Gerakan 30 September

ISTILAH ‘GERAKAN 30 SEPTEMBER’ LEBIH OBYEKTIF

Asvi Warman Adam, Sejarawan

(TANYA: Istilah apa yang digunakan untuk menyebut pembunuhan enam jenderal pada 30 September 1965 ketika itu)

JAWAB: Pada 1 Oktober 1965, istilah yang dipakai adalah “Gerakan 30 September”. Tidak disingkat menjadi G-30-S, tapi ditulis penuh. Itu menurut dokumen yang dikeluarkan pada 1 Oktober. Dalam perkembangannya, bahkan 40 hari setelah peristiwa itu, Jenderal Nasution menulis buku yang diterbitkan Departemen Pertahanan berjudul 40 Hari Kegagalan “G30S”. Istilah G-30-S itu dipakai sampai pertengahan Desember 1965. Pelakunya sendiri menyatakan Gerakan 30 September.

(TANYA – Siapa pelakunya?)

JAWAB: Untung, Latif, memakai istilah itu. Dalam dokumennya, Untung menggunakan istilah Gerakan 30 September.

(TANYA -Dokumen apa itu?)

JAWAB – Dokumen yang mereka keluarkan pada hari pertama (setelah pemberontakan) yang menyatakan mereka membentuk Dewan Revolusi dan lain-lain. Tapi gerakan itu mereka sebut sebagai Gerakan 30 September.

Setelah itu Bung Karno menggunakan istilah Gestok, Gerakan Satu Oktober. Itu ditandingi oleh Angkatan Darat dan kelompok Islam dengan istilah Gestapu untuk diasosiasikan dengan Gestapo (Nazi-Jerman). Tapi, kalau dilihat dari bahasa Indonesia, itu kan kurang tepat. Sejak awal ada “pertarungan” antara Gestok dan Gestapu. Baru setelah 1966 dipakai istilah PKI.

(TANYA – Sejak Orde Baru berkuasa?)

JAWAB – Ya, sejak Soeharto makin kuat kedudukannya dipakai istilah G-30-S/PKI. Alasan lainnya, ketika itu ada Mahkamah Militer Luar Biasa (Mahmilub). Yang diadili pertama kali adalah Nyono, Ketua CC PKI Jakarta Raya. Sejak itu dikaitkan (dengan PKI). Tapi kita tahu yang diadili bukan hanya pengurus PKI. Tapi juga perwira Angkatan Darat (AD), Angkatan Udara (AU), Wakil Perdana Menteri, dan Menteri Luar Negeri Soebandrio, yang bukan pengurus PKI, bukan anggota AD atau AU.

Jadi ada empat kelompok yang diadili. Di pengadilan, pelakunya dinyatakan terbukti terlibat makar. Tapi tidak ada putusan Mahmilub yang menyatakan bahwa partai ini terlibat makar.

(TANYA – Dari semua istilah itu, istilah apa yang paling mendekati kenyataan?)

JAWAB – Menurut saya, bukan paling mendekati kenyataan. Tapi paling obyektif secara ilmiah adalah berdasarkan pelakunya menyebut gerakan mereka. Seharusnya ditulis dengan lengkap “Gerakan 30 September”. Tidak disingkat. Menurut saya, itu lebih obyektif, ilmiah.

Istilah Gestok, sebutan Bung Karno itu, misalnya. Secara logis, kejadian itu tepat pada 1 Oktober. Pelakunya tidak menyebut demikian, tapi Gerakan 30 September.

(TANYA -Apakah penggunaan istilah G-30-S/PKI itu digunakan mendadak oleh rezim Orde Baru?)

JAWAB – Tidak, tidak mendadak. Sejak 1966 ditulis G-30-S/PKI. Makin lama makin dikukuhkan. Pada 1990, ada museum pengkhianatan PKI di Lubang Buaya, Jakarta, yang diresmikan Soeharto. Pada 1994, Sekretariat Negara mengeluarkan buku putih berjudul Pemberontakan Partai Komunis Indonesia. Makin lama makin dilestarikan mitos yang diiringi oleh pemberian stigma terhadap partai itu, orang-orang dan keluarga mereka, bahwa mereka melakukan pemberontakan.

(TANYA – Apakah sebagian besar pelaku pemberontakan berasal dari PKI?)

JAWAB – Tidak. Tidak ada alasan yang jelas. Misalnya Soebandrio, apa alasan untuk menangkap dan mengadili dia? Dia bukan PKI. Saya melihat ini upaya menghancurkan orang-orang di sekeliling Bung Karno. Jika ini dilihat sebagai rangkaian kudeta merangkak, pertama untuk menghancurkan PKI sebagai pesaing AD yang paling kuat.

Pada 1 Oktober, ada segi tiga kekuatan politik. Ada Soekarno, di bawahnya AD dan PKI. Dalam mengambil kekuasaan dari Bung Karno, PKI akan menyingkirkan pesaingnya. Karena sesudah PKI dibubarkan pada 12 Maret 1966, pada 15 Maret ada 15 orang menteri yang ditangkap, termasuk Soebandrio. Yang ditangkap itu menteri-menteri yang loyal terhadap Bung Karno, untuk melumpuhkan kekuatannya. Sesudah 15 menteri ditangkap, Cakrabirawa–pasukan pengawal yang loyal kepada Presiden Soekarno yang kekuatannya sekitar 4.000-5.000 orang–dibubarkan dan dikembalikan ke induk pasukannya ke daerah. Kalau dianalisis dari kudeta merangkak, kelihatan masing-masing kekuatan yang mendukung dan dekat dengan Bung Karno itu dihancurkan.

(TANYA – Istilah apa yang paling banyak dipakai?)

JAWAB – Pada 1965 belum ada istilah G-30-S/PKI. Yang ada “G-30-S” atau “Gerakan 30 September”. Yang menonjol pada Oktober sampai Desember, koran-koran militer, seperti Berita Yudha, melancarkan kampanye hitam dengan cara menghancurkan Gerakan Wanita (onderbouw PKI).

Ini cara paling mudah karena sulit untuk menghancurkan PKI yang sama-sama militan. Caranya dengan menyatakan anggota Gerwani melakukan tarian mesum di Lubang Buaya dan menyilet kemaluan para jenderal. Kampanyenya, menurut saya, sangat ampuh. Masyarakat akan berpikir perempuan kiri demikian kejamnya, apalagi yang laki-laki. Kampanye di masa berikutnya mereka dinyatakan anti-Tuhan.

(TANYA – Seberapa dominan kampanye itu menguasai buku sejarah atau media?)

JAWAB – Sangat dominan. Pada 1 Oktober, semua koran dibreidel selama sepekan kecuali koran Angkatan Bersenjata dan Berita Yudha. Koran-koran kan sudah takut. Setelah terbit, mereka hanya mengutip berita-berita soal politik dari kedua koran itu. Sangat dominan.

Berita tentang anggota Gerwani menyilet kemaluan para jenderal bukan hanya ditulis di Berita Yudha dan Angkatan Bersenjata, tapi juga diikuti oleh Duta Masjarakat, koran (milik) NU, dan Sinar Harapan (SH) (Protestan). Walaupun dalam berbagai kasus SH cukup independen. SH satu-satunya koran yang menulis tentang visum para jenderal yang tewas karena tembakan, tidak ada yang disilet kemaluannya. Soeharto tahu, tapi dia biarkan saja informasi itu.

(TANYA – Kalau yang tertulis dalam buku-buku sejarah?)

JAWAB – Yang menarik sesudah 1965. Yang tidak boleh dipakai pertama kali adalah buku Sejarah Indonesia tulisan Anwar Sanusi. Anwar yang ini adalah guru di Bandung. Buku ini terbit pada 1949 dan dicetak ulang terus sampai 1965. Ini membuktikan buku itu terpakai di sekolah meski (materinya) terbatas. Ceritanya tentang masa lampau. Bahkan (dalam buku itu) Buddha tidak dikenal, jadi Hindu saja yang ada.

Sejak peristiwa itu, buku ini dilarang. Alasannya, nama penulis buku ini sama dengan Anwar Sanusi yang CC PKI. Padahal ini Anwar Sanusi guru dan anggota Masyumi. Ironis, dilarang hanya karena namanya sama.

(TANYA – Sejak kapan G-30-S/PKI masuk buku sejarah untuk sekolah?)

JAWAB – Sesudah peristiwa itu, saya tidak ingat persis tanggalnya pada 1966-1967. Kalau mau ke belakang lagi, pada 1964 terbit buku sejarah yang disusun oleh Front Nasional.

(TANYA – Siapa Front Nasional itu?)

JAWAB – Kumpulan tokoh partai yang didominasi kelompok kiri. Dibentuk Bung Karno untuk “menyeimbangkan” kabinet dan parlemen. Sebetulnya nggak jelas kerjanya. Front membuat pengaderan, memberikan ceramah tentang revolusi. Kumpulan dari ceramah-ceramah itu diterbitkan menjadi buku yang judulnya Sejarah Revolusi.

(TANYA – Buku sejarah sumbernya ceramah?)

JAWAB – Buku ini tidak untuk diajarkan di sekolah, tapi disampaikan kepada masyarakat semacam Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila untuk pengkaderan. Dalam buku itu, mereka bercerita tentang kejayaan Indonesia masa lampau, tapi mereka tidak bercerita tentang revolusi di Indonesia. Mereka bercerita tentang perbandingan revolusi di Tiongkok, revolusi Vietnam.

Nasution melihat pemberontakan Madiun nggak ada di situ. Seakan-akan peran tentara nggak ada. Yang ada hanya peran rakyat. Nasution membentuk tim beranggota dosen-dosen Universitas Indonesia, Nugroho Notosusanto dan kawan-kawan. Ini cikal-bakal Pusat Sejarah ABRI itu. Pada 1964 terbit juga sejarah Gerakan Angkatan Bersenjata RI, yang memperlihatkan keberhasilan tentara (menumpas pemberontakan). Nasution getol menggarap ini karena lagi nganggur. Sejak 1962, dia seperti “dipecat” jadi Kepala Staf AD oleh Soekarno. Ia dianggap bertanggung jawab atas meriam yang ditodongkan ke Istana. Tapi Bung Karno susah (mencari) penggantinya jadi dipanggil lagi.

(TANYA – Apa yang dilakukan Nugroho?)

JAWAB – Setelah mendirikan Pusat Sejarah ABRI sekitar 1966, barangkali, yang pertama kali dibuatnya adalah membakukan sejarah ABRI. Berdasarkan standardisasi sejarah ABRI, dia mengajukan standardisasi sejarah Indonesia. Ini diterima Kongres Sejarah Indonesia, tapi bukunya disusun pada 1974. Tim disusun untuk menulis sejarah Indonesia.

Bukunya enam jilid. Ada zaman purbakala, zaman Hindu, Islam, dieditori orang lain. Nugroho mengeditori soal Indonesia di masa kontemporer dan mencoba memasukkan kepentingan pemerintah waktu itu. Buku ini namanya buku babon.

(TANYA -Sengaja dipilih jilid 6?)

JAWAB – Ya, paling strategis. Nugroho membuat ringkasan jilid 6 untuk buku SD sampai SMA. Isinya mengkultuskan Soeharto dan merendahkan Soekarno. Buku Sejarah Nasional Indonesia untuk SMP dan SMA itu dirujuk oleh buku-buku yang lain. Ada sedikit variasi, tapi rujukannya itu.

(TANYA – Buku babon sudah mencantumkan istilah G-30-S/PKI?)

JAWAB – Setahu saya sudah. Ditulis tidak hanya keterlibatan PKI saja, tapi juga keterlibatan Soekarno dalam peristiwa itu.

(TANYA – Bagaimana Soekarno terlibat dalam kudeta terhadap dirinya sendiri?)

JAWAB – He-he-he…. B.M. Diah marah-marah ketika buku itu terbit. Dia menurunkan editorial beberapa hari berturut-turut menghantam Nugroho. Ada sedikit perubahan, tapi tetap saja Soekarno dikecilkan. Nugroho juga menyingkirkan Soekarno dengan membuat konsep tentang hari lahir Pancasila.

Sejak dulu tertulis hari lahir Pancasila 1 Juni 1945 pada saat Soekarno pidato. Tapi, pada 1970, Komando Operasi Pemulihan Keamanan dan Ketertiban (dikomandani Soedomo) melarang. Seorang sejarawan Prancis mengatakan Soekarno dibunuh dua kali pada Juni 1970 itu. Ia dibunuh pemikirannya dan dibunuh pelan-pelan secara fisik. Pada 1970 juga Nugroho mengeluarkan buklet tentang Pancasila. Dikatakannya, Pancasila merupakan hasil pemikiran nenek moyang kita dari dulu sampai sekarang. Yang tepat, hari lahir Pancasila itu 1 Agustus 1945 saat disahkan sebagai dasar negara. Sebelumnya, masih calon dasar negara (tertawa).

(TANYA -Usahanya komplet?)

JAWAB – Ada upaya sistematis sejarah digunakan sebagai kepentingan politik. Melalui buku, Pancasila, dan monumen yang dibuat untuk mengagungkan Soeharto. Monumen Serangan Umum 1 Maret dan diorama di Monas. Sebelum 1965, diorama Monas itu sudah dirancang. Hari lahir Pancasila pada 18 Agustus 1945 diubah pada diorama itu. Ganefo dihilangkan dari rancangan diorama yang jadi pada 1970 itu.

Yang ditambahkan Supersemar. Digambarkan Soeharto terbaring sakit ketika tiga jenderal mendatanginya di rumahnya. Kesannya dia pasif dan tidak berambisi pada kekuasaan.

(TANYA – Apakah buku sejarah yang tidak merujuk pada buku babon semuanya dirombak?)

JAWAB – Tidak dirombak karena sebelumnya memang tidak ada rujukan mana yang akan dipakai.

(TANYA – Adakah yang tidak merujuk pada buku babon?)

JAWAB – Tidak berani. Bukunya Anwar Sanusi yang tidak ada persoalan dengan politik saja tidak dipakai lagi. Ini membuktikan orang tidak berani mencoba (menyajikan buku) yang lain. Jika ada yang berbeda akan dilarang.

Yang jelas pelarangan dilakukan terhadap buku Pemberontakan Partai Komunis Indonesia, yang terbit pada 1994, dan buku Di Bawah Bayang-bayang PKI, yang diterbitkan Institut Studi Arus Informasi pada 1995. Buku itu sebetulnya bercerita tentang versi lain selain dari PKI.

(TANYA – Buku babon menulis G-30-S/PKI?)

JAWAB – Sudah G-30-S/PKI. Pelakunya satu-satunya PKI. Tidak versi lain, seperti ada CIA, Angkatan Darat, tidak ada.

(TANYA – Adakah pelanggaran dalam buku untuk SMP itu?)

JAWAB – Ini upaya kembali ke masa Orde Baru yang mudah melarang buku. Kali ini dengan alasan yang tidak jelas, tidak logis.

(TANYA – Bagian mana yang tidak logis?)

JAWAB – Buku untuk kelas I SMP dikatakan tidak mencantumkan pemberontakan pada 1948 dan 1965. Memang tidak dicantumkan karena masih menguraikan sejarah kerajaan di Nusantara. Buku kelas II tentang perlawanan rakyat terhadap kolonialisme juga dilarang. Ceritanya tentang Diponegoro, Imam Bonjol, dan sebagainya.

(TANYA – Apanya yang dianggap melanggar?)

JAWAB – Ya, karena tidak memuat (pemberontakan 1948 dan 1965) itu. Tidak memuat karena waktunya belum sampai ke situ. Ini kan aneh.

Buku kelas III dilarang karena tidak mencantumkan PKI. Jadi hanya mencantumkan G-30-S saja. Ada beberapa buku yang begitu dan dilarang. Tapi beberapa buku lainnya, terbitan Grasindo, sudah menggunakan G-30-S/PKI, dilarang juga. Ini kan membingungkan. Tidak jelas pesannya. Saya melihatnya tidak profesional, tidak berdasar pelarangan ini. Apakah mereka membaca semuanya secara terperinci? Kalau dibaca terperinci, memang tidak dimuat karena masanya belum sampai ke situ. Kalau (buku-buku) ini dilarang, kenapa terjemahan Das Kapital yang ditulis Karl Marx tidak dilarang? Ini kan juga menyebarkan komunisme.

(TANYA – Sebaiknya bagaimana?)

JAWAB – Kalau tidak mencantumkan PKI, kenapa bukan buku itu saja yang dilarang. Kenapa harus buku sejarah seluruh Indonesia. Kenapa Menteri Pendidikan tidak memanggil Pusat Perbukuan yang bisa memberitahukannya kepada penerbit? Penerbit akan terikat kalau diminta mencantumkan istilah itu. Ini bisa diselesaikan di dalam.

—————–

BIODATA

Nama: Asvi Warman Adam

Tempat dan tanggal lahir: Bukittinggi, 8 Oktober 1954

Pendidikan: – DEA dan doktor di Ecole des Hautes Etudes en Sciences Sociales Paris, Prancis, 1984-1990 – Sarjana Sastra Prancis, Universitas Indonesia, 1980 – Sarjana Muda Sastra Prancis, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, 1977 – Sekolah Menengah Atas Don Bosco Padang, 1973 – Sekolah Menengah Pertama Xaverius Bukittinggi – Sekolah Dasar Fransiscus Bukittinggi

Pekerjaan:

– Wartawan majalah Sportif, 1981-1983

– Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, 1983-sekarang

– Lektor bahasa dan sastra Indonesia di Institut National des Langues et Civilisation Orientales), Universite de la Sorbonne-Nouvelle, Paris, 1984-1986

Pengalaman:

Anggota Tim Pengkajian dan Penyelidikan Pelanggaran Berat oleh Soeharto yang dibentuk Komisi Nasional Hak Asasi Manusia.

SILAKAN BERI KOMENTAR

Temui Kami di Facebook

Statistik

  • 1388Dibaca Hari Ini:
  • 1839Dibaca Kemarin:
  • 15325Dibaca Per Bulan:
  • 348111Total Pengunjung:
  • 1274Pengunjung Hari ini:
  • 14548Kunjungan Per Bulan:
  • 2Pengunjung Online: