Leiden, namun ia menginginkan adanya pembagian kekuasaan yang lebih seimbang. Agar “seluruh tanggung jawab yang ada tidak sepenuhnya dibebankan kepada Observatorium Leiden,” Kapteyn mengusulkan sebuah komite yang tersusun atas direktur observatorium baru ini, direktur di Leiden, direktur di Groningen, dan beberapa penyandang dana utama.

Willem de Sitter tidak tertarik dengan usulan pembagian kekuasaan dengan Groningen ini. Menurutnya, direktur di Jawa akan menyusun sendiri keputusan-keputusan setempat. Ia juga mengusulkan adanya dewan kurator yang “berkuasa tidak hanya di atas observatorium Hindia Belanda namun juga di atas Leiden dan Groningen.” Usulan ini tentunya tidak disetujui Groningen, namun posisi Leiden yang kuat dalam sistem pendidikan Belanda membuat de Sitter memiliki otoritas yang lebih kuat di atas yang institut-institut astronomi lain. Voûte akan mengelola aktivitas harian observatorium di Hindia Belanda, namun Leiden akan menentukan arah penelitian.

Voûte berpihak pada Kapteyn melawan de Sitter. Ia mengatakan bahwa observatorium di Hindia Belanda akan dibangun di atas sebidang tanah di Lembang di dekat Bandung, Jawa Barat. Observatorium ini akan digunakan untuk pengamatan dan apa yang diamati akan disepakati bersama-sama dengan astronom-astronom Belanda. Ia setuju dengan susunan dewan kurator yang diusulkan Kapteyn. Direktur Lembang akan berkuasa penuh atas pengelolaan harian observatorium dan akan menyusun jadwal pengamatan berdasarkan panduan yang disusun dewan kurator. Setengah jadwal pengamatan akan menjadi jatah astronom-astronom metropolitan, sementara sisanya adalah hak Direktur Lembang.

Pada pertengahan tahun 1920 Voûte juga menulis kepada fisikawan ternama Hendrik Antoon Lorentz, dalam kapasitasnya sebagai ketua Akademi Ilmu Pengetahuan Amsterdam, agar menulis surat dukungan kepada Gubernur Jenderal Hindia Belanda dan juga surat apresiasi kepada Bosscha. Lorentz mengangkat surat ini dalam salah satu pertemuan Akademi dan membentuk komisi untuk membicarakan permintaan Voûte. Komisi ini diketuai oleh Hendricus van de Sande Bakhuyzen. Dengan segera de Sitter menulis surat kepada van de Sande Bakhuyzen akan pentingnya Observatorium Lembang menjadi satelit dari Observatorium Leiden. Lebih lanjut, Hertzsprung juga menawarkan prinsip pembagian kerja antara Leiden dengan Lembang: “Pengamatan di Hindia dan analisis di Belanda.” Setelah melalui berbagai perbincangan, Akademi akhirnya menulis surat kepada Pemerintah Belanda, seraya mendukung pembangunan observatorium di koloni dan agar memberikan dukungan dan kerja sama. Apabila Pemerintah Belanda, yang berkuasa atas Gubernur Jenderal Hindia Belanda, mau memberikan dukungan, maka tak pelak lagi astronom metropolitan di Leiden dan Groningen akan dapat mengendalikan salah satu observatorium terbesar di Bumi belahan Selatan. Akan tetapi, kekuasaan K.A.R. Bosscha sebagai penyandang dana utama tidaklah dapat diremehkan.

Pada dekade 1920an Karel Albert Rudolf Bosscha adalah salah satu orang terkaya di Jawa. Ia lahir pada tahun 1865 di Den Haag, Negeri Belanda, dari pasangan fisikawan Johannes Bosscha, Jr.—kepala Jurusan Fisika Institut Teknologi Delft—dengan Paulina Emilia Kerkhoven, putri pengusaha teh di Jawa. Bosscha belajar ilmu teknik di Delft, dan menjadi anggota perkumpulan astronomi setempat. Bosscha berangkat ke Hindia Belanda pada tahun 1887 dan mulai bekerja di perkebunan teh milik keluarga Kerkhoven. Tangan dingin Bosscha dalam mengelola perusahaan membuatnya diangkat menjadi direktur perusahaan teh Malabar di Pangalengan, Bandung. Pada akhir Perang Dunia I, 1918, kepiawaian K.A.R Bosscha dalam berdagang dan menanam modal telah membuatnya menjadi salah satu orang terkaya dan berpengaruh di Jawa. Ia juga adalah salah satu penderma besar dan telah banyak menyumbangkan sejumlah besar uang kepada institut-institut ilmiah di Hindia Belanda dan terutama kepada Technische Hogeschool te Bandoeng (THB—Sekolah Tinggi Teknik Bandung, kemudian menjadi Institut Teknologi Bandung).

Rudolf Albert Kerkhoven, yang juga adalah sepupu Bosscha, bekerja bersama-sama Bosscha di Perusahaan Teh Malabar. Kedua-duanya sama-sama antusias dengan astronomi dan bersama-sama mereka memutuskan untuk membangun observatorium terbaik di Bumi Selatan. Persahabatan keduanya dengan Voûte bagaikan takdir surgawi.

Seandainya astronom-astronom Leiden berhasil menggapai kendali atas pengelolaan Observatorium Lembang, Bosscha sadar ia tak akan bisa bersaing dalam hal otoritas ilmiah. Meskipun ia adalah orang kaya dan berpengaruh, ia bukanlah ilmuwan. Oleh karena itu, untuk menetralisirnya ia menciptakan sebuah perkumpulan yang akan bertindak sebagai bidan dan pengasuh institusi yang masih dalam kandungan ini. Bosscha mengumpulkan suri dan orang-orang terpelajar dan membentuk Nederlandsch-Indische Sterrenkundige Vereeniging (NISV—Perkumpulan Astronom Hindia Belanda). Meskipun bernama demikian, organisasi ini adalah organisasi yang dibangun dari atas dan bukan didirikan atas dasar kesamaan hobi anggota-anggotanya. Organisasi ini dibangun untuk menyalurkan uang bagi pembangunan observatorium. Keanggotaannya dibagi atas dasar jumlah uang yang disumbangkan: Pendiri organisasi menyumbang lebih dari 10 000 Gulden. Penyumbang memberikan uang masuk sebesar 500 Gulden dan iuran anggota 100 Gulden per tahun, sementara anggota biasa membayar 10 Gulden per tahun. Hingga tahun 1928, diperkirakan organisasi ini mampu menyumbangkan 1 juta Gulden untuk dana pendirian dan operasional harian observatorium.

Bosscha kemudian menulis surat kepada Ejnar Hertzsprung untuk menjelaskan kondisi terkini. NISV telah diisi oleh orang-orang berpengaruh di Hindia Belanda: Wakil Ketua Dewan Hindia Belanda menjadi ketua anggota kehormatan; Panglima Angkatan Laut Hindia Belanda, Laksamana Madya Umbgrove, adalah anggota kehormatan; Komite Pimpinan Harian terdiri atas pimpinan-pimpinan perusahaan komersial yang beroperasi di Hindia Belanda (antara lain Bank Jawa, Perusahaan Minyak Insulinde, dan Perusahaan Dagang Belanda) dan juga rektor THB—yang mana Bosscha telah menyumbangkan banyak uang; Bosscha sendiri duduk sebagai ketua NISV dan Kerkhoven menjadi sekretaris. Sebidang tanah di Lembang—sekitar 15 km ke utara Bandung dan 600 m di atasnya—telah disumbangkan oleh Ursone bersaudara, pengusaha pemerahan sapi Baroe Adjak, dan hak kepemilikan tanahnya telah diserahkan kepada NISV. Bosscha tidak hanya telah memperoleh perkiraaan harga untuk sebuah teleskop dengan panjang fokus 7 meter, namun juga telah memperoleh sumbangan buku-buku dari perpustakaan Hendricus van de Sande Bakhuyzen.

Sebagai pengusaha kaya dan dermawan, Bosscha telah menjalankan perannya sebagai seorang maesenas. Voûte memperkuat komitmen Bosscha dengan mengusulkan agar observatorium baru ini dinamakan Observatorium Bosscha. Ia menulis surat kepada Hertzsprung agar menulis surat dukungan yang nantinya akan ditandatangani juga oleh ilmuwan-ilmuwan terkemuka di metropolitan. De Sitter cenderung setuju dengan usulan Voûte, namun baik Kapteyn dan Hertzsprung tidak setuju. “Tentunya kami sepenuh hati berterima kasih kepada Tuan K.A.R. Bosscha atas segala yang telah ia lakukan dan ingin menunjukkan penghargaan kami,” tulis Hertzsprung kepada Voûte. Namun Bosscha mungkin bukanlah penyandang dana utama, lanjutnya. Akan ada penyumbang-penyumbang lain yang belum kita ketahui saat ini dan merekapun juga harus diperhitungkan. Hertzsprung dan Kapteyn lebih cenderung kepada menamai sebuah instrumen atau bangunan dengan nama Bosscha. Dugaan ini bisa jadi benar karena sumbangan datang dari segala arah dan Hertzsprung juga berusaha mengumpulkan uang dari sumber-sumber dana di Negeri Belanda.

Bosscha dan Voûte kemudian memberikan mandat kepada Observatorium Leiden untuk mengawasi pembelian instrumen untuk observatorium. Bosscha meminta saran Hertzsprung mengenai pengadaan teleskop dan juga mengenai sistem pikul teleskop. Ia berharap untuk dapat memanfaatkan jatuhnya nilai tukar Mark Jerman pasca Perang Dunia I agar dapat memperoleh teleskop Jerman berkualitas baik dengan harga murah. Pada awal tahun 1921, Bosscha bersedia membayar sebuah teleskop dengan garis tengah 60 cm dan panjang fokus 10 meter. Teleskop ini kemudian dipesan dari perusahaan optik ternama Jerman, Carl Zeiss Jena.

Konstruksi Observatorium Bosscha dimulai pada tahun 1923. Pada tahun 1925 program pengamatan sudah dimulai dengan instrumen yang ada. Carl Zeiss membutuhkan waktu tujuh tahun untuk membuat dan mengantarkan teleskop 60 cm, yang tiba pada tahun 1928. Voûte berkutat dengan kalibrasi teleskop besar tersebut selama dua tahun berikutnya hingga ia puas dengan kerjanya. Semenjak tahun 1923, Voûte mulai mengundang astronom-astronom Belanda untuk bekerja di Observatoriumnya. Voûte menawarkan perumahan dan juga uang bulanan sebesar 200 Gulden untuk makan dan pakaian. Astronom Belanda yang pertama datang ke Lembang adalah P.G. Meesters, seorang astronom amatir tanpa afiliasi institusi. Meesters tinggal selama beberapa bulan di tahun 1925, melakukan pengamatan langit selatan. Berikutnya, Anton Pannekoek dari Amsterdam, pada akhir tahun yang sama tinggal selama lima bulan untuk mengamati Galaksi Bima Sakti di langit selatan. Salah satu rumah di kompleks Observatorium Bosscha tempat tinggalnya pengamat tamu kini dinamakan Rumah Pannekoek.

Hubungan yang renggang antara Lembang dengan Leiden, setelah pertarungan politik yang terjadi, berakibat pada ketiadaan astronom Leiden yang melakukan pengamatan di sepanjang tahun 1920an. Kedua institut saling berkirim surat namun nadanya formil dan tanpa kehangatan antar kolega. Setelah kegagalan mereka mengendalikan Observatorium Bosscha, astronom-astronom Leiden memusatkan konsentrasi pada penjalinan kerjasama dengan astronom-astronom Afrika Selatan agar dapat membangun stasiun pengamatan di selatan.

Setelah kepergian Pannekoek kembali ke Negeri Belanda, astronom Jerman Paul ten Bruggencatetinggal selama dua tahun, antara tahun 1926–28, untuk mengamati bintang variabel Delta Cepheid di langit selatan. Hasil pengamatan ten Bruggencate dimuat di jurnal internasional dan menjadi modal untuk kelanjutan kariernya di Jerman. Pengganti ten Bruggencate, astronom Swedia Åke Anders Edvard Wallenquist, datang pada tahun 1928, untukmengamati gugus galaktik dan menghasilkan banyak publikasi. Ia tinggal selama tujuh tahun, hingga 1935, dan menjadi pengamat asing terlama yang tinggal di Lembang dalam periode antara dua perang dunia. Wallenquist kembali ke Swedia dan akan menjadi direktur pertama Observatorium Kvistaberg di kota Uppsala.

Selanjutnya Egbert Adriaan Kreiken datang untuk menjadi pegawai tetap, setelah Voûte memutuskan untuk menambah jumlah pegawainya. Kreiken mengambil gelar doktornya di Groningen di bawah bimbingan Kapteyn dan menjadi akademisi yatim piatu setelah meninggalnya Kapteyn pada tahun 1922. Sementara bekerja sebagai guru sekolah, pada tahun 1926 ia mulai menjadi dosen privat di Universitas Amsterdam dan kemudian pindah bersama-sama istrinya ke Lembang pada tahun 1928, kemungkinan berkat dukungan Pannekoek yang pada saat itu sudah memiliki institut astronominya sendiri di Amsterdam. Kreiken mengamati bintang ganda dan dengan segera menerbitkan hasil pengamatan dan teori-teorinya. Akan tetapi, sayangnya, ia tinggal tak lama, karena konfliknya dengan Voûte. Pada tahun 1930, Voûte mengusir Kreiken dengan cara membuatnya menerima tawaran untuk mengajar di sebuah HBS (Hogere Burgerschool—sekolah setingkat pendidikan menengah) di Jawa Tengah. Kreiken selanjutnya akan menjalani karir and petualangan dalam kehidupannya: Menjadi staf Menteri Pendidikan di bawah Presiden Soekarno pada masa pascakemerdekaan Indonesia, menerima tawaran UNESCO untuk mengajar mahasiswa di Liberia (dan pergi menuju pos mengajarnya ini dengan mengendarai mobil melalui Sahara dari Eropa), dan memimpin Observatorium Universitas Ankara di Turki. Meskipun ia berkonflik dengan Voûte, Kreiken-lah yang nantinya akan terbukti memegang peranan penting dalam memperoleh dana UNESCO untuk pembelian teleskop baru berjenis Schmidt untuk Observatorium.

Apapun penyebab sejati konflik antara Kreiken dengan Voûte, boleh jadi faktor luar juga berpengaruh. Pada tahun 1930an terjadi krisis ekonomi besar dan sebagai dampaknya Observatorium juga mengalami masalah keuangan. Meninggalnya penyandang dana Voûte, K.A.R. Bosscha, pada tahun 1928, membuat perkara semakin sulit. Observatorium praktis jatuh di bawah kendali Angkatan Laut Hindia Belanda yang menyediakan uang tahunan sebesar 30 000 Gulden, sekitar setengah dari biaya operasional, sementara setengah lagi datang dari NISV.

Voûte terus memimpin Observatorium Bosscha hingga tahun 1939, ketika ia pensiun pada usia 60. Putra Willem de Sitter, Aernout, menggantikan Voûte sebagai direktur, dan membawa Observatorium Bosscha di bawah kendali Observatorium Leiden. Pada tahun 1942, ketika Jepang menyerbu Hindia Belanda, Aernout de Sitter dan dua orang pegawainya ditahan di kamp konsentrasi Jepang dan ketiganya, sedihnya, meninggal di sana. Observatorium Bosscha beroperasi di bawah kendali Masashi Miyadi, seorang Kapten muda dari Angkatan Bersenjata Jepang, yang nantinya akan menjadi direktur Observatorium Tokyo. Di bawah pengelolaan Miyadi, Voûte tetap melakukan pengamatan 11 000 pasang bintang ganda. Setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945, pada tanggal 8 Oktober masyarakat sekitar mengusir Voûte dari tanah Observatorium. Sebagian hasil pengamatan Voûte pada periode penuh gejolak ini pada akhirnya diterbitkan 10 tahun kemudian di Journal des Observateurs yang berbasis di Marseille, Perancis.

Kita bisa belajar banyak dari kiprah Joan Voûte, seorang insinyur teknik sipil yang menjadi astronom. Tanpa gelar doktor, Voûte membangun visinya dan menunjukkan bahwa dorongan untuk mempelajari alam mampu mendobrak dominasi politik baik dari penjajah Asia maupun akademisi Eropa. Menolak didominasi astronom metropolitan dan menggandeng maesenas setempat, Voûte mengisi Observatoriumnya dengan tenaga internasional dan mengerjakan penelitian independen, berdiri sama tinggi dengan akademisi metropolitan. Pada tahun 1929, Anton Pannoekoek berharap bahwa Observatorium Bosscha dapat terus menjadi kolega bagi astronom-astronom Eropa dan Amerika:

“The legacy has been left to the (Bosscha) Observatory destined to extend hospitality as `research associates’ to astronomers from Europa and America…”

seraya berharap bahwa Observatorium Bosscha akan terus berkembang menjadi pusat penelitian yang penting:

“…the Bosscha Observatory bids fair to develop into an important centre of scientific research…”

Bibliografi

  • Bambang Hidayat, 2000, Under a tropical sky: A history of astronomy in Indonesia. Journal of Astronomical History and Heritage 3(1): 45–58.
  • Lewis Pyenson, 1989, Empire of Reason: Exact Sciences in Indonesia 1840–1940. Brill: Leiden.

SILAKAN BERI KOMENTAR

Temui Kami di Facebook

Statistik

  • 38Dibaca Hari Ini:
  • 1839Dibaca Kemarin:
  • 13975Dibaca Per Bulan:
  • 346871Total Pengunjung:
  • 34Pengunjung Hari ini:
  • 13308Kunjungan Per Bulan:
  • 1Pengunjung Online: