Gender dan Kriminalitas dalam Sejarah

Oleh: Bimo Adriawan

Topik penelitian sejarah begitu banyak. Dimana ada ketimpangan antara das sollen dan das sein dalam dimensi waktu itu adalah masalah yang bisa diteliti oleh sejarah. Tentu saja, tiga unsur penting sejarah, yaitu fungsional, spasial, dan temporal menjadi ciri khasnya. Hal yang tidak kalah pentingnya adalah aspek obtainable dari topik tersebut, menyangkut urusan sumbernya. Jika sumber tersedia maka penelitian sejarah dapat dilakukan, jika tidak maka tidak bisa. Sejarawan haram hukumnya merekonstruksi masa lalu tanpa sumber sejarah yang kredibel dan otentik.

Gender dan kriminalitas adalah dua topik dari sekian banyaknya topik yang dapat diteliti oleh sejarawan. Kedua topik tersebut bisa dikatakan masih sedikit diulas dalam sejarah. Penulisan sejarah umumnya tentang kelaki-lakian dan kepahlawanan. Topik gender yang disamakan dengan perempuan dan topik kriminalitas belum mendapat tempat dalam penulisan sejarah Indonesia. Pada hakikatnya, kedua topik ini sama pentingnya dengan topik laki-laki dan pahlawan. Penulisan sejarah dua topik ini akan melengkapi penulisan sejarah Indonesia. Berikut ulasan mengenai topik gender dan kriminalitas sebagai topik penelitian sejarah.

Gender

Gender menurut thesaurus Bahasa Indonesia Pusat Bahasa Depdiknas berarti kelamin atau seks. Namun, pemaknaan ini pada perkembangannya lebih menjurus kepada wanita. Gender sinonimnya adalah wanita, seperti yang disebutkan oleh Joan Wallace Scott dalam artikel yang ditulis oleh Andi Syamsu Rijal. Oleh karena itu, gender dimaknai sebagai rekonstruksi sosial.

Penulisan sejarah perempuan di Indonesia masih minim. Menurut Michael Roberts dalam tulisannya Women’s History and Gender History menjelaskan bahwa perempuan dalam sejarah itu pada mulanya hidden kemudian berangsur-angsur menjadi visible. Di Indonesia paling tidak, tokoh-tokoh pahlawan seperti R.A. Kartini, Cut Nyak Dien, Dewi Sartika sudah banyak visible dalam bentuk biografi. Namun, apakah perempuan di Indonesia pada masa lalu hanya mereka saja? Tentu saja tidak. Kuntowijoyo dalam bukunya Metodologi Sejarah menjelaskan bahwa perempuan juga berperan dalam sektor ekonomi. Contohnya, dalam karya Soedarmono Munculnya Kelompok Pengusaha Batik di Laweyan pada Awal Abad XX. Kurang lebih menceritakan peran dominan perempuan dalam bisnis batik, sementara itu laki-laki hanya diberdayakan sesuai kebutuhan saja.

Tidak bisa dipungkiri peran wanita dalam sejarah Indonesia begitu besar. Logikanya seperti itu, jika melihat kongres perempuan yang juga turut meramaikan perjuangan kaum intelektual pada masa pergerakan nasional awal abad ke-20. Seperti kaum pria, kaum wanita pun melakukan pergerakan pada awal abad ke-20. Organisasi pergerakan perempuan pun turut berkembang seiring dengan organisasi kaum pria. Topik penelitian organisasi perempuan pun dapat ditarik ke masa yang lebih kontemporer lagi.

Selain berorganisasi, berbagai pendekatan ilmu sosial yang dicetuskan oleh Sartono Kartodirjo bisa sedikit diperluas. Perluasannya dilakukan pada unsur fungsionalnya (siapa), dari pria sampai wanita. Seperti yang dituliskan oleh Kuntowijoyo, peranan perempuan dalam aspek politik, ekonomi, pendidikan dll memungkinkan ditulis oleh sejarawan. Andy Syamsu Rijal menjelaskan bahwa penulisan sejarah wanita dapat dibangun melalui tahapan umum. Tahapan umum menurut Gerda Lerner membagi tahapan umum tersebut menjadi tiga tahapan. Tahap pertama adalah compensatory history, yaitu apa dan bagaimana peran wanita. Setelah itu, tahap kedua adalah contribution history, kontribusi apa yang diberikan oleh wanita dengan perannya tersebut. Tahap terakhir adalah bangkitnya kesadaran wanita akan peranannya.

Ketiga tahapan di atas tentunya akan menampilkan perempuan sebagai pelaku sejarah. Mereka akan menjadi subjek sejarahnya sendiri. Namun, penulisan sejarah perempuan masih sulit dilakukan karena ketatnya batasan sumber sejarah. Sumber-sumber tertulis tidak banyak jumlahnya. Sebagai alternatif, penggunaan metode sejarah lisan diharapkan bisa menutupi kekurangan sumber tertulis.

Kriminalitas

Topik menarik lain adalah kriminalitas. Sisi lain yang menunjukkan bahwa manusia Indonesia benar-benar manusia. Tidak hanya berisi pahlawan tetapi juga penjahat. Sisi yang wajar, baik dan buruk. Penulisan sejarah kriminalitas pada masa kolonial lebih kompleks lagi. Dalam buku Jawa;Bandit-Bandit Pedesaan Studi Historis 1850-1942 karya Prof. Dr. Suhartono, sisi gelap masyarakat Indonesia digambarkan begitu kompleks. Paling tidak tindak kejahatan yang dalam buku ini dilabeli bandit dapat dikategorisasi ke dalam dua kategori, yaitu bandit yang benar-benar bandit dan bandit sosial.

Fokus utama kajian buku tersebut adalah bandit sosial. Pengertian bandit sosial adalah bandit yang tindakan perbanditannya merupakan gerakan perlawanan terhadap eksploitasi kolonial. Faktor pemicu sifat jahat manusia Indonesia adalah tindakan eksploitatif kolonial. Bentuk perlawanannya antara lain pencurian, perampokan, dan pembakaran. Tindakan yang seolah kecil tetapi meresahkan pihak kolonial. Tindakan yang diambil oleh pemerintah kolonial tidak menyentuh akar masalahnya. Akibatnya kegiatan perbanditan ini berlangsung lama.

Contoh lain dari topik kriminalitas adalah makalah yang membahas kekerasan dan kriminalitas di Kotagede masa transisi (akhir kolonial dan awal kemerdekaan). Makalah yang ditulis oleh Bambang Purwanto menyajikan sudut pandang yang lain. Kekerasan dan kriminalitas yang ada di Kotagede digambarkan sebagai tindakan yang berasal dari pribumi sendiri. Berbeda dengan karya sebelumnya yang memfokuskan pada kriminalitas sebagai reaksi dari tindakan kolonial. Kesenjangan yang terjadi antara kaya dan miskin dan hiruk pikuk interaksi di antara keduanya menjadi penyebab kriminalitas di Kotagede.

Karya Bambang Purwanto menegaskan bahwa pribumi itu manusia juga. Artinya terdapat juga sisi hitam dalam kehidupannya. Posisi pribumi menjadi subyek dari kriminalitas. Bukan objek yang bereaksi atas aksi dari kolonial. Sudut pandang baru ini menyuguhkan warna baru dalam historiografi Indonesia. Terlepas dari perbedaan antara kedua karya diatas, kisah tentang penjahat akan melengkapi kekayaan historiografi Indonesia.

Kesimpulan

Kendala terbesar dalam penulisan sejarah Indonesia adalah sumber. Topik gender khususnya sumbernya begitu terbatas. Kekakuan penggunaan sumber dokumen juga menjadi kendala. No Documents No History yang diungkapkan Seignobos dan Langlois tentunya dimaknai begitu sempit. Dalam buku Metode Sejarah yang ditulis oleh Prof. Dr. Nina H. Lubis, M.S. setidaknya dokumen itu bisa dipahami dalam tiga definisi yang berbeda. Definisi luas, sempit, dan sangat sempit. Sumber-sumber seperti gambar dan sastra termasuk ke dalam definisi luas. Kedua sumber itu memberikan gambaran tentang kriminalitas dan perempuan, tentunya jumlahnya tidak banyak tetapi akan membantu untuk memberikan gambaran kondisi kedua topik ini. Maka dengan memberlakukan metode sejarah (heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi) penggunaan sumber-sumber gambar dan sastra tentu sah-sah saja.

Tidak kalah penting adalah menjadikan pribumi sebagai subjek sejarah. Pelaku atas masa lalunya sendiri. Pribumi pun manusia biasa, ada pahlawan dan ada penjahat, serta ada laki-laki dan ada wanita. Keadilan penulisan sejarah antara keduanya wajib dilaksanakan. Semuanya memiliki masa lalu dan sudah saatnya semuanya juga memilki sejarah.

________________________________________

Dimuat dalam buku kumpulan tulisan dengan judul Making History – An Introduction to the History and Practices of a Discipline [Lambert & Schofield]

SILAKAN BERI KOMENTAR

Temui Kami di Facebook

Statistik

  • 24Dibaca Hari Ini:
  • 1839Dibaca Kemarin:
  • 13961Dibaca Per Bulan:
  • 346859Total Pengunjung:
  • 22Pengunjung Hari ini:
  • 13296Kunjungan Per Bulan:
  • 4Pengunjung Online: