HOC: Pembukaan Tanah Nilotik Dan Peradaban Mesir

Pada abad sebelumnya disebutkan bahwa orang-orang Sumeria dipercaya sebagai pembentuk sebuah masyarakat dari spesies baru- yakin sebuah peradaban regional-yang bersendikan sejumlah inovasi buatan mereka, yaitu drainase dan irigasi di rawa-belantara tanah genting di lembah bawah sungai Trigis dan Eufrat. Dengan kriteria yang sama, orang-orang Mesir semasa Fir’ aun pasti telah menciptakan peradaban regional tertua kedua dengan membuka rawa-belantara di lembah bawah dan delta sungai Nil.

Orang-orang mesir, pada gilirannya, memperoleh kelebihan produksi melampaui apa yang dibutuhkan untuk kelangsungan hidup semata-mata, dan di Mesir, sebagaimana Sumeria, prestasi ekonomi ini disertai dengan tumbuhnya perbedaan kelas, melek huruf, arsitektur monumental, permukiman urban, perang dan perubahan krusial dalam dibang agama. Namun demikian, tadak seperti masyarakat Sumeria, orang-orang Mesir menggapai prestasi baru ini dengan suatu bantuan.Meskipun mereka juga membangun peradaban dengan dasar-dasar yang telah dibuat oleh nenek moyang Neolitik dan Chalcolitik, mereka terilhami oleh sebuah masyarakat yang telah ada dari spesies yang sama.Sekarang ini ada konsensus di antara para ahli Mesir bahwa, pada saat kelahiran peradaban Mesir Fir’ aun, pengaruh Sumeria bisa dilihat dan dibedakan dari peradaban asli Mesir- misalnya dalam praktek penyegelan dengan silinder-silinder pahatan, gaya bangunan ceruk dengan batu- bata, bangunan kapal Sumeria, sejumlah motif seni, dan formasi tulisan dimana ideogram- ideogramnya, tanpa dihilangkan, ditambahi dengan fonem-fonem.

Bentuk tulisan khas. Tidaklah mungkin bahwa sebuah stuktur yang identik dihasilkan untuk keduakalinya secara independen di Mesir,di mana, dalam bidang-bidang lain, dijumpai bukti adanya pengaruh Sumeria kontemporer dalam pembuatan tulisan Mesir.Lebih dari itu, bukti arkeologis menunjukan bahwa tulisan Mesir merencanakan secara mendadak, yang berberkebalikan dengan evolusi gradual tulisan Mesir dari piktograf-piktograf sebelumnya. Struktur Sumeria dalam tulisan Mesir, dengan kemunculannya yang mendadak, merupakan bukti tunggal paling kuat yang mengindikasikan bahwa pengaruh Sumeria adalah salah satu faktor yang melahirkan peradaban Mesir Fir’ aun.

Kita tidak memiliki indikasi rute pengaruh Sumeria ke lembah bawah sungai nil. Bukti-buktinya diketemukan di Mesir Atas; tetapi sebagaian besar bukti arkeologis yang kita miliki selebihnya tentang sejarah peradaban Mesir Fir’ aun juga berasal Mesir Tinggi, bukan dari Delta Nil,karena iklim Mesir Tinggi cocok untuk kelestarikan artifak-artifak manusia, sedangkan iklim dan fisiografi delta Nil tidak cocok untuknya.Iklim di garis lintang delta tersebut tidak seiring iklim di Mesir Tinggi, sekalipun di delta jarang turun hujan, kecuali di pojok barat laut paling ujung, lebih jauh lagi,relik-relik material Zaman Fir’ aun terkubur di delta itu di bawah timbunan tanah genting yang sangat dalam,dan timbunan ini sekarang tertutup oleh berdirinya kota-kota modern bi sebagaian besar situs kota Zaman Fir’ aun. Dengan alasan-alasan ini, delta sungai Nil tidak memberikan bukti catatan arkeologis sejarah Zaman Fir’ aun-berkebalikan dengan bukti tentang sejarah Mesir Pra-beradab, di mana situs-situs Neolitik Mesir Tinggi di daratan tinggi yang menjuntai di atas tanah genting Nil memiliki imbangan di Merimde, yang menjuntai ke bagaian atas delta dari daratan tinggi ke arah barat delta tersebut.

Kekosongan catatan arkeologis tentang delta ini dimulai ketika catatan tersebut menunjukan bahwa di Mesir Tinggi bekas penghuni daratan tinggi di sisi lembah bergerak turun ke tanah genting dan mulai membukanya; dan ketiadakan informasi arkeologis serupa, baik yang positif atau negatif, tentang sejarah kontemporer delta mereduksi dugaan untuk merekontruksi antaseden-anteseden kelahiran peradaban regional Mesir Fir’aun. Catatan arkeologis yang masih bertahan tentang Mesir Tinggi memberikan kesan bahwa, jika dibandingkan dengan tumbuhnya peradaban Sumeria secara bertahap, munculnya peradaban Mesir merupakan peristiwa yang tiba-tiba. Apakah kesan ini merupakan sebuah ilusi yang akan dibuang begitu saja jika kita dapat menemukan bukti arkeologis atas sejarah delta Nil sebelum mekarnya peradaban Mesir Fir’ aun? Atau apakah penggalian lebih lanjut akan menegaskan kesan kita saat ini setelah terkuak bahwa delta Nil, berkebalikan dengan Mesir Tinggi, sampai sebegitu jauh masih murni rawa-belantara ketika delta tersebut disatukan secara politik di bawah Mesir Tinggi?

Jika kemungkinan yang kedua ini benar, maka delta Nil barangkali merupakan sebuah rintangan yang tidak bisa ditembus oleh komunikasi daratan antara Sumeria dan Mesir pada saat, di Mesir, pengaruh Sumeria sedang mengalir.Waktunya cukup singkat; pengaruh Sumeria berhenti nyaris segera setelah unifikasi politik Mesir; dan, jika pembuataan delta Nil diselesaikan hanya selama Zaman kerajaan Kuno berikutnya, maka pengaruh Sumeria tidak mungkin sampai di Mesir Tinggi melalui jalan darat via mungkin pantai ekspor kemenyan di yaman dan Somaliland atau pantai ekspor tembaga di daerah tak teridentifikasi yang oleh orang-orang Sumeria disebut Magan. Telah diketahui bahwa, sebelum Zaman Rel Kereta Api, sebuah perjalanan laut yang panjang lebih cepat dan mudah daripada perjalanan darat yang lebih pendek.

Namun demikian, kekosongan catatan arkeologis tentang delta Nil menyisakan ruang untuk sebuah perkiraan lain yang sama-sama sahih dan tidak bisa diverifikasi. Kita juga bisa menduga bahwa, ketika peradaban Mesir Fir’ aun muncul, delta Nil maupun Mesir Tinggi tidak memainkan peran kepemimpinan. Kita bisa menggambarkan delta Nil sebagai telah mendapat pengaruh dari Sumeria, kontemporer-sebnuah fase di mana tanah genting Nil sebagai telah dikuasai oleh manusia, dan di mana mulai bermunculan kota-lota baru. Hipotesis itu menyebutkan bahwa mungkin pengaruh Sumeria mencapai delta Nil terlebih dahulu sebelum mencapai Mesir Tinggi, dan pengaruh Sumeria ini mengalir, bukan melalui laut sekitar Arab, tetapi melewati jalan darat via Syria.

Bagaimanapun juga, pengaruh Sumeria pada peradaban Mesir Fir’ aun yang baru tumbuh tidak hanya singkat, tetapi juga tidak lebih dari sekedar sebuah pengaruh; pengaruh Sumeria ini tidak menyebar ke dalam peradaban Mesir secara mentah-mentah tanpa modifikasi. Misalnya, tulisan Mesir, meskipun berstuktur Sumeria, gayanya berbeda, dan hiroglaf-hiroglapnya merupakan ciptaan asli,bukan tiruan dari hiroglaf Sumeria. Dalam seni rupa Mesir, motif-motif Sumeria dibuang, sementara dalam arsitektur orang-orang Mesir, berbeda dengan masyarakat Sumeria, tidak selalu menggunakan batu- bata lumpur sebagai bahan untuk membangun monumen-monumen mereka. Mereka mengubah arsitektur monumentalnya dari batu- bata menjadi batu; monumen-monumen klasik mereka terbuat dari batu dalam blok-blok yang masif. Bangunan batu dalam gaya utama dan skala kolosalnya merupakan prestasi asli Mesir, bukan pengaruh dari Sumeria atau pengaruh luar lainnya. Ukuran-ukuran Menara kuil Sumeria yang terbuat dari batu-bata tidak sama dengan piramida-piramida Mesir. Keahlian-keahlian keduanya dalam merancang bangunan dan kesempurnaan pembuatnya tidak bisa disamakan.

Kegagalan orang Sumeria untuk menandingibangunan batu Mesir tidak menyebabkan mereka rendah diri di hadapan orang- orang Mesir dalam hal imajinasi atau keterampilan; ini hanyalah sebuah tanda bahwa transformasi rawa Tigris- Eufrat menjadi rumah peradaban merupakan prestasi yang lebih besar dan awal dibandingkan dengan transformasi rawa Neolitik serupa yang terkemudian. Mesir Tinggi relatif mudah ditundukan. Di sini ada satu sungai yang harus ditundukan dan lembahnya kecil. Sabuk rawa-belantara di bagaian lembah Nil ini dekat dengan tebing-tebing di sisi ini yang telah menjadi situs0-situs permukiman orang-orang Mesir Fir’aun yang mempelopori kebudayaan Neolitik dan Chalcolitik. Di Mesir, haya delti Nil yang secara fisiografis setara dengan tanah genting di lembah Tigris- Eufrat, delta Nil ini tampaknya telah dibuka secara bertahap.

Lebih dari itu, Mesir secara keseluruhan, termasuk delta Nil, mempunyai sebagaian material,di sekitarnya, yang sangat diperlukan untuk membangun dan mempertahankan sebuah peradaban. Bebatuan kualitas pertama sebagai bahan baku arsitektur dan seni pahat berlimpah-ruah jumlahnya; bebatuan ini bisa biangkut dengan mudah dari tempat galiannya ke tepi sungai; dan bahkan sebuah tugu bisa dengan mudah diangkut melalui air. Penambangan-penambangan di dekat pantai timur terusan Suez- sebenarnya ini merupakan penambangan tembaga- juga mudah dijangkau dari Mesir Tinggi melalui laut maupun jalan darat yang pendek lewat Wadi Hammamat; dan, jika semenanjung Sinai tidak dapat menyediakan seluruh tembaga yang diperlukan Mesir, maka pulau Siprus dapat melakukannya,dan baik Siprus maupun Syria bisa diakses lewat laut oleh para penguasa Mesir Tinggi setelah menganeksasi delta Nil beserta pelabuhan-pelabuhan Mediterraneannya. Mesir dapat, dan memang telah melakukannya, mengimpor kayu dari Gunung Lebanon via pelabuhan Phoenician di Byblos; dan hubungan dagang antara Mesir dan Byblos sezaman dengan berdirinya Kerajaan Mesir bersatu.Karenanya rute-rute laut dapat mengangkut kayu dan tembaga ke pintu-pintu masuk Mesir, dan sungai Nil di bawah Air Terjun Pertama menyediakan menyediakan orang-orang Mesir dengan sebuah jalan air internal dari ujung ke ujung di kerajaan ini. Selain itu, jalan ini, walaupun hanyaq sebuah sungai, dapat digunakan untuk lalu-lintas ke hulu dan ke hilir; karena sungai Nil di sini mengalir dari selatan ke utara, sedangkan angin yang lazim di Mesir adalah angin utara, sebagaimana telah disinggung sebelumnya.

Jika dibandingkan dengan Mesir Tinggi, Sumeria sangat tidak menguntungkan dalam hal sarana komunikasi dan akses terhadap bahan-bahan material; dan cukup mengejutkan bahwa peradaban paling awal yang mengandalkan perekonomiannya pada pengolahan tanah rawa telah bangkit, tidak di Mesir Tinggi, tetapi di lembah bawah sungai Tigris dan Eufrat. Orang-orang Sumeria bukan hanya mendahului tetapi juga melampaui orang-orang Mesir dalam hal keberanian dalam berpetualang. Orang-orang Sumeria memancangkan masa depannya dengan mengeksploitasi sebuah bahan matertial tunggal, yakni tanah genting, dan, dengan merambah serta membuka tanah genting ini, berarti mereka meninggalkan sumber-sumber alam milik nenek moyangnya, yaitu bantuan, tambaga dan kayu. Tanah genting baru dab subur yang telah mereka taklukan, tinggali dan olah ini merupakan satu-satunya aset lokal Sumeria. Orang-orang Sumeria menunjukan kepandaiannya dengan melakukan tour de force teknologi. Mereka menemukan cara membuat alat-alat pertanian dari tanah liat yang dibakar hingga hampir sekeras dan setajam logam. Akan tetapi, penemuan ini menyebabkan berkurangnya persediaan tembaga; dan mereka harus mengambil tembaga dari tempat yang sangat jauh di lembah atas sungai Tigris dan Eufrat, dan mungkin juga dari penambang-penambangan di batas air laut Hitam antara sungai Eufrat dan sungai-sungai di Asia Kecil sebelah Timur yang mengalir ke laut Hitam di sepanjang pantaiselatannya. Orang-orang Sumeria harus mengambil kayu dari gunung Amanus. Sementara itu, impor disebabkan oleh kebutuhan arsitek-arsitek Sumeria; mereka ini harus menghasilkan bangunan yang terbaik sebiasanya dengan batu-bata yang terbuiat dari lumpur lokal. Mereka mengimpor batu sebagai bahan pembuat tugu-tugu monumental, tetapi di Sumeria batu semacam ini nyaris sama mahalnya dengan emas dan perak impor.

Orang-orang Sumeria bukan hanya mengimpor tembaga dan kayu; mereka membayar barang-barang produksinya sendiri- misalnya biji-bijian hasil pertanian (komoditas yang banyak sekali untuk diekspor) dan tekstil yang di Sumeria terbuat dari wol sebagai bahan pakaian paling awal. Perdagangan Sumeria lebih aktif dan luas daripada perdagangan Mesir.Perdangan ini didukung oleh permukiman-permukiman kolonial Sumeria. As-Assyur, di atas Tigris, dan al-Tall Brak, di mesopotamia (Jazirah), sebagai permukiman-permukiman paling awal, tampaknya milik peradaban Sumeria, bukan Semitik. Ekspansi perdagangan ini memulai jalan darat ke atas bertemu dengan perdagangan maritim ke bawah menuju Teluk Persia dan mungkin melampaui delta Indus dan bahkan paqntai laut Merah di Mesir Tinggi; tetapi prestasi transportasi Sumeria terbesar adalah ekspansi perdagangan utara-baratnya lewat darat.

Ketika kayu yang ditebang dari Gunung Amanus diseret ke tepi barat sungai Eufrat,dan tembaga dari Arghana Maden diangkut (jaraknya lebih pendek) ke daerah-daerah atas sungai Tigris, kedua komoditas yang banyak dan berat ini dapat diapungkan di sungai menuju hilir dengan rakit-rakit, sedangkan para penumpang dapat menempuh perjalanan dengan peruhu-peruhu kecil dan ringanyang terbuat dari anyaman dan dilapisi kulit. Perjalanan melalui air ke hilir mudah dan cepat, karena aliran sungai Tigris dan Eufrat lebih deras daripada aliran sungai Nil di bagiannya yang terendah . Tetapi, dengan alasan yang sama, orang-orang Sumeria tidak dapat menggunakan sungai-sungai Kembar untuk perjkalanan atau transportasi ke hullu. Di lenbah Tigris-Eufrat tidak ada angin tenggara lazimnya yang berpapasan dengan angin utara sebagai salah satu kekayaan alam yang berharga bagi Mesir. Orang-orang Sumeria penburu tembaga dan kayu harus menempuh perjalanan darat yang sulit ke arah barat laut; dan para pedagang Sumeria yang mengikuti pemburu tersebut harus mengirim, melalui jalan darat yang sama, barang-barang ekspornya sebagai pembayaran atas impor-impornya.

Satu-satunya hewan pembawa muatan yang dimiliki orang-orang Sumeria ketika mereka sedang membuka tanah gentingnya adalah keledai. Hewan ini adalah onager (keledai liar) yang telah dijinakan, dan membuat hewan ini menjadi cekatan dan jinak sama bermaknanya dengan tour de force manufaktur alat-alat pertanian dari tanah liat. Orang-orang Sumeria tidak memiliki kuda atau onta; kedua binatang ini dijinakan dari padang-padang rumput oleh orang-orang lain pada waktu terkemudian.

Oleh karenanya, di bidang ekonomi, orang-orang Sumeria mengungguli “ murid-murid “ Merir mereka dalam seni membangun sebuah peradaban. Di lain pihak, di bidang politik, orang-orang Mesir melangkah lebih maju daripada orang-orang Sumeria. Ketika tabir penutup tragedi pertama dalam sejarah Sumeria tersibak, kita menemukan masyarakat Sumeria terpecah-pecah secara politik menjadi sejumlah negara kota lokal yang berdaulat, dan keterpecahan politik dunia Sumeria ini tidak sebanding dengan persatuannya di bidang kultural, ekonomi dan fisiografis. Peradaban Sumeria menggantungkan kelangsungan hidupnya pada kontrol dan administrasi efektif di perairan lembah Tigris-Eufratbawah; tetapi kontrol ini tidak sepenuhnya efektip kecuali dan sampai kontrol tersebut berada di bawah satu komando; dan, dalam sejarah Sumeria, puncak unifikasi politik yang sangat diperlukan diperoleh secara amat terlambat dan dengan biaya kehancuran dan penderitaan yang terlampau besar, bahkan kemudian unifikasi tersebut tadak dihasilkan oleh orang-orang Sumeria sendiri; akhirnya, unifikasi ini dipaksakan oleh tetangga-tetangga Akkadian kepada mereka.

Di lain pihak, Mesir Tinggi dan delta Nil disatukan secara politik pada saat peradaban Mesir Fir’ aun mulai menyingsing. Kekuatan Mesir Tinggi yang berhasil menaklukan dan mengganeksasi delta Nil secara naif terkuak dalam adegan-adegan yang dipahat di relief di Palette di Narmer, tetapi dengan perang ini Mesir berhasil mempersatukan diri secara politik dan kemudian terciptalah perdamaian serta ketertiban internal. Persatuan, perdamaian dan ketertiban ini terpelihara selama lebih dari 3000 tahun dalam sejarah Mesir Fir’ aun, kecuali sesekali “ periode penyela “ yang relatif singkat di mana persatuan dan perdamaian domestik terusik.

Unifikasi politik Mesir Tinggi dan bawah terbukti merupakan sebuah peristiwa dramatis yang tiba-tiba, tetapi kita tidak mengetahui sebab-sebab mendahuluinya. Pada abad-abad selanjutnya yang mana kita memiliki catatan tentangnya, pembagian kerajaan Mesir Fir’ aun bersatu menjadi Mesir tinggi dan bawah mmerupakan realitas-realitas sosial. Warga dari masing-masing bagaian itu memiliki patriotisme lokal sendiri. Tetapi ini tidak membuktikan bahwa, sebelum unifikasi politik Mesir, kedua bagian tersebut telah ada sebagai negara-negara lokal Yang berdaulat , yang berkaitan dengan negara-negara kota lokal Mesir yang juga berdaulat.Kata nomoi dalam bahasa Mesir, yang bermakna unit-unit teritorial lokal, dipinjam dari bahasa yunani , sedangkan makna harfiahnya adalah “ bagaian-bagaian “ (departments). Dimungkinkan nomes Mesir, yang sangat jauh dari potensi-potensi rintangan bagi unifikasi, adalah, sebagaimana bagian-bagaian di prancis saat ini, kreasi-kreasi artifisial yang dirancang untuk menggantikan dan melenyapkan unit-unit teritorial historis sebelumnya yang mungkin akan menjadi sebuah ancaman bagi terpeliharanya persatuan politik dalam skala yang lebih besar jika ingatan tentangnya, dan ditambah ikatan emosional, dibiarkan tetap hidup.

Di Mesir, seperti di Sumeria, sejarah ekonomi dan politik masyarakat tercerminkan dalam sejarah keagamaannya, dan jika sejarah Mesir dan Sumeria di bidang keagamaan diperbandingan , maka masyarakat Mesir Fir’ aun diklasifikasikan sebagai anggota kedua dari spesies yang sama dengan oarang Sumeria, sementara itu pada saat yang sama perbandingan ini mengilustrasikan individualitas peradaban Mesir.

Di Mesir, sebagaimana Sumeria, dewa-dewa mengganbarkan kekuatan-kekuatan alam yang menguasai manusian; tetapi di Mesir pun pemujaan kepada alam kemudian digantikan dengan pemujaaan pada kekuasaan kolektif manusia .Sampai sebegituh jauh, agama baru ini mempunyai ekspresi yang sama dengan ekspresi di Sumeria. Di Sumeria dan Mesir Fir’ aun, sebagaian dewa alam menggambarkan kekuasaan manusia sekaligus alam; dan penambahan fungsi dewa ini lebih mudah dipahami mengingat fakta bahwa, meskipun dewa-dewa alam , seperti alam itu sendiri,sama dagi seluruh masyarakat , dewa-dewa tersebut juga di asosiasikan dengan tempat-tempat tertentu di mana kuil lokal dianggap sebagai prestise ekumenis. Bahkan dewa matahari Mesir, Re- seorang dewa kosmis par exsellence- memiliki sebuah habitasi lokal di Heliopolis di sisi timur sungai Nil, dekat hulu delta Nil.

Horus, anak burung elang dewa tumbuhan, Osiris, diambil oleh penguasa-penguasa di kota-kota kembar, Nekhen-nekhend (Hieraconpolis), din pedalaman selatan Mesir Tinggi. Penguasa-penguasa ini merupakan para pemersatu politik di Mesir pada permulaan sejarah peradaban Fir’ aun circa (kira-kira) 3100 SM; mereka menaklukan delta Nil di bawah bantuan Horus, dan peristiwa politik yang menjadi isyarat ini memberi makna historis kedua pada mitos pertempuran Horus dengan, dan kemenangannya atas, saudara jahatnya, set. Pada awalnya, mitos ini menyimbolkan sebuah peristiwa ulangan di alam semesta: kematian dan kelahiran kembali tumbuh setiap tahunnya-terutama tanaman biji-bijian yang dibudidayakan oleh manusia Neolitik. Panen tahunan tanaman oini telah menjadi syarat bagi kelangsungan hidup manusia yang mengantarkan manusia melampui fase pengumpul fase produksi makanan. Osiris, roh tumbuhan, dibunuh oleh saudara jahatnya, set; pembunuhan saudara sendiri ini dilakukan dengan memotong-motong jasatnya dan kemudian menghambur-hamburkannya; tetapi potongan-potongan jasad ini ditemukan dan disatukan kembali oleh saudara istri setia Osiris, Isis; Osiris hidup kembali dan selanjutnya melimpahkan kekuasaan kerajaannya kepada anak laki-lakinya yang patuh, Horus, yang telah membalas dendam kematian Osiris dengan membunuh Set. Setelah aneksasi delta Nil ke tengah Mesir Tinggi, mitos alam ini selanjutnya diperingati sebagai sebuah peristiwa politik yang bersejarah. Pusat pemujaan Set terletak di pojok timur laut delta Nil, di ujung Mesir yang berlawanan dengan Nekhen-nekhen. Jadi, kemenangan Horus atas Set disamakan dengan kemenangan Mesir Tinggi atas Mesir Bawah dan, konsekuensinya, persatuan dua kerajaan ini.

Unifikasi politik Mesir ini meretas peradaban Mesir Fir’ aun dan terus terpelihara selama 3000 tahun. Unifikasi ini merupakan manifestasi dari kekuasaan kolektif manusia yang tidak pernah terjadi sebelumnya,dan pemujaan atasnya merupakan sebuah bentuk yang baru.Pemersatu dan kemudian para penerus Mahkota Gandanya disembah sebagai inkarnasi dari kebesaran kekuasaan yang terletak di kedua mahkota itu yang kini disatukan di kepala Fir’ aun. Fir’ aun (sebuah kata dalam bahasa yahudi yang diadopsi ke dalam bahasa Mesir yang berarti istana di ibukota Kerajaan Mesir Bersatu,Memphis)adalah seorang dewa hidup- kini disejajarkan dengan dewa-de wa yang lebih tua yany hanya hidup dalam kepercayaan pada patung-patung berhala ritual orang-orang Mesir. Bersatunya politik Mesir Tinggi dengan delta Nil oleh Narmer pada akhirnya memiliki imbangan di lembah Tigris-Eufrat dalam wujud bersatunya Sumeria dan Akkadian oleh Lugalzaggisi. Tetapi di sini prestasi unifikasi yang terakhir tadi tidak kunjung tercapai sampai peradaban Sumeria berusia lebih dari tujuh abad, dan unifikasi resebut diterima, tanpa antusiasme, sebagai suatu keburukan yang sedikit lebih baik dari keberlanjutan sebuah anarki internasional yang menyedihkan. Baik Lugalzaggisi maupun Sargon, yang merebut kerajaan yang dibangun oleh Lugalzaggisi, dianggap dewa, dan meskipun sebagaian penerusnya- misalnya Naramsin (sekitar 2291-2255) dan Shulgi (sekitar 2095-2048) berusaha mengklaim kedewaannya, mereka tidak menjadi teladan. Di Sumeria dan Akkadia, dewa-dewa manusia hidup adalah perkecualian, bukan suatu kelaziman.

Dikutip dari : Arnold Toynbee. 2004. Sejarah Umat Manusia: Uraian Analisis, Kronologis, Naratif, dan Komparatif (MANKIND AND MOTHER EARTH: A Narrative History of the world).Yogyakarta: Pustaka Pelajar

6 Komentar

  • Adi sujarwadi

    Mar 29, 2011

    pada bagian mana korelasi terjadi antara siklus kehidupan di sekitar sungai Nil dengan kompleks piramyd....?

  • arita

    Mar 29, 2011

    pyramid itu pemakaman bung,...pencapaian tertinggi orang mesir, terutama para pembesar, yang bahkan dianggap perwakilan dewa di bumi...., siklus sungai nil adalah hal lain....

  • Sugeng

    Mar 29, 2011

    harusnya ada keterkaitan, pyramid sebagai simbol pencapaian peradaban dari kehidupan manusia yang notabene dalam kehidupan circa itu sangat bertumpu pada siklus alam, dalam hal ini sungai Nil...

  • sumiarsa gunawan

    Mar 29, 2011

    intinya manusia tidak dapat dipisahkan dari air,...gitu looooh...

  • a.simarmata

    Mar 29, 2011

    kita faham itu, maksudnya bagaimana dinamika yang terbangun dari siklus air itu (maksudnya...antara kemarau dan hujan di sungai Nil) melahirkan manusia yang mampu beradaptasi dengan tantangan dan kemudian cerdas,...termasuk mampu merancang dan membangun struktur bangunan sehebat piramida itu.....,

  • sahid aminudin

    Mar 29, 2011

    saya pikir dalam kitab suci hal itu sudah dibahas dengan gamblang....bagaimana nabi Musa berhadapan dengan kaum yang sangat canggih namun memiliki kesombongan yang luar biasa....

SILAKAN BERI KOMENTAR

Temui Kami di Facebook

Statistik

  • 1412Dibaca Hari Ini:
  • 1839Dibaca Kemarin:
  • 15349Dibaca Per Bulan:
  • 348134Total Pengunjung:
  • 1297Pengunjung Hari ini:
  • 14571Kunjungan Per Bulan:
  • 4Pengunjung Online: