JATUHNYA TIRTAYASA

HALWANY MICHROB)*

Pada waktu serunya pertempuran di Surosowan dan sekitarnya antara Sultan Ageng Tirtayasa dengan tentara Sultan Haji yang dibantu serdadu Kompeni, maka Pemerintah Tinggi Kompeni di Jakarta mengirimkan sejumlah militernya ke daerah Tanggerang. Tujuan Kompeni ialah maju mendesak melalui daratan dan lautan dan akhirnya hendak menyerbu tempat kedudukan Sultan Ageng Tirtayasa di Tirtayasa. Serdadu Kompeni yang dikirimkan ke daerah Tanggerang terdiri dare 227 orang Belanda 40 orang Makasar, 140 orang Bali, 50 orang Jawa, 50 orang Bugis, 80 orang Madura dan dengan 300 atau 100 orang kuli.

Ekspedisi Kompeni itu digerakkan dari Jakarta mulai tanggal 16 Maret 1682 dan dipimpin oleh Kapten Hardtsinck. Di perjalanan mereka senantiasa mendapat hantaman dari tentara serta rakyat Banten yang berada di daerah perbatasan Angke-Tanggerang yang sejak lama memang ditempatkan oleh Sultan Ageng Tirtayasa. Penggilingan tebu serta kebun tebu kepunyaan Kompeni di Angke, demikian pula beberapa kampung di daerah itu dibakar tentara Banten. Pertahanan-pertahanan Kompeni di sebelah timur Angke seringkali dapat ditembus dengan serbuan-serbuan yang dahsyat. Sebelah barat Sungai Angke telah lama ditempati tentara Sultan Ageng Tirtayasa di bawah pimpinan seorang panglimanya yang bernama Pangeran Dipati. Ketika serdadu Kompeni mengadakan patroli dan perjalanan di daerah itu pada tanggal 30 Maret 1682 tiba-tiba mendapat serangan yang hebat dari tentara Banten hingga mereka lari pontang-panting dengan melemparkan panji serta senjatanya.

Pasukan Kompeni di bawah pimpinan Van Happel sekitar bulan April terdiri dari 20 orang Belanda dan 2 kompi orang Kompeni bayaran menuju ke daerah Angke bagian barat dengan maksud melindungi perkebunan tebu yang dirusak dan dibakar tentara Banten. Ikut serta dengan Van Happel ialah De Ruys. Dalam pertempuran yang terjadi dengan tentara Banten pada bulan Juli 1682 Kompeni mengalami kerugian yaitu 6 orang mati dan 39 orang luka-luka berat. Karena kerugian-kerugian itu maka Kompeni tidak mau lebih jauh maju dan tidak melakukan pertempuran hingga bulan Agustus 1682. Untuk sementara mereka hanya melakukan persiapan sambil memikirkan siasat mengatasi rintangan, baik dari tentara Banten maupun dari alam sendiri yang berupa perjalanan yang berat menembus rawa-rawa dan hutan. Belum lagi musim penghujan yang sukar dielakkan. Persediaan makanan seringkali habis dan terpaksa makan apa saja yang dapat dimakan. Kuli-kuli yang mengikuti ekspedisi Kompeni itu banyak yang sakit bahkan merasa dipaksa oleh Kompeni.

Menurut berita yang dilaporkan kepada Pemerintahnya di Jakarta Kompeni yang dipimpin oleh Hardt dalam perjalanan ekspedisinya sudah sampai di daerah sebelah timur Cisadane dan di situlah mereka mendirikan benteng-benteng pertahanan.

Tetapi pada bulan Oktober 1682 pertahanan Kompeni dan pos-pos penjagaan di tempat tersebut dan di sepanjang perjalanan Tanggerang-Jakarta dihantam dengan gigihnya oleh tentara Sultan Ageng Tirtayasa. Pertahanan tentara Banten yang terkuat terutama di Kademangan. Serdadu-serdadu Kompeni di bawah pimpinan Hardtsinck sudah sampai di tempat pertahanan tentara Banten. Pertempuran-pertempuran selama beberapa hari terjadi dengan dahsyatnya. Dari kedua belah pihak banyak kurban. Dengan gagah berani tentara Banten tetap mempertahankan benteng pertahanannya di Kademangan itu. Karena tempat itulah merupakan front terkuat yang mencegah kemungkinan serbuan ke daerah strategis lainnya seperti Tanara yang terdekat ke ibukota Tirtayasa. Tetapi malanglah pada tanggal 2 Desember 1682 tentara Banten. mundur menuju arah lain hingga dapat bertahan lagi; Sementara itu daerah Angke-Tanggerang sudah dikuasai oleh Kompeni, yaitu sejak tanggal 8 Desember 1682. Pasukan Kompeni di bawah pimpinan Hardtsinck itu ditarik dari Kademangan dan kemudian diarahkan ke Tanara suatu tempat di sebelah timur Tirtayasa dan merupakan tempat yang amat strategis. Tempat ini dapat dicapai melalui darat dan juga melalui laut. Karena itu pula maka di perairan pulau Cangkir dekat Tanara dan di daratannya di tempatkan pertahanan tentara Sultan Ageng Tirtayasa.

Setelah Kompeni mendekati tempat itu, baik dari darat maupun dari laut, maka terjadilah pertempuran dengan tentara darat dan laut Banten. Tetapi di tempat ini pun tentara Banten sedang mengalami kegagalan sehingga pertahanan Tanara jatuh ke tangan Kompeni setelah dipertahankan mati-matian dan mengalami pertempuran sengit. Pada tanggal 28 menghadap 29 Desember 1682 Kompeni bergerak menuju pusat Tirtayasa. Mereka menembaki keraton dan sekitarnya. Pertempuran terjadi lebih hebat karena amat menentukan hidup matinya pusat pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa. Semua pembesar bergerak memegang senjata, lebih-lebih tentara serta rakyatnya. Pendek kata Tirtayasa dipertahankan mati-matian.

Sementara itu tentara Sultan Haji dengan Kompeni dari Surosowan maju menjepit dan mendesak pertahanan tentara Sultan Ageng Tirtayasa di bagian barat. Mereka sudah sampai Pontang. Setelah pertahanan di Pontang dapat ditembus mereka meneruskan penyeberbuannya ke tempat-tempat yang amat dekat ke Tirtayasa sehingga tetdengarlah pula oleh tentara dan Sultan Ageng Tirtayasa beserta pembesar-pembesar lainnya di Tirtayasa. Pertahanan Tirtayasa sudah tinggal menunggu waktunya apakah masih dapat bertahan atau tidak. Akhirnya diambil keputusan oleh Sultan agar kota itu ditinggalkan. Tetapi sebelumnya harus dibumi-hanguskan sehingga keraton menjadi hancur merata dengan tanah dari pada ditempati Kompeni. Sultan Ageng Tirtayasa dengan Pangeran Purbaya, Syekh Yusuf dan pembesar lainnya beserta tentaranya, setelah membumi-hanguskan keraton mundur. Untuk sementara waktu sultan Ageng Tirtayasa bersembunyi di salah satu hutan di sebelah selatan Tirtayasa, yaitu di hutan Keranggan. Tirtayasa jatuh ke tangan Kompeni dan lenyaplah kemashurannya sebagai pusat pertahanan dan yang tinggal hanyalah puing keraton dan saluran air yang pernah digali. Pesawahan yang amat subur untuk beberapa tahun ditinggalkan hingga terlantar. Penduduknya yang tidak sudi akan penjajahan semuanya ikut serta menjadi pasukan Sultan Ageng Tirtayasa untuk terus mempertahankan kemerdekaannya. Meskipun pertahanan utama Tirtayasa jatuh ke tangan Kompeni namun tidaklah merupakan akhir kepahlawanan Sultan Ageng Tirtayasa, rakyat dan tentaranya. Perlawanan masih dilanjutkan. Dari hutan Keranggan Sultan dengan pembesar-pembesar Banten lainnya serta beberapa pengawal meneruskan perjalanannya menuju daerah Lebak. Dalam pada itu Sultan Haji mengirim surat kepada Gubernur Jendral di Jakarta bahwa ayahnya, Sultan Ageng Tirtayasa, Pangeran Purbaya dan sejumlah tentaranya pada tanggal 17 Januari 1683 sudah berada di Parijan sebuah tempat yang terletak beberapa kilometer di pedalaman Tanggerang. Sedangkan penasehat agama Sultan Ageng Tirtayasa yang bernama Syekh Yusuf dengan Pangeran Kidul, dan Pangeran Kulon sudah ada di daerah Sajira, yakni perbatasan daerah Bogor.

Tiga hari setelah Sultan Haji mengirimkan surat kepada Gubernur Jendral di Jakarta itu maka utusan yang dua tahun ialu dikirimkan ke London tiba kembali dengan kapal “Kemphoorn” pada tanggal 22 Januari 1683. Tetapi alangkah terkejutnya mereka itu karena keadaan Banten sudah berubah sama sekali dari masa keberangkatan ke London. Di sana-sini mereka masih melihat gedung bekas terbakar. Lebih-ieblh dengar, metihat banyaknya serdadu Kompeni Belanda dan segala peraturan-peraturannya jelas bagi orang-orang yang baru kembali di Tanah Air merupakan keadaan yang amat mengherankan. Banten sudah tidak lagi mencerminkan kemerdekaan penuh dan berdaulat. Banten sudah di bawah kekuasaan Kompeni.

Sultan Haji berusaha keras agar ayahnya dapat kernrbali ke Surosowan. Dengan petunjuk serta nasenat Kompeni yang sifatnya melakukan jalan tipu daya halus rnaka Sultan Haji mengirimkan surat kepada ayahnya di daerah Sajira.

Sesudah utusan pembawa surat itu datang di Sajira dan diterima Sultan Ageng Tirtayasa maka dengan tiada mengandung kecurigaan sedikit pun Sultan yang usianya sudah lanjut itu kembali ke Surosowan setelah lama mempertahankan diri berada di hutan-hutan lebat itu. Tambahan puta seminggu sebelumnya yakni pada tanggal 7 Maret 1683 Pangeran Kulon telah gugur ditikam oleh suruhan Kompeni. Sultan Ageng Tirtayasa dengan beberapa pengawalnya sampailah di Surosowan dan langsung ke keraton menemui puteranya yang tengah rnenantikan kedatangan ayahnya. Penerimaan Sultan Haji sangat baik meskipun di belakangnya kelak ada maksud tertentu yang dikandung atas bujukan Kompeni. Kedatangan Sultan Ageng ‘Tirtayasa di Surosowan tepat pada tanggal 14 Maret 1683 di tengah malam. Tetapi setelah beberapa saat lamanya tinggal di keraton Surosowan ia ditangkap oleh Kompeni untuk segera dibawa ke Jakarta. Memang itulah yang dimaksud oleh Kompeni Belanda dengan kerja samanya dengan Sultan Haji. Jika Sultan Ageng Tirtayasa dibiarkan ada di Surosowan dikhawatirkan oleh Kompeni kalau-kalau dapat mempengaruhi Sultan Haji yang sudah erat kerja samanya dengan Kompeni.

Sultan Ngeng Tirtayasa dimasukkan ke dalam penjara berbenteng dengan penjagaan serdadu Kompeni sehingga wafatnya di dalarn penjara pada tahun 1692. Jenazahnya oleh Sultan Haji terutama oleh pembesar dan rakyat Banten yang amat mencintainya dan mengakui sebagai pahlawan besar yang dengan gigihnya mempertahanKan kernerdekaan Kesultanan Banten dimintakan kepada Pemerintah Tinggi Kompeni Belanda untuk dimakamkan kembali Ke Banten. Kemudian dengan upacara keagamaan yang amat mengesankan ia dimakamkan di samping Sultan-Sultan yang mendahuluinya di sebelah utara Mesjid Agung.

Dengan wafatnya Sultan Ageng Tirtayasa musuh besar Kompeni Belanda maka mereka menganggap sudah tidak merupakan kesulitan lagi untuk menanamkan monopoli perdagangan di Banten. Cita-cita Kompeni Belanda sebenarnya sudah tercapai sejak perjanjian 17 April 1684 yakni satu tahun setelah Sultan Ageng Tirtayasa, Pangeran Purbaya dan Syekh Yusuf berhasil ditangkap.

Chijs J.A. Mr. van der, “Oud-Bantam” T.B.G. 26, 1881.

Colenbrander, Dr. H.T., Koloniale Geschiedenis, tweede deel, ‘S-Gravehage, Martinus Nijhoff 1925. (khusus mengenai Locale Geschiedenis XIV).

Corpus Diplomaticum Neerlando Indicum , Uitgegeven door Prof. Mr. J.E. Heeres,derde (1676 -1691) BKI. 91,1934.

Dagh Register 1651 – 1682 gehouden in’t Casteel Batavia, Uitgegeven door het Koninlijk Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen.

Deventer, M.L. van, Geschiedenis der Nederlanders op Java, eerste dan tweede deel, 1886, 1887, Haarlem, H,D. Tjeenk Willink.

Drewes, Dr. G.W..J., “Sech Joesoep Makasar” Jawa 1926, 6e jrg,

Graaf Dr. H.J., Geschiedenis van Indonesia, N.V. Uitgeverij W. van Hoeve, ‘s-Gravenhage-Bandung,1949.

Haan, Dr. F., Priangan. De Preanger Regentschappen onder bet Nederlandsch Bestuur tot 1811, derde deel, Commentaar I 1-1500, Uitgegeven door het Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen, batavia-‘S-Gravenhage, 1912.

Haan, Dr. F., Oud Batavia tweede herziene druk, A.C. Nix & Co., Bandung, MCM XXXV.

Hazen, Dr. G.A.J., “Een Beschreven Koperen Plaat uit de Lampongs”. T.B.G. XLVIII, 1902 hal. 1-12.

Hoesein Djajadiningrat, Critische Beschouwing van de Sejarah Banten, bijdrage ter ken Schetsing van de Javaansche Gesehiedschrijving, Academisch Profefsdrift, Leiden, Haarlem, Joh Enschede en Zonen,1913.

Holle, K.F., “Bijdragen tot de Geschiedenis der PreangerRegentschappen.” T.B.G. XVII, 1868.

Jonge, Mr. Jhr. J.K.J., “De Opkomt van bet Nederlandgch Gezag in Oost Indie”, verzameling van onuitgegeven stukken uit het Oud-Koloniaal Archief, zesde, zevende deel, ‘s-Gravenhage, Martinus Nijhoff, MDCCLXXII, MDCCLXXlll.

Leur, J.C. van, Indonesian Trade and Society, W. van Hoeve, Bandung, 1955.

Chijs, J.A.W. “lets over het ontstaan van eenige regentschappen assistent-residentie Bengkoelen. ” T.B.G. XI, 1862

Raffles, Th. St., The History of Java, vol. 1,11, London, 1817.

Stapel, Dr. F.W., Cornelis Janszoon Speelman, ‘s-Gravenhage, Martinus Nijhoff,1936.

Terstra, Dr. H., Insulinde Nederland’s verleden in Verre Oosten, N.V. Uitgeverij W. Van Hoeve, Den Haag, 1949.

Valentijn, Fr., Francois Valentijn’s Oud en Nieuw Oost-Indien, Derde deel Tweede uitgave, Uitgegeven door Mr. S. Keijzer, Amsterdam, Wed. J.C. van Kesteren & Zoon 1862, Ibid., IVe deel.

Veth, Prof. P.J., Java, Geographisch, Etnologisch, Historisch, tweede deel gewerkt door Johff. Snellemen en J.F. Niermeyer, Haarlem, De Erven-F. Bohn, 1898.

Warnsinch, J.C.M., Reisen van Nicolous De Graff Gedaan naar alle Gewesten des Werelds. Beginnende 1639 tot 1687 incluis,’S-Gravenhage, Martinus Nijhoff,1930.

Wawancara dengan pejabat-pejabat pemerintah di Serang dan informan di kampung Kasunyatan, Banten Lama, Tirtayasa, Pontang, Tanahara, Pandeglang dan sebagainya sewaktu kami mengadakan fieldwork antara tanggal 26-30 Mei 1964.

)*Putra Banten yang memiliki perhatian pada perjalanan sejarah Banten

SILAKAN BERI KOMENTAR

Temui Kami di Facebook

Statistik

  • 743Dibaca Hari Ini:
  • 1839Dibaca Kemarin:
  • 14680Dibaca Per Bulan:
  • 347513Total Pengunjung:
  • 676Pengunjung Hari ini:
  • 13950Kunjungan Per Bulan:
  • 14Pengunjung Online: