KAJIAN POLA KAMPUNG DAN RUMAH TINGGAL WARGA KASEPUHAN KESATUAN ADAT BANTEN KIDUL

Oleh: Drs. Dadang Ahdiat, M.S.A

PENDAHULUAN

Menurut Koentjaraningrat (1990), kampung merupakan kesatuan manusia yang memiliki empat ciri: interaksi antar warganya, adat istiadat, norma-norma hukum dan aturan khas yang mengatur seluruh pola tingkah lakunya. Komunitas warga kampung yang masih menjalankan tradisi leluhur (adat leluhur) di antaranya adalah warga Kasepuhan Ciptarasa dan Ciptagelar yang pola kehidupannya sehari-hari mengikuti secara turun temurun kebiasaan nenek moyangnya. Komunitas warga adat kasepuhan ini hidup dalam kelompok-kelompok kecil, tersebar di berbagai kampung di sekitar Banten, Sukabumi dan Bogor Selatan sepanjang lereng-lereng dan bukit-bukit di sekitar Gunung Halimun serta membentuk suatu ikatan persaudaraan yang mereka namakan Kesatuan Adat Banten Kidul. Warga kasepuhan tersebut dipercaya oleh komunitasnya berasal dari Kerajaan Sunda yang beribukota di Pakuan Padjadjaran Kab. Bogor.

Penelitian ini meliputi dua generasi perkampungan warga kasepuhan, yaitu Ciptarasa dan Ciptagelar. Secara umum, kondisi kedua kampung tersebut masih terawat dengan baik. Hal ini dapat dilihat dari kelengkapan bangunannya seperti: imah, bumi ageung, leuit, saung lisung, kandang, tajug dan lain sebagainya. Bagi kedua warga kasepuhan, kampung merupakan bali geusan ngajadi, artinya tempat seseorang kembali ke asalnya dilahirkan. Sedangkan rumah merupakan sumber hirup jeung kahirupan, artinya sumber keberkahan dan kesejahteraan bagi anggota keluarga.

Perpindahan yang lebih dikenal di kalangan warga kasepuhan dengan istilah hijrah wangsit merupakan ciri khas tersendiri komunitas kasepuhan yang tidak dimiliki oleh warga kampung adat lain, baik di Banten maupun Jawa Barat. Perpindahan inilah yang melatar belakangi dilakukannya penelitian Kajian Pola Kampung dan Rumah Tinggal Warga Kasepuhan Kesatuan Adat Banten Kidul di Sukabumi-Jawa Barat.

Permukiman dan Hunian sebagai Wujud Kebudayaan

Permukiman dan hunian merupakan wujud kebudayaan manusia. Sebagai wujud kebudayaan manusia, maka permukiman dan hunian terbentuk dengan adanya proses pembentukan hunian yang mewadahi aktivitas manusia yang hidup dan tinggal di dalamnya. Dalam proses pembentukan tersebut, rona (setting) lingkungan mempengaruhi pola kegiatan serta proses perwujudan wadah aktivitas baik secara fisik maupun non fisik (Rapoport, 1977). Berkaitan dengan hal tersebut, Habraken (1978) menjelaskan bahwa tatanan fisik permukiman merupakan satu kesatuan sistem yang terdiri dari: spatial system, physical system dan stylistic system. Spatial system, yaitu sistem yang berkaitan dengan organisasi ruang, mencakup: hubungan ruang, orientasi, pola hubungan ruang dan sebagainya. Physical system, yaitu sistem mengenai penggunaan konstruksi dan material, sedangkan stylistic system merupakan kesatuan yang mewujudkan bentuk meliputi: fasad atau muka bangunan, bentuk pintu dan jendela serta unsur- unsur ragam hias (craftmanship), baik di dalam maupun di luar.

Permukiman yang merupakan perwujudan hasil karya manusia secara turun temurun dari seluruh lapisan masyarakat dalam batas-batas teritorial tertentu,

dinamakan vernacular architecture (Rapoport,1969). Lingkungan permukiman tradisional merupakan suatu tatanan kehidupan dalam batas tertentu yang terdiri dari susunan ruang dan kelompok hunian yang terbentuk secara konvensional (tradisional) dengan dilandasi kaidah (tata cara) masyarakat yang telah mentradisi. Faktor lain seperti: kondisi fisik lingkungan, sosial-ekonomi, penerimaan teknologi, pemakaian material dan tata aturan yang berkaitan dengan kegiatan religius (tata adat) turut pula mempengaruhinya.

Arsitektur Tradisional Masyarakat Sunda Jenis dan Pola Kampung Sunda Bagi Masyarakat Sunda, kesatuan kecil permukiman terdiri dari satu atau beberapa rumah yang tidak berjauhan jaraknya. Dalam Masyarakat Sunda, terbentuknya kampung melalui empat proses. Pertama; diawali dengan terbentuknya umbulan, yaitu permukiman yang terdiri atas 1-3 rumah. Kedua; dari umbulan berkembang menjadi babakan, yaitu kesatuan permukiman yang terdiri dari 4-10 rumah. Ketiga; berkembang lagi menjadi lembur, yaitu kesatuan permukiman yang memiliki antara 10-20 rumah. Keempat; terbentuklah kampung, yaitu kesatuan permukiman yang memiliki lebih dari 20 rumah beserta lingkungannya (Garna, 1984). Ekadjati (1995) membagi jenis Kampung Sunda berdasarkan letak geografisnya ke dalam tiga bagian, yaitu:  Kampung pegunungan, yaitu kampung yang terletak di daerah pegunungan

dan dataran tinggi, seperti: Kampung Cibodas (Kec. Lembang Kab. Bandung) yang terletak di lereng Gunung Bukit Tunggul, Kampung Citorek (Kec. Bayah Kab. Lebak-Banten) di daerah pegunungan Kendeng dan Kampung Puncak (Kecamatan dan Kab. Kuningan) di lereng Timur Gunung Ciremai;

 Kampung dataran rendah, yaitu kampung yang terletak di daerah dataran rendah, seperti: Kampung Lohbener (Kec. Lohbener Kab. Indramayu), Kampung Cibuaya (Kab. Karawang) dan Kampung Kasemen (Kab. Serang);

 Kampung pantai, yaitu kampung yang terletak di tepi pantai, di sepanjang pesisir yang mengelilingi wilayah Jawa Barat bagian Utara (Laut Jawa), Barat (Selat Sunda) dan Selatan (Lautan Indonesia), seperti: Kampung Banten (Kec. Kasemen Kab. Serang) dan Kampung Sukalila (Kotamadia Cirebon).

Selanjutnya, berdasarkan mata pencaharian pokok penduduknya, Ekadjati mengelompokkan kampung-kampung di Jawa Barat ke dalam 3 (tiga) bagian, yaitu:  Kampung pertanian, yaitu kampung yang kehidupan utama penduduknya dari

bidang pertanian dengan mengolah tanah. Sebagian besar wilayah Jawa Barat

merupakan kampung pertanian;  Kampung nelayan, yaitu kampung yang kehidupan utama penduduknya dari

hasil penangkapan ikan di laut, karena itu lokasi kampungnya pun berada di

tepi pantai atau sekitar pantai;  Kampung kerajinan, yaitu kampung yang kehidupan utama penduduknya dari

bidang kerajinan tangan atau industri.

Ditinjau dari sudut pengelompokan bangunannya, seperti: rumah tinggal, lumbung padi, tempat menumbuk padi, kandang ternak, bale desa, musholla, bale adat dan

lain-lain, Ekadjati mengelompokkan kampung-kampung di Jawa Barat ke dalam 3 (tiga) macam pola, yakni:  Pola linier, yaitu kampung yang perumahan penduduknya (kampung-

kampungnya) berkelompok memanjang mengikuti alur jalan kampung atau

jalan raya, aliran sungai, jalur lembah atau garis pantai;  Pola radial, yaitu kampung yang perumahan kampung-kampungnya

berkelompok pada persimpangan jalan, biasanya perempatan jalan (simpang

empat);  Pola di sekitar alun-alun atau lapangan terbuka, yaitu kampung yang

permukiman penduduk dan bangunan perlengkapan kampungnya (bale kampung, mesjid, sekolah) berkelompok di sekeliling alun-alun atau lapangan terbuka. Pola kampung ini dipandang sebagai imitasi dan miniatur dari pola kota kabupaten atau kota kecamatan.

Lingkungan alam dalam arsitektur Kampung Sunda diraih atau diselaraskan secara akrab oleh bangunannya, artinya kampung serta massa bangunan yang ada di dalamnya dapat didirikan dengan memanfaatkan alam tanpa harus merusak alam sekitar. Berkaitan dengan hal tersebut, Nix dalam Danumihardja (1987) membaginya ke dalam tujuh jenis: kampung galudra ngupuk, pancuran emas, satria lalaku, kancah nangkub, gajah palisungan, bulan purnama dan gajah katunan. Galudra ngupuk yaitu kampung yang letaknya di antara dua bukit atau gunung. Pancuran emas yaitu kampung yang posisinya tepat di lereng bukit atau gunung yang menurun dan menghadap ke arah barat daya. Satria lalaku adalah jenis kampung yang berada di lereng bukit atau gunung yang menurun serta menghadap ke arah tenggara. Kancah nangkub yaitu kampung yang letaknya tepat di puncak bukit. Gajah palisungan merupakan jenis kampung yang berada di puncak bukit dalam kondisi tanah yang datar. Bulan purnama yaitu kampung yang posisinya berada di lembah sungai. Gajah katunan merupakan kampung yang letaknya di dataran rendah, di kelilingi bukit atau pasir.

Bentuk dan Organisasi Rumah Sunda

Bentuk rumah Masyarakat Sunda pada umumnya adalah panggung. Panggung yaitu rumah berkolong dengan menggunakan pondasi umpak. Tinggi umpak dari permukaan tanah  40-60 cm. Kolong di bawah lantai rumah dipakai untuk berbagai keperluan seperti menyimpan kayu bakar, gudang bahan bangunan, kandang ayam, itik dan lain-lain (Garna, 1984). Menurut Adimihardja (1981), panggung merupakan bentuk bangunan yang paling penting bagi Masyarakat Sunda, dengan suhunan panjang dan tambahan teritis pada bagian depan dan belakang serta suhunan jure, bentuk atap perisai yang memanjang. Kedua bentuk atap tersebut merupakan bentuk atap bangunan yang lazim dikenal di kalangan penduduk di Pedesaan Jawa Barat. Teknologi panggung pada bangunan rumah ini dimungkinkan untuk memberikan kehangatan pada penghuninya. Bagian kolong dari panggung tersebut biasa digunakan untuk menyimpan alat-alat pertanian atau kayu bakar. Bentuk panggung yang mendominasi sistem bangunan di Tatar Sunda mempunyai fungsi teknik dan simbolik. Secara teknik rumah panggung memiliki 3 (tiga) fungsi:

 Tidak mengganggu bidang resapan air;  Kolong sebagai media pengkondisian ruang dengan mengalirnya udara secara

silang baik untuk kehangatan (di malam hari) atau kesejukan (di siang hari);  Dari fungsi, kolong juga dipakai untuk menyimpan persediaan kayu bakar dan

lain sebagainya.

Fungsi secara simbolik didasarkan pada kepercayaan bahwa dunia terbagi tiga: dunia bawah, tengah dan atas. Dunia tengah merupakan pusat alam semesta dan manusia menempatkan diri sebagai pusat alam semesta, karena itulah tempat tinggal manusia harus terletak di tengah-tengah, tidak ke dunia bawah (bumi) dan atas (langit). Dengan demikian, rumah tersebut harus memakai tiang yang berfungsi sebagai pemisah rumah secara keseluruhan dengan dunia bawah dan atas. Tiang rumah juga tidak boleh terletak langsung di atas tanah, oleh karena itu harus diberi alas yang berfungsi memisahkannya dari tanah, yaitu berupa batu yang disebut umpak atau tatapakan.

Organisasi ruang Rumah Sunda menurut Garna (1984), berdasarkan fungsinya dibedakan ke dalam 3 (tiga) jenis: untuk wanita (belakang dan dalam), laki-laki (depan dan samping) dan ruang di antara keduanya (tengah), sedangkan berdasarkan tata letak ruangnya dibagi ke dalam 3 (tiga) bagian: depan, tengah dan belakang. Depan umumnya terdiri dari tepas (serambi, emper hareup) berupa sosompong yang dicapai melalui golodog, di depannya disediakan tempat duduk sementara berupa amben, bangku panjang (dipan) disediakan bagi tamu yang menginap. Berkaitan dengan depan, Wessing (1978) menjelaskannya sebagai daerah laki-laki. Menurutnya, laki-laki bersifat di luar, terlibat politik dan hubungan eksternal, demikian juga ruang tempat kerja laki-laki bersifat di luar.

Tengah (tengah imah) umumnya terdiri dari: ruang keluarga, tamu dan kamar tidur untuk anak. Ruang tersebut terbuka bagi laki-laki dan perempuan, mereka dapat berkumpul bersama keluarga, bahkan dengan tamu. Ruang tamu dan keluarga biasanya disatukan, sedangkan menurut Wessing (1978), kamar tidur dan ruang-ruang yang ada di tengah rumah bersifat netral. Ruang tersebut juga berfungsi bagi pelaksanaan berbagai upacara adat (hajat), bersifat umum dan terbuka untuk semua anggota keluarga dan orang lain.

Belakang rumah merupakan daerah pawon (dapur), terdiri dari: goah, padaringan dan hawu. Pawon atau dapur terletak pada salah satu sudut ruang bagian belakang rumah. Pawon dan goah sering digunakan sebagai tempat makan keluarga. Berdasarkan fungsinya, goah merupakan tempat menyimpan bahan mentah makanan dan sajen. Padaringan adalah ruang penyimpanan beras atau padi, sedangkan hawu merupakan tungku api untuk keperluan memasak. Sumur, kolam ikan dan kebun berukuran kecil terdapat di belakang rumah. Sumur dan kolam ikan sangat penting karena ada hubungannya dengan air dan dunia bawah, terutama berkaitan dengan Nyi Sri Pohaci dan kewanitaan. Berkaitan dengan belakang, Wessing (1978) menjelaskannya sebagai daerah perempuan. Goah dan padaringan khusus untuk perempuan, bahkan menurut adat kebiasaan ruang ini merupakan bagian dalam rumah yang terlarang bagi kaum pria.

DESKRIPSI DAN PEMBAHASAN Pola Kampung Warga Kasepuhan Ciptarasa dan Ciptagelar Batas Kampung Kedua warga kampung menyebut batas dengan istilah yang sama, yaitu wates atau hahalang, terdiri dari dua jenis: nu kadeuleu dan nu teu kadeuleu atau nu karampa dan nu teu karampa dengan pengertian dan tujuan yang sama. Kampung Kasepuhan Ciptarasa dan Ciptagelar sama-sama dibatasi oleh sungai, hutan, sawah, kebun, bukit, talun, pagar bambu dan balong. Batas-batas tersebut ada yang mengelilingi dan tersebar di sekitar kampungnya. Batas fisik pada kedua kampung berasal dari lingkungan sekitar sebagai bentukan alam.

Kedua kampung memiliki batas non fisik, yaitu: nu teu kadeuleu atau nu teu karampa, yang berhubungan dengan kepercayaan warga terhadap hal-hal yang tidak kasat mata. Batas non fisik sulit untuk dibuktikan, karena berkaitan dengan keyakinan warga, tetapi dapat dirasakan seperti: takut, angker, menyeramkan dan lain-lain. Warga Ciptarasa dan Ciptagelar memiliki pandangan kosmik yang sama tentang hal-hal yang tidak kasat mata. Mereka percaya, di sekitar kampungnya terdapat kekuatan jahat yang berasal dari roh-roh halus. Roh-roh halus atau makhluk halus tersebut merupakan jenis roh jahat, karena suka mengganggu manusia, terutama gadis, anak-anak dan perempuan hamil. Makhluk-makhluk halus oleh orang Sunda dikenal dengan sebutan dedemit, jurig, ririwa, kuntilnak, kelong wewe dan lain-lain. Tempat-tempat yang jarang atau tidak pernah dimasuki oleh manusia dipercaya memiliki kekuatan jahat, seperti leuweung tutupan, makam dan pohon besar.

Kepercayaan warga terhadap roh-roh halus, secara tidak langsung menjadi batas kampung dan merupakan bukti pengakuan mereka akan eksistensi serta hubungan erat antara yang kasat mata dengan yang tidak kasat mata. Hubungan tersebut terlihat pada pelaksanaan berbagai upacara ritual dan pemberian sajen dengan tujuan untuk menghormati atau mengharap berkah. Hal tersebut merupakan ciri masyarakat tradisional yang masih mempercayai larangan, seperti adanya makhluk-makhluk atau wujud-wujud yang sakral, bersifat gaib, tidak dapat dibuktikan secara eksperimental tentang keberadaannya, karena bagi yang tidak tahu dan tidak percaya menganggap hal itu tidak ada. Namun bagi yang mempercayainya perasaan kagum dan tunduk pada objek-objek yang disakralkan tetap menjadi landasan hubungan dengan yang disakralkan.

Fasilitas Kampung

Warga Ciptarasa dan Ciptagelar menyebut fasilitas dengan istilah wadah atau alas, terdiri dari: keur batur atau keur semah, keur sorangan atau keur nu boga imah dan keur babarengan atau keur balarea dengan definisi, fungsi dan makna yang sama. Berdasarkan fungsinya, Kampung Ciptarasa dan Ciptagelar sama- sama memiliki fasilitas berupa wadah keur batur, wadah keur sorangan dan wadah keur balarea. Wadah keur batur atau alas keur semah merupakan fasilitas untuk orang lain, wadah keur sorangan atau alas keur nu boga imah adalah fasilitas untuk pribadi, sedangkan wadah keur babarengan atau alas keur balarea yaitu fasilitas untuk bersama.

Massa bangunan yang berada pada ketiga fasilitas kampung tersebut dapat bersifat publik, semi publik, servis dan privat. Publik, semi publik dan privat berfungsi untuk melayani kebutuhan primer bagi penghuni dan tamu, seperti tidur, makan, upacara ritual, musyawarah adat dan lain sebagainya. Servis untuk memenuhi kebutuhan sekunder, misalnya menyimpan padi, menumbuk padi, beternak, berkebun dan lain-lain. Bangunannya terdiri dari bumi ageung, imah, leuit, saung lisung, kandang, tajug dan lain-lain. Bangunan-bangunan tersebut juga dapat ditemukan pada kampung adat sejenis lainnya, baik di Jawa Barat maupun Banten.

Warga Ciptarasa dan Ciptagelar memiliki pandangan yang sama, bahwa dunia atau alam semesta merupakan fasilitas untuk menampung aktivitas dan melayani kebutuhan hidupnya. Alam beserta segala isinya menjadi sarana dan bekal untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Bagi warga, alam merupakan sumber kehidupan; merusak alam, sama artinya membunuh diri sendiri, karena hampir separuh hidupnya bergantung pada alam.

Tata Ruang Kampung

Warga menyebut tata ruang dengan istilah paranti tempat atau umpluk wangunan dengan pengertian yang sama, baik di Ciptarasa maupun di Ciptagelar. Tata ruang dibuat untuk mengatur atau mengelompokkan massa bangunan (fungsi), misalnya rumah dan kandang, massa bangunan adat dan non adat, pribadi dan komunal, sehingga tidak campur aduk. Tata ruang yang tertib secara tidak langsung mencerminkan penghuninya yang terbiasa hidup tertib.

Kedua kampung sama-sama memiliki tata ruang paranti tempat beresih atau umpluk wangunan beresih serta paranti tempat kokotor atau umpluk wangunan kokotor dengan definisi dan fungsi yang sama. Dalam pengaturannya, tata ruang atau zoning bersih menempati bagian depan dari pola kampung, sedangkan zoning kotor berada pada bagian belakangnya. Tata ruang yang berada pada bagian depan (lapis kesatu) berfungsi untuk melayani kebutuhan primer bagi penghuni dan tamu, sedangkan yang menempati bagian belakang (lapis kedua) untuk melayani kebutuhan sekunder.

Pada tata ruang Kampung Ciptarasa dan Ciptagelar, rumah tinggal sesepuh girang sama-sama berada pada daerah yang lebih tinggi, sedangkan rumah tinggal warganya menempati daerah yang lebih rendah. Bumi ageung di Ciptarasa dan Ciptagelar sama-sama menghadap ke selatan, sedangkan rumah serta massa bangunan yang berada di sekitarnya berorientasi ke bumi ageung sebagai pusatnya. Selatan dan bumi ageung memiliki makna simbolik sesuai dengan kepercayaan warga kasepuhan, demikian juga arah timur dan barat. Perletakan massa bangunan pada tata ruang bumi ageung dan bumi warga, sama-sama berorientasi kepada bumi ageung yang berada pada sumbu utara-selatan. Berdasarkan perletakan tersebut, maka kedua kampung memiliki pola yang memusat.

Ragam Hias Kampung

Berdasarkan proses pembuatannya, terdapat ragam hias yang sama, baik di Ciptarasa maupun di Ciptagelar, yaitu ragam hias nu di jieun dan nu ti alam. Nu di jieun atau jieunan leungeun merupakan ragam hias yang dibuat oleh warga, sedangkan nu ti alam atau jieunan alam adalah ragam hias sebagai hasil bentukan alam (alami). Ragam hias buatan berhubungan dengan adat, contohnya lawang saketeng, sedangkan ragam hias alami tidak berhubungan dengan adat, seperti: saung paniisan, sampalan dan gawir.

Pada ragam hias lawang saketeng, Kampung Ciptarasa dan Ciptagelar sama-sama memiliki tiga buah lawang, letaknya di depan, tengah dan belakang dengan definisi, fungsi dan makna simbolik yang sama. Ragam hias saung paniisan, sampalan dan gawir tidak memiliki makna simbolik, bukan untuk kepentingan adat, tetapi lebih kepada fungsinya. Secara umum, ketiga ragam hias tersebut memiliki bentuk, definisi dan fungsi yang sama, baik di Ciptarasa maupun di Ciptagelar.

Pola Rumah Tinggal Warga Kasepuhan Ciptarasa dan Ciptagelar Bentuk dan Organisasi Ruang Bentuk rumah kedua warga kampung adalah panggung, sesuai aturan leluhurnya. Panggung menjadi ciri khas rumah masyarakat Sunda pada umumnya, yaitu rumah berkolong dengan menggunakan pondasi umpak. Rumah panggung terdiri dari tiga bagian: suku merupakan bagian paling bawah menyimbolkan kematian (dunia bawah); awak adalah bagian tubuh atau tengah-tengah sebagai simbol kehidupan (dunia tengah); sedangkan hulu melambangkan hubungan manusa ka Gustina, artinya hubungan vertikal manusia kepada Tuhan (dunia atas). Dunia tengah merupakan pusat alam semesta dan manusia menempatkan diri sebagai pusatnya, karena itulah tempat tinggal manusia harus terletak di tengah-tengah, tidak ke dunia bawah (bumi) dan dunia atas (langit). Dengan demikian, rumah harus memakai tiang yang di beri alas di bawahnya berupa batu umpak, sehingga lantai rumah tidak menempel langsung pada tanah.

Denah rumah Warga Ciptarasa dan Ciptagelar memiliki bentuk dasar kotak. Organisasi ruangnya sama-sama terdiri dari tiga bagian: tepas atau hareup imah, tengah imah dan pawon atau tukang imah dengan definisi dan makna simbolik yang sama. Tepas imah atau bagian depan berfungsi bagi aktivitas laki-laki (keur lalaki), tengah imah atau bagian tengah merupakan daerah umum bagi laki-laki dan perempuan (keur umpi), sedangkan pawon atau bagian belakang berfungsi bagi kegiatan perempuan (keur istri). Di samping itu, bagian depan (tepas) merupakan daerah laki-laki, bersifat di luar, terlibat politik dan hubungan eksternal, demikian juga tempat kerjanya bersifat di luar. Tengah rumah bersifat netral bagi semua anggota keluarga dan orang lain, sedangkan belakang rumah adalah daerah perempuan, terutama goah dan padaringan khusus untuk perempuan, bahkan menurut kebiasaan ruang ini merupakan bagian dalam rumah yang terlarang bagi kaum pria, karena dilarang oleh adat.

Komponen dan Bahan Bangunan

Pada lelemahan, Warga Ciptarasa dan Ciptagelar sama-sama menggunakan pondasi umpak atau tatapakan jenis bulat dengan teknik pemasangan di kubur sebagian di dalam tanah, sedangkan bahannya terbuat dari batu kali. Pada dinding, kedua warga kampung menggunakan bilik, triplek dan papan, sedangkan lantainya dari talupuh, papan serta bilik. Bahan yang digunakan pada dinding dan lantai berasal dari bambu dan kayu. Penyelesaian pada dinding terlihat sederhana, yaitu dengan cara ditutup pakai kertas semen, koran atau di cat kapur, sedangkan pada lantai dibiarkan polos sesuai aslinya.

Atap rumah di Ciptarasa dan Ciptagelar sama-sama menggunakan jenis kandang dan sontog, dengan pengertian serta bentuk yang sama, sedangkan bahan penutupnya dari injuk (ijuk) dan hateup (rumbia). Pada kedua kampung tidak ditemukan atap dari genteng, karena dilarang adat. Larangan tersebut berdasarkan pada pandangan kosmik warganya tentang makna simbolik tanah. Warga percaya, menggunakan atap dari genteng sama artinya mengubur diri hidup-hidup. Hal ini dapat dijumpai pada rumah Baduy, mereka tabu menggunakan genteng karena dianggap identik dengan mengubur diri hidup-hidup dan dipandang menentang kodrat, sebab hanya orang mati yang harus dikubur di dalam tanah.

Pada struktur handap (bawah), rumah disusun berdasarkan lelemahan dan umpak, sedangkan pada struktur luhur (atas), disusun berdasarkan lantai, dinding dan atap. Pada bagian atap, warga sama-sama menggunakan struktur kuda-kuda segi tiga dari bambu dan kayu. Konstruksi sambungan kayu-bambu pada dinding, lantai, atap dan langit-langit menggunakan teknik sambungan bibir miring-berkait, bibir lurus-berkait, pen-lubang dan diperkuat dengan paku, pasak, ikatan tali atau ijuk sesuai kebiasaan mereka. Pada rumah di Ciptarasa dan Ciptagelar tidak ditemukan letak pintu depan segaris lurus dengan pintu belakang. Hal tersebut didasarkan pada pandangan kosmik warganya tentang lalu lintas rejeki dan keberuntungan. Bentuk pintu dan jendela di tepas, tengah maupun pawon imah sama-sama menggunakan jenis panel dan jalosi dengan pengertian serta bentuk yang sama.

Aturan Membangun

Warga Ciptarasa dan Ciptagelar memiliki tata cara yang sama dalam mendirikan rumah, mulai dari: ancer-ancer, badami, nyekar, nyuhunkeun tumbal ngala bahan, natahan, ngalelemah, ngaranjingkeun umpak, ngarancak, sakatimang hingga ngadegkeun imah. Upacara ritual yang mengiringinya terdiri dari: upacara nyekar, ngalelemah dan natahan (sebelum membangun), ngadegkeun suhunan dan parawanten (selama membangun), salametan dan ngaruwat imah (sesudah selesai membangun). Upacara-upacara tersebut bertujuan untuk meminta perlindungan kepada Tuhan dan restu dari leluhur agar pekerja dan calon penghuni diberikan keselamatan serta rumah yang akan diisi mendapat berkah.

Setelah selesai mendirikan rumah, warga di Ciptarasa dan Ciptagelar sama-sama dilarang melakukan perjalanan jauh ke kota atau keluar dari wilayah kampungnya dengan tujuan apapun, karena pamali (dilarang adat). Larangan tersebut terhitung

sejak rumah diisi selama empat puluh hari, apabila dilanggar akan mendapat kesulitan dalam mencari rejeki, kecelakaan, merugi dan lain sebagainya.

Ragam Hias

Warga Ciptarasa dan Ciptagelar mengenal ragam hias buatan yang dibagi ke dalam dua jenis: keur adat dan lain keur adat atau keur tatali paranti dan lain keur tatali paranti dengan pengertian yang sama. Ragam hias adat memiliki aturan tersendiri, sedangkan non adat tidak. Kedua jenis ragam hias tersebut digunakan sejak kasepuhan berdiri dan diperoleh secara turun temurun dari leluhurnya. Ragam hias adat berupa cabik dengan bentuk setengah lingkaran, lingkaran dan segi tiga. Ragam hias cabik lingkaran sama-sama memiliki simbol kebulatan niat dan tekad. Pada rumah Baduy, cabik lingkaran berhubungan dengan kepercayaan sebagai lambang lingkaran hidup. Di samping itu, bentuk lingkaran juga merupakan simbol bahwa langit dan bumi serta isinya merupakan kesatuan alam jagad raya. Pada pintu, jendela dan pagar teras, mereka membuat kupatan (ragam hias adat) dengan bentuk menyilang sebagai simbol penolak bala. Pada rumah Baduy, bentuk menyilang pada kusen pintu rumah merupakan simbol keselamatan dan rejeki. Sasag dan golodog termasuk ragam hias non adat yang tidak memiliki makna simbolik, tetapi lebih sebagai fungsi semata.

KESIMPULAN DAN REKOMENDASI Kesimpulan  Kepercayaan warga kasepuhan terhadap batas nu teu ka deuleu atau nu teu

karampa pada kampung dan rumah merupakan bukti adanya kesamaan pandangan kosmologis Warga Ciptarasa dan Ciptagelar. Hal tersebut secara tidak langsung juga sebagai bukti pengakuan terhadap hal-hal yang tidak kasat mata (sakral), sehingga memunculkan perasaan kagum dan tunduk pada objek-objek yang disakralkan dan menjadi landasan hubungan yang kuat dengan yang disakralkan.

 Klasifikasi pembagian jenis imah, kandang, fasilitas keur batur, sorangan, babarengan serta pengelompokan tata ruang daerah bumi ageung, warga, beresih dan kokotor merupakan cara Warga Ciptarasa dan Ciptagelar mengatur massa bangunan pada pola kampung. Tata ruang daerah bumi ageung (girang) didasarkan pada kedudukan seseorang sebagai pimpinan adat, sedangkan daerah bumi warga (hilir) merupakan tempat tinggal pengikut setianya.

 Bentuk panggung, pembagian komponen lelemahan, pangadeg dan suhunan simbol suku, awak, hulu serta pemahaman makna tangtungan jelema pada rumah merupakan bentuk kesetiaan Warga Ciptarasa dan Ciptagelar kepada leluhurnya.

 Pandangan kosmologis Warga Ciptarasa dan Ciptagelar terhadap tatali paranti karuhun semakin jelas pada orientasi utara-selatan, sesuai pemahaman warga terhadap makna simboliknya. Rumah serta fasilitas lain harus menghadap bumi ageung atau disesuaikan dengan kontur tanah dan tidak boleh ngalangkangan kepada bumi ageung. Di samping itu, pelaksanaan berbagai upacara pada proses mendirikan kampung dan rumah, baik sebelum, selama maupun sesudah serta ritual adat lainnya merupakan wujud syukur kepada Sang Murbehing Alam sekaligus sebagai ’persembahan’ kepada para leluhur.

REKOMENDASI

 Hubungan tipologik arsitektur antara kampung/rumah kasepuhan dengan kampung/rumah Baduy, Naga atau Dukuh, bahkan dengan kampung adat di luar Jawa Barat untuk melihat keterkaitan fisik arsitektur dan hubungan kekerabatan di antara komunitasnya.

 Peristiwa hijrah wangsit pimpinan adat, untuk mengetahui sejauh mana pengaruhnya terhadap perubahan pola rumah pada kampung, bahkan pola kampung pada alam berikut penelusuran secara mendalam mengenai pandangan kosmologis warganya.

 Keberadaan Kasepuhan Ciptarasa dan Ciptagelar, terutama upacara adat seren taun, ngaruwat bumi serta ritual adat berkala lainnya, hendaknya dijadikan daya tarik bagi wisatawan, baik domestik maupun manca negara untuk meningkatkan pendapatan daerah.

 Para perancang bangunan dan kota, arsitektur kampung dan rumah kedua kasepuhan tersebut dapat dijadikan sumber inspirasi bagi konsep disain. terutama yang bernuansakan arsitektur tradisional Sunda, seperti bentuk kampung galudra ngupuk, satria lalaku, gajah katunan, pancuran emas, pola bengkung ngariung bongkok ngaronyok, panggung, ngupuk, julang ngapak dan lain sebagainya.

 Para pendidik dibidang arsitektur, adanya jenis kampung sa adat saparipolah, saadat teu saparipolah dan teu saadat teu saparipolah di kalangan komunitas Kasepuhan Kesatuan Adat Banten Kidul dapat dijadikan sebagai bahan rujukan bagi pengetahuan tentang jenis-jenis kampung yang taat adat (sakral) dan yang tidak taat adat (profan).

*) Dadang Ahdiat, Drs., M.S.A., adalah staff pengajar tetap pada Program Studi Arsitektur Jurusan Pendidikan Teknik Arsitektur FPTK Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) sejak tahun 1976. Pendidikan Sarjana diselesaikan di FKIT IKIP Bandung Jurusan Arsitektur tahun 1975. Pendidikan Magister Arsitekturnya ditempuh di FTSP ITB pada Jurusan Teknik Arsitektur tahun 1984. Di luar aktifitasnya sebagai staff pengajar, penulis juga aktif menulis danmelakukan penelitian dengan fokus rancang kota, serta sebagai arsitek pada beberapa konsultan arsitektur di Kota Bandung.

**) Nuryanto, S.Pd., M.T., adalah dosen tetap pada Jurusan Arsitektur FPTK Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). Menyelesaikan studi Sarjana (S1) pada Program Studi Teknik Arsitektur FPTK UPI tahun 2002. Pendidikan Magisternya (S2) diselesaikan di ITB pada Jurusan/Program Studi Teknik Arsitektur konsentrasi Sejarah Teori dan Kritik Arsitektur SAPPK Sekolah Pasca Sarjana Institut Teknologi Bandung (ITB) tahun 2006. Sejak mahasiswa tingkat III telah aktif menjadi asisten dosen luar biasa pada Jurusan Arsitektur FPTK UPI. Di luar aktifitas mengajar, penulis juga aktif menulis artikel serta melakukan berbagai kegiatan penelitian dengan konsentrasi Arsitektur Vernakular Sunda yang dipublikasikan melalui media cetak/jurnal arsitektur di dalam dan luar kampus. Saat ini menjadi Koordinator Matakuliah Arsitektur Vernakular KBK-STA pada Jurusan Arsitektur FPTK UPI dan anggota peneliti muda pada KK-STK Jurusan Arsitektur-SAPPK-Institut Teknologi Bandung (ITB) konsentrasi Arsitektur Vernakular Sunda. Arsitek pada Biro WASTUCITRA STUDIO.

DAFTAR PUSTAKA

Allsop, Bruce (1977): ”A Modern Theory of Architecture”. Rotledge & Kagan Paul, University Press.

Altman, Irwin & Martin Chemers (1980): ”Culture and Environment”. California Wadswoth, Inc.

Adimihardja, Kusnaka (1992): ”Kasepuhan yang Tumbuh di atas yang Luruh”. Penerbit: TARSITO, Bandung.

Adimihardja, Kusnaka (2004): ”Pola Kampung dan Arsitektur Rumah Warga Kasepuhan, Jawa Barat. Artikel dalam warisan budaya tradisional, Bandung.

Doxiadis, C.A. (1968): ”Ekistics: An Introduction to The Science of Human Settlement”. New York: Oxford University Press.

Danumihardja, Sutoyo (1987): ”Model Pengembangan Desa: Sebuah Kajian Sosiologi Arsitektur Perdesaan di Jawa Barat”. Tesis Magister Arsitektur Program Pasca Sarjana-ITB, Bandung.

Ekadjati, Edi. S. (1995): ”Masyarakat dan Kebudayaan Sunda”. Pusat Ilmiah dan Pembangunan Regional-Jawa Barat, Bandung.

Fajria Rif’ati, Heni (2002): ”Kampung Adat dan Rumah Adat di Jawa Barat”. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata-Jawa Barat, Bandung.

Garna, Yudistira (1984): ”Pola Kampung dan Desa, Bentuk serta Organisasi Rumah Masyarakat Sunda”. Pusat Ilmiah dan Pengembangan Regional (PIPR) Jawa Barat, Bandung.

Habraken, N. John (1978): ”General Principles A Bout the Way Built Environment Exist”. Massachusetts.

Hatmoko, Adi Utomo & Imam Djokomono (1999): ”Reinterpreting the Vernaculars: Continuity and Change”. Proceedings of International on Vernacular Settlement-Faculty of Engineering University of Indonesia, Jakarta.

Koentjaraningrat (1990): ”Pengantar Ilmu Antropologi”. Penerbit: Rineka Cipta, Jakarta.

Lubis, Nina (2003): ”Sejarah Tatar Sunda”. Edisi Pertama. Lembaga Pengabdian pada Masyarakat (LPM) UNPAD, Bandung.

Muanas, Dasum (1983): “Arsitektur Tradisional Daerah Jawa Barat. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Barat, Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah, Bandung.

Nuryanto, (2004), Perubahan Bentuk Atap Rumah Tinggal dari Kampung Kasepuhan Ciptarasa ke Ciptagelar-Kab. Sukabumi Selatan, Jawa Barat. Laporan Makalah Tugas Perancangan Riset III Program Magister Teknik Arsitektur, Program Pasca Sarjana-Institut Teknologi Bandung (ITB).

Nuryanto, (2006), Kontinuitas dan Perubahan Pola Kampung dan Rumah Tinggal dari Kasepuhan Ciptarasa ke Ciptagelar-Kab. Sukabumi Selatan Jawa Barat. Tesis Magister Teknik Arsitektur, Program Pasca Sarjana-Institut Teknologi Bandung (ITB).

Pribadi, Joedono (1978): ”Perencanaan Desa”. Direktorat Penyelidikan Masalah Bangunan. Dirjen Cipta Karya Dep. Pekerjaan Umum dan Tenaga Listrik-UDC, Bandung.

Rapoport, Amos (1969): ”House, Form and Culture”. London, Prentice Hall Inc.

Rapoport, Amos (1977): ”Human Aspecs of Urban Form: Towards a Man Environment Approach to Urban Form and Design”. New York, Oxford University Press.

Rapoport, Amos (1989): ”Dwelling Settlement and Tradition”. London, Prentice Hall Inc.

Wessing, Robert (1978): ”Cosmology and Social Behaviour in a West Javanese Settlement”. Ohio University, Center of International Study Southeast Asia Series.

Yoedodibroto, Riyadi (1988): ”Desa Tradisional Kanekes-Banten”. Laporan Kuliah Lapangan Mahasiswa Jurusan Teknik Arsitektur FTSP-ITB, Bandung.

Yoedodibroto, Riyadi (1988): ”Hubungan Tipologik Arsitektur Rumah/Kampung Baduy (Kab. Lebak) dengan Rumah/Kampung Naga (Kab. Tasikmalaya)-Jawa Barat”. Laporan Penelitian Jurusan Teknik Arsitektur-FTSP ITB, Bandung.

Zeisel, John (1981): ”Inquiry by Design, Tools for Environment, Behaviour Research”. California; Cambridge University Press.

SILAKAN BERI KOMENTAR

Temui Kami di Facebook

Statistik

  • 1804Dibaca Hari Ini:
  • 1035Dibaca Kemarin:
  • 13902Dibaca Per Bulan:
  • 346808Total Pengunjung:
  • 1629Pengunjung Hari ini:
  • 13245Kunjungan Per Bulan:
  • 7Pengunjung Online: