EROPA PASCA PERANG DUNIA ( 1 )

Dedi Sambas

Pendahuluan

 Acap kali untuk mudahnya dikatakan bahwa, Perang Dunia II (1939-1945) adalah perang antara aliansi “nazisme – fasisme – militerisme” (Jerman – Italia – Jepang) di satu pihak, versus aliansi “Demokrasi-Komunisme” (negara-negara Nonkomunis – Uni Soviet) di lain pihak. Perang besar ini berkesudahan dengan kekalahan pihak pertama, kemenangan pihak kedua.

Ternyata aliansi negara-negara pihak kedua itu semu. Aliansi itu bersifat sementara, hanya untuk menghadapi musuh bersama saja. Begitu musuh bersamana kalah, konflik lama yang semula bersifat ideologis dan benihnya berakar pada masa-masa sebelum dan selama perang berlangsung, kambuh lagi. Kon¬flik itu berupa apa yang disebut “Perang Dingin” (Cold War). Terjadi proses kristalisasi di antara negara-negara Eropa, yang mengelompokkan diri pada dua kutub (bipolarisme) : di sa¬tu pihak negara-negara “demokrasi” atau “dunia bebas” (free world) yang berkutub pada Amerika Serikat (USA : United States of America), dan di lain pihak negara-negara “Komunis” atau “Tirai Besi”(Iron Curtain) yang berkutub pada Rusia atau Uni Soviet (USSR : Union of Soviet Socialist Republics). Atau istilah-istilah lain dengan maksud yang hampir sama, terbentuk “Blok Barat” (Eropa Barat) yang berasal dari negara-negara Nonkomunis, dan”Blok Timur” (Eropa Timur) yang terdiri dari negara-negara Komunis.

Sebenarnya kedua belah pihak sama-sama menggunakan istilah “demokrasi” tetapi dengan maksud yang sangat berbeda. Menurut Blok Timur, “demokrasi barat” itu tidak lain dari pada “kapitalisme”. Sebaliknya, bagi Blok Barat, “demokrasi rakyat” (people’s democracy) dari blok timur itu adalah semata-mata Komunisme.

Berkaitan dengan adanya polarisasi itu, maka peta bumi politik-ideologi-sosial-ekonomi Eropa dibagi atas dua, kelompok besar : (l) negara-negara Nonkomunis dan (2) negara-negara Komunis. Selain Amerika Serikat yang secara geografis memang tidak terletak di Eropa, yang termasuk kelompok negara-negara Nonkomunis : Inggris, Irlandia, Perancis, Jerman Barat, Italia; Vatikan; negara-negara jajirah Liberia: Spanyol dan Portugal; negara-negara ”benelux”: Belgia, Netherlands (Belanda), Luxemburg; negara-negara skandinavia; Denmark, Norwegia, Swedia, Finlandia, Eslandia; Yunani, Switzerland. Adapun kelompok negara-negara Komunis: Uni Soviet; Polandia; Hungaria; Jerman Timur; Cekoslovakia; Rumania; Bulgaria; Yugoslavia; Albania.

Pengertian kelompok “Nonkomunis” dan kelompok “Komunis” di sini lebih luas dari pada istilah “Blok Barat” dan “Blok Timur”. Pengertian kedua umum digunakan dalam Perang Dingin karena selain ideologis, juga terutama menekankan segi-segi militer dan ekonominya. Sehubungan dengan ini maka masing-masing kelompok sebetulnya tidak merupakan suatu kesatuan yang benar-benar homogen. Misalnya untuk kelompok negara-ne¬gara Nonkomunis, beberapa perbedaan yang perlu diperhatikan:

(1) Dalam Perang Dingin ada beberapa negara yang tidak masuk dalam “Blok Barat”. Artinya bersikap “netral”. Dalam aliansi militer NATO (North Atlantic Treaty Organization), negara-negara Eropa yang menjadi anggota ketika pertama dibentuk sep¬tember 1949 Inggris, Perancis, Italia, Portugal, Belanda, Belgia, Luxemburg, Denmark, Norwegia, Eslandia, lalu menyusul Yunani (1952) dan Jerman Barat (1955). Dalam kerja sama ekonomi ada apa yang disebut “The Inner Six” dan “The Outer Seven”. Anggota-anggota “The Inner Six” : Perancis, Jerman Barat, Italia, Belgia, Belanda, Luxemburg. Anggota-anggota : “the outer seven” : Inggris, Portugal, Denmark, Norwegia, Swedia, austria, Switzerland. Kelak “The Inner Six” menjadi “The Ten” dengan masuknya; Inggris, Denmark, Norwegia dan Irlandia. Di sini kita lihat pula istilah “Blok Barat” masih tetap digunakan meskipun Perang Dingin telah mereda.

(2) Terdapat negara-negara yang kalah perang seperti Italia dan Jerman. Jerman sendiri terpecah menjadi dua. Belahan barat menjadi Jerman Barat (Federal Republic of Germany, terbentuk mei 1949) (belahan timur menjadi Jerman Timur (German Democratic Republic, oktober 1949). Di sini Jerman Barat masuk Blok Barat.

(3) Adanya negara-negara yang mempunyai jajahan-jajahan di Asia dan Afrika seperti : Inggris, Perancis, Belanda dan Belgia, dalam perjalanan sejarah selama tiga puluh tahun sejak berakhirnya perang, jajahan-jajahan itu berjuang membebaskan diri dan masing-masing berhasil membentuk negara-negara merdeka.

(4) Kecuali di Vatikan dan beberapa negara Eropa lainnya, besar atau kecil, terang-terangan atau dilarang, masih terdapat partai-partai Komunis. Kecuali dalam batas-batas tertentu di Perancis dan Italia, umumnya partai-partai Komunis di negara-negara Nonkomunis itu tidak/kurang mempunyai peranan menentukan.

Di lain pihak, kelompok Komunis pun tidak sehomogen yang diperkIrakan kecuali karena persamaan ideologi (Komunis), kerjasama ekonomi COMECON (Council For Mutual Economic Assistance, 1949) dan terikat dalam persekutuan militer pakta Warsawa (1955 ), perbedaan-perbedaan dalam kelompok ini menyebabkan kita dapat membagi-bagi negara Komunis itu atas :

(1) “Tanah Air Sosialisme” (The Fatherland Of Socialisme; baca : kosunisme) yakni Uni Soviet.

(2) Negara-negara satelit Uni Soviet ; Polandia, Hungaria, Cekoslovakia, Jerman Timur, Rumania, Bulgaria.

(3) Negara-negara komunis-nasional Yugoslavia dan Albania .

Dalam interaksi (hubungan antara-kelompok) Blok Barat dan Blok Timur kemudian timbul konflik yang disebut perang dingin. “perang” ini meskipun sempat juga “panas” akan tetapi tidak sampai meledakkan Perang Dunia III, karena masing-masing negara-negara raksasa (super powers) Amerika Serikat dan Uni Soviet yang telah memiliki senjata atom dan hidrogen menyadari bahwa, tidak ada satu negara pun yang akan menang kecuali semuanya sama-sama hancur.

Mengenai intraaksi (hubungan dalam-kelompok) antara ne¬gara-negara dalam kelompok yang sama, dari beberapa perbedaan yang sudah kita sebutkan tadi menunjukkan bahwa tidak selalu monosentris. Maksudnya tidak semua negara-negara dalam Blok Barat misalnya selalu meng”ya”kan Amerika Serikat atau dalam “Blok Timur”selalu meng”ya”kan Uni Soviet, terutama sekali di kalangan Blok Timur. Umpamanya Yugoslavia, sejak tahun 1943 sudah tidak mau lagi berkiblat pada Uni Soviet. Setelah Perang Dingin, timbul revolusi-revolusi di Eropa Timur seperti di Hungaria (1956) dan di Cekoslovakia (1968). Meski pun umumnya berhasil ditindas dengan tangan besi Uni Soviet, tetapi ini semua menunjukkan semakin melonggarnya ikatan Uni Soviet. Bahkan tahun 1961 negara kecil Albania melepaskan diri dari blok soviet. Kemudian setelah timbul bentrokan bersenjata di perbatasan Uni Soviet-RRC (1969), maka “Kubu Komunis” pecah menjadi dua. Kini blok Komunis tidak lagi monosentrisme melainkan polisentrisme.

Meskipun tidak sehebat apa yang terjadi di antara negara-negara Blok Timur, di antara negara Blok Barat pun ada yang tidak mau tunduk begitu saja pada kepemimpinan Amerika Serikat. Perancis di bawah de gaulle misalnya, pada 1966 menarik pasukannya dari NATO dan memerintahkan organisasi itu keluar dari bumi Perancis (1967).

Demikianlah sistim aliansi Blok Timur dan Blok Barat itu melemah.

Dalam perjalanan sejarah selanjutnya, di tengah-tengah melemahnya sistim aliansi itu, interaksi Blok Barat dan Blok Timur menunjukkan peningkatan usaha-usaha peredaan ketegangan yang dikenal dengan detente. Pada tahun 1939 Jerman Barat di bawah kanzler (perdana menteri) willy brandt melancarkan ostpolitik (politik timur) yang terkenal yaitu mengadakan pendekatan-pendekatan dengan negara-negara Blok Timur seperti Uni Soviet, Polandia, Jerman Timur Hungaria, Bulgaria, Cekoslovakia. Atas usaha-usahanya ini willy brandt mendapat hadiah nobel untuk perdamaian tahun 1971. Adapun peristiwa sejarah yang dianggap puncak dari politik detente itu ialah kunjungan presiden Amerika Serikat richard m. Nixon berturut-turut ke RRC dan Uni Soviet tahun 1972.

Sejalan dengan ditente ini semula didorong oleh perasaan curiga dan kuatir akan adanya kemungkinan serangan mendadak dengan senjata-senjata nuklir oleh salah satu pihak dari “superpowers”, lalu menyadari malapetaka dari perang nuklir, maka sejak akhir-akhir tahun 1960-an telah mulai ada usaha-usaha dari kedua negara raksasa itu untuk membicarakan pembatasan/pengurangan senjata-senjata “strategis” itu. Pembicaraan-pembicaraan ini dikenal dengan salt (strategic arms limitation talks), di sela-sela silih bergantinya detente dan perang mulut antara kedua belah pihak mengenai masalah-masalah internasional tertentu, salt masih dilanjutkan kendatipun hasil-hasil kongkrit yang benar-benar bisa dicapai dan ditaati masih disangsikan.

Sementara itu pada akhir juli 1975 di helsinki (Finlandia), telah diadakan pertemuan puncak dari kepala negara – kepala negara Eropa barat, Eropa Timur termasuk Uni Soviet, Amerika Serikat dan kanada. Pertemuan yang disebut conference on security and cooperation in europe (csce) itu, pada tanggal 1 agustus 1975 telah menghasilkan pengesahan peta bumi dan peta politik Eropa. Sejak ahkir Perang Dunia II baru 30 tahun kemudian perbatasan dan pembagian negara-negara Eropa mendapatkan pengesahannya.

Demikianlah dari perjalanan sejarah Eropa selama kira-kira 30 tahun, kita lihat bahwa ternyata dalam interaksi an¬tara kelompok ataupun intraaksi negara-negara dalam kelompok yang sama, kepentingan-kepentingan nasional (national interests) dari masing-masing negara itu lebih utama dari pada kepentingan ideologi semata-mata.

SILAKAN BERI KOMENTAR

Temui Kami di Facebook

Statistik

  • 1386Dibaca Hari Ini:
  • 1839Dibaca Kemarin:
  • 15323Dibaca Per Bulan:
  • 348109Total Pengunjung:
  • 1272Pengunjung Hari ini:
  • 14546Kunjungan Per Bulan:
  • 11Pengunjung Online: