DERITA DI KERETA

Pada pertengahan abad XIX, Pemerintah Belanda mulai merasa membutuhkan pembangunan jalan kereta api sejak berkembangnya perkebunan terutama di pedalaman Jawa.. Pengangkutan hasil perkebunan sudah tidak dapat dipenuhi lagi oleh transportasi lewat jalan-jalan pos Gudang-gudang penuh sesak hingga tidak dapat menampung lagi, sedang kapal-kapal di pelabuhan terpaksa menunggu lama, sering kali berbulan-bulan. Pengangkutan hasil perkebunan terutama kopi, tembakau, indigo, dan gula menuju pelabuhan sangat lambat dan kurang efisien. Lagi pula hasil perkebunan dapat mengalami kerusakan Dibutuhkan sistem pengangkutan yang tidak boros waktu dan biaya. Maka, pembangunan jaringan jalan kereta api bertolak dari kota-kota pelabuhan, yaitu Semarang, Batavia, dan Sura¬baya menuju daerah sumber penghasil produk perkebunan.

Pada tahap pertama, jalan kereta dibangun dari utara ke selatan. Pada tahap kedua lebih mengarah membujur pulau menurut arah barat-timur, atau sebaliknya, yaitu berfungsi untuk saling menghubungkan jaringan-jaringan yang dibangun pada tahap pertama. Dalam tahap selanjutnya dibangun perpanjangan atau perlengkapan dari jaringan yang telah ada.

Di awal pembangunan, sempat muncul keraguan apakah gubernemen atau swasta yang akan menangani. Baru, pada tahun 1852 keluarlah peraturan yang menentukan bahwa pihak swasta dapat memasukkan permohonan untuk memperoleh konsesi. Yang pertama, memakai kesempatan ini ialah Poolman pada tahun 1863; yaitu untuk membuat jalan kereta api Semarang-Yogyakarta. Sedang oleh perusahaan Nederlands Indische Stoomtram-Mctat¬schappij (NIS) trayek Batavia–Buitenzorg. Trayek yang pertama, dengan cabangnya ke Willem I (Ambarawa) 256 km dan yang kedua 56 km. Trayek sampai Solo dibuka pada tahun 1870 kemudian sampai Yogyakarta pada tahun 1873. Pada tahun 1873, juga mulai dieksploitasi trayek Batavia ke Buitenzorg.

Dalam proses pembangunan jalur kereta api, sebenarnya cukup banyak perusahaan yang terlibat beroperasi di Jawa. Tiga perusahaan besar di antaranya adalah Perusahaan Kereta Api Hindia¬Belanda (NIS), Perusahaan Kereta Uap Semarang-Joana (SJS), dan Perusahaan Kereta Uap Semarang-Cirebon (SCS). Dua perusahaan yang terakhir merupakan cabang perusahaan besar yang dikenal sebagai Sister Society atau ‘Saudara Kembar’ yang sebenarnya meliputi: SJS (Semarang-Joana Mactschappij Stoomtram) dan SCS (Semarang-Cheribon Stoomtram Mactschappij), Oost-Java Stoomtrom Maatschappij (0J0), dan Seradjoedat Stoomtram Mactschoppij (SSM). Selain itu, Sister Society juga mempunyai sejumlah perusahaan kecil kereta api dan kereta listrik satu jalur yang beroperasi secara besar di Jawa Timur dan perusahaan kereta listrik yang mengoperasikan jaringan di kola-kola besar di Jawa.

Walaupun terdapat beberapa perusahaan swasta, Perusahaan Kereta Api Negara milik pemerintah atau Staatspoorwagen (SS) adalah yang terbesar baik jaringannya maupun jenis kereta yang beroperasi (uap dan listrik). Jaringan terbesarnya ada di Jawa Timur, berpusat di Surabaya, tetapi NIS memiliki sebuah sistem yang lebih meluas di Jawa Barat yang berpusat di Bandung. Jalan yang dibuat SS pertama ialah trayek Surabaya–Pasuruan dengan cabang ke Malang; yang pertama dibuka pada tahun 1878 dan yang kedua setahun kemudian (1879). Yang menjadi pertimbangan dalam memperluas jaringan jalan kereta api bukannya somata-mata kepentingan ekonomi saja, akan tetapi juga menyangkut masalah pergolakan di daerah, seperti Banten. Lagi pula sebagai pembukaan daerah-daerah yang masih terisolasi, seperti Bajar-Perigi.

Dari sejarah kereta api di Jawa yang menjadi peristiwa penting ialah saat bersambungnya jalur Barat (Westerlijnen), yaitu trayek Batavia-Yogyakarta.dan jalur Timur (Oosterlij¬nen), yaitu trayek Surabaya–Yogyakarta. Pada tahun 1884 lin Surabaya. sudah sampai di Sala dan dengan selesainya jalur Tasikmalaya–Kasugihan pada tahun 1894 terwujudlah hubungan kereta api langung dari Batavia ke Surabaya.

Kemudian, ada tambahan pembangunan jalan kereta api untuk mempersingkat perjalanan serta membuat sambung¬an antar sub-jaringan, antara lain jalan ke Purwakarta dan Padalarang (1906), Cikampek-Cirebon (1912), Cirebon–Kro¬ya (1917), Sala–Yogya (1905) dengan pembuatan rel ketiga. Dengan demikian hubungan Jakarta–Surabaya lewat Yogya menjadi lebih singkat, jarak sepanjang 800 km dapat ditempuh dalam 13½ jam.

Di Sumatera, pada masa Perang Aceh, Belanda juga telah membuat jalan kereta api dari Kotaraja ke Oeluelue (1876) terutama untuk transportasi alat-alat perang. Atas perintah van Houtz jalur itu diperpanjang ke selatan mulai tahun 1897 sampai akhirnya bersambungan dengan jalan kereta api yang dibangun oleh Deli Stoomtram Maatschappij (DSM). Dengan demikian terwujudlah hubungan antara Kotaraja dan Medan yang berjarak 569 km, dan dapat ditempuh dalam dua hari.

Jaringan jalan kereta api yang dibangun Deli Stoomtram Maatschappij mencakup 553 km, membentang ke selatan sampai Pematang Siantar dan Tanjungbalai (1918). Di Sumatra Selatan jalur Palembang–Telukbetung dengan cabangnya ke Lahat selesai dibangun pada tahun 1925. Dari pelbagai rencana jalan kereta api yang terbangun di daerah lain hanya jalan pendek sepanjang 47 km, yaitu trayek Makassar–Takalar (1922).

Pada kereta api penumpang, ada empat kelas, dari kelas satu sampai dengan kelas empat. Kelas jenis kedua terakhir, lazimnya diperuntukkan bagi kaum pribumi dengan papan bertuliskan Inlanders. Perbedaan kelas juga didasarkan atas perbedaan tarip, seperti berikut:

kelas 1 = 5 ½ sen per km dan diperuntukkan terutama bagi warga Eropa/kulit putih

kelas 2 = 3 sen per km, diperuntukkan bagi klas bangsawan/orang kaya

kelas 3 = 1 sen per km, diperuntukkan bagi klas pribumi

Jalur transportasi sebagai media komunikasi di Hindia Belanda semakin maju dengan dibangun telegraf tahun 1856 yang menghubungkan Batavia dan Bogor serta menghubungkan ke Singapura. Setelah telegraf, kemudian dibangun pula jaringan telepon di Batavia tahun 1880. Kemudian, tahun 1899 juga dikembangkan kereta api listrik (trem) di Batavia.

Sumber bacaan:

Kartodirdjo, Sartono. 1999. Pengantar Sejarah Indonesia Baru: 1500-1900 Dari Emporium

Sampai Imperium Jilid 1. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama

Toer, Pramoedya Ananta. 2006. Jalan Raya Pos, Jalan Daendels. Jakarta: Lentera Dipantara

Ingleson, John. 2004. Tangan dan Kaki Terikat, Dinamika Buruh, Sarekat Kerja dan Perkotaan

Masa Kolonial. Jakarta: Komunitas Bambu.

Jalan Raya Pos, http://geonatureculture.blogspot.com/2010/04/jalan-raya-pos.html

SILAKAN BERI KOMENTAR

Temui Kami di Facebook

Statistik

  • 1611Dibaca Hari Ini:
  • 1035Dibaca Kemarin:
  • 13709Dibaca Per Bulan:
  • 346670Total Pengunjung:
  • 1491Pengunjung Hari ini:
  • 13107Kunjungan Per Bulan:
  • 16Pengunjung Online: