DEWI SARTIKA

DI SEBUAH ruangan kecil, di belakang rumah ibunya di Bandung, Dewi Sartika mengajar di hadapan anggota keluarganya yang perempuan. Saat itu tahun 1902, ketika wanita pribumi masih jauh dari mandiri karena kungkungan adat. Dan pendidikan bagi dia adalah jalan keluarnya. Inilah alasan kenapa Dewi Sartika mencetuskan gagasan mendirikan sekolah wanita pribumi yang pertama di Indonesia. Dia mengajarkan cara merenda, memasak, jahit-menjahit, membaca, menulis, dan sebagainya. Muridnya membawa makanan, beras, garam, buah-buahan, dan sebagainya untuk Dewi Sartika dan ibunya.

Kegiatan ini perlahan tecium Inspektur Pengajaran Hindia Belanda di Bandung, C. Den Hammer. Den Hammer menilainya kegiatan liar yang membahayakan dan patut dicurigai. Tapi, setelah melihat secara dekat, Den Hammer menilai positif, bahkan terkesan dengan pemikiran dan obsesi Dewi Sartika yang ingin mendirikan sekolah wanita pribumi.

Dukungan Den Hammer ternyata tak cukup. Masih saja ada yang menghalangi usahanya. Alasannya bertentang dengan adat istiadat. Inilah yang lebih menyedihkan Dewi Sartika. Dalam salah satu artikelnya dia menyayangkan, “… masih banyak di antara orang-orang setanah air saya yang rupanya selalu berusaha untuk lebih dahulu menentang segala yang baru”.

Den Hammer ikut prihatin. Dia lalu mengusulkan agar Dewi Sartika meminta bantuan dari Bupati Bandung R.A. Martanegara.

Dewi Sartika ragu. Dia belum bisa melupakan pengalaman pahit yang menimpa keluarganya sembilan tahun silam. Ketika itu ayahnya, Raden Rangga Somanegara, harus menjalani hukuman buang ke Ternate hingga meninggal dunia di sana. Pemerintah Hindia Belanda membuangnya karena ayahnya menentang pelantikan R.A. Martanegara sebagai Bupati Bandung. Dewi Sartika sudah membayangkan bahwa dia akan kena marah ibunya dan mungkin akan dimusuhi oleh saudara-saudaranya Tapi setelah berpikir ulang, dia akhirnya menerima usul Den Hammer.

Bupati Bandung R. A. Martanegara terkejut mengetahui Dewi Sartika hendak menghadapnya. Apalagi mendengar gagasan Dewi Sartika yang ingin mendirikan sekolah bagi wanita pribumi. Ada rasa haru, kagum, tapi sang bupati perlu waktu untuk merundingkan ide itu dengan sejumlah sahabat dan kerabat dekatnya. Tak lama kemudian Dewi Sartika dipanggil di pendopo dalem.

“Nya atuh Uwi, ari Uwi panting jeung kekeuh haying mah, mugi-mugi bae dimakbul ku Allah nu ngawasa sekuliah alam, urang nyoba-nyoba nyien sakola sakumaha kahayang Uwi. Pikeun nyegah bisi aya ka teu ngeunah di akhir, sekolah the hade lamun di pendopo wae heula. Lamun katanyaan henteu aya naon-naon, pek bae pindah ka tempat sejen,” ujar Martanegara.

Hilang debaran dan rasa was-was itu. Dewi Sartika senang. Ucapan sang bupati menandakan dukungan dan perlindungan atas rencananya mendirikan sekolah untuk wanita pribumi. Maka, pada 16 Januari 1904, Sakola Istri berhasil dibentuk –istri dalam bahasa Sunda berarti juga wanita. Tenaga pengajarnya tiga orang; Dewi Sartika dibantu dua saudara misannya, Ny. Poerwa dan Nyi. Oewid. Untuk sementara tempat belajar meminjam ruangan di Paseban Barat di halaman depan rumah Bupati Bandung. Murid yang diterima untuk kali pertama sebanyak 60 siswi, yang sebagian besar berasal dari masyarakat kebanyakan.

Pada 1905 sekolah tersebut pindah ke jalan Ciguriang-Kebun Cau karena ruangan tak mampu lagi menampung jumlah siswi yang bertambah. Lokasi baru ini dibeli Dewi Sartika dengan uang tabungan pribadinya plus bantuan dana pribadi dari Bupati Bandung.

DI LINGKUNGAN keluarganya, Dewi Sartika yang lahir dari keluarga “Menak” di Bandung lebih akrab dipanggil Uwi. Dia putri dari perkawinan Raden Rangga Somanagara dengan Raden Ayu Rajapermas. Lahir di Bandung pada 4 Desember 1884 ketika ayahnya menjabat Patih Afdeling Mangunreja. Tujuh tahun kemudian ayahnya menjadi Patih Bandung.

Dewi Sartika tinggal bersama orang tua dan saudara-saudaranya di sebuah rumah besar yang terletak di Kepatihan Straat. Rumah besar itu semipermanen berhalaman sangat luas yang terletak di pinggir jalan raya. Di berandanya terdapat pot-pot bunga besar berisi tanaman suflir dan kuping gajah yang tertata rapi. Di halamannya yang cukup luas tumbuhiberbagai tanaman serta bunga, termasuk bunga hanjuang merah yang menjadi ciri khas orang Sunda.

Kebutuhannya hari diurus dan dilayani para abdi dalem yang setia dan patuh. Jauh dari kesusahan dan kesengsaraan. Untuk acara cukup penting, ayahnya acap mengajaknya serta saudara-saudaranya. Misalnya menonton acara pacuan kuda di Tegallega, pagelaran hiburan rakyat, dan sebagainya.

Dewi Sartika bersekolah di Eerste Klasse School. Dia mendapat kesempatan belajar bahasa Belanda dan bahasa Inggris. Gerak-geriknya lincah, sigap, dan berani, agak berbeda dari wanita umumnya. Bicaranya pun lugas dengan tutur kata yang tegas dan terkadang bernada keras. Kendati sehari-hari dia mengenakan kebaya dan kain panjang, boleh dibilang pembawaannya agak tomboy.

Keinginannya mengajar sudah terlihat sejak kecil. Dia suka mengambil peran sebagai guru saat bermain sekolah-sekolahan bersama teman-teman perempuan sebayanya, sepulang dari sekolah dasar di Cicalengka.

KEGIATAN Dewi Sartika sebagai kepala sekolah cukup menyita waktunya. Dia berangkat pagi dan pulang tengah hari. Begitu berlangsung setiap harinya sehingga menimbulkan keibaan bagi ibunya yang tak ingin melihat putrinya bertambah usia dan tak kunjung punya suami. Dewi Sartika pada mulanya pernah dilamar keluarga Pangeran Djajadiningrat dari Banten untuk salah satu putranya. Lamaran itu ditolak dengan alasan belum mengenalnya, meski ibunya berkenan dengan pria itu.

Suatu hari, Dewi Sartika membantu menyediakan hidangan di rumah Bupati. Lalu dia bertemu dengan seorang pria gagah yang menggugah hatinya. Pria tersebut bernama Raden Kanduruan Agah Suriawinata, salah seorang guru di Erste Klasse School di Karang Pamulang. Pertemuan itu berlanjut menjadi hubungan yang lebih akrab.

Pada mulanya sang ibu keberatannya jika Dewi Sartika menikah dengan Raden Agah. Menurutnya, Raden Agah tak setara untuk menjadi suami putrinya, karena Dewi Sartika adalah putri seorang Patih Bandung yang sangat disegani banyak pihak. Dewi Sartika kecewa dan menganggap ibunya kolot dan tak realistis. Tapi, meski ditentang, dia tetap menjalin hubungan dengan Raden Agah. Akhirnya sang ibu pun menyetujui, dan pada 1906, resmilah Raden Kanduruan Agah Suriawinata menjadi suami Dewi Sartika.

Upaya Dewi Sartika terus berlanjut, bahkan mengalami kemajuan. Pada 5 Nopember 1910, persisnya Minggu pukul 19.00 WIB, Perkumpulan Kautamaan Istri dibentuk Residen Periangan W.F.L. Boissevain di kediamannya. Hadir dalam peresmian itu antara lain Inspektur Pengajaran J.C.J. Van Bemmel, Bupati Bandung R.A.A. Martanegara dan dua orang Raden Ayu, Dewi Sartika dan Raden Agah, serta sejumlah pejabat Belanda dan para istrinya. Tujuan Perkumpulan Keutaman Istri untuk mendukung pengembangan dan pembangunan sekolah wanita pribumi yang dipimpin Dewi Sartika. Tugas perkumpulan berusaha menghimpun dana dari para dermawan Belanda maupun pribumi.

Perkumpulan Keutamaan Istri yang dipimpin oleh istri Residen Periangan dalam waktu singkat telah membuahkan hasil. Dana yang terhimpun bisa untuk mendirikan cabang Sakola Kautamaan Istri di daerah Sumedang, Cianjur, Sukabumi, Tasikmalaya, Garut, Purwakarta dan berbagai kota lainnya di Jawa Barat. Untuk meningkatkan kualitas pendidikan, Sakola Kautamaan Istri menyesuaikan kurikulumnya dengan kurikulum Tweede Klasse School. Tapi, bidang studi ketrampilan wanita masih tetap menjadi acuan utama.

Perkembangan itulah yang menarik para pejabat pemerintah untuk berkunjung. Bahkan pemerintah juga memberikan bantuan dana untuk membiayai. Hingga akhirnya pada 1929 sekolah ini memiliki gedung sendiri, dan berganti lagi namanya menjadi Sekolah Raden Dewi.

Pada 25 Juli 1939 Dewi Sartika harus kehilangan suami tercintanya. Raden Agah meninggal dunia. Meski sedih, Dewi Sartika masih punya tanggung jawab; melanjutkan upaya memajukan sekolah wanita. Seperti biasa pula sebelum waktu belajar dimulai, Dewi Sartika akan berdiri didepan ruangan sekolahnya, membunyikan lonceng kuningan yang nyaring sebagi tanda dimulainya waktu belajar.

Dewi Sartika sendiri meninggal pada 11 September 1947 dan dimakamkan dengan suatu upacara pemakaman sederhana di pemakaman Cigagadon-Desa Rahayu, Kecamatan Cineam. Tiga tahun kemudian dimakamkan kembali di kompleks Pemakaman Bupati Bandung di Jalan Karang Anyar Bandung.*

SILAKAN BERI KOMENTAR

Temui Kami di Facebook

Statistik

  • 1705Dibaca Hari Ini:
  • 1035Dibaca Kemarin:
  • 13803Dibaca Per Bulan:
  • 346745Total Pengunjung:
  • 1566Pengunjung Hari ini:
  • 13182Kunjungan Per Bulan:
  • 8Pengunjung Online: