Catatan tentang De Groote Posweg

  1. Pola otoritas HW.Daendles adalah memanfaatkan kewenangan/ otoritas local untuk menangani proyek jalan raya pos ini. Sebelum kedatangan daendles, di Banten sudah terjadi penyewaan tanah secara partikulir/ oleh swasta. Pihak planters inilah yg mengawali pembukaan akses jalan-jalan secara mekanis, sehingga pada saat The groote postweg dikerjakan di banyak ruas jalan itu relative sudah terbuka, hanya tidak/ belum memenuhi standar jalan raya. Dalam beberapa foto koleksi KITLV/ picture diketemukan label postweg, seperti warunggunung(lebak), nambo (serang) Teluk (Labuan/Pandeglang, namun KITLV memberi label postweg bukan groote, bisa jadi ini bagian dari proyek jalan raya pos ini, seperti arteri terhadap jalan utama, atau bisa juga dibangun kemudian dalam rangka memperluas jaringan jalan pos tadi. Yang menarik ada catatan dari pendapat (alm.) Halwany Microb tentang perilaku penguasa local yang memanfaatkan kondisi, untuk memperluas jaringan pengerjaan jalan, tidak saja jalur utama tetapi juga akses thd hinterlandnya. Pada posisi ini, saya berpendapat the groote postweg adalah jalur Anyer Panarukan di Banten lewat titik-titik utama: Anyer-Cilegon-Serang-Balaraja-Tangerang-Batavia). Sedangkan selanjutnya melewati kota-kota besar seperti yg sudah di smskan kemarin.
  1. Sebetulnya tidak dalam pengertian dua rute utama, tetapi rute utama dan rute sekunder. Titik nol itu pengertian planologis, yg kemudian ditafsirkan seperti titik awal dan titik akhir oleh para peneliti. Sy belum menemukan pengertian ini dlm dokumen yg pernah dibaca. Akan tetapi di tiap pembangunan/ relokasi pusat kota; daendles menentukan titik nol km, yang fenomenal kota bandung. (jl. Asia afrika/ gd PU). Demikian halnya titik nol km diketemukan juga di serang, tangerang, dsb. Akan tetapiapak terkait dgn daendles atau tidak belum terjawab. Pembangunan dilakukan serentak di semua ruas,
  1. Daendles menginjakan kaki; …Op 5 januari 1808 zet hij voet aan wal in Batavia… , jadi awal pembangunan di groote postweg, tidak mungkin sebelum 1808. Akan tetapi dalam sebuah kesempatan di societet harmonie dia menyatakan seluruh pekerjaan ingin rampung per 12 november 1808, versi lain menyebutkan bahwa pekerjaan itu ditutup dalam sebuah perayaan resmi sekitar tgl 24 juli 1809 di buitenzorg (bogor) . keterangan penyelesain secara teknis belum juga diketahui. Mengenai panjang jalur ini, semua keterangan yg ada 1000 km. tentu saja ini masih menyisakan pertanyaan. Angka seribu bias ditafsirkan sbg angka maksimal secara sosiologis, tetapi saya berkeyakinan ini bukan angka teknis. Salah satu alasan jalan raya ini banyak melakukan pemintasan jalur. Bi Banten yg sebelumnya menyusur pantai, dipintas di titik citangkil (simpang cilegon sekarang) sd serang (simpang pocis sekarang)
  1. Secara teknologi daendles tidak mengatur secara detail, akan tetapi diserahkan pada pilihan masing-masing jalur kepada penguasa local. Di Banten Jalur Ujung kulon-Anyer, terdapat dua jenis pendekatan; anyer Caringin dikerjakan seperti teknik pengerasan jalan yg disebut penetrasi sekarang ini, memanfaatkan boldaz dan pasir batu sebagai landasan jalan, sedangkan di dijalur caringin –ujungkulon (?) kita hanya menemukan pola turap bamboo dan bilik bamboo dijadikan landasan, karena tanahnya rawa dan lumpur, jadi sebelum pengerasan dibuat landasan dari bamboo dalam jumlah banyak yang ditancapkan, baru kemudian di timbun tanah, sebelum penetrasi. Hanya saja bukti ini interpratasi saja, karena jalur ini besar kemungkinan sudah tidak ada akibat bencana Krakatau 1883. Dalam banyak khazanah cerita lokal, pohon asem jawa diidentikan dengan proyek jalan itu setelah rampung, dan benih pohon didatangkan dari semarang.
  1. Ini juga interpretasi: jalan ini dibangun untuk mobilitas pos yg tinggi, pergerakan kendaraan berkuda, yg kemudian juga berdampak pada mobilitas militer. Kita belum menemukan data apakah ini seperti tol sekarang ini.
  1. Kita belum juga memiliki data komulatif biaya proyek ini, bahkan relative sulit membuat estimasinya. Seperti ruas Bogor-karang sambung katanya diberi modal kerja 30.000 gulden (?), akan tetapi data di Banten sendiri belum diperoleh. Akan tetapi menyakut tenaga kerja tentu saja tanpa upah, kerja rodi/ rodi-diensten, ini teknik pengerahan tenaga yg mengadaptasi pola yg berlaku sebelumnya. Gugur gunung dan kerja pancen.
  1. Jumlah tenaga yg dikerahkan juga belum ada estimasi. Untuk tangerang-balaraja saja tenaga kerja dipinjam dari beberapa kapiten tionghoa dari sewan ada yg menyebut 8.000.-(?) mungkin terlalu fantastic, tapi belum ada estimasi yg relative ajeg. Sementara di anyer , demang cilegon katanya mengerahkan buruh perkebunan kapas 2.700 (?) ini juga belum berdasarkan data historis. Saya belum bias memberi angka proyeksinya, sebelum menemukan data yg relative valid. Termasuk jumlah korban sama, informasi penyakit malaria, pes, dan terbesar kelaparan, sd 15.000 (?) , ini juga masih diperlukan kajian mendalam.
  1. Peristiwa proyek ini, kita tidak melihat korelasinya dgn pembubaran Kesultanan Banten, kecuali penolakan dan keenganan pembesar keraton Banten untuk turut. Bagaimanapun daendles tetap dianggap agresor dan bagian dari pihak kumpeni yang meluluhlantakan Banten.
  1. Dalam posisi awal, sy msh dlm proses riset ttg jalan raya ini, data-data sejarah jaman daendles di Banten sangat minim, data interpretasi yg ada sy mengadaptasi bibliotek simon windcester ttg Krakatau. Mengenai pola kerja paksa dimungkinkan menggunakan format sepeeti telah dijelaskan sebelumnya. Untuk modelnya sy mengadaptasi kekagetan multatuli atas kinerja patih lebak dalam menggunakan tenaga kerja dalam het koffie kovalingen, yg terkenal sebagai kisah saija adinda itu. Namun ada versi lain, tentang pengerahan tenaga dari jawa tengah bagian barat sebagaimana pembangunan rel kereta api (spoorweg diensten) 1872, dimana tenaga kerja sulit didapat dibanten, karena tenaga laki-laki di banten banyak yg melarikan diri ke Lampung dan palembang.
  1. Ada 2 versi: (1) perjalanan lewat laut mendarat di Banten, dan kemudian mnj surosowan, dan menentukan titik nol km di serang (tepat di gerbang pendopo gubernur sekarang) dan memerintahkan penghancuran bangunan2 di banten lama dan materialnya digunakan untuk membangun kota serang,kemudian berlayar kembali dan mendarat di muara anyar (kali sesudah pasar anyar sekarang).
  1. 1806 dimungkinkan sebagai peresmian mercusuar, saya menduga sebetulnya titik nol malah di pantai anyar, namun sudah tidak ada karena sudah menjadi laut. Penentuan lokasi sekitar mercusiar, tanjung tum dan sekitarnya, bisa jadi penentuan monumenten saja pasca bencana Krakatau. Kalau menyimak kajian RA van Sandick 1809, dia menemukan catatan-catatan orang kapal (?) yg menggambarkan anyar/anyer titik pusatnya sebuah alun-alun, dan di sebelah baratnya tertdapat tugu dan tiang bendera, dimana alun-alun itu terletak di bibir pantai, sedangkan jalan terdapat di sebelah timur alun-alun. Saya menduga alun-alun itu sudah ada.

SILAKAN BERI KOMENTAR

Temui Kami di Facebook

Statistik

  • 861Dibaca Hari Ini:
  • 1996Dibaca Kemarin:
  • 16794Dibaca Per Bulan:
  • 349493Total Pengunjung:
  • 815Pengunjung Hari ini:
  • 15930Kunjungan Per Bulan:
  • 8Pengunjung Online: