GERAKAN NASIONALIS TIONGKOK DIBAWAH PIMPINAN SUN YAT-SEN

BAB I

Pendahuluan

1.1 Latar belakang

Sejarah republik rakyat cina, pada fase perkembangan masyarakat era-modernisasi cina ditandai masuknya pengaruh bangsa barat dengan kepentingan ekonomi-politik yang cukup lama berlangsung. Peristiwa besar yang mengawali adalah perang candu telah menjerumuskan cina dengan dipaksakan membuka jalan dalam persaingan ekonomi internasional. Dimana masa sebelumnya cina termasuk wilayah kekuasaan yang cukup kuat menjaga kemandirian kehidupan masyarakat dari kebutuhan ekonomi, politik dan budaya.

Dinamika politik kekuasaan cina tidak terlepas dari kontek perang candu selama pemerintah kekuasaan dipegang kaum feodalistik, akhirnya pada puncak peperangan tersebut menghasilkan sebuah perjanjian yang lebih banyak menguntungkan bangsa asing dengan alasan pemerintahan dinasti di cina sudah tidak berdaya membangkitkan sebagai Negara kuat. Sedangkan pasca perang candu masyarakat cina masih menjadi Negara semi feodal dan semi kolonial. Sejak saat itulah kaum imperialisme-kolonialisme modern menambah kekuatan penjajahannya yang di iringi oleh penetrasi kebudayaan barat.

Terlepas dari kontek ini, kondisi rakyat cina sungguh menjadi kekacauan politik kekuasan pemerintah berkepanjangan sampai menyebabkan banyaknya pemberontakan rakyat yang disertai dengan gerakan pembaharuan muncul terbagi dua aliran; Pertama, gerakan pembaharuan dari golongan reformis yang setia kepada Dinasti Manchu. Kedua, gerakan pembaharuan reformis dari golongan revolusioner yang bertujuan menghancurkan Dinasti Manchu dan mendirikan Negara republik .

Golongan reformis-konservatif pimpinan Kang Yu Wei mendapat kepercayaan dari kaisar untuk melakukan pembaharuan dengan dinamakan Gerakan Pembaharuan Seratus Hari. Namun gerakan yang dibangun mengalami kegagalan dengan terpaksa dibubarkan, peristiwa yang terjadi seiring pemerintahan dinasti Manchu semakin lemah pertahanan politik kekuasaannya sebagai kaum feodal. Sementara diwilayah timur laut cina terjadi pemberontakan dari gerakan rakyat yang menentang kedudukan bangsa barat dan dinasti Manchu dengan nama Perkumpulan Yi Ho Tuan, yang berarti perkumpulan kepalan tinju harmoni keadilan.

1.1.1 Pengertian Nasionalis Tiongkok

Nasionalisme berasal dari kata Nation dalam bahasa inggris yang berarti bangsa, dan dalam bahasa latinnya yang berarti kelahiran kembali, suku, bangsa. Sedangkan menurut istilah nasionalisme adalah satu paham yang menciptakan sekaligus mempertahankan kedaulatan sebuah negara dengan mewujudkan satu konsep identitas bersama untuk sekelompok manusia . kontek yang dimaksud, menggambarkan semangat kebangsaan suatu kelompok masyarakat tiongkok upaya mencapai perubahan dari sebuah sistem pemerintahan yang dikuasai kaum feodal.

Pada praktek nasionalisme Tiongkok merupakan gerakan politik isolasi yang diterapkan oleh sun yat-sen untuk melakukan perjuangan perlawanan rakyat menumbangkan rezim feodalistik yang berada dibawah kekuasaan kolonialism. Secara pemaknaan nasionalisme hanya sebuah cita-cita kebangsaan untuk mendirikan negara republik cina sekaligus menumbangkan rezim lama. Model kebangsaan cina yang diterapkan sun yat-sen berbentuk kuomintang , sekaligus dijadikan legitimasi kekuasaan dan simbol perlawanan.

Diskripsi Kuomintang partai politiknya meliputi tiga prinsip rakyat sebagai semboyan revolusi Tiongkok yaitu rakyat nasionalisme, kedaulatan rakyat, dan rakyat mata pencaharian . Penegasan prinsip rakyat dapat dilihat sikap politik sun yat-sen bahwa pemerintah Cina harus berada di tangan orang Cina dari pada rumah kekaisaran asing. Salah satu sistem pemerintahan cina harus republik serta dipilih secara demokratis, kesenjangan kepemilikan tanah harus disamakan pembagiannya kepada rakyat cina, dan dampak sosial dari kapitalisme yang tak terkendali yaitu sistem perdagangan harus dapat diatur oleh pemerintah .

Pada dasarnya kedaulatan rakyat harus sesuai dengan kebebasan, kesetaraan, dan persaudaraan, bahwa didalamnya kehidupan rakyat tidak ada pertentangan kelas. Namun nasionalisme sun yat-sen mengalami kegagalan setelah kekuasaannya diwariskan terhadap Chiang Kai-shek yang di dorongan sebagian rakyat buruh-tani paham ajaran Marxisme-Leninisme kemudian di pelopori oleh Mao Zedong dengan anggapannya bahwa nasionalisme hanya dimiliki sekelompok kaum borjuais.

1.1.2 Proses Munculnya Pemikiran Nasionalis Sun Yat-Sen

Sun yat-sen adalah salah satu kaum intelektual yang sudah memiliki keprihatinan besar terhadap berbagai macam kondisi yang telah dihadapi masyarakat Tiongkok dan berusaha mencari solusinya. Menurutnya, penindasan dengan kekuatan ekonomi lebih kejam dibanding penindasan dengan kekuatan politik. Pemikiran nasionalis muncul terhadap sun yat-sen berdasarkan realitas yang terjadi kepada masyarakat tiongkok serta mengadopsi ide dari luar negeri untuk dikembangkan dalam menjalankan perjuangannya.

Pada praktek pemikirannya nasionalisme sun yat-sen meliputi dua kapasitas dalam pelayanan masyarakat Tiongkok; Pertama, sun yat-sen dijadikan sebagai kendaraan retoris diterima untuk kedua belah pihak. Kedua proses substantif untuk mengintegrasikan-dalam bentuk struktur federal- yang berlaku, berbeda sosio perspektif politik . Praktek yang diterapkan sun yat-sen sesungguhnya berdasarkan logika berpikir dalam menyusun strategi perlawanan politik kekuasaan untuk menentukan kesadaran masyarakat yang dituangkan dalam gagasan radikalism

Gagasan radikal nasionalisme sun yat-sen dalam tindakannya sangat menekan terhadap kekuasan feodalistik dinasti Manchu dan imperialisme-kolonialisme berkekuatan besar. Meskipun pemerintah dinasti Manchu sebelumnya menjanjikan melakukan perubahan sistem pemerintahan, pada tahun 1906 . Gerakan nasionalisme moderat tetap melangsungkan perlawanan politik kekuasaan dengan pertahanan cukup besar dari beberapa provinsi yang telah kecewa kepada dinasti Manchu, akhirnya berhasil diruntuhkan pada tahun 1912 masyarakat yang mendukung revolusi memaksa untuk mengadakan reformasi tentang bentuk Negara cina.

1.2 Rumusan masalah

Terkait penjelasan di atas sebagai pandangan umum proses gerakan nasionalis tiongkok, maka makalah ini mengambil rumusan masalah yang dapat dipecahkan dari berbagai pokok persoalan adalah:

1. Bagaimana strategi politik nasionalis Sun Yat-Sen memperjuangkan rakyat Tiongkok melawan kolonialisasi.?

2. Bagaimana perelawanan dalam kontek ekonomi-politik kekuasaan Sun Yat-Sen di Tiongkok untuk menuju cita-cita nasionalism?

3. Bagaimana pertarungan nasionalis Kuomintang dan Kungchantang dibawah pengaruh kolonialism?

Bab II

Pembahasan

2.1 Pemikiran Strategis Nasionalis Sun Yat-Sen

Pemikiran strategis sun yat-sen berdasarkan doktrin nasionalism yang memiliki dua implikasi: emansipasi rakyat cina dan kesataraan dari semua ras di cina, dengan tujuan yang cukup kongkret, yaitu mengembalikan kebebasan-kemerdekaan semesta rakyat cina. Dimana sebelum 1911, rakyat cina diperintah oleh dinasti Manchu dalam keadaan tidak bebas, karena pemerintahannya berada dibawah pengaruh dominan dari powers imperialistik.

Pandangan penyusunan strateginya tidak terlepas solidaritas clen, pendapat sun yat-sen:

a. Cina sebagai Heap dari Loose Pasir; bahwa rakyat tiongkok harus sungguh-sungguh mendukung gerakan nasionalis revolusioner. Karena wilayah kekuasaan tiongkok sudah lama dikekuasai imperialisme-kolonialisme serta memiliki populasi cukup kuat untuk melancarkan aktivitas ekonomi-politiknya. Sedangkan realitas masyarakat tiongkok dalam keadaan lemah secara politik bertarung pada persaingan ekonomi internasional. maka salah satu tindakan yang bisa dilakukan rakyat harus bersatu kekuatan untuk melawan penjajah asing dengan membawa semangat nasionalisme demi keselamatan negara.

b. Cina sebagai Koloni Hypo; bahwa pemaknaan semi kolonial di cina keluar dari kontek realitas yang terjadi. Karena kekuatan politik imperialis yang menduduki negeri cina tidak hanya satu Negara, melainkan dari beberapa Negara imperialis Eropa melakukan kolonialisasinya di negeri cina. Maka cina dikategorikan sebagai Negara hypo koloni.

c. Nasionalisme dan kosmopolitanisme; bahwa gagasan nasionalisme yang telah tercantum dalam tiga prinsip rakyat harus mencari pembenaran dibeberapa Negara berkembang untuk mencari pemaknaan nasionalisme sesungguhnya. Karena mencapat pertentangan dari pemikiran tentang kosmopolitanisme dalam prinsipnya bergerak diwilayah ekternal-internal. Artinya, tindakan yang dilakukan diinternal mempertahankan politik kekuasaan dan di eksternal harus melakukan ekspansi di Negara-negara yang belum maju.

d. Nasionalisme dan Moralitas Tradisional; bahwa penerapan gerakan nasionalis revolusioner yang menentang rezim lama dibawah kekuasaan kaum feudal, yaitu menyatuhkan kembali sebuah Negara kebangsaan yang bebas dari penjajahan dan membangkitkan rasa solidaritas nasional.

2.2 Perlawanan dalam kontek Ekonomi-Politik Kekuasaan Sun Yat-Sen

Revolusi cina yang diawali runtuhnya rezim otokratik mengimdikasikan untuk mencapai puncaknya dengan menerapkan rezim baru yang lebih terpusat dan bersifat inkorporasi massa . Peristiwa yang terjadi dimana Negara tiongkok yang dipimpin pemerintah Dr. sun yat-sen melahirkan partai nasionalis tiongkok sebagai sentral gerakan keadulatan rakyat. Sedangkan salah satu perlawanan sun yat-sen didorong dari tiga prinsip yang mengawal terjadinya recolusi cina:

a. Prinsip nasionalis: sejarah cina membuktikan bahwa cina sebagai Negara wilayah kekuasaan independent yang telah sekian lama dipaksa berhubungan dengan Negara berkembang. Selama periode, ketika negeri cina mengalami krisis politik berkepanjangan dan kekuatan militerisme lemah serta tidak dapat mempertahankan kedaulatan Negara. Maka terjadi pemberontakan rakyat secara memaksa kepada pemerintahan dinasti Manchu melakukan pembaharuan dengan ide-ide nasionalisme sun yat-sen.

b. Prinsip demokrasi: sepanjang perjalanan sejarah bahwa cina harus dibuat menjadi Negara republik. Jadi ada tiga alasan; Pertama, dilihat dari perspektif teoritis menunjukkan bahwa tidak ada alasan untuk mempertahankan pemerintahan monarki. Kedua, pemerintahan dinasti Manchu cina dipaksa kedalam posisi yang kalah dan menderita penindasan selama lebih dari dua ratus enam puluh tahun, sementara kekuasaan monarki konstitusional tidak dapat membangkitkan rakyatnya untuk melawan dari beberapa Negara imperialis. Ketiga, mungkin maju dengan mata pada masa depan bangsa untuk mewujudkan mimpi perubahan rakyat.

c. Prinsip Mata Pencaharian: Penemuan mesin modern, fenomena distribusi kekayaan tidak merata di Barat telah menjadi semakin ditandai. Diintensifkan oleh crosscurrents, revolusi ekonomi pembakaran sampai lebih ganas dari revolusi politik. Situasi ini hampir tidak diperhatikan pemerintahan rezim dinasti selama tiga puluh tahun .

2.3 Pertarungan Politik Kekuasaan Kuomintang dan Kungchantang di bawah pengaruh kolonial

Di dalam suatu negeri berdiri terus untuk masa yang panjang satu atau beberapa daerah kecil di bawah kekuasaan politik Merah yang sama sekali terkepung oleh rejim putih, ini adalah suatu gejala yang belum pernah terjadi di negeri lain manapun di dunia ini. Dan pasti diperlukan juga syarat-syarat tertentu bagi ada dan berkembangnya kekuasaan politik Merah itu.

Pertama, gejala aneh itu tidak dapat terjadi di negeri imeprialis manapun atau di tanah jajahan manapun yang langsung di bawah kekuasaan imperilais, tetapi hanya dapat terjadi di Tiongkok, negeri setengah jajahan yang terbelakang ekonominya dan yang tidak langsung berada di bawah kekuasaan imperialis. Karena gejala aneh itu hanya bisa terjadi bersama-sama dengan gejala aneh lainnya, yaitu peperangan di kalangan rejim putih. Adalah salah satu ciri Tiongkok setengah jajahan, bahwa sejak tahun pertama Republik (1912), berbagai klik rajaperang lama dan baru yang disokong oleh imperialisme serta klas komprador dan klas gembong lalim setempat dan ningrat jahat dalam negeri terus menerus melakukan perang antara satu dengan lainnya. Gejala demikian itu tidak terdapat di negeri imperialis manapun di seluruh dunia ini dan bahkan juga tidak terdapat di tanah jajahan manapun yang langsung di bawah kekuasaan imperialis, tetapi hanya terdapat di negeri seperti di Tiongkok yang tidak langsung di bawah kekuasaan imperialis. Gejala itu timbul karena dua sebab, yaitu ekonomi pertanian local (bukan ekonomi kapitalis yang di satukan) dan politik pemecah belahan dan penghisapan imperialis yang membagi-bagi Tiongkok menjadi lingkungan pengaruh mereka masing-masing. Perpecahan dan peperangan dalam waktu yang lama di kalangan rejim putih itu telah memberikan syarat bagi lahirnya dan dipertahankannya satu atau beberapa daerah Merah kecil di bawah pimpinan Partai Komunis di tengah-tengah kepungan rejim putih. Daerah kekuasaan bebas di daerah perbatasan Hunan Ciangsi adalah salah satu dari banyak daerah kecil demikian itu. Di waktu-waktu yang sulit dan genting sementara kawan sering ragu-ragu akan terus berdirinya kekuasaan politik Merah itu dan menjadi pesimis. Sebabnya ialah karena mereka belum menemukan penjelasan yang tepat tentang lahir dan berdirinya kekuasaan politik Merah. Asal saja kita mengetahui, bahwa perpecahan dan peperangan di kalangan rejim putih di Tiongkok itu akan berlangsung terus menerus, maka kita tidak ragu-ragu lagi akan lahir, terus berdiri dan semakin berkembangnya kekuasaan politik Merah.

Kedua, daerah-daerah di mana kekuasaan politik Merah Tingkok pertama-tama lahir dan dapat berdiri terus dalam waktu yang lama, bukanlah daerah-daerah yang belum pernah dipengaruhi oleh revolusi demokratis, seperti provinsi-provinsi Sechuan, Kuicou, Yünan dan provinsi-provinsi di sebelah utara, melainkan daerah-daerah di mana massa buruh, tani dan prajurit bangkit dalam jumlah besar selama revolusi burjuis-demokratis pada tahun 1926 dan 1927, seperti provinsi-provinsi Huna, Kuantung, Hupei dan Ciangsi. Di banyak daerah di provinsi-provinsi tersebut pernah dibentuk secara luasserikatburuh-serikatburuh dan serikattani-serikattani, dan dilakukan banyak perjuangan ekonomi dan politik oleh klas buruh dan klas tani melawan klas tuantanah dan burjuasi. Itulah sebabnya maka di kota Kuancou pernah lahir kekuasaan politik massa raakyat kota selama tiga hari, dan di Haifeng dan Lufeng, di Hunan timur dan selatan, di daerah perbatasan Huna-Ciangsi dan di Huangan provinsi Hupei, pernah lahir kekuasaan bebas kaum tani. Dan Tentara Merah yang sekarang adalah pecahan dari Tentara Revolusioner Nasional yang telah mendapat latihan politik yang demokratis dan dipengaruhi oelh massa buruh dan tani. Dalam tentara yang tidak pernah mendapat latihan politik yang demokratis barang sedikitpun atau yang samasekali tidak pernah dipengaruhi oleh buruh dan tani, seperti tentara Yé Si-han dan Cang Cuo-lindewasa ini samasekali tidak mungkin terjadi perpecahan yang menghasilkan elemen-elemen yang bisa dijadikan Tentara Merah.

Ketiga, dapat atau tidaknya kekuasaan politik massa rakyat di daerah-daerah kecil berdiri terus dalam waktu yang lama bergantung pada apakah situasi revolusioner di seluruh negeri itu terus berkembang atau tidak. Apabila situasi revolusioner di seluruh negeri terus berkembang, maka bukan saja terus beridirnya dalam waktu yang lama daerah-daerah Merah yang kecil itu tidak usah diragukan lagi, bahkan daerah-daerah Merah yang kecil itu pasti akan menajdi salah satu dari banyak kekuatan untuk merebut kekuasaan politik seluruh negeri. Apabila situasi revolusioner di seluruh negeri tidak terus berkembang tetapi berhenti dalam waktu yang agak panjang, maka tidaklah mungkin daerah-daerah Merah kecil itu berdiri terus dalam waktu yang lama. Kini situasi revolusioner di Tiongkok terus berkembang seiring dengan perpecahan dan peperangan yang terus menerus di kalangan klas gembong lalim setempat dan ningrat jahat dalam negeri maupun di kalangan burjuasi internasional. Oleh karena itu, bukan saja terus berdirinya dalam waktu yang lama daerah-daerah Merah kecil itu tidak usah diragukan lagi, tetapi daerah-daerah Merah itu malahan akan terus berkembang dan kian hari kian mendekati tercapainya perebutan kekuasaan politik seluruh negeri.

Keempat, adanya Tentara Merah resmi yang sangat kuat merupakan syarat yang diperlukan bagi terus berdirinya kekuasaan politik Merah. Jika kita hanya mempunyai Barisan Garda Merah yang bersifat lokal dan tidak mempunyai Tentara Merah resmi, maka kita tidak dapat melawan tentara putih resmi tetapi hanya dapat melawan Laskar Keluarga Kampung. Dari itu, walaupun massa buruh dan tani sangat baik, jika kita tidak mempunyai kekuatan bersenjata resmi yang cukup kuat, pasti tidak mungkin menciptakan kekuasaa bebas, apalagi kekuasaan bebas yang dapat bertahan lama dan berkembang dari hari-kehari. Oleh karena itu, ide “mendirikan kekuasaan bebas buruh dan tani dengan kekuatan bersenjata” adalah ide penting yang harus dimiliki sepenuhnya oleh Partai Komunis serta massa buruh dan tani di daearh-daerah kekuasaan bebas.

Kelima, di samping syarat-syarat yang tersebut di atas, syarat penting lainnya yang diperlukan bagi terus berdirinya dalam waktu yang lama dan berkembangnya kekuasaan politik Merah yalah organisasi Partai Komunis kuat dan politiknya tepat.

Bab III

Kesimpulan

Sekian penjelasan diatas, saya tarik kesimpulan bahwa nasionalisme sun yat sen yang berbentuk Kuomintang melahirkan pembaharuan sistem pemerintahan sebelumnya telah di kuasai kekaisaran berubah menjadi Negara republik. Namun selama perjalanan nasionalisme sun yat-sen menjabat sebagai presiden republic cina masih terjadi pemberontakan dari kaum buruh-tani yang tidak merasakan kemerdekaan yang dicapai dari kekuasaan kolonial sepanjang sejarah tiongkok. Pemberontakan yang terjadi dipelopori oleh Mao Zedong dengan landasan pemikiran kiri pada tahun 1920an. Peristiwa tersebut merupakan tantangan besar bagi kaum nasionalis yang dipimpin oleh sun yat-sen sampai mengalami kegagalan sebelum menyatuhkan negeri tiongkok bersatu kekuatan digaris massa mengembangkan ekonomi-politiknya, serta untuk mencapai kemakmuran, kebebasan bersama semesta rakyat tiongkok.

Daftar Pustaka

Sukiman W D 1993, Sejarah Cina Kontemporer Jilid 2: Dari Revolusi Nasional Melalui Revolusi Kebudayaan Sampai Modernisasi Sosialis, Jakarta; PT Pradnya Paramita

Creel. H.G 1990, Alam Pikiran Cina: Sejak Confucius Sampai Mao Zedong, Yogyakarta; PT. Tiara Wacana Yogya

Bonavia David 1987, Cina dan Masyarakatnya, Jakarta; Erlangga

Skocpol Theda 1991, Negara dan Revolusi Sosial: Suatu Analisis Komparatif Tentang Prancis, Rusia, Cina, Jakarta; Erlangga

Sukma Rizal 1995, Pemikiran Strategis Cina: Dari Mao Zedong Ke Deng Xiapoing, Jakarta; Centre for Strategis And International Studies (CSIS)

Bakri Umar Suryadi 1996, Cina, Quo Vadis? Pasca Deng Xiaoping, Jakarta; Pustaka Sinar Harapan

SILAKAN BERI KOMENTAR

Temui Kami di Facebook

Statistik

  • 227Dibaca Hari Ini:
  • 1839Dibaca Kemarin:
  • 14164Dibaca Per Bulan:
  • 347043Total Pengunjung:
  • 206Pengunjung Hari ini:
  • 13480Kunjungan Per Bulan:
  • 10Pengunjung Online: