HOC: Trigis-Eufrat dan Peradaban Sumeria

Pada bab sebelunnya kita telah mengetahui bahwa penciptaan agrikultur menimbulkan masalah tentang cara mencari teknik untuk mengolah sawah secara menetap, ketika para petani telah membuka perbatasan-perbatasan oase-oase kecik Asia Barat Daya yang sangat terpencar-pencar, yang diairi dengan iragasi alami, dimana transisi dari fase pengumpulan makanan ke fase produksi makanan tampaknya telah berlangsung.

Di wilayah-wilayah Ekumene Dunia Kuno yany sangat luas di mana petani hanya mengandalkan air hujan untuk mengairi tanamannya, ada sebuah kemajuan yang telah dicapai secara gradual. Agrikultur berpindah-pindah, mengingat tanah yang diolah masih berlimpah-ruah, mula-mula digantikan dengan agrikultur bergilir, di mana sepetak tanah yang disuburkan dengan teknik “tebang dan bakar” kemudian diolah lagi setelah melewati jarak waktu tertentu yang akan menumbuhkan tanaman-tanaman liar baru yang menyuburkan tanah olahan sebelumnya.

Di zona tadah hujan ini, dibutuhkan banyak generasi, atau bahkan berabad-abad lamanya, untuk menemukan bagaimana cara menciptakan kehidupan yang memadai dangan barisan petak-petak sawah yang cukup diolah oleh seorang petani dan keluarganya di sebuah habitasi yang tetap. Kemudian mereka dapat membuat rumah dan sawah-sawah bersama-sama dengan anak- cucu mereka. Tetapi kemudaian bekerja di sepetak sawah menjadi bentuk kerja paksa di masyarakat-masyarakat yang telah memiliki pilihan bidang-bidang ekonomi alternatif. Namun demikian, pada awalnya pertanian menetap pasti telah menjadi sebuah hadiah sosial yang diidam-idamkan setelah berhasil mencapai kemajuan teknologi melalui proses yang lama.

Sebagain- mungkin mayoritas-emigran dari oase-oase Asia Barat Daya milintasi zone tadah hujan di Ekumene tersebut sebelum mereka belajar bagaimana cara mengolah tanah secara menetap tanpa bantuan irigasi alami. Namun demikian, ada sebuah daerah di dekat tempat-tempat kelahiran agrikultur di oase-oase Asia Barat Daya, yang, seandainya daerah ini dibuka dan disela-sela dengan drainase dan irigasi tiruan, akan menjadi pionir penghasil pertanian yang jauh lebih besar dibanding hasil yang dapat diperopleh dari oasis nenek moyang mereka dalam skala teritorial yang jauh lebih luas. Tanah perjanjian ini adalah rawa- belantara di lembah bawah Trigis- Eufrat: sebuah campuran kaotik dari tanah-tanah genting.

Dikuasainya rawa- belantara tersebut merupakan sebuah prestasi sosial yang jauh lebih tinggi daripada prestasi teknologi. Tentu saja, semua prestasi teknologi manusia menjadi prestasi sosial. Manusaia adalah ,makhluk sosial. Nenek moyang pra-manusia kita hampir tidak bisa mempertahankan hidupnya untuk menjadi manusia jika mereka bukan binatang- binatang sosial, dan keterbatasan sosialitas manusia selalu berperan sebagai rem bagi kemampuan teknologinya yang jelas-jelas tidak terbatas. Sosialitas merupakan syarat bagi pembuatan dan penggunaan alat-alat paling elementer sekalipun. Para pengolah tanah di oase-oase Asia Barat Daya kecil mungkin telah menemukan cara untuk meningkatkan irigasi alam lokal secara artifisial. Untuk memanfaatkan tanah genting sungai-sungai kembar (Tigris-Eufrat) yang dianggap sebagai hadiah, manusia harus menggunakan teknis irigasi tiruannya dalam skala yang membutuhkan kerja sama jauh lebih banyak manusia dibandingkan dengan yang pernah terjadi sebelumnya dalam hal kerja sama apa pun. Perbedaan skala kerja sama ini serupa dengan perbedaan, bukan hanya tingkat, tetapi juga jenisnya; dan ini adalah sebuah revolusi sosial, bukan revolusi teknologi.

Dikuasainya tanah genting ini oleh manusia pasti telah direncanakan oleh para pemimpin yang mempunyai imajinasi, pandangan kedepan dan pengendalian diri untuk mendapatkan hasil-hasil yang akan sangat menguntungkan tetapi tidak dalam waktu dekat. Rencana para pemimpin itu hanya akan sekedar menjadi impian kosong jika mereka tidak dapat membujuk banyak orang untuk menggapai tujuan-tujuan yang mungkin tidak dapat mereka peroleh. Massa ini pasti memiliki keyakinan pada pimpinan-pimpinan mereka, dan keyakinan pada pemimpin ini pasti dilandasi keyakinan pada dewa-dewa yang kekuatan dan kearifannya merupakan realitas bagi para pemimpin dan [pengikutnya. Di sini sebuah alat yang sangat diperlukan adalah tulisan. Para pemimpin memerlukan instrumen ini guna mengorganisir orang-orangnya, air dan tanah dalam kualitas dan luas yang terlalu besar untuk ditangani secara efisien hanya dengan mengandalkan ingatan aturan dan perintah lisan tanpa catatan tertulis. Penemuan tulisan Sumeria adalah sebuah karya agung dari jenius kreatif, tetapi sistem penulisan paling awal yang diketahui ini rumit dan janggal, dan oleh karenanya tetap saja hanya dipahami oleh orang-orang tertentu. Tulisan ini bisa memenuhi kebutuhan-kebutuhan masyarakat secara keseluruhan; pada saat yang bersamaan tulisan tersebut menegaskan kuasa pengaruh para pemimpin yang melek huruf atas mayoritas onggotanya yang buta huruf.

Dengan membuka dan mengolah tanah genting di lembah bawah Tigris dan Eufrat tersebut, berarti orang-orang Sumeria sedang menciptakan sebuah spesies baru masyarakat manusia yang paling awal: peradaban-peradaban regional. Prestasi ini diselamatkan para orang-orang Sumeria karena bahasa merekalah yang kita temukan dalam tulisan Sumeria pada suatu fase dim dalam alur revolusi tulisan, dan tulisan tersebut kini tidak lagi dapat diartikan dan diterjemahkan. Akan tetapi, kita tidak dapat memastikan bahwa orang-orang Sumeria asli adalah penemu pertama tulisan mereka itu, atau bahwa mereka adalah pionir-pionir paling awal di rawa-belantara yang akhirnya diubah menjadi tanaqh Sumer. Orang-orang Sumeria yang berhasil menjinakan rawa-belantara ini bukanlah penduduk asli, karena sebelum dijinakan rawa liar tersebut tidak bisa ditempati oleh manusia. Sebagaian permukiman Sumeria paling awal-Ur, Uruk, Eridu-berada diujung barat daya rawa besar ini yang bersebelahan dengan jazirah Arab; tetapi tidaklah mungkin bahwa orang-orang Sumeria berasal dari jazirah Arab; bahasa mereka tidak memiliki afinitas dengan bahasa-bahasa keluarga Semitik, dan gelombang-gelombang migran berurutan yang berasal dari Arab ke daerah-daerah Asia dan Afrika di dekatnya semuanya berbahasa Semitik.

Sejauh pengetahuan kita, peradaban Sumeria ini merupakan peradaban regional paling awal. Peradaban ini juga satu-satunya yang pasti tidak berasal dari sebuah masyarakat atau masyarakat-masyarakat pra- peradaban, dan bukan tiruan dari, atau bahkan terilhami oleh, masyarakat yang telah ada sebelumnya. (Peradaban Meso-Amerika mungkin secara langsung berasal dari anteseden-anteseden pra- peradaban; tetapi keaslian peradaban Meso-Amerika tidak diakui secara universal.) Eksplorasi arkeologis modern telah menguak tahap-tahap perkembangan setidaknya dua ciri khas peradaban Sumeria: tulisan dan arsitektur candinya.

Kita dapat menelusuri penciptaan tulisan yang dibuat dari piktograf-piktograf (yakni, gambaran-gambaran orang, benda,peristiwa dan tikdakan) tersebut. Langkah kreatifnya adalah penciptaan ideogram (yakni tanda-tanda konvensional yang sudah tidak terlihat secara jelas, bekas-bekasnya sekalipun, yang memiliki sebuah makna yang indetik bagi semua anggota masyarakat Sumeria yang melek huruf). Fase terakhir adalah penciptaan fonem-fonem (yakni tanda-tanda konpensional yang mewakili bunyi-bunyi yang digunakan sebagai bahasa tutur). Orang-orang Sumeria tidak pernah mengulang-ulang fonem-fonem secara eksklusif. Tulisan mereka merupakan kombinasi ambigu dan arbitrer antara fonem-fonem dan ideogram-ideogram. Kelemahan ideogram adalah jumlahnya yang sangat banyak; kelebihannya dibanding fonem adalah bahwa sebuah ide tanda dapat saling diasosiasikan secara permanen, sedangkan sebuah bunyi dan tanda akan kehilangan hubungan konvensionalnya yang asli ketika bunyi-bunyi dari bahasa tutur berubah seiring bergulirnya waktu. Walau demikian, fonem-fonem memiliki kelebihan dibanding ideogram dalam hal jumlahnya yang terbatas. Ada batas jumlah bunyi artikulasi yang dapat dihasilkan oleh suara manusia, dan setiap bahasa manusia sebenarnya menggunakan sebuah pilihan potensi repertoir ini.

Pada fase paling awal dari catatan tertulis dan dambar yang kita miliki, peradaban Sumeria menunjukan ciri-ciri yang sama dengan anggoto-anggota lain dari spesies masyarakat yang darinya lahir sebuah peradaban yang dikenal paling tua. Dengan mengolah tanah genting tersebut, orang-orang Sumeria menjadi masyarakar pertama di Ekumene Dunia Kuno yang menghasilkan surplus, kelebihan persediaan pangan selama satu tahun. Surplus ini tidak didistribusikan secara merata di antara seluruh partisipan di masyarakat tersebut yany telah memberikan kontribusinya pada produktivitas masyarakat dengan berbagai cara dan tingkat.Jika surplus ini dibagi-bagi dengan porsi yang sama, bonus per kepala menjadi minimal; karena surplus ini relatif kecil dibandingkan dengan jumlah total produksi yang diperlukan untuk hidup, meskipun produksi surplus ini merupakan sebuah prestasi sama sekali revolusioner. Sesungguhnya, surplus ini disediakan untuk minoritas istimewa yang energi dan waktunya habis digunakan untuk mengurusi produksi pangan yang masih menyita seluruh kehidupan mayoritas masyarakatnya. Jatah surplus untuk minoritas ini merupakan basis ekonomi bagi pembagian kelas; tetapi, walaupun ini menjadi syarat yang memungkinkan kelas penguasa menikmati privillesenya, privilese tersebut akan menjadi terlalu individual untuk ditoleransi oleh masyarakat jika masyarakat percaya bahwa kelas penguasa mendapatkan privilesenya dengan cara melayani masyarakat secara keseluruhan. Pelayanan ini adalah kerelaan yang ikhlas, dan sebenarnya sangat diperlukan kalau masyarakat ingin bertahan hidup dalam keadaan yang menguntungkan, tetapa artifisial, yang telah dihasilkan berkat dikuasainya tanah genting tersebut. Bagaimanapun juga, minoritas penguasa menyita surplus ekonomi hasil agrikultur tanah genting itu, dan mereka menghabiskan waktu luangnya yang bukan hanya diperlukan untuk memberikan pelayanan publik tetapi juga menikmati kemewahan-kemewahan pribadi

Pelayanan publik pokok sebagai tugas penguasa adalah administrasi komunitas dengan sebuah nukleus urban yang lebih besar dibanding komunitas-komunitas desa Neolitik, dengan kompleksitasnya. Berkebalikan dengan pengolah tanah Neolitik, petani Sumeria tidak mengelola pekerjaannya sendiri. Pemeliharaan sistem irigasi menjadi syarat yang diperlukan bagi kelangsungan hidup seluruh komunitas, tobang publik untuk menjadi pematang sawah dan saluran irigasi merupakan bagian dari tugas petani yang sama pentingnya dengan pengolahan sawahnya sendiri; dan semua kerja ini harus dilakukan sesuai dengan petunjuk otoritas publik, karena distribusi persediaan air irigasi dalam kualitas dan musim-musim tertentu membutuhkan satu komando dengan kekuasaan yang tidak boleh ditentang.

Telah kita ketahui bahwa otoritas penguasa didukung oleh sanksi supernatural. Selain mengatur sistem irigasi yang, demi kehidupan dan pengolahan tanah genting itu, merupakan sarana publik yang sangat penting, penguasa juga melayani komunitas sebagai mediator antara komunitas itu dan dewa-dewa, dan kepercayaan bersama pada kekuatan dan kearifan dewa-dewa adalah kekuatan spiritual yang menggerakan para partisipan di sebuah negara kota Sumeria untuk membuat kebaikan, selai jumlah dan pembagiannya menjadi kelas-kelas sosial yang berbeda. Pengusaha juga menghabiskan sebagaian kekayaan dan waktu luangnya sebagai kemewahaan pribadi: pelayanan pribadi dari para pembantu dan karya seni yang kini sejajar dengan peralatan dari logam. (Peralatan dari batu yang digunakan oleh para petani untuk mengolah tanah masih dibuat dimasing-masing rumah tangga).

Ciri baru lain peradaban Sumeria adalah terkonsentrasinya minoritas penduduk non-agrikultural di kota-kota yang hidup dengan surplus produksi agrikultural mayoritas. Kota-kota ini mungkin telah menjadi pusat-pusat seremonial, di mana komunitas berkumpul secara periodik untuk melaksanakan ritual-ritual religius dan pengorganisasian kerja-kerja publik. Pusat-pusat seremonial ini mungkin memiliki sedikit tempat tinggal tetap, tetapi pusat-pusat tersebut akan menjadi kota-kota, dengan rumah-rumah di sekitar tempat ibadah, ketika minoritas non-agrikultur bertambah jumlahnya dan ketika fungsi-fungsi mereka didistribusikan di para pendeta, administator sekular (mula-mula tidak bisa saling dibedakan) bersama dengan juru tulis, pembantu pribadi dan pekerja lainnya.

Perbedaan kelas,yang mengemuka akibat segregasi topografis kelas-kelas antara desa dan kota, merupakan kejahatan sosial pertama yang harus dibayar oleh kelahiran peradaban di Sumer. Kejahatan bawaan peradaban kedua adalah perang; dan kondisi ekonomi yang menimbulkan dua kejahatan ini adalah kelebihan produksi. Di sebuah komunitas dimana waktu kerja setiap partisipan yang mampu seluruhnya dihabiskan untuk memproduksi makanan, tidak ada waktu luang untuk memerankan tugas administrator, pendeta, pekerja ahli maupun tentara paruh waktu.

Inovasi fundamental apa yang diciptakan oleh orang-orang Sumeria dalam spesies masyarakat baru? Kelebihan produksi, perbedaan kelas, tulisan, arsitektur monumental, permukiman urban dan perang, kesemuanya ini adalah ciri-ciri baru yang khas, tetapi perubahan yang krusial terjadi pada karakter dan fungsi-fungsi dewa-dewa.

Agama masyarakat-masyarakat pra-melek hurup yang sudah punah bisa dilihat dari seni rupa mereka: lukisan-lukisan dinding gua Palaeolitik Tinggi, patung-patung tiga dimensi di lepenski Vir, arca-arca Zaman Neolitik yang menggambarkan seorang ibi yang subur. Kita hanya dapat menduga-duga ritus-ritus dan mitos-mitos yang sesuai, tetapi dokumen-dokumen paling awal dalam tulisan dan bahasa Sumeria yang masih bisa dibaca merupakan sumber yang menjelaskan agama dan aspek-aspek kehidupan Sumeria lainnya. Di dalam dokumen-dokumen ini, kita menjumpai sebuah kuil untuk dewa-dewa Sumeria, dan kita juga menemukan bahwadewa-dewa ini telah dikenal pada babak kedua dalam sejarah mereka.

Setelah peradaban Sumeria lahir,sebagaian dari dewa-dewanya masih menggambarkan kekuatan-kekuatan alam, dan kita dapat melihat bahwa semula dewa-dewa tersebut pasti mempunyai fungsi myang eksklusif. Namun, sebelumnya sebagaian dewa itu memiliki peran ganda; masing-masing dewa juga menggambarkan kekuasaan kolektif manusia di suatu negara kota Sumeria. Duplikasi peran dewa-dewa Sumeria mencerminkan sebuah revolusi hubungan antara manusia dan alam. Pada saat dewa-dewa Sumeria pertama kali tergambar dalam pikiran manusia, manusia masih bersikap ramah kepada alam. Dengan dikuasainya tanah genting untuk diolah dan ditempati secara bersama-sama, kekuatan antara manusia dan alam bergeser sehingga manusia menjadi lebih berkuasa. Manusia sebagai bintabg sosial kini terbukti mampu melaksanakan keinginannya pada sebagaian alam yang sebelumnya degil,dan manusia ,memadai pengakuan atas kejayaan dirinya yang membanggakan ini dengan cara memuja kekuasaan kolektifnya sendiri sejajar dengan kekuatan non-manusia, padahal sebelumnya manusia merasa tidak berdaya. Orang-orang Sumeria yang berhasil menjinakan tanah genting itu telah menanamkan perubahan masa depan dengan cara memaksa dewa-dewa alam nenek moyang mereka untuk menjadi pelindung suci-atau pelayan suci-bagi negara-negara manusia yang bredaulat.

Sebagai wakil-wakil kekuatan alam, dewa-dewa Sumeria terus saja menjadi bagaian dari warisan kultural bersama masyarakat Sumeria.Sebagai wakil-wakil negara, beberapa di antaranya berpihak kepada masyarakat-masyarakat lokal Sumeria yang kepentingan-kepentingannya mungkin bertentangan dengan kepentingan negara. Dalam peran politiknya, dewa-dewa sebagaian menjadi pemecah belah dan tidak seluruhnya menjadi pemersatu. Peran baru ini yang telah dimainkan oleh dewa-dewa sebelum masa tulis- menulis paling awal tidak menyenangkan bagi masa depan peradaban Sumeria. Buah dari kemenangan m,anusia atas alam tersebut bisa lenyap jika manusia memanfaatkan kekuatan kolektifnya yang hebat itu bukan hanya untuk menguasai dan mengeksploitasi alam non-manusia tetapi juga untuk mengorbankan perang saudara antara “kekuasaan-kekuasaan” manusia lokal yang terorganisir dan bersenjata lengkap.

Dikutip dari : Arnold Toynbee. 2004. Sejarah Umat Manusia: Uraian Analisis, Kronologis, Naratif, dan Komparatif (MANKIND AND MOTHER EARTH: A Narrative History of the world).Yogyakarta: Pustaka Pelajar

SILAKAN BERI KOMENTAR

Temui Kami di Facebook

Statistik

  • 162Dibaca Hari Ini:
  • 1839Dibaca Kemarin:
  • 14099Dibaca Per Bulan:
  • 346984Total Pengunjung:
  • 147Pengunjung Hari ini:
  • 13421Kunjungan Per Bulan:
  • 6Pengunjung Online: