CIATEUL

Neng Resiana

Kp.ciateul Ds.cidahu kec.banjarsari kab.lebak,banten. Nama kp.ciateul berawal dari datangnya seorang santri muda yang berkunjung ke mesjid untuk beristirahat dan melaksanakan shalat. Tepatnya pada malam hari pukul 24.00 WIB santri itu datang ke mesjid tersebut,ia langsung membersihkan diri ke sungai dekat masjid itu,karena pada zaman itu belum ada yang namanya toilet atau tempat berwudhu seperti sekarang. Untuk mandi dan keperluan yang lainnya harus pergi ke sungai. Tengah malam dia pergi kesungai untuk mandi dan mengambil wudhu,setelah semua beres ia hendak melaksanakan shalat,tapi tiba-tiba ia merasakan sesuatu yang aneh pada dirinya,ia merasa tubuhnya gatal. padahal,sebelum ia datang ke mesjid itu ia baik-baik saja. ia berpikir bahwa gatal ditubuhnya akibat ia mandi di sungai itu,lalu ia berkata ” apa gara-gara mandi di sungai itu ya” (gara-gara mandi di wahangan eta meren nyah” setelah itu,ia tetap memaksakan untuk shalat ditengah malam karena shalat adalah kewajiban.dalam shalatpun ia merasa tidak khusyu karena merasa badannya gatal yang teramat gatal. Lalu memasuki waktu shubuh ia bertemu dengan penduduk sekitar dan menceritakan semua kejadianyang ia alami.

penduduk : “kenapa pak?” (sunda: kunaon kang ?)

santri : “gatal pak,” (arateul pak)

penduduk : “dari mana emang ?” (tos timana kitu ?)

santri : “dari sungai pak,saya mandi disungai malah gatal,airnya gatal pak. Sebelum saya mandi dan berwudhu saya tidak merasakan apa-apa,tapi setelah mandi rasa gatal ini saya alami” (tos ti wahangan pak,tos mandi malah arateul,caina ateul pak,padahal sateuacan mandimah teu ngarasa arateul pak tapi tos mandi karasa ku abdi arateul).

penduduk : “jam berapa mandinya ?” (jam sabaraha mandina kang ?)

Santri : “ jam 12 malem pak,apa kampung ini namanya kampung air gatel ya pak ?” (jam 12 peting pak, naon kampung ieu kampung cai ateul nya pak ?)

Penduduk : bukan “sanes kang”

setelah kejadian itu, dan santri itu sudah menceritakan kepada seorang penduduk, cerita kejadian tersebut menyebar kepada penduduk-penduduk yang lain, pendudukpun aneh dan kaget mendengar cerita itu. Begitu cepat kabar itu menyebar dari mulut ke mulut dikalangan masyarakat, bahkan kabar itu terdengar sampai keluar kampung. Setelah kejadian itu setiap orang membicarakan kampung itu mereka menyebutnya “cai ateul”. Pendudukpun menyebut kampung itu dengan sebutan “ciateul”,

maka kampung tersebut dinamakan ciateul yang berarti air gatal.

Setelah kejadian itu, para penduduk tidak berani untuk mandi malam-malam bahkan diatas pukul 22.00 pun tidak berani. Penduduk selalu bilang “pamali”, ketika mandi pada waktu tengah malam karena mereka menganggap tidak baik dan akan merasakan akibatnya yaitu merasa gatal-gatal,bahkan sampai sekarang para penduduk masih mempercayai akan hal itu.

 

SILAKAN BERI KOMENTAR

Temui Kami di Facebook

Statistik

  • 1415Dibaca Hari Ini:
  • 1839Dibaca Kemarin:
  • 15352Dibaca Per Bulan:
  • 348137Total Pengunjung:
  • 1300Pengunjung Hari ini:
  • 14574Kunjungan Per Bulan:
  • 3Pengunjung Online: