Artikel

0

Cerita Perjalanan Nina ke Situs Ciampea

Diposting oleh Wayah

Share

tema: oelinan ka karadjaan taruma nagara, jumat tgl 7-desember-2012

Oleh: Nina

Saya bergegas kekampus tepatnya pukul 13:45 untuk pergi kebogor dalam rangka melakukan observasi ke kerajaan tarumanagara. Sebelum menaiki bus saya dan teman-teman rapat/berkumpul terlebih dahulu untuk mempersiapkan pemberangkata dan mengecek kmbal;i barang bawaan atau perlengkapan yang disiapkan untuk penelitian sambil menunggu teman yang belum datang lantaran rumahnya jauh dari kampus, setelah smuanya berkumpul akhirnya kamipun bersia untuk pemberangkataan tapi sebelum berangkat saya & kawan-kawan berdoa terlebih dahulu agar diberi kemudahan dan keselamataan dijalan agar slamat sampai tujuan..aamiin :) Sayapun menaiki bus untuk memulai keberangkataan menuju bogor, saya pun duduk dibelakang tepatnya disamping dekat jendela, dibus pun diisi dengan berbagai aktivitas ada yang mengobrol, bercanda gurau, ada yang tertawa, melamun dan tiduran seperti saya pada akhirnya saya pun tertidur. Tidak banyak hal yang saya saksikan saat diperjalanan karna pasalnya saya tertidur mungkin karna perjalannya siang saya mersa mengantuk dan pada akirnya tertidur, disaat saya terbangun ternyata sudah sampai dibogor karena cuacanya dingin saya pun merasa mual sesampainya ditempat tujuan saya pun turun dari bus karna merasa mual saya pun duduk sejenak diatas ubin, ± 5 menit saya duduk akhirnya kembali berdi untuk berjalan menuju rumah/penginapan yang akan saya tempati dalam 3 hari 2 malam. Sesampainya di tempat penginapan saya pun disambut oleh keluarga besar pemilik penginapan, setelah berkenalan dengan keluarga tersebut saya dan yang lain disediakan tempat untuk beristirahat pasalnya pada saat itu saya capee banget bukan Cuma cape aja, he he Saya pun berbaring disebuah ruangan yang sudah disediakan, akhirnya saya beriistirahat juugga, tak terasa adazan pun berkumandang membuat saya harus segera bergegas untuk menjalankan perintah-Nya, dan saya pun mengajak sahabat untuk melaksanakan kewajiban bersama setelah menjalankan kewajiban saya pun berbaring kembali dan setelah itu tanpa saya sadara ternyata saya tertidur pada saat saya terbangun tenyata teman-teman saya berkumpul didepan teras rumah , dosen bidang stadi sejarah indonesia kuno, memberikan arahan untuk besok penelitian atau studi lapangan dan juga memaparkan apa yang harus dilakukan dan memberikan tugas-tugas yang harus dikerjakan. Inilah yang disebut menyelam sambil minum air pasalnya saya dan teman-teman belajar sambil ngumpi, ..haha. Setelah selesai saya pun bertanya tentang apa yang dikatakan oleh dosen dan ternyat diberi tugas, lalu saya dan teman-teman melanjutkan obrolan yang sempat pending , aduhhh dasar ibu-ibu rempong hah (???) … tak terasa adzan isya pun berkumandang saatnya untuk menjalan kan kewajiban, setelah itu sayapun bergegas untuk mencuci muka biar tinggal langsung tidur, haha eh ternyata bukanya tidur malah ngerumpi cciiin… rempong deh …. saya dan ke enam teman melacur alias melakukan curhat dari pada bengong, hmm… seru deh berbagi cerita bersama teman-teman walaupun pada saat itu saya sedang ngga enak feel pasalnya saat itu saya sedang dilema atau galau badaii ,,saya dan yang lain berbincang-bincang masalah perempuaan,

malampun semakin larut mungkin pada pukul 23:34 saya dan teman saya pergi kedepan rumah pasalnya ngga bisa tidur pada akhirnya didepan hanya mendengarkan music sambil makan snack ma anak-anak hmm… seru bangett melewati malam bersama-sama … hhuuaaamm ..tak terasa pukul 24:00 sudah tengah malam akhirnya saya pun bergegas untuk tidur pasalnya hari esok akan dilaksanakannya penelitiann atau kunjungan ke situs-situs di bogor.

Keesokan harinya,pada pukul 04:48 saya terbangun hebatkan bangun subuh padahal semalam tidur pukul 24:18, jelas aja terbangun dari semalam udah di pasang alarm…hehe sayapun langsung begegas dari tempat tidur menuju ke wc untuk mengambil air wudhu untuk menjalankan kewajiban setelah selesai kira-kira pukul 05:18 saya dan teman saya keluar kedepen rumah untuk joging atau lari kecil, hmm.. karna udaranya sangat dingin saya memutuskan untuk kembali kedalam rumah padahal baru sebentar didepan udah masuk lagi,… hehe, pada pukul 06:00 saya kekamar mandy biasa mau mandy tapi, ternyata udah pada ngantri ,,, huh telatt deh. Lama menunggu yang sedang mandi saya pun menyiapkan pakaian terlebih dahulu dan menyetrika kerudung lalu setelah itu duduk kembali untuk mengantri sembako…. ehh salah maksudnya mandyy. Sekitar pukul 06:18 saya pun mandi dan setelah itu ganti baju, pke krudung tak lupa pake kaos kaki sudah selesai siap-siap saya dan teman-teman pun dipanggil untuk sarapan pagi terlebih dahulu sekitar pukul 07:20 wsetelah selesai makan saya dan teman-teman pun dikumpulkan didepan rumah dan berbaris menurut barisan kelompok masing-masing, setelah photo-photo dan berbaris lalu saya dan kawan diajak kedepan dan dilumpulkan lagi disekitar situs kebun kopi, bukan untuk meneliti dulu melainkan untuk mencari arah masing-masing kelompokpun ditugaskan untuk menentukan arah dengan kompas dan menuliskan derajat dari arah A ke B ke C dan seterusnya, kira-kira pukul 08:34 selesai menentukan arah. Setelah itu masing-masing kelomponk mengujungi situs-situs pasasti-prasasti. Sebelum meneliti atau mengulas tentang prasasti-prasasti yang akan dikunjungi terlebih dahulu saya akan menguraikan tentang bagaimana kerajaan tarumanagara itu, dari apa yang telah di baca diinternet sebelumnya

Kerajaan Tarumanegara atau Taruma adalah sebuah kerajaan yang pernah berkuasa di wilayah pulau Jawa bagian barat pada abad ke-4 hingga abad ke-7 m, yang merupakan salah satu kerajaan tertua di nusantara yang diketahui. Dalam catatan, kerajaan Tarumanegara adalah kerajaan hindu beraliran wisnu. Kerajaan Tarumanegaradidirikan oleh Rajadirajaguru Jayasingawarman pada tahun 358, yang kemudian digantikan oleh putranya, Dharmayawarman (382-395). Jayasingawarman dipusarakan di tepi kali gomati, sedangkan putranya di tepi kali Candrabaga. Maharaja Purnawarman adalah raja Kerajaan Tarumanegara yang ketiga (395-434 m). Ia membangun ibukota kerajaan baru pada tahun 397 yang terletak lebih dekat ke pantai. Kota itu diberi nama Sundapura pertama kalinya nama Sunda digunakan. Pada tahun 417 ia memerintahkan penggalian Sungai Gomati dan Candrabaga sepanjang 6112 tombak (sekitar 11 km). Selesai penggalian, sang prabu mengadakan selamatan dengan menyedekahkan 1.000 ekor sapi kepada kaum Brahmana.

Prasasti Pasir Muara yang menyebutkan peristiwa pengembalian pemerintahan kepada raja Sunda itu dibuat tahun 536 M. Dalam tahun tersebut yang menjadi penguasa Kerajaan Tarumanegara adalah Suryawarman (535 – 561 M) raja Kerajaan Tarumanegara ke-7. Dalam masa pemerintahan Candrawarman (515-535 M), ayah Suryawarman, banyak penguasa daerah yang menerima kembali kekuasaan pemerintahan atas daerahnya sebagai hadiah atas kesetiaannya terhadap Kerajaan Tarumanegara. Ditinjau dari segi ini, maka Suryawarman melakukan hal yang sama sebagai lanjutan politik ayahnya.

Kehadiran prasasti Purnawarman di pasir muara, yang memberitakan raja Sunda dalam tahun 536 M, merupakan gejala bahwa ibukota sundapura telah berubah status menjadi sebuah kerajaan daerah. Hal ini berarti, pusat pemerintahan Kerajaan Tarumanegara telah bergeser ke tempat lain. Contoh serupa dapat dilihat dari kedudukaan rajatapura atau salakanagara (kota perak), yang disebut argyre oleh ptolemeus dalam tahun 150 M. Kota ini sampai tahun 362 menjadi pusat pemerintahan raja-raja Dewawarman (dari Dewawarman I – VIII). Ketika pusat pemerintahan beralih dari rajatapura ke Tarumanegara, maka salakanagara berubah status menjadi kerajaan daerah. Jayasingawarman pendiri Kerajaan Tarumanegara adalah menantu raja Dewawarman VIII. Ia sendiri seorang maharesi dari salankayana di India yang mengungsi ke nusantara karena daerahnya diserang dan ditaklukkan maharaja samudragupta dari kerajaan magada.

Suryawarman tidak hanya melanjutkan kebijakan politik ayahnya yang memberikan kepercayaan lebih banyak kepada raja daerah untuk mengurus pemerintahan sendiri, melainkan juga mengalihkan perhatiannya ke daerah bagian timur. Dalam tahun 526 M Manikmaya, menantu Suryawarman, mendirikan kerajaan baru di Kendan, daerah Nagreg antara Bandung dan Limbangan, Garut. Putera tokoh manikmaya ini tinggal bersama kakeknya di ibukota tarumangara dan kemudian menjadi panglima angkatan perang Kerajaan Tarumanegara. Perkembangan daerah timur menjadi lebih Berkembang Ketika Cicit Manikmaya Mendirikan Kerajaan Galuh Dalam Tahun 612 M.

KEHIDUPAN DI KERAJAAN TARUMANEGARA

Kehidupan Politik

Raja Purnawarman adalah raja besar yang telah berhasil meningkatkan kehidupan rakyatnya. Hal ini dibuktikan dari prasasti Tugu yang menyatakan raja Purnawarman telah memerintah untuk menggali sebuah kali. Penggalian sebuah kali ini sangat besar artinya, karena pembuatan kali ini merupakan pembuatan saluran irigasi untuk memperlancar pengairan sawah-sawah pertanian rakyat.

Kehidupan Sosial

Kehidupan sosial Kerajaan Tarumanegara sudah teratur rapi, hal ini terlihat dari upaya raja Purnawarman yang terus berusaha untuk meningkatkan kesejahteraan kehidupan rakyatnya. Raja Purnawarman juga sangat memperhatikan kedudukan kaum brahmana yang dianggap penting dalam melaksanakan setiap upacara korban yang dilaksanakan di kerajaan sebagai tanda penghormatan kepada para dewa.

Kehidupan Ekonomi

Prasasti tugu menyatakan bahwavraja Purnawarman memerintahkan rakyatnya untuk membuat sebuah terusan sepanjang 6122 tombak. Pembangunan terusan ini mempunyai arti ekonomis yang besar nagi masyarakat, Karena dapat dipergunakan sebagai sarana untuk mencegah banjir serta sarana lalu-lintas pelayaran perdagangan antardaerah di Kerajaan Tarumanegara dengan dunia luar. Juga perdagangan dengan daera-daerah di sekitarnya. Akibatnya, kehidupan perekonomian masyarakat Kerajaan Tarumanegara sudah berjalan teratur.

Kehidupan Budaya

Dilihat dari teknik dan cara penulisan huruf-huruf dari prasasti-prasasti yang ditemukan sebagai bukti kebesaran Kerajaan Tarumanegara, dapat diketahui bahwa tingkat kebudayaan masyarakat pada saat itu sudah tinggi. Selain sebagai peninggalan budaya, keberadaan prasasti-prasasti tersebut menunjukkan telah berkembangnya kebudayaan tulis menulis di kerajaan Tarumanegara.

RAJA-RAJA DI KERAJAAN TARUMANEGARA

Tarumanagara sendiri hanya mengalami masa pemerintahan 12 orang raja. Pada tahun 669 M, Linggawarman, raja Tarumanagara terakhir, digantikan menantunya, Tarusbawa. Linggawarman sendiri mempunyai dua orang puteri, yang sulung bernama Manasih menjadi istri Tarusbawa dari Sunda dan yang kedua bernama Sobakancana menjadi isteri Dapuntahyang Sri Jayanasa pendiri Kerajaan Sriwijaya. Secara otomatis, tahta kekuasaan Tarumanagara jatuh kepada menantunya dari putri sulungnya, yaitu Tarusbawa. Kekuasaan Tarumanagara berakhir dengan beralihnya tahta kepada Tarusbawa, karena Tarusbawa pribadi lebih menginginkan untuk kembali ke kerajaannya sendiri, yaitu Sunda yang sebelumnya berada dalam kekuasaan Tarumanagara. Atas pengalihan kekuasaan ke Sunda ini, hanya Galuh yang tidak sepakat dan memutuskan untuk berpisah dari Sunda yang mewarisi wilayah Tarumanagara.

Raja-raja Tarumanegara:

Jayasingawarman 358-382 M

Dharmayawarman 382-395 M

Purnawarman 395-434 M

Wisnuwarman 434-455 M

Indrawarman 455-515 M

Candrawarman 515-535 M

Suryawarman 535-561 M

Kertawarman 561-628 M

Sudhawarman 628-639 M

Hariwangsawarman 639-640 M

Nagajayawarman 640-666 M

Linggawarman 666-669 M

SUMBER-SUMBER SEJARAH

di Ciampea

Bukti keberadaan Kerajaan Taruma diketahui melalui sumber-sumber yang berasal dari dalam maupun luar negeri. Sumber dari dalam negeri berupa tujuh buah prasasti batu yang ditemukan empat di Bogor, satu di Jakarta dan satu di Lebak Banten. Dari prasasti-prasasti ini diketahui bahwa kerajaan dipimpin oleh Rajadirajaguru Jayasingawarman pada tahun 358 M dan beliau memerintah sampai tahun 382 M. Makam Rajadirajaguru Jayasingawarman ada di sekitar sungai Gomati (wilayah Bekasi). Kerajaan Tarumanegara ialah kelanjutan dari Kerajaan Salakanagara. Sedangkan sumber-sumber dari luar negeri yang berasal dari berita Tiongkok antara lain:

Berita Fa-Hsien, tahun 414 M dalam bukunya yang berjudul Fa-Kao-Chi menceritakan bahwa di Ye-po-ti hanya sedikit dijumpai orang-orang yang beragama Buddha, yang banyak adalah orang-orang yang beragama Hindu dan sebagian masih animisme.

Berita Dinasti Sui, menceritakan bahwa tahun 528 dan 535 telah datang utusan dari To- lo-mo yang terletak di sebelah selatan.

Berita Dinasti Tang, juga menceritakan bahwa tahun 666 dan 669 telah datang utusaan dari To-lo-mo.

Berdasarkan tiga berita di atas para ahli menyimpulkan bahwa istilah To-lo-mo secara fonetis penyesuaian kata-katanya sama dengan Tarumanegara. Maka berdasarkan sumber-sumber yang telah dijelaskan sebelumnya maka dapat diketahui beberapa aspek kehidupan tentang kerajaan Tarumanegara. Kerajaan Tarumanegara diperkirakan berkembang antara tahun 400-600 M. Berdasarkan prasast-prasati tersebut diketahui raja yang memerintah pada waktu itu adalah Purnawarman. Wilayah kekuasaan Purnawarman menurut prasasti Tugu, meliputi hampir seluruh Jawa Barat yang membentang dari Banten, Jakarta, Bogor dan Cirebon.

Tarumanegara

Kerajaan tertua kedua sesudah Kutai, terletak di daerah Bogor, Jawa’ Barat. Merupakan kerajaan Indonesia-Hindu tertua di Pulau Jawa. Hal ini dapat

diskusi sambil menunggu ransum

diketahui dari prasasti Tugu yang menyebutkan adanya Kerajaan Tarumanegara dengan rajanya Purnawarman. Selain itu Berita Cina tentang kedatangan Fa Shien tahun 414 di Jawa yang diduga pada masa itu di Tarumanegara, dapat pula dipakai untuk menguatkan adanya masyarakat yang bercorak Indonesia-Hindu.Sumber sejarah yang dapat digunakan untuk mengetahui adanya Kerajaan Tarumanegara, antara lain beberapa prasasti dan berita Cina dari Dinasti Tang abad ke-7. Prasasti dari Kerajaan Tarumanegara berjumlah tujuh buah; sebagian kini disimpan di Museum Jakarta dan sebagian lagi masih di tempatnya semula. Prasasti tersebut adalah Prasasti Ciaruteun, Prasasti Kebon Kopi, Prasasti Jambu, Prasasti Muara Cianten, Prasasti Pasir Awi (keempatnya ditemukan di daerah Leuwiliang Bogor), Prasasti Tugu (Cilincing, Jakarta), dan Prasasti Muncul (Banten). Bahasa yang dipergunakan dalam prasasti-prasasti tersebut adalah bahasa Sansekerta dengan huruf Pallawa, yang diduga berasal dari abad ke-4. Pada beberapa bagian terdapat tulisan dengan huruf ikal, yang sama artinya dengan nama Purnawarman. Berdasarkan bentuk hurufnya, prasasti pada masa Tarumanegara diperkirakan lebih muda dari pada prasasti masa Kutai. Dalam prasasti Ciaruteun terdapat jejak tapak kaki seperti tapak kaki Wisnu yang dinyatakan sebagai tapak kaki Purnawarman, raja pada masa itu. Prasasti lainnya menceritakan kebesaran Purnawarman. Menurut dugaan, Raja Tarumanegara ini banyak mendapat pengaruh Hindu. Wilayah Kerajaan Tarumanegara meliputi Banten, Jakarta sampai Cirebon. Sistem pemerintahannya sudah berjalan baik dan teratur, demikian pula kehidupan rakyatnya. Hal ini digambarkan dalam prasasti Tugu yang menceritakan pembangunan saluran air sepanjang 6.122 busur hanya selama 21 hari untuk pengairan dan pencegah banjir. Dari tulisan mengenai pembangunan saluran air yang dapat diselesaikan dalam waktu singkat itu juga dapat disimpulkan bahwa Kerajaan Tarumanegara di bawah pemerintahan Raja Purnawarman telah mengenal manajemen dan cara kerja yang rapi, serta pemimpin yang ditaati.

Kerajaan Tarumanegara diperkirakan berakhir abad ke-7 M. Karena sejak abad tersebut tidak ada lagi berita-berita yang dapat dihubungkan dengan nama rajanya. Menurut Ir. J.L. Moens dari Prasasti Kota Kapur ± 686 M di Pulau Bangka, runtuhnya Kerajaan Tarumanegara pada akhir abad tersebut disebabkan kekuasaan Sriwijaya. Mengenai letak ibukota Tarumanegara dengan keratonnya masih belum bisa dipastikan. Tetapi berdasarkan ilmu bahasa Prof Dr. Poerbatjaraka memperkirakan bahwa letak Keraton Taruma itu di daerah Bekasi, dengan alasan bahwa Sungai Chandrabhaga dalam ucapan orang menjadi Sasihbaga yang lambat laun berubah menjadi Baga Sasih dan akhirnya Bekasi. Di daerah Bekasi, sejak tahun-tahun yang lalu telah ditemukan alat-alat prasejarah seperti pahat dan kapak batu serta pecahan-pecahan periuk. Kecuali benda-benda prasejarah juga terdapat benda-benda yang sudah masuk masa-masa jauh setelah zaman Batu-Baru dan Perunggu Besi. Tidak jauh dari Bekasi yakni di Cibuaya, Rengasdengklok pada tahun 1952 pernah ditemukan area Wishnu yang usianya kurang lebih dari abad ke-7, dimungkinkan area tersebut berasal dari masa Tarumanegara.

ciaruteun

di tengah sungai Ciaruteun

Nah selanjutnya baru kita mulai berangkat mengunjungi atau meneliti langsung keprasasti-prasasti tersebut, saya selaku kelompok tiga diberikan intruksi untuk mengujungi situs muara cianten terlebih dahulu sebenar nya ada 7 situs yang harus dikunjungi namu n hanya 6 yang ditugaskan kepada saya dan teman-teman lantaran 1 situs tersebut tidak ada.

1. situs muara cianten

Pertama kita melakukan analisa ke pasir muara cianten di pasir muara cianten saya dan teman-teman kelompok menemukan prasasti berupa sebongkah batu besar yang berbentuk seperti meja yang konon katanya disitu tempat pengalihan tahta kerajaan yang akan di teruskan oleh raja selanjutnya yang memimpin (menguasai kerajaan tarumanagara) menurut kuncen atau penjaga di situs tersebut yaitu bapak Atma. Ukuran atas alas batu tersebut yaitu berukuran 266 cm, depan batu berukuran 140 cm, ukuran sisi belakang batu tersebut yaitu 130 cm, sedangkan kedalam panjang batu tersebut ke dasar air mencapai 150 cm.

di atas alas batu tersebut terdapat ukiran tulisan yang sampai sekarang belum dapat terbaca sekalipun oleh arkeolog mungkin karana bentuk tulisan tersebut mengikis dan tidak terlalu jelas sehingga para arkeolog memperkiranya untuk membaca tulisan tersebut Perasasti ini berada di tepi sungai cisadane di sisi barat, jarak sekitar 50 Meter dari pertemuan sungai cianten prasati ini berada pada ketinggian 140 M diatas permukaan laut dan pada koordinat 0,60 31’23,80LS dan 106041’27,90BT. Prasasti ini masih berada pada lokasi semula, sehingga pada waktu air sungai pasang akan terendam air sungai.

2. Situs Arca Batu Segitiga

Kedua saya dan teman-teman menganalisa ke situs prasasti batu segitiga. Sebelum mencapai prasasti batu segitiga kita harus menaiki anak tangga yang berjumlah 34 anak tangga.

Setelah kita naik dan sampai tempat batu segitiga tersebut, ternyata tempat penyimpanan batu ini berbentuk seperti badan perahu tapi Cuma setengah badan, yang depannya konon katanya mengapa tempat menyimpanan batu tersebut berbentuk seperti itu karena melambangkan masyarakat disana dari dulunya orang-orang kerajaan atau rakyat biasa baik siapapun kemana-mana menggunakan alat transportasi perahu. Di situs batu tersebut tersebut terdapat satu buah perapian yang konon katanya itu digunakan untuk pembakaran menyan, jadi bila adaa pelayad ke batu tersebut istilahnya yang mau mengaji atau sekedar mendoakan (berziarah) dan perapian itu dinyalakan dan ditempat itu dulu dipakai sebagai tempat pemujaan nenek moyang.

3. Situs Arca Pajajaran.

Prasati ini terletak disekitar kuburuan keluarga kuncen atau juru kunci dan tidak jauh dari situs atau prasasti batu segitiga dan muara cianten. Diprasasti ini terdapat dua batu yang mempunyai nama yang satu bernama Yunani dan yang satu lagi bernama dewi hara konon katanya batu yang bernama dewi hara Menggambarkan seorang anak zaman dulu itu yang patuh terhadap orang tuanya jika dimarahi dia diam dan tidak melawan walaupun sekalipun dia bersalah, tetpai sangat jauh berbeda dengan anak zaman sekarang walaupun dia benar-benar salah jika dimarahi dia tetap melawan dan membangkang terhadap orang tuanya. Salah satunya batu dewi hara Tersebut bentuknya membungkuk kedepan.Dan disitus ini terdapat 7 buah batu menhir 2 diantaranya mempunyai nama seperti yang dijelaskan diatas yaitu dewi hara dan yunani.

4.Prasasti Batu congklak

yang disebut juga Prasasti Batu dakon , saya kunjungi dengan berjalan kaki dari Prasastibatu arca pajajaran. Setelah bertanya arah dua kali, sampailah saya ke lokasi Prasasti Batu conglkak yang berjarak sekitar 20 meter dari tepi jalan, di dalam sebuah cungkup.

Prasasti Batu congklak pada cungkup yang di dalamnya terdapat dua buah batu dakon, yang satu berbentuk tidak beraturan dan kasar dengan lubang berjumlah 8 dengan ukuran besar kecil, dan batu dakon kedua berbentuk lebih teratur dan halus dengan jumlah 10 lubang yang lebih banyak dari batu satunya. Di sebelahnya terdapat dua buah batu menhir berukuran kecil. Prasasti Batu congklak pada Batu congklak dengan lubang yang halus dalam berbagai ukuran. Di Prasasti Batu congklak ini tidak terdapat tulisan apa pun yang bisa menjadi petunjuk tentang asal muasalnya. Prasasti Batu congklak pada Batu congklak yang bentuknya kasar dan tidak beraturan. Pada puncak batu menhir yang lebih kecil terdapat lekukan halus yang menyerupai lekukan bekas lutut. Di sebelah batu congklak kasar terdapat sebuah batu yang juga ada lekukan di puncaknya. Prasasti Batu Congklak yang namanya diberikan seperti itu karena lubang-lubang yang ada pada batu-batu itu menyerupai lubang yang ada pada permainan congklak yang yang sampai sekarang masih banyak dijumpai dan dimainkan.

5. Prasasti Kebun Kopi

Menurut warga sekitar asal usul prasasti ini disebut kebun kopi karna dulu ditemukannya prasati ini waktu diadakan penebangan untuk dijadikan perkebunan kopi perkebunanan ini milik orang belanda pada masa pemerintaha prof Dr van hotman pada tahun 1800, oleh sebab itu disebutlah prasasti kebun kopi karna ditemukannya dikebun kopi. Di prasasti tersebut terdapat cetakan telapak kaki gajah serta terdapat ukiran tulisan, cetakan telapak kaki gajah itu mengapit sebuah kalimat dalam huruf Pallawa berbahasa Sanskerta, berpola metrum Anustubh (bait sloka dengan delapan suku kata). Berikut kalimat tersebut.

jayavis halasya tarumendrsaya hastinah airavatabhasya vibhatidam padadavayam

artinya:

kedua jejak telapak kaki ini adalah jejak kaki gajah yang cemerlang seperti Airawata milik penguasa Tarumanagara yang jaya dan berkuasa.

Menurut mitologi Hindu, Airawata adalah nama gajah tunggangan Batara Indra, dewa perang dan penguasa kilat. Menurut Pustaka Parawatwan I Bhumi Jawadwipa, parwa I, sarga 1, gajah perang Purnawarman diberi nama Airawata seperti nama gajah tunggangan Indra. Diberitakan juga bahwa bendera Kerajaan Tarumanagara berlukiskan rangkaian bunga teratai di atas kepala gajah.

Beberapa ahli yang telah meneliti prasasti ini, di antaranya: Brumun (1868), Veth (1878, 1896), H. Kern (1884, 1885, 1910), dan Verbeek (1891). Yang mampu membaca tulisan dalam prasasti ini dan diterima oleh semua kalangan adalah Vogel (1925).

6. Prasasti Ciaruteun

terakhir kelompok tiga menganalisa ke situs prasasti ciaruteun yang disana terdapat batu besar yang terdapat sepasang telapak kaki dan tulisan-tulisan

Prasasti Ciaruteun ditemukan pada aliran Ci Aruteun, seratus meter dari pertemuan sungai tersebut dengan Ci Sadane; namun pada tahun 1981 diangkat dan diletakkan di dalam cungkup. Prasasti ini peninggalan Purnawarman, beraksara Palawa, berbahasa Sanskerta. Isinya adalah puisi empat baris, yang berbunyi:

vikkrantasyavanipateh shrimatah purnavarmmanah tarumanagararendrasya vishnoriva padadvayam

Terjemahannya menurut Vogel:

Kedua (jejak) telapak kaki yang seperti (telapak kaki) Wisnu ini kepunyaan raja dunia yang gagah berani yang termashur Purnawarman penguasa Tarumanagara.

Selain itu, ada pula gambar sepasang “padatala” (telapak kaki), yang menunjukkan tanda kekuasaan &mdash& fungsinya seperti “tanda tangan” pada zaman sekarang. Kehadiran prasasti Purnawarman di kampung itu menunjukkan bahwa daerah itu termasuk kawasan kekuasaannya. Menurut Pustaka Rajyarajya i Bhumi Nusantara parwa II, sarga 3, halaman 161, di antara bawahan Tarumanagara pada masa pemerintahan Purnawarman terdapat nama “Rajamandala” (raja daerah) Pasir Muhara.

Lahan tempat prasasti itu ditemukan berbentuk bukit rendah berpermukaan datar dan diapit tiga batang sungai: Cisadane, Cianten dan Ciaruteun. Sampai abad ke-19, tempat itu masih dilaporkan dengan nama Pasir Muara. Dahulu termasuk bagian tanah swasta Ciampea. Sekarang termasuk wilayah Kecamatan Cibungbulang.

Kampung Muara tempat prasasti Ciaruteun dan Telapak Gajah ditemukan, dahulu merupakan sebuah “kota pelabuhan sungai” yang bandarnya terletak di tepi pertemuan Cisadane dengan Cianten. Sampai abad ke-19 jalur sungai itu masih digunakan untuk angkutan hasil perkebunan kopi. Sekarang masih digunakan oleh pedagang bambu untuk mengangkut barang dagangannya ke daerah hilir.

Prasasti pada zaman ini menggunakan aksara Sunda kuno, yang pada awalnya merupakan perkembangan dari aksara tipe Pallawa Lanjut, yang mengacu pada model aksara Kamboja dengan beberapa cirinya yang masih melekat. Pada zaman ini, aksara tersebut belum mencapai taraf modifikasi bentuk khasnya sebagaimana yang digunakan naskah-naskah (lontar) abad ke-16.

Tak terasa akhirnya penelitian pun selesai, hmm… cuaca lumayan panas akhirnya saya dan teman-teman kembali ke tempat penginapan, walaupun kelompok saya terahir datang atau selesainya tapi itu tidak membuat saya dan teman-teman tidak berkecil hati menang kalah adalah hal biasa namun nilai kebersamaan itu hal yang lebih dari biasa, sesampainya dipenginapan saya pun cuci muka cuci tangan lalu cuci kaki dan makan siang bersama teman-teman yang lain. Setelah selesai makan saya memumutuskan untuk beristirahat atau tidur siang. Sore pun tak terasa dan sayapun terbangun ternyata waktu sudah mulai senja dalama keadaan mengantuk saya pun bergegas menuju kamar mandy untuk mencuci muka setelah itu saya kembali mengobrol dengan teman teman yang lain menceritakan kejadian yang dialami sebelumnya saat penelitian ke enam(6) situs, ada kejadian yang lucu yang membuat saya dan yang tertawa terbahak-bahak… haha. Adzan magrib pun berkumandang takterasa hari sudah hampir malam dan obrolan pun dihentikan berlanjut dengan menjalankan kewajiban saya dan kawan-kawan melaksanakan sholat magrib. Pada pukul 7 malam saya dan yang lain dipanggil untuk makan malam bersama, dengan makan bersama ini membuat saya dan yang lain saling kompak dan menumbuhkan kebesamaan walau hanya 3 hari 2 malam disini saya merasa dekat dengen teman yang lain, besok pagi rencananya pulang pukul 7 pagi smoga hari ini dan kemiren adalah pengalaman yang indah, bukan tentang aku dan kamu tetapi tentang kita. Hmm…..

Pada pukul 8 malam saya dan teman teman dikumpulkan didalam ruangan, saya dan teman-teman yang lain serta 2 dosen pengampu berkumpul dalam satu ruangan.

Untuk mempresentasikan hasil penelitian waktu siang masing-masing kelompok menguraikan kembali hasil penelitian dari enam(6) situs yang sudah dikunjungi, setelah saya dan teman-teman selesai mempersentasikan, smuanya kembali pada kegiatan masing-masing kalo anak laki-laki ada yang main PS ada yang main gaple dan ada yang nonton tv sedangkan perempuanya biasa ngerumpi ciiiin, ada yang nonton tv jg dan ada yang langsung tidur mungkin kecapean kali yah (?).. hmmm.. sampe lupa ternyata malam nie malam minggu malum jarang mamingan..haha,, tak terasa malam mulai larut tapi saya dan ketiga teman saya sama sekali tidak merasa ngantuk sampe pada akhirnya dari kamar ngumpi pindah kedepen mau liatt bintang ,,hee.. duduk termenung sambil mendengarkan music karna pada saat ini saya sedang broken heart alias patah jatung ehhh.. salah patah hati maksudnya…hmm(galau’ers) haha lebay dikitttt. Seperti malam kemarin bergegas tidur pukul 12 malam sebenarnya sih masih belom ngantuk tapi paksain aja dweh pasalnya besok pagi balik lagi kerangkas.

Keesokan harinya, seperti kemaren saya bangun lebih awal tapi kali ini ternyata anak-anak sudah pada bangun dan selsai mandi dluan weww.. telat dong diriku, hmm lagi-lagi ngantri :’(.. akhirnya selesai juga ngga sia-sia pentianku beberapa menitt menunggu sekalipun menunggu adalah hal yang sangat menyebalkan .. hehee akhirnya selesai mandy juga selanjutnya siap-siap dweh mau pulang horeee tapi sebelumnya berkemas dulu dan mengecek kembali barang bawaan takut ada yang tertinggal.

lalu sebelum pemberangkatan saya dan teman-teman minum obat terlebih dahulu supaya tidak mabuk diperjalan, tas udah, beres-beres udah, perlengkapan mandy udah o..iya cazan+hp ada diruang tv hampir aja ketinggalan hp+cazannya hmm.. katanya hp itu nyawa keduaa hehe.. smuanya siap tinggal beeeerangkattt tapi sebelum keberangkatan saya pamitan terlebih dahulu pada kel. Besar bapak ahmad karna telah menyediakan penginapan kepada saya dan teman-teman selama 2 hari 3 malam, selanjutnya berkumpul dihalaman depan untuk photo-photo buat kenangan dan bersalam-salaman dengan keluarga pa ahmad. Setelah selesai kita semua bergegas menuju parkiran mobil.

Sesampainya diparkiran mobil saya dan teman-teman langsung menaiki mobil, menuggu sejenak dimobil sampai semuanya menaiki mobil dan mobilpun mulai berjalan dan waktunya pulang otw rangkas, tidak banyak hal yang saya lakukan didalam mobil pasanya saya tertidur ada kejadian yang aneh pun saya tidak mengetahuinya jelas aja orang diriku tertidur..haha. kira-kira tiga-empat jam kemudian sampai dirangkas yaitu pada pukul 1 siang, saat terbangun sesampainya didepan kampus lalu saya dan teman-teman dikumpulkan diruangan dan setelah itu berpamitan pulang teletabies berpelukan daadahh..haaha saatnya pulang kekosan dan istiratt ☺

Silakan Beri Komentar

© Copyright Prodi Sejarah 2011. All rights reserved.