Kasim di Istana Kekaisaran China

Kata eunuch (kasim) berasal dari kata Yunani yaitu eune (tempat tidur) dan ekhein (menjaga), atau apabila digabungkan, menjadi penjaga tempat tidur. Mereka dianggap lebih patuh, tidak berbahaya, dan dapat dipercaya.

Bagi orang zaman kuno, pengebirian adalah sebuah mediator untuk melatih pengendalian diri. Para kasim dapat seumur hidup fokus mengabdikan dirinya, atau kadang-kdang ada yang menggunakan posisi mereka untuk memperoleh kekuasaan, ketenaran, dan kekayaan.

Bagi pria kelas tertentu, itu merupakan cara untuk mengelakkan dari paradigma yang ada di antara mereka yang mencari kehidupan seperti itu—secara paksa menghilangkan adanya pergolakan batin yang terus menerus muncul antara keinginan dan tugas, antara dominasi dan pengorbanan.

Memelihara para kasim di dalam istana kekaisaran China adalah sebuah tradisi kuno, dan menurut catatan disebutkan bahwa tradisi memelihara para pelayan yang telah dikebiri telah ada jauh sebelum abad ke-8 S.M.

Selain keluarga kaisar, taijian merupakan kelompok pria satu-satunya yang diperbolehkan memasuki kawasan istana kekaisaran China. Mereka bertugas sebagai penjaga tempat kediaman para selir kaisar, pendamping dari istri raja dan selir-selirnya, dimana kesuciannya harus terjaga dengan baik.

Jika seorang ratu kaisar gagal menghasilkan seorang pewaris takhta, maka anak tertua dari pendamping raja akan meneruskan takhta tersebut. Dengan demikian kehadiran taijian bertujuan ganda: yaitu untuk mengawasi selir-selir kaisar dan para pendampingnya yang seringkali berjumlah ratusan dan untuk menjamin bahwa setiap anak yang dilahirkan di dalam lingkungan kerajaan adalah anak kaisar.

Di dalam tradisi China, seorang kaisar adalah amanat dari Sang Kuasa, yang memberinya hak untuk memerintah dunia dan sebaliknya juga menuntutnya untuk memelihara keseimbangan harmonisasi antara Langit dan Bumi.

Karena dipercaya bahwa amanat yang dikirim oleh Langit ini dapat dicabut jika seorang kaisar memerintah dengan tidak bijaksana dan berperilaku tidak baik, maka kehidupan pribadi dari seorang putra langit sangat dilindungi dari masyarakat biasa agar mereka tidak dapat mengamati kekurangan-kekurangan kaisar mereka.

“Hanya ’kasim yang bersifat kebanci-bancian dan patuh’, yang bagai budak dengan hidup tergantung kepada kaisar yang dianggap cukup bisa ditakut-takuti untuk menjadi saksi bisu atas segala kekurangan dan kelemahan pribadi kaisar,” Mary M. Anderson menulisnya ke dalam buku berjudul Hidden Power: The Palace Eunuchs of Imperial China (Kekuatan Terselubung: Kasim Istana Kekaisaran China).

Seorang kaisar menaruh kepercayaan penuh kepada kasim (taijian) berawal dari pemikiran tradisional penganut Confucius sehubungan dengan kedudukan sebagai ayah. Seorang laki-laki yang dikebiri tidak dapat menghasilkan keturunan, dan taijian dipercaya tidak akan pernah secara aktif mendambakan kekuasaan politik yang akan diteruskan kepada putranya. Oleh karena alasan ini pula sehingga kaisar yang raut wajah santainya dilarang terlihat oleh pria biasa justru mengizinkan taijian memiliki akses tanpa batas untuk memasuki istana kediamannya.

“Seluruh negara besar dan kecil menderita satu kekurangan yang sama, penguasa yang dikelilingi oleh personil yang tidak layak… Siapa yang dapat mengontrol sang penguasa, pertama-tama karena ia telah menemukan semua rahasia ketakutan dan harapan para penguasa itu,” tulis Han Fei Tzu, seorang ahli filosofi China kuno selama periode Negara Saling Berperang dan merupakan seorang pelopor aliran legalisme.

Sesungguhnya, peran unik seorang kasim dalam istana kekaisaran memberikan dia kekuatan yang besar. Seorang kaisar tak perlu merisaukan para kasimnya akan bersaing dan memperebutkan selir-selir dan tempat kediaman selir yang dapat mempengaruhi diposisi kaisar atas pewaris takhtanya—yang dapat mengubah perjalanan sejarah bagi dinastinya.

Seiring waktu berjalan, rasa haus akan kekuatan, kekayaan, dan pengaruh membuat banyak kasim menjadi bejat — dan motivasi mereka menjadi tidak murni lagi — dimana hal ini terjadi terutama pada periode-periode  belakangan selama kekuasaan Dinasti Ming dan Qing.

Banyak keluarga yang memberikan putri-putri mereka untuk menjadi selir/gundik, para ayah memaksa mengebiri putra-putra mereka sebagai sebuah metode agar dapat mengirim mereka masuk ke dalam istana dengan harapan akan mendapatkan pengaruh lebih atas kaisar dan membawa kehormatan bagi keluarga.

SILAKAN BERI KOMENTAR

Temui Kami di Facebook

Statistik

  • 141Dibaca Hari Ini:
  • 1996Dibaca Kemarin:
  • 16074Dibaca Per Bulan:
  • 348808Total Pengunjung:
  • 130Pengunjung Hari ini:
  • 15245Kunjungan Per Bulan:
  • 10Pengunjung Online: