EROPA PASCA PERANG DUNIA II (2 ) Konsolidasi dan rekonstruksi

Dedi Sambas

1. Akibat perang

Perang yang baru saja selesai telah meninggalkan bekas-bekas parah berupa kerusakan-kerusakan fisik, ekohomi dan social Eropa. Kota-kota besar di Inggris, Jerman, Polandia, Belanda, Perancis, Hungaria rusak berat kalau tidak dapat dikatakan hancur menjadi puing karena pemboman-pemboman, akan tetapi berbeda dengan kota-kota, sejumlah daerah-daerah pedalaman yang kebetulan tidak menjadi medan pertempuran, hampir tidak mengalami kerusakan. Hanya saja daerah-daerah pedalaman itu ada yang hampir terasing sama sekali karena rusaknya sarana-sarana perhubungan dengan kota-kota.

Dalam kebutuhan pangan, selama perang berlangsung orang-orang Jerman mendapatkan dengan cukup dari daerah-dae¬rah yang didudukinya, sedangkan rakyat dari daerah-daerah itu sendiri sangat kekurangan karena harus memenuhi keperluan Jerman. Selain dari pada itu, rakyat dari daerah-daerah pendudukan banyak yang dijadikan pekerja-pekerja paksa. Mereka tersebar ke seluruh kamp-kamp kerja paksa Eropa yang diduduki Jerman, setelah perang masalah timbul mengenai pengembalian mereka ke negara-negara asalnya.

Di negara-negara yang baru dibebaskan dan yang mengalami kemiskinan, kerusakan ekonomi dan sosial itu, kehidupan baru harus disusun dan disehatkan kembali. Adapun yang memikul tugas ini ialah negara-negara pemenang. Mereka ini mempunyai tentara yang ditempatkan di seluruh Eropa. Dengan tentara ini, bahan-bahan makanan dan bahan-bahan dasar yang amat diperlukan bagi pembangunan kembali negara-negara Eropa, kelancarannya dapat dijamin.

Ternyata bahwa tugas-tugas itu tidak hanya terbatas pada aspek militer dan bantuan ekonomi saja tetapi juga termasuk campur tangan politik. Umumnya situasi politik di sebahaglan besar negara-negara yang baru dibebaskan itu tegang kalau tidak dapat dikatakan mendekati revolusioner. Masalahnya terdapat perbedaan pola kepemimpinan antara pra- dan pasca- Perang Dunia II. Politikus-politikus sebelum perang yang pada masa pendudukan nazi mundur atau mengasingkan diri ke luar negeri, sesudah perang berakhir tampil kembali dengan harapan akan memegang lagi peranan penting seperti sebelumnya di negaranya masing-masing. Namun pemimpin-pemimpin lama ini mendapat saingan bahkan tantangan dari pemimpin-pemimpin ba¬ru yang terakhir ini muncul mula-mula sebagai pemimpin-pe mimpin perlawanan terhadap Jerman. Jika pemimpin-pemimpin lama hendak merestorasi kembali keadaan seperti sebelum perang, maka pemimpin-pemimpin baru menghendaki perubahan-perubahan sosial dan politik, tujuan ini tentu saja akan dapat mengurangi pengaruh dari pemimpin-pemimpin lama, contohnya banyak a.l. Akan kita lihat nanti misalnya di Perancis dan Italia.

Sehubungan dengan di atas, negara-negara besar pemenang tidak mau membiarkan pasukan-pasukannya yang ditempatkan di Eropa itu, hidup di tengah-tengah rakyat yang kelaparan, putus asa dan terancam perang saudara atau revolusi. Demikianlah di seluruh Eropa, Amerika Serikat, Inggris dan Uni Soviet banyak melibatkan diri dalam kebangkitan kembalinya kehidupan baru politik dan social. Sesuatu yang hampir tidak bisa dielakkan pula ialah, di mana negara-negara pemenang itu masing-masing menempatkan pasukan-pasukannya, maka tradsi serta ide-ide politiknya pun turut memberi warna pada kebangkitan kehidupan politik negara-negara yang ditempatinya itu.

Konferensi yalta (4-ll februari 1945) yang diadakan selama perang masing berlangsung dan dihadiri oleh franklin d. Roosevelt (usa), winston churchill (Inggris) dan joseph stalin (Uni Soviet), keputusannya, kurang jelas mengenai tindakan terhadap Jerman setelah negara ini kalah. Konferensi tu setuju a.l.: austria akan dipisahkan lagi dari Jerman; Jerman dan austria akan diduduki; negara-negara pemenang seperti Amerika Serikat, Inggris dan Uni Soviet masing-masing akan mempunyai zona-zona pendudukan. Di Jerman dan austria. Adapun Perancis baru kemudian ditambahkan pada deretan negara-negara pemenang. (mengapa?). Sebagai zona Perancis diambilkan dari zona-zona amerika dan Inggris, kemudian ibu kota-ibu kota berlin (Jerman) dan wina (austria) ditempatkan di bawah pemerintahan bersama dari keempat negara besar itu.

Selanjutnya negara-negara Eropa lain terbagi menjadi dua daerah pengaruh. Yang berbeda ; (l) Eropa Timur yang dibebaskan oleh tentara Uni Soviet dari kekuasaan nazi. Setelah pembebasan, Rusia tetap menempatkan tentaranya di negara-ne¬gara itu dengan maksud untuk tetap menjaga jalur hubungannya dengan zona-zona yang didudukinya di Eropa tengah. Di negara negara ini Uni Soviet segera memaksakan pola politiknya; (2) Eropa utara dan barat: Norwegia, Denmark, Belanda, Belgia, Perancis; di selatan: Italia dan Yunani, semuanya dibebaskan oleh tentara amerika dan Inggris. Konsep politik demokrasi barat dipakai sebagai pola untuk menyusun kembali pemerintahan di negara-negara ini. Demikianlah bentuk-bentuk yang berbeda yang ditempuh oleh Eropa Timur dan Eropa barat dalam kebangkitarr kembali kehidupan politiknya masingnnasing.

2. Masalah perbatasan

Seperti halnya sesudah perang-perang napoleon (napo¬leonic wars) dan Perang Dunia I, maka sesudah Perang Dunia II terjadi pengaturan-pengaturan kembali perbatasan-perbatasan Eropa. Tentu saja sesuai dengan kemauan si pemenang-pemenang, di timur, Rumania harus melepaskan daerah-daerah bucovina bagian: utara dan bessarabia kepada Uni Soviet, dan sebahagian dobruja kepada Bulgaria. Sebagai gantinya, Rumania mendapat transylvania bagian utara dari Hungaria lalu Hungaria harus juga menyerahkan beberapa daerahnya kepada Cekoslovakia. Juga Finlandia terpaksa kehilangan daerah-daerah petsamo di utara dan tanahgenting karelia (karelian isthmus). Di selatan kepada Uni Soviet, yang terakhir ini tetap menguasai negara-negara baltik (estonia, latvia, lithuania) dan meluaskan kekuasaannya ke arah selatan sepanjang laut baltik dengan menganeksasi bagian utara pRusia timur. Selanjutnya Polandia terpaksa mengakui perbatasan-perbatasannya yang telah ditetapkan oleh Uni Soviet dalam perjanjian rahAsia nazi-soviet. Sebagai imbalannya batas Polandia diperluas ke arah barat (garis oder-neise di Jerman Timur).

Berbeda dengan apa yang diperoleh Uni Soviet, maka perubahan-perubahan perbatasan di daerah-daerah yang diduduki Amerika Serikat dan Inggris tidak begitu menguntungkan, Perancis mendapat kembali batas-batas semula. Pertambangan batubara saar dapat dipergunakan Perancis. Meskipun terikat secara ekonomis pada Perancis, namun daerah ini kedaulatannya tetap pada Jerman. Denmark dan Belgia juga mendapat sedikit dari Jerman tambahan-tambahan daerah. Italia, selain menyerahkan beberapa daerah perbatasannya kepada Perancis, juga kehilangan jajahannya di seberang lautan dan mengembalikan dodecanese kepada Yunani.

Terdapat kesulitan dalam, penentuan batas-batas. Di garis pertemuan pengaru Inggris-Amerika Serikat dan Uni Soviet. Garis itu dari utara ke selatan: laut baltik-Jerman bahagian tengah-Cekoslovakia-austria-Yugoslavia. Bertahun-tahun melalui perundingan yang sulit untuk menyelesaikan masalah perbatasan-perbatasan ini; akhirnya baru 30 tahun kemudian sesudah perang besar itu selesai, semua pergeseran-pergeseran perbatasan itu resmi diakui dalam pertemuan puncak kepala-kepala negara di helsinki (agustus 1975).

Seperti sudah kita singung pula di muka jalannya kebangkitan kembali kehidupan politik di negara-negara yang dipengaruhi Inggris-amerika dan Uni Soviet berbeda. Hal ini selain disebabkan ide serta tradisi politik yang berbeda da¬ri masing-masing negara besar itu.,.. Juga karena selama perang berlangsung, tidak ada kesepakatan di antara mereka, bagaimana bentuk penyelesaian sesudah perang terhadap negara-negara yang dibebaskan sejauh yang dapat dicapai, tiga besar : Amerika Serikat, Inggris dan Uni Soviet hanya menyepakati bahwa negara-negara Eropa itu nanti akan tetap merupakan negara demokrasi. Akan tetapi masalah yang kemudian timbul ialah tidak adanya kesatuan tafsir mengenai apa yang disebut “demokrasi” itu. Di bawah nanti kita lihat bagaimana kedua belala pihak menafsirkannya dengan cara yang berbeda.

3. Blok Timur : demokrasi rakyat

Di negara-negara yang pernah dibebaskan dari nazi untuk kemudian dikuasainya sendiri, Uni Soviet membentuk pemerintahan-pemerintahan “demokrasi rakyat” (people’s democra¬cy), akan tetapi bagi negara-negara Blok Barat “demokrasi rakyat” ini bukanlah demokrasi. Masalahnya terletak a.l. Pada pengertian mengenai “rakyat”. Bagi Komunis pada umumnya yang disebut “rakyat” itu hanya buruh. Dan tani dan hanya merekalah yang mempunyai hak memerintah. Ini pun di antara mereka dipilih lagi yang mempunyai kesadaran politik yang tinggi dan benar-benar aktiv dalam partai Komunis yang mempunyai hak suara, semuanya diatur menurut sistim Uni Soviet. Calon-calon untuk komite-komite (committees) dan dewan-dewan (councils) yang membentuk pemerintahan haruslah anggota-anggota partai Komunis. Susunan hierarki dalam partai sangat ketat dan diatur dari atas. Kedudukan sekretaris (secretary) adalah yang terpenting. Demikianlah apa yang disebut “demokrasi rakyat” yang disusurn oleh Uni Soviet lira nanyalah selubung bagi kediktatoran “proletariat” Komunis.

Uni Soviet mempunyai metoda-metoda tertentu untuk mengKomuniskan negara-negara yang berada di bawah sayap pengaruh langkah-langkah yang ditempuhnya itu disesuaikan menurut keadaan masing-masing negara. Langkah pertama tentara pendudukan Uni Soviet membentuk semac.am pemerintahan koalisi yang disebut pemerintahan “front persatuan” (united front). Dalam pemerintahan ini duduk anggota-anggota Komunis dan non Komunis bersama-sama dalam kedudukan sebagai partner itu, anggota komuinis memegang posisi kunci. Selanjutnya lambat laun anggota-anggota Nonkomunis dalam pemerintahan itu disingkirkan dengan cara-cara: perang syaraf dan/atau kekerasan. KehadIran tentara Uni Soviet membuat sia-sia usaha-usaha negara-negara yang bersangkutan menolak tekanan Uni Soviet. Dalam sistim ini buruh dan tani menjadi anakmas. Industry-industri penting dinasionalisasi. Tanah-tanah luas di bagi-bagikan kepada para petani. Tentu saja tindakan ini memdapat dukungan luas, apalagi mayoritas rakyat Eropa Timur hidupnya masih dari pertanian.

Di Bulgaria pada 1946 pemerintahan koalisi dipimpim oleh veteran Komunis yang baru pulang dari pelariannya di moscow, georgi dimitrov. Dengan dihapuskannya bentuk kerajaan dan rajanya yang masih muda simeon II menyingkir, maka republic rakyat Bulgaria (people’s republic of Bulgaria) diproklamasikan. Di Rumania, seperti halnya Bulgaria, sejak 1945 pemerintahan koalisinya telah didominasi Komunis. Tokoh Komunis anna pauker menjadi perdana menteri pada 1947 pada akhir tahun ini raja michael turun tahta. Rumania menjadi “republik rakyat”. Di Polandia, Uni Soviet menggunakan cara-cara yang lebih berbelit. Uni Soviet tidak dapat mengabaikan begitu saja Inggris dan Amerika Serikat. Perang Dunia II pecah justru untuk menyelamatkan kemerdekaan Polandia yang dijamin Inggris. Karena dilanggar Jerman (nazi), setelah Polandia jatuh (september 1939) pemimpin-pemimpin Polandia menyelamatkan diri dan membentuk pemerintahan pelarian di london, pemerintahan ini diakui Inggris dan Amerika Serikat, akan tetapi Uni Soviet meagakui pemerintahan Polandia lain yang berpusat di lublin. Yang terakhir ini. Pemimpin-pemimpinnya pro Uni Soviet. Setelah perang selesai, Uni Soviet pura-pura mau menggunakan cara-cara demokrasi membentuk pemerintahan koalsi di Polandia. Tindakan ini sebagian besar karena desakan Amerika Serikat dan Inggris. Akan tetapi, akhirnya pada januari 1947 Komunis memonopoli semua kekuasaan di Polandia dengan pemimpinnya wladyslaw gomulka. Di Hungaria pada akhir agustus 1947 Komunis memperoleh kemenangan besar dalam pemilihan umum, setelah menyingkirkan semua anggota pemerintahan Nonkomunis dalam kabinet koalisi, maka kekuasaan seluruhnya pada desember 1948 jatuh ke tangan Komunis. Tokoh Komunis terkemuka katyas rakosi. Di Cekoslovakia, pada pemilihan umum mei 1946, Komunis memperoleh kemenangan besar untuk majelis konstituante. Pemimpin Komunis, klement gottwald, menjadi perdana menteri dari kabinet koalisi, pada februari 1948, gottwald dengan bantuan buruh dan polisi Komunis berhasil melancarkam kudeta. Menteri luar negeri dan kampiun demokrasi, jan masaryk, kedapatan bunuh diri (diduga karena Komunis ) ia adalah putera bapak Cekoslovakia, thomas masaryk, pendiri republik Cekoslovakia, presiden eduard benes lalu mengundurkan diri digantikan oleh gottwald sebagai presiden. Peristiwa kemenangan Komunis ini mengejutkan barat. Antara dua Perang Dunia, Cekoslovakia adalah negara demokrasi yang selalu berorintasi kebarat dengan kemenangan ini maka tamatlah pengaruh barat di Cekoslovakia.

Tiga negara-Komunis lain : Albania, Yugoslavia dan Jerman Timur mempunyai. Jalan sejarah yang berbeda, mengenai Yugoslavia dan Jerman Timur akan kita singgung di belakang nanti/khusus mengenai Albania ada keistimewaannya. Tanpa melalui fase koalisi, sejak 1945 pemerintahannya telah didominasi Komunis di bawah pimpinan enrver hoxha, semula merupakan satelit Uni Soviet yang setia: anggota cominform (comunist information bureau) dan pakta warsawa; memgecam keras Yugoslavia karena memisahkan diri dari Uni Soviet. Akan tetapi kemudian Albania berubah berbaik kembali dengan Yugoslavia; pada 1961 memutuskan; sama sekali hubungan diplomatiknya dengan Uni Soviet. Kini Albania merupakan: negara Komunis satu-satunya di Eropa yang berorientasi pada negara Komunis cina RRC.

4. Blok Barat : “demokrasi parlementer”

“demokrasi” yang ditafsirkan di negara-negara yang te¬lah dibebaskan Inggris dan Amerika Serikat ialah “demokrasi parlementer”, Italia dan Perancis sebelum dikuasai oleh fasis dan nazi merupakan negara-negara demokrasi parlementer. Sesudah perang, merestorasi kembali pemerintahan yang persis seperti sebelum fasis dan nazi adalah mustahil. Keadaan banyak berubah, orang-orang yang telah mengadakan perlawanan terhadap fasis dan nazi menghendaki perubahan yang tentunya selain baru juga lebih baik dari pada keadaan sebelumnya. Mereka yang ikut dalam gerakan-gerakan perlawanan itu meliputi semua alIran politik dari nasionalis (ekstrim kanan.) Sampai ke Komunis (ekstrim kiri). Yang dapat mempersatukan mereka, kebencian pada kolaborator-kolaborator fasis-nazi dan penolakan terhadap sistim politik sebelum perang.

Terhadap kolaborator-kolaborator nazi dan penjahat-penjahat perang, banyak yang dijatuhi hukuman berat. Di Perancis, bekas-bekas tokoh pemerintahan di vichy diadili. Bekas perdana menteri pierre laval dan kepala negara marskal petain. Dari rejim vichy itu dijatuhi hukuman mati. Laval menjalani hukumannya. Petain diringankan hukumannya menjadi seumur hidup karena masih dipertimbangkan jasa-jasanya yang sudah-sudah bagi Perancis, terutama pada masa Perang Dunia I. Akan tetapi akhirnya petain meninggal dalam penjara.

Pada tahum pertama sesudah perang, dari 125.000 tertuduh kolaborator, maka kira-kira 40.000 yang mendapat hukuman berat. Sikap antipati kaum pelawan terhadap simpatisan-simpatisan nazi itu tidak saja tertuju pada individu-individu, tetapi. Juga pada sistim pemerintahannya. Sistim ini dianggap

buruk sebagaimana terbukti menyerah pada fasis dan nazi. Sistim ini pula dianggap telah memberikan pengaruh- politik yang besar pada industriwan-industriwan dan bankir-bankir menurut kaum pelawan, demokrasi itu tidak dapat berkembang baik jika kekuataan ekonomi hanya dipegang oleh segelintir kapitalis-kapitalis saja. Dengan kata lain, demokrasi parlementer ini dapat berfungsi wajar jika diadakan pembaharuan-pembaharuan ekonomi dan sosial. Pembaharuan-pembaharuan ini bukan hanya dikenyam oleh sekelompok kecil orang kaya-orang kaya saja, akan tetapi harus dapat dinikmati pula oleh masarakyat banyak. Jika “demokrasi rakyat” Komunis membatasi “rakyat” itu hanya pada buruh dan/atau tani saja, maka penganut pembaharuan dalam “demokrasi parlementer” itu menganggap bahwa “rakyat” bukan. Hanya kapitalis-kapitalis kaya saja, melainkan massa rakyat secara keseluruhan.

Situasi pada masa-masa perang baru saja selesai masih belum berketentuan. Kelompok-kelompok perlawanan (resistance groups) yang bermaksud menggerakkan perubahaan dan pembaharuan seketika menjumpai kegagalan. Kendatipun demikian semua menyadari bahwa konstitusi-konstitusi sebelum perang di perrancis dan Italia tidak dapat dihidupkan lagi. Sehubungan dengan ini, anggota-anggota maj1is konstituante yang baru terpilih segera menyibukkan diri menyusun konstitusi (di Perancis 21 oktober, di Italia 2 juni 1946).

Dalam, pemilihan majelis konstituante itu tampil dua partai baru yang kuat partai katolik dan partai Komunis. Keduanya masing-masing dalam spektrum politik menempati kedudukan di tengah dan di paling kiri. Jika kita bandingkan konstitusi baru republik Perancis iv dan konstitusi republik Perancis III, maka konstitusi baru lebih demokratis. Pada legislativ, dewan republik (council of republic) yang anggota-anggotanya dipilih secara tidak langsung, menggantikan, senat (pada konstitusi lama), tetapi peranan dewan ini tidak lagi besar seperti senat dulu. Kemudian majelis nasional (national assembly) menggantikan kamar wakil-vyakil (chamber of depu¬ties) yang anggota-anggotanya. Dipilih secara langsung, kekuasaan majelis sangat besar dengan harapan dapat menggeser kaum konservativ yang dulu menguasai senat. Selanjutnya Italia bentuk pemerintahannya berubah dari monarki menjadi repub¬lik. Sedikit berbeda dengan Perancis, konstitusi yang disusun oleh majelis konstituantenya mirip sekali dengan konsti¬tusi sebelum fasis berkuasa. Konstitusi ini liberal dan merupakan warisan. Abad ke-19. Pada konstitusi baru, sifat anti-klerikal (gereja) dari konstitusi liberal itu dihapuskan. Juga konkordat antara paus pius xi dan benito mussolini (terkenal dengan perjanjian lateran 1929) tetap di pertahankan serta merupakan bagian integral dengan konstitusi dengan demikian agama roma katolik tetap merupakan agama negara. Di sini a.l. Perbedaan konstitusi baru dan konstitusi lama Italia, yang utama.

Selama beberapa tahun sesudah perang, terdapat kesejajaran antara Italia dan Perancis, dua negara yang telah dibebaskan dari kekuasaan fasis dan nazi. Pemerintahan di kedua negara itu merupakan koalisi tengah-kiri yakni terdiri dari partai katolik yang baru, partai sosialis dan partai Komunis memang terdapat kesulitan dalam kerja sama antara kato¬lik dan Komunis. Akan tetapi bersama-sama sosialis, kerja sama ketiga partai itu untuk sementara masih bisa bertahan. Pengalaman bersama melawan fasis-nazi dulu mengajarkan ketiga pihak bahwa, jika demokrasi hendak dijalankan, maka kapitalisme harus dihapuskan. Terdapat anggapan bahwa fasis-nazi adalah bentuk-bentuk lain dari kapitalisme, atau setidak-tidaknya memberi jalan atau perlindungan pada sistim ini di Italia, negara adalah pemegang saham utama. Di bawah kekuasaan fasis, saham itu didapat dari industri-industri besar. Meskipun negara mempunyai kekuasaan untuk mengontrol industri-industri, namun tindakannya itu adalah untuk melindungi kepentingan industriwan-industriwan dan/atau usahawan-usahawan besar saja karena kelompok inilah sebenarnya salah satu tulang punggureg rejim fasis. Hal ini berbeda dengan Italia di bawah pemerintahan demokratis, kekuasaan negara tidak lagi digunakan untuk melindungi kelompok kecil “kapitalis” itu, melainkan diharapkan untuk membatasi pengaruh-pengaruh mereka atau kalau tidak menghapuskannya sama sekali. Adapun di Perancis, “pemerintahan” dari” “dua ratus keluarga” (the two hun-dred families) “kapitalis-kapitalis” sebelum perang menimbulkan kejengkelan yang telah meledak dalam pemilihan umum “front rakyat” (popular front) tahun 1939. Kemudian antipati semakin tajam dan mendalam setelah menderita di bawah pendudukan nazi dan kolaborator nazi, pemerintahan vichy.

Partai-partai yang duduk dalam pemerintahan mendukung program-program luas dalam bidang-bidang pembaharuan ekonomi dan sosial. Dijalankan politik nasionalisasi sistim kredit (bank dan asuransi), industri gas dan sumber tenaga (batubara, gas, listrik) usaha-usaha yang mempunyai arti strategis (penerbangan dan pelayaran), dan sejumlah besar industri-in¬dustri yang pernah bekerja sama dengan nazi (misalnya pabrik mobil renault) keadaan ekonomi buruh diperbaiki, peraban serikat-serikat sekerja (trade unions) dalam mengurus masalah-masalah perburuhan diperkuat (misalnya dalam hubungan dengan majikan dalam penetapan upah).

Situasi kehidupan politik pada kira-kira dua tahun: pertama sesudah perang tampaknya sedang menempuh jalan baru dalam mencari bentuk-bentuknya yang sesuai. Ketika itu konflik antara barat dan timur masih belum begitu berkembang seperti pada tahun-tahun kemudian. Benar bahwa Eropa barat hendak menetapkan keputusan politiknya atas dasar-dasar parlementarisme yang mengenal sistim banyak partai dan Eropa Timur yang politiknya dikuasai oleh kepempmpinan satu partai, namun perbedaan-perbedaan ini tidak menutup kemungkinan pada waktu itu untuk membentuk kabinet-kabinet koalisi. Misalnya di Polandia, Hungaria dan Cekoslovakia terdapat koalisi partai-partai “borjuis” dan sosialis; di Italia dan Perancis koali¬si dengan; Komunis.

Keadaan yang berlangsung itu memang ditunjang pula da¬lam perjanjian-perjanjian damai dengan negara-negara yang kalah seperti Italia, Bulgaria, Rumania, Finlandia dan Polandia untuk tiba pada perjanjian-perjanjian itu sebelumnya harus melalui perundingan-perundingan yang amat sulit, terutama di antara negara-negara besar pemenang sendiri. Tempat-tempat perundingan itu misalnya di london (september 1945) , di moscow (desember 1945) dan di paris (1946).

Ternyata bahwa apa yang dilihat sebagai adanya pertemuan pendapat antara barat dan timur melalui perundingan ataupun koalisi adalah semu, perundingan-perundingan yang berkepanjangan mengenai nasib Jerman sejak 1945 menemui jalan buntu. Kegagalan ini memperdalam jurang yang harus dijembatani dalam hubungan antara barat dan timur pada tahun-tahun berikutnya.

5. Masalah Jerman

Mengapa Jerman begitu penting artinya bagi barat mau pun timur ? Paling sedikit dua sebab : (l) letaknya yang strategis di tengah Eropa dan (2) sumber mineralnya yang kaya.

Sesudah perang, pembentukan zona-zona pendudukan sebagaimana yang telah ditentukan garis-garis besarnya ketika perang masih berlangsung benar-benar dilaksanakan. Luas zona-zona Amerika Serikat dan Uni Soviet di Jerman hampir sama, begitu pula penduduk di masing-masing zona-zona itu kira-kira 7.25 juta jiwa. Zona Inggris meski pun lebih kecil tetapi 5 juta lebih. Penduduknya karena termasuk daerah ruhr yang terpadat.

Dalam pernyataan yang dikeluarkan konferensi yalta dinyatakan bahwa. Tujuan utama pembentukan zona-zona itu ialah. Untuk mencegah terulangnya kembali agresi militer Jerman di kemudian hari. Tiga negara. Besar yang diwakili masing-masing oleh pemimpin-pemimpin; puncaknya di yalta itu sependapat: nazi harus dihukum; masyarakat Jerman harus dirubah sehingga tidak mungkin lagi muncul militerisme; demiliterisasi Jerman; produksinya harus ditekan ke bawah sehingga hasil industrinya tidak dapat lagi expansi melainkan beralih ke dalam (kehidupan ekonomi beralih ke sektor pertanian); kondisi-kondisi hidup di Jerman tidak boleh lebih baik dari pada negara-negara tetangganya; Jerman harus membayar rampasan perang.

Pelaksanaan dari pokok-pokok di atas harus dibuat dalam perjanjian damai, dalam perjanjian ini akan ditetapkan perbatasan-perbatasan Jerman terjadi perubahan territorial penting yang merugikan Jerman. Karena Polandia. Harus kehilangan daerahnya sebelah timur pada Uni Soviet, maka sebagai gantinya batas Polandia digeser ke barat sampai garis sungai-sungai oder-neisse. Ini berarti Polandia mengambil daerah Jerman sebelah timur.

Ketentuan-ketentuan pokok perlakuan terhadap Jerman. Yang dibuat negara-negara sekutu (allied powers) ternyata banyak kelemahan-kelemahannya, terutama sehubungan: dengan timbulnya kenyataan-kenyataan yang ditemui tentara pendudukan sekutu yang tidak sesuai dengan apa yang dibayangkan sebelumnya. Beberapa diantaranya misalnya:

(1) Pengungsi-pengungsi yang memadati Jerman dari pRusia timur, pRusia barat, pomerania, poznan dan silesia, menimbulkan masalah pengangguran. Pemboman yang merusak kota-kota menimbulkan masalah perumahan. Macetnya transportasi antara kota-kota dengan pedalamannya menimbulkan ancaman kekurangan bahan makanan. Agaknya tentara pendudukan tidak disiapkan untuk menghadapi keadaan darurat semacam ini. Terasa adanya kebutuhan-kebutuhan yang mendesak seperti menghidupkan kembali indtistri-industri yang dapat menampung para pengangguran. Membentuk pemerintahan-pemerintahan setempat (lokal) yang akan mengurus kehidupan sehari-hari penduduk dsb.

(2) Di sona-zona yang diduduki tentara sekutu tidak ada keseragaman perlakuan terhadap Jerman. Terdapat perbedaan-perbedaan tafsIran yang semula bersumber pada tradisi politik dan ideologi yang berlainan. Misalnya terhadap pengertian denazi fikasi. Anggota-anggota sekutu wajib menghapuskan nazisme (denazifikasi) dalam seluruh kehidupan Jerman terhadap ini pendekatan barat dan Uni Soviet berbeda. Menurut pihak Uni Soviet, denazifikasi berarti penghancuran sama sekali sistim borjuis kapitalis karena sistim inilah yang memungkinkan timbulnya nazisme. Demikianlah di zona pendudukannya Uni Soviet menghapuskan pemilikan pribadi, atas usaha-usaha industry besar dan keuangan (financial enterprise) membagi-bagi tanah luas (landed estates) di sebelah timur sungai elba. Uni Soviet dengan cepat menghidupkan lagi kegiatan politik dengan membentuk di zona yang didudukinya pemerintahan Jerman yang didominasi partai persatuan sosialis (socialist unity party). Partai yang antikapitalis ini memang masih dibiarkan selama beberapa lama bekerja sama dengan partai borjuis sayap kiri oleh Uni Soviet. Hanya saja dengan berkuasanya kelas penguasa baru yang terdiri dari buruh (dan juga tani) itu, apalagi kemudian dengan disingkirkannya sayap borjuis, maka Uni Soviet menganggap selesailah proses denazifikasi. Lalu di pihak lain, barat mengartikan denazifikasi itu orang-orang yang dulu aktiv dalam rejim nazi dilarang tampil kembali dalam kehidupan politik dan ekonomi Jerman. Jika Uni Soviet mengartikan denazifikasi itu perombakan yang menyeluruh struktur masyarakat Jerman, maka barat menujukannya pada individu-lndividu saja. Tanpa merubah susunan sosialnya. Proses denazifikasi di zona-zona barat berlangsung lamban karena birokratis. Umpamanya setiap orang Jerman harus mengisi formulir yang berisi pertanyaan-pertanyaan panjang yang mempertanyakan kegiatan-kegiatan orang-orang yang bersangkutan semasa nazi berkuasa. Masalah timbul mengenai lamanya pengumpulan kembali formulir; belum lagi mengenai kejujuran pengisian itu sendiri.

Demikiahlah dua pendekatan terhadap denazifikasi itu menunjukkan perbedaan yang dasar dalam konsep-konsep poli¬tik dan sosial antara barat dan Uni Soviet.

(3) Di dua-belahan Jerman muncul dua struktur sosial yang sangat berbeda, dengan sendirinya keadaan ini menyulitkan penyelesaian perjanjian damai yang dapat mempersatukan kembali bangsa Jerman itu. Barat dan Uni Soviet menyadari benar hal ini sehingga kedua belah pihak sepakat untuk membentuk semacam pemerintah. Pusat di pemerintah ini sebenarnya tidak mempunyai kebebasan karena semua tindakannya akan diawasi dewan pengawas sekutu (allied control council), kota ber¬lin ibarat sebuah pulau yang berada di tengah-tengah zona Uni Soviet ditempatkan langsung di bawah pengawasan empat besar: Amerika Serikat, Inggris, Perancis dan Uni Soviet, ko¬ta itu dibagi menjadi empat sektor yang masing-masing ditempati keempat negara itu menurut jatahnya.

Sebenarnya Uni Soviet khawatir dengan ide pembentukan pemerintah pusat Jerman. Pemerintah semacam ini akan sulit dikuasai Komunis sebab kepentingan pihak lain harus pula diperhitungkannya. Oleh sebab itu Uni Soviet lebih suka Jerman pecah menjadi dua karena salah satu masih dapat dipengaruhinya dari pada satu Jerman yang tidak dapat didominasinya untuk dirinya sendiri. Sikap Uni Soviet semacam inilah antara lain yang menggagalkan kesepakatan kedua belah pihak untuk membentuk pemerintah pusat itu.

(4) pampasan adalah masalah lain yang turut menutup kemungkinan terbentuknya suatu pemerintah pusat Jerman dengan dewan pengawas sekutunya.

Semula disetujui bahwa sebagai kompensasi atas kerusakan-kerusakan berat di wilayah Uni Soviet yang ditimbulkan oleh penyerbuan nazi Jerman maka Uni Soviet mempunyai hak: mengangkut instalasi-instalasi industri Jerman ke Uni Soviet dan mendapat sejumlah tertentu produksi hasil industri Jerman sesudah perang. Sebagai imbalannya Uni Soviet diharapkan untuk mengirimkan bahan-bahan makanan dari zona Jerman yang didudukinya (daerah pertanian), ke zona-zona sebelah barat yang diduduki negara-negara barat (kebetulan daerah industri). Harapan ini didasarkan keinginan, untuk memperlakukan Jerman sebagai suatu kesatuan ekonomi yakni dengan saling mengisi kebutuhan antara daerah pertanian dan daerah industri terbukti harapan ini tidak terwujud zona timur sendiri kekurangan, pertama karena kerusakan akibat pe¬rang belum sepenuhnya diperbaiki dan kedua karena penghisapan oleh Uni Soviet sendiri atas zona itu. Dengan demikian penyerahan bahan-bahan makanan dari zona timur ke zona-zona barat menjadi mustahil. Dari pada pasukan-pasukannya dan buruh buruh Jerman sendiri kelaparan, Amerika Serikat dan Inggris terpaksa mengeluarkan sendiri dari kantungnya, biaya untuk mendatangkan bahan-bahan makanan ke zona-zona yang didudukinya. Tindakan ini sama saja artinya dengan negara-negara baratlah yang membayar pampasan. Perang kepada Uni Soviet bukan Jerman, oleh sebab itu dari pada merugi terus, barat lalu menahan mengalirnya hasil-hasil industri dari zona-zonanya ke timur (Uni Soviet).

Tentu saja konflik kepentingan yang terjadi ini menghilangkan kemungkinan kerja sama di antara kedua belah piliak. Sejak itu setiap pihak menempuh jalan sendiri-sendiri dengan mengurus soal-soal ekonomi dalam zona-zonanya masing -masisg tanpa dicampuri pihak lain, memang pernah dicoba memperoleh kembali pertemuan pendapat dengan jalan korrferensi-konferensi, misalnya konferensi para menteri luar negeri di moscow, hasilnya jurang antara barat dan Uni Soviet semakin melebar sa ja.

6. The erp dan the COMECON

Dua tahun sesudah perang akibat-akibat yang ditimbulkannya masih tampak dan terasa. Kekurangan modal menyebabkan lambannya kebangkitam kembali kehidupan ekonomi, di satu pihak keadaan ini dapat menjadi sumber kekecewaan dan kegelisahan sosial, di lain pihak bagi Uni Soviet keadaan yang tidak terselesaikan ini merupakan kesempatan baik untuk menanamkan kekuasaan Komunis di negara-negara Eropa. Sehubungan dengan ini ditambah pula dengan kegagalan konferensi menteri luar negeri di moscow sebelumnya, maka pada 5 juni 1947 george c. Marshall (menlu Amerika Serikat ) dalam pidatonya di harvard university mengajak semua negara Eropa, termasuk Uni Soviet dan satelit-satelitnya untuk bersatu dalam suatu program rekonstruksi ekonomi menyeluruh dengan bantuan Amerika Serikat.

Sebagai jawaban terhadap ajakan/janji marshall itu, maka pada bulan berikutnya,wakil-wakil dari 16 negara Eropa berkumpul di paris untuk menyusun permohonan bersama pada Amerika Serikat, bantuan keuangan untuk memperbaiki ekonomi mereka. Kongres Amerika Serikat menyetujuinya dan terbentuklah european recovery program (erp), atau terkenal pula de¬ngan the marshall plan itu. Lalu negara-negara penerima bantuan itu membentuk organization for european economic cooperation (oeec). Tugasnya mengarus bantuan itu di Eropa. Dam mengikat para anggotanya pada program jangka panjang untuk saling membantu dan kerja sama.

Selama empat tahun telah diterima bantuan (aid) amerika sebesar $11 biliun yang terutama digunakan untuk perbaikan jalan-jalan kereta api, jalan-jalan raya, fasilitas pelabuhan, instalasi produksi tenaga. Bantuan itu juga berbentuk pinjaman (loans) bagi industri perorangan atau yang telah dinasionalisasi. Dengan pinjaman-pinjaman ini maka dapat direhabilisasi tambang-tambang, pabrik-pabrik; penyediaan pupuk dan alat-alat pertanian moderen. Program erp ini ternyata berhasil sebagaimana terbukti dengan membaik dan berkembangnya dengan pesat ekonomi Eropa.

Erp secara resmi berakhir tahun 1952, ketika pertama dimulai anggota-anggotanya terdiri dari 16 negara Eropa : austria, Belanda, Belgia, Denmark, Eslandia, Inggris, Irlandia, Italia, Luxemburg, Norwegia, Perancis, Portugal, Swedia, Switzerland, Turki dan Yunani. Jerman Barat baru ikut tahun 1949 semula rencananya termasuk pula Uni Soviet dan negara-negara Eropa Timur lainnya. Akan tetapi mereka ini menolak, bahkan mereka mencap erp itu sebagai alat baru “capi¬talist imperialism”. Semula Cekoslovakia dan Finlandia berniat juga masuk, tetapi karena tekanan Uni Soviet, keduanya terpaksa mundur.

Di lain pihak, melihat sukses yang dicapai erp, maka Uni Soviet pada januari 1949 membentuk council for mutual economic assistance (COMECON) bersama-sama dengan negara-negara Eropa Timur. Tujuannya: mengkoordinasi perkembangan ekonomi negara-negara Komunis Eropa Timur dan menyusun pembagian produksi yang efisien di antara mereka. Semula COMECON, dimaksudkan untuk mengimbangi erp dalam kenyataannya dengan COMECON Uni Soviet bermaksud membuat satelit-satelitnya bergantung padanya. Kecuali Yugoslavia (mengapa?), negara-negara Eropa Timur lainnya ikut dalam COMECON.

Perang Dingin

“….. From stettin in the

Baltic to trieste in the

Adriatic, an iron curtain

Has descended across the

Continent”.

“tirai “besi” (iron curtain) untuk pertama kalinya diucapkan oleh winston churchill dalam pidatonya di fulton, missouri (Amerika Serikat) pada tanggal 5 marat 1946, ketika la memperingatkan akan adanya “tirai besi” pemisah Eropa tinrur dengan Eropa lainnya. Selama “perang lingin” (Cold War), ungkapan ini berulang kali diucapkan.

Mengenai istilah “Perang Dingin* sendiri masih kabur dan oleh karena itu seringkali diperdebatkan. Begitu pula mengenai kapan mulai dan berakhirnya Perang Dingin itu tidak ada kesatuan pendapat. Hanya untuk mudahnya dikatakani bahwa Perang Dingin dimulai dengan terbentuknya dan mengukuhnya masing-masing Blok Barat dan Blok Timur, lalu berakhir dengan melonggarnya ikatan dalam masing-masing blok itu. Bagaimanpun juga Perang Dingin itu merupakan suatu proses yang tidak dimulai dengan tiba-tiba dan pula tidak berakhir dengan mendadak. Mengenai awalnya ada beberapa penapat :

(1) Sebelum dan selama Perang Dunia II berlangsung konflik-konflik sudah ada.

(2) Tooktrin truman (the truman doctrine) Inggris menyatakan ketidak sanggupannya lagi membantu pemerintah Yunani un¬tuk melawan gerilyawan-gerilyawan Komunis yang menyerang dari pangkalan negara-negara tetangganya (Bulgaria, Yugoslavia) presiden Amerika Serikat, harry s. Truman, pada 12 maret 1947 menyatakan kesanggupan memberikan bantuan militer dan ekonomi pada Yunani (juga Turki), terutama untuk mempertahankan kemerdekaan dan keamanan negara tersebut terhadap ancaman dari luar (Komunis).

(3) Blokade berlin 1948-1949 Uni Soviet mencoba mengakhiri kekuasaan empat besar di berlin.

(4) Perang korea (1950-1953)

SILAKAN BERI KOMENTAR

Temui Kami di Facebook

Statistik

  • 450Dibaca Hari Ini:
  • 1839Dibaca Kemarin:
  • 14387Dibaca Per Bulan:
  • 347242Total Pengunjung:
  • 405Pengunjung Hari ini:
  • 13679Kunjungan Per Bulan:
  • 11Pengunjung Online: