KEANEKARAGAMAN BUDAYA (1)

A. Konsep-konsep dalam Keanekaragaman Budaya

Manusia dan kebudayaan adalah dua hal yang selalu berhubungan. Manusia dengan kemampuan akal dan budinya telah mengembangkan berbagai macam sistem tindakan demi keperluan hidupnya. Berbagai macam sistem tindakan itulah yang akhirnya memunculkan keanekaragaman budaya, dan ini merupakan obyek kajian serta analisa yang penting bagi ahli antropologi khususnya yang mendalami tentang ilmu etnografi.

Di daerah-daerah perbatasan antar negara, antar-suku bangsa, antaretnik, antarras, dan antargeografis adalah tempat hidup dan tumbuh suatu budaya. Disinilah muncul situasi dan kondisi masyarakat yang memiliki keragaman budaya. Penggunaan istilah metaphors (metafora, istilah yang digunakan di AS) untuk menggambarkan kebudayaan campuran (mixed culture) bagi suku bangsa yang berbatasan dengan AS. Namun, kemudian pengertian metafora itu meluas. Di AS sendiri selalu digunakan istilah cultural diversity atau keragaman budaya (Jason Lin, 2001)

Ada beberapa istilah yang berkaitan dengan konsep metafora, yakni: (dalam Liliweri, 2003:16)

1. Metafora Melting Pot

Merupakan konsep tertua dari metafora. Metafora ini mengibaratkan AS sebagai wadah besar tempat peleburan logam, sebuah kontainer yang memiliki temperatur yang sangat tinggi, yang di dalamnya dapat dijadikan tempat untuk memasak daging atau meleburkan logam. Konsep ini menggambarkan situasi awal tatkala para imigran yang berasal dari banyak kebudayaan datang ke AS untuk mencari pekerjaan. Para imigran itu akhirnya berbaur bersama-sama dengan orang-orang dari kebudayaan lain-yang telah tiba lebih dahulu-dalam satu kebudayaan besar sehingga terbentuklah sebuah kebudayaan yang kuat dan perkasa, melebihi kebudayaan mereka. Kenyataan ini memang bukan merupakan suatu masalah karena salah satu sifat kebudayaan adalah berubah. Namun, para pendatang itu masih memelihara keunikan kebudayaannya untuk membedakan keturunan mereka dengan orang lain.

2. Metafora Tributaries

Adalah sebuah metafora yang menggambarkan aliran sungai yang airnya merupakan campuran dari aliran sungai-sungai kecil lain. Aliran sungai itu menuju ke arah yang sama, ke sebuah muara. Konsep ini menggambarkan budaya AS ibarat sebuah muara sungai yang merupakan lintasan dari sejumlah budaya yang terus mengalir. Ibarat aliran sungai, alran itu terus bergerak ke muara, namun sumber-sumber air dari anak sungai itu tidak akan hilang, bahkan tetap dipelihara ekosistemnya.

3. Metafora Tapestry

Adalah dekorasi pakaian yang terbentuk dari helai-helai benang. Konsep ini kemudian diambil untuk menggambarkan kebudayaan AS sebagai kebudayaan dekoratif, jadi kebudayaan AS itu ibarat selembar kain yang dijahit dari helai-helai benang yang beraneka ragam warna.

4. Metafora Garden Salad

Diartikan sebagai sebuah ‘salad’ baru yang dihasilkan dari campuran beragam jenis salad dari pelbagai suku bangsa di AS. Konsep metafora Garden Salad ini menggambarkan bahwa kebudayaan AS itu ibarat mangkuk yang berisi campuran salad, sering juga melukiskan kekuatan budaya AS yang dibentuk oleh campuran pasukan tempur, yang berasal dari pelbagai budaya yang berbeda-beda, dan kemudian dicampur ke dalam sebuah pasukan campuran yang khusus dan elit.

Dalam konteks Indonesia, keberadaan masyarakat pluralistis dengan keragaman kebudayaannya ditanggapi berbeda-beda. Prof. Dr. Harsya Bahtiar mengatakan bahwa harus disadari disamping nation yang besar yaitu nation Indonesia, yang mewadahi kebhinekaan dalam suatu ikatan rasa kebangsaan, terdapat pula nation-nation lama yang lebih kecil dan banyak jumlahnya. Nation-nation yang dimaksud adalah suku bangsa – suku bangsa yang ada di Indonesia. Sementara the founding fathers, mendirikan Indonesia dengan semangat multikulturalisme dan melahirkan konsep Bhineka Tunggal Ika.

Namun demikian tidaklah banyak orang yang mampu menjelaskan dengan baik dimana ke-bhineka-an (keragaman) serta ke-tunggal-an masyarakat dan kebudayaan di Indonesia yang tersebar di Nusantara dari Sabang sampai Merauke.

Seorang guru besar Antropologi Universitas Indonesia, Prof. Dr. S. Budhisantoso mengatakan, sesungguhnya apa yang dibanggakan oleh kebanyakan orang bahwa masyarakat bangsa Indonesia mempunyai aneka ragam kebudayaan memang tidak jauh dari kebenaran. Bangsa Indonesia yang terdiri atas suku-suku bangsa yang besar dan kecil itu masing-masing mengembangkan kebudayaan sebagai perwujudan tanggapan aktif mereka terhadap tantangan yang timbul dalam proses adaptasi di lingkungan masing-masing. Aneka ragam kebudayaan yang berkembang di kepulauan Nusantara itu dihayati oleh para pendukungnya sebagai acuan dalam bersikap dan menentukan tindakan selanjutnya. Kebudayaan suku bangsa itu juga berfungsi sebagai ciri pengenal yang membedakan kelompoknya dari kelompok suku bangsa yang lain (Hidayah, 1996: ix).

Dalam pembahasan tentang keanekaragaman budaya di Indonesia, seorang ahli tentunya tidak terlepas dari pembahasan tentang konsep-konsep suku bangsa, konsep daerah kebudayaan (culture area), dan konsep tentang kebudayaan di Indonesia. Semua konsep itu saling terkait dan merupakan satu kesatuan yang utuh.

Konsep suku bangsa

Kontjaraningrat (1984:264) konsep yang tercakup dalam istilah “suku bangsa” adalah suatu golongan manusia yang terikat oleh kesadaran identitas akan “kesadaran kebudayaan, sedangkan kesadaran dan identitas tadi seringkali (tetapi tidak selalu) dikuatkan juga oleh kesatuan bahasa juga. Dengan demikian “kesatuan kebudayaan” ditentukan oleh warga kebudayaan bersangkutan itu sendiri.

Kesatuan kebudayaan itu muncul karena adanya corak khas dari suatu wujud kebudayaan yang berbentuk khusus. Dikatakan khusus karena adanya unsur-unsur yang berbeda menyolok dengan kebudayaan tetangganya.

Namun dalam kenyataannya, konsep “suku bangsa” lebih kompleks dari pada yang terurai diatas. Ini disebabkan karena dalam kenyataan batas dari kesatuan manusia yang merasakan dan terikat oleh keseragaman itu dapat meluas atau menyempit, tergantung pada keadaan. Misalnya, penduduk pulau Jawa terdiri dari beberapa suku bangsa yang khusus, yang menurut kesadaran orang Jawa itu sendiri terdiri dari: orang Jakarta, orang Banten, orang Badui, orang Sunda, orang Tengger, orang Madura, orang Jawa, dan sebagainya. Kepribadian khas dari tiap suku bangsa tersebut dikuatkan pula oleh bahasa-bahasa khusus, yaitu bahasa Jawa, bahasa Osing, bahasa Sunda dan lain sebagainya. Sedangkan dalam penggolongan politik atau administrative di tingkat nasional, mereka akan merasa sebagai putra Jawa jika mereka sedang berada di luar pulau Jawa.

Konsep daerah kebudayaan

Koentjaraningrat (1984:271) menjelaskan bahwa suatu “daerah kebudayaan” atau “culture area” merupakan suatu penggabungan atau penggolongan (yang dilakukan oleh antropologi) dari suku-suku bangsa yang dalam masing-masing kebudayaannya yang beraneka warna dan mempunyai unsur dan ciri menyolok yang serupa. Ciri-ciri menyolok yang sama dalam suatu jumlah kebudayaan yang menjadi alasan untuk klasifikasi. Biasanya hanya beberapa kebudayaan di pusat dari suatu culture area itu menunjukkan persamaan besar dari unsure-unsur kebudayaan. Semakin menjauh dari pusat makin berkurang pula jumlah unsur-unsur yang sama, dan akhirnya persamaan itu tidak ada lagi, itu berarti sudah masuk ke dalam culture area tetangga. Jadi batas antar culture area tidak pernah jelas. Ciri-ciri yang menjadi alasan untuk klasifikasi itu tidak hanya berwujud unsur kebudayan fisik, seperti misalnya benda-benda budaya melainkan juga unsur-unsur kebudayan yang lebih abstrak, misalnya pada unsur-unsur organisasi kemasyarakatan, sstem perkawinan, upacara-upacara keagamaan, adat istiadat.

Klasifikasi culture area seperti di atas telah menimbulkan kritik di kalangan antropologi sendiri, karena batas-batas culture area masih tidak jelas. Akan tetapi metode klasifikasi ini masih banyak dipergunakan sampai sekarang, karena pembagian ke dalam culture area itu memudahkan gambaran keseluruhan dalam hal menghadapi suatu daerah yang luas dengan beraneka warna kebudayaan di dalamnya.

Koentjaraningrat (1997:2),J.A Clifton di dalam bukunya yang berjudul : “Introduction to Cultural Antropologi (1968:15)” telah memodifikasi daftar susunan kesatuan suku bangsa untuk menentukan suatu pokok etnografi yang telah disusun oleh R. Naroll, yaitu sebagai berikut :

1. Kesatuan masyarakat yang dibatasi oleh satu desa atau lebih dari satu desa;

2. Kesatuan masyarakat yang terdiri dari penduduk yang mengujar satu bahasa atau satu logat bahasa;

3. Kesatuan masyarakat yang dibatasi garis batas daerah politik-administratif;

4. Kesatuan masyarakat yang batasnya ditentukan oleh rasa identitas penduduknya sendiri;

5. Kesatuan masyarakat yang ditentukan oleh suatu wilayah geografi yang merupakan kesatuan daerah fisik;

6. Kesatuan masyarakat yang ditentukan oleh kesatuan ekologi;

7. Kesatuan masyarakat dengan penduduk yang memiliki pengalaman sejarah yang sama;

8. Kesatuan masyarakat dengan frekuensi interaksi yang tinggi;

9. Kesatuan masyarakat dengan susunan sosial yang seragam;

10. Kesatuan berdasarkan kebudayaan suku bangsa.

Klasifikasi dari aneka warna suku bangsa di wilayah Indonesia mula-mula disusun oleh Van Vollenhoven yang membagi wilayah Indonesia ke dalam 19 daerah berdasarkan sistem lingkaran-lingkaran hukum adat, yaitu :

1. Aceh

2. Tanah Gayo – Alas dan Batak serta Nias

3. Minangkabau beserta Mentawai

4. Sumatera Selatan

5. Melayu ( Sumatera Timur, Jambi dan Riau)

6. Bangka dan Belitung

7. Kalimantan

8. Minahasa

9. Gorontalo

10. Toraja

11. Sulawesi Selatan

12. Kepulauan Ternate

13. Maluku dan Ambon

14. Irian

15. Kepulauan Timur

16. Bali dan Lombok (beserta Sumbawa Besar)

17. Jawa Tengah dan Jawa Timur (beserta Madura)

18. Daerah-daerah Swapraja (Surakarta dan Jogjakarta)

19. Jawa Barat.

Konsep kebudayaan

Kata kebudayaan berasal dari bahasa Sansekerta buddhayah, yaitu bentuk jamak dari kata buddhi (budi atau akal). Adakalanya juga ditafsirkan bahwa kata budaya merupakan perkembangan dari kata majemuk budi-daya yang berarti daya dari budi, yaitu berupa cipta, karsa dan rasa. Sedangkan kebudayaan adalah hasil dari cipta, karsa dan rasa. Dalam istilah antropologi budaya perbedaan itu ditiadakan. Kata “kebudayaan” dengan arti yang sama. Lebih lanjut Koentjaraningrat (1984:180-181) sendiri mendefinisikan kebudayaan merupakan keseluruhan sistem gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri dengan belajar.

Selanjutnya J.J. Honigman (1954) membedakan ada fenomena kebudayaan atau wujud kebudayaan, yaitu: sitem budaya (sistem nilai, gagasan-gagasan dan norma-norma), sistem sosial (kompleks aktifitas dan tindakan berpola dari manusia dalam masyarakat), dan artefak atau kebudayaan fisik. C.Kluckhohn juga mengatakan bahwa dalam setiap kebudayaan mahluk manusia juga terdapat unsur-unsur kebudayaan yang sifatnya universal, meliputi: sistem organisasi sosial, sistem mata pencaharian hidup, sistem tehnologi, sistem pengetahuan, kesenian, bahasa dan religi (Hari Poerwanto, 2000:53).

R. Lipton memerinci tiap unsur kebudayan universal tersebut di atas ke dalam unsur-unsur yang lebih kecil lagi sampai beberapa kali kecuali wujud fisik kebudayaan. Sebagai contoh dari pemerincian itu adalah sebagai berikut : Organisasi social sebagai salah satu unsur universal, mempunyai unsur besar, yaitu ada adat istiadatnya, aktifitasnya dan peralatan fisiknya diperinci lagi dalam sub unsur yang lebih kecil lagi yaitu sistem kekerabatan, sistem pelapisan sosial, sistem politik dan seterusnya. Selanjutnya dari salah satu sub unsur itu yaitu kekerabatan dapat diperinci lagi dalam perkawinan, kematian dan sebagainya. Dari perkawinan dapat diperinci lagi dalam bentuk tindakan lamaran, perayaan, mas kawin, adat menetap dan sebagainya. Setiap sub unsur sudah tentu mempunyai peralatannya sendiri, yang secara konkrit terdiri dari benda-benda budaya.

Dari uraian singkat tentang ke-tiga konsep tersebut di atas, maka alangkah banyaknya keanekaragaman budaya yang ada di Indonesia untuk bisa dianalisa dan diungkapkan.

B. Pengaruh Budaya asing terhadap Keanekaragaman Budaya di Indonesia

Tidak ada satu pun kebudayaan suatu bangsa dapat hidup sendiri, tanpa adanya suatu hubungan dengan kebudayaan bangsa lain di dunia. Setiap kebudayaan dan bangsa itu akan selalu dihadapkan pada pengaruh aneka ragam pemikiran dan pendekatan yang pada akhirnya berpengaruh pula pada nilai-nilai hakikat yang dianut oleh kebudayaan masyarakat suku bangsa di dunia.

Bagi Indonesia, pengaruh budaya luar (budaya asing) sudah terjadi sejak jaman dahulu. Keaneka ragaman budaya di Indonesia juga diperkaya dengan kehadiran pendukung kebudayaan dari bangsa-bangsa lain, yaitu sejak berabad-abad yang lalu, karena penjajahan, hubungan perdagangan, penyebaran agama dan sebagainya. Keanekaragaman corak budaya yang paling muda dilihat adalah pengaruh kebudayaan Hindu, pengaruh kebudayaan Islam dan pengaruh kebudayaan Eropa. Sekilas tentang pengaruh tersebut, Koentjaraningrat (2002: 21-34) menjelaskan sebagai berikut:

1. Pengaruh Kebudayaan Hindu

Seperti apa yang telah kita ketahui semua, tanda-tanda tertua dan adanya pengaruh kebudayaan Hindu di Indonesia adalah batu-batu bertulis di Jawa Barat atau di daerah sungai Cisadane dekat kota Bogor. Batu-batu bertulis juga ditemukan di Kalimantan Timur, yaitu di daerah Muara karam, Kutai. Bentuk dan gaya huruf dari tulisan pada batu yang disebut huruf Palawa, raja-raja pada jaman itu (4 Masehi) mengadopsi konsep-konsep Hindu dengan cara mengundang ahli-ahli dan orang pandai dari golongan Brahmana (Pendeta) di India Selatan yang beragama Wisnu atau Brahma. Orang-orang pandai tadi tempat konsultasi dan meminta nasehat mengenai struktur dan upacara keagamaan juga bentuk organisasi di negara di India Selatan. Pengaruh Hindu dan kesusasteraan Hindu juga masuk dalam kebudayaan Indonesia.

2. Pengaruh Kebudayaan Islam

Sejajar dengan naiknya kekuasaan negara-negara di Jawa Timur, pada saat kekuasaan sriwijaya mundur, kira-ira abad ke-13, perdagangan di Nusantara bagian Barat dikuasahi oleh pedagang-pedagang dari Parsi dan Gujarat yang waktu itu sudah memeluk agama Islam. Gelombang pengaruh pertama dari ajaran Islam di sana waktu itu mengandung banyak unsur-unsur mistik (suatu gerakan kebathinan dalam agama, dimana manusia itu mencoba kesatuan total dengan Tuhan, dengan bermacam-macam cara, berikut yang bersifat samadi dan pemusatan pikiran maupun yang bersifat ilmu gaib dan ilmu sihir). Agama Islam yang seperti itu juga dalam folklore orang Jawa ada sebutan “Wali” dan didalam kepercayaan rakyat dianggap sebagai orang keramat.

Gelombang pengaruh agama Islam ke dua adalah pada saat orang Indonesia sudah mengunjungi Mekkah dan Madinah serta kembali dari naik haji.

Aceh, Banten, pantai utara Jawa dan Sulawesi Selatan juga Sumatera Barat, dan pantai kalimantan merupakan daerah yang belum terpengaruh ajaran Hindu. Sementara di Jawa Tengah dan di Jawa Timur merupakan daerah di mana pengaruh kebudayaan Hindu itu kuat dan telah mengembangkan suatu corak tersendiri, agama Islam diubah menjadi suatu agama yang kita kenal dengan agama Jawa atau kejawen.

3. Pengaruh Kebudayaan Eropa

Kekuasaan pemerintah kolonial di Indonesia di Indonesia juga ikut mengembangkan pengaruh bagi kebudayaan Indonesia, antara lain adanya mentalitas priyayi, pengaruh ilmu pengetahuan dan teknologi serta agama Katolik dan agama Kristen Protestan pada daerah-daerahndengan penduduk yang belum pernah mengalami pengaruh Hindu dan Budha, atau yang belum memeluk agama Islam, misalnya di sebagian besar wilayah Papua, Maluku Tengah dan Selatan, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, NTT dan pedalaman Kalimantan.

Pengaruh budaya luar terhadap kebudayaan Indonesia selain dapat membawa dampak yang positip dapat pula membawa pengaruh negatif. Pengaruh unsur budaya luar mau tidak mau harus diterima sebagai fenomena baru bagi kekayaan bangsa kita. Pada dasarnya di era globalisasi diharapkan tidak menutup diri dari masuknya berbagai unsur budaya luar, karena sama halnya dengan menutup diri dari masuknya unsur budaya luar. Namun dalam penerimaan budaya luar tersebut hendaknya harus cukup selektif. Selektif di sini dimaksudkan adalah budaya luar yang memiliki pengaruh negatif tidak perlu diikuti atau didukung. Misalnya, hidup secara free sex, pola hidup konsumerisme dan lain sebagainya. Mengantisipasi segala kemungkinan adanya dampak negatif dari masuknya budaya luar, misalnya, meningkatnya, kejahatan timbulnya kenakalan remaja, penyalahgunaan narkoba, dan sebagainya.

Sementara itu dampak positip dari masuknya unsur budaya luar bagi bangsa Indonesia dapat dilihat dari adanya alih tehnologi. Transformasi kebudayaan yang memungkinkan bangsa kita dapat membangun, menguasahi ilmu pengetahuan dan teknologi canggih. Adanya interaksi yang baik dengan bangsa-bangsa lain di dunia juga dapat dirasakan dalam bidang ekonomi, perdagangan dan transportasi.

C. Keanekaragaman Budaya di Indonesia bagi Integrasi Bangsa.

Integrasi bangsa dimaksudkan dalam pengertian antropologi adalah proses penyesuaian di antara unsur-unsur budaya yang berbeda sehingga mencapai suatu keserasian dalam kehidupan masyarakat. Sedangkan secara politis berarti penyatuan kelompok budaya dan sosial ke dalam kesatuan wilayah nasional yang membentuk suatu identitas nasional. Integrasi bangsa atau intergrasi nasional diartikan pula sebagai suatu kesatuan yang terdiri atas bagian-bagian yang lebih kecil yang satu sama lain secara sadar mengikatkan diri dalam suatu wadah yang lebih besar. Bagian-bagian kecil itu adalah suatu suku bangsa atau nation yang ada di seluruh nusantara yang karena mempunyai kesamaan latar belakang dan solidaritas satu sama lain bersatudan membentuk satu kesatuan yang lebih besar serta lebih kokoh guna mencapai tujuannya.

Upaya memahami keanekaragaman suku bangsa dan kebudayaan di Indonesia adalah bertujuan untuk mengungkap berbagai bentuk interaksi sosial yang terjadi pada berbagai suku bangsa atau etnis yang saling berbeda kebudayaannya.

Ada kecenderungan bahwa setiap orang akan mengidentifikasikan dirinya dengan suku bangsa tertentu, sementara di pihak lain juga berusaha mengidentifikasikan perilakunya dengan latar belakang suku bangsanya sendiri.

Dalam kehidupan masyarakat majemuk seperti Indonesia, seringkali muncul gambaran subyektif mengenai suku bangsa lain atau biasa disebut stereotype ethnic. Sekalipun ruang lingkup pengertian stereotipe etnik tidak selalu berupa gambaran yang bersifat negatif, tetapi acapkali gambaran yang muncul lebih bersifat negatif dari pada positif.

Keanekaragaman suku bangsa sebagai suatu kondisi dasar dalam masyarakat plural memiliki implikasi yang luas. Konflik yang lahir akibat keanekaragaman tersebut, telah menjadi ancaman bagi keamanan sosial dan kesejahteraan masyarakat bsecara luas. Untuk itu, berbagai akomodasi kultural yang merupakan sumber dalam mengatasi berbagai konflik perlu dianalisis keberadaannya dan efektivitasnya dalam berbagai lingkungan sosial. Usaha ini dapat dapat dimulai dengan melihat kembali bagaimana konstruksi sosial dari etnisitas itu sendiri dalam seting sosial budaya tertentu karena ini akan menegaskan hubungan-hubungan yang kompleks antara etnis dan parameter sosial yang lain.

Keberadaan suatu etnis di suatu tempat memiliki sejarahnya secara tersendiri, khususnya menyangkut status yang dimiliki oleh suatu etnis dalam hubungannya dengan etnis lain. Sebagai suatu etnis yang merupakan kelompok etnis pendatang dan berinteraksi dengan etnis asal yang terdapat di suatu tempat, maka secara alami akan menempatkan pendatang dalam posisi yang relatif lemah. Namun demikian, etnis tersebut memiliki status yang relatif seimbang dengan etnis lain pada saat mereka sama-sama berstatus sebagai pendatang dalam lingkungan sosial yang baru. Hubungan semacam ini hanya dapat dibenarkan dalam suatu lingkungan sosial karena ciri lingkungan sosial inilah yang kemudian mengartikulasikan kembali apa yang disebut sebagai etnis itu sendiri. Ruang sosial yang merupakan ruang publik merupakan tempat dimana berbagai perbedaan dipertemukan.

Terhadap gambaran diatas, maka diperlukannya cara pandang yang jelas dan terarah dalam setiap melihat permasalahan sosial dan budaya dalam masyarakat. Penanganan yang cermat dan tepat dalam menyikapi permasalahan sosial budaya bisa ditelusuri dari latar belakang suku-suku bangsa yang ada.

Untuk mengungkapkan persoalan keanekaragaman budaya, setidaknya ada tiga strategi yang perlu dipertimbangkan. Pertama, perlu ditemukan titik-titik interaksi antaretnis yang meliputi tempat, kegiatan, dan simbol-simbol yang digunakan dalam komunikasi. Kedua, selain itu perlu diperhatikan bentuk ekspresi etnis yang tampak dari bahasa yang dipakai, tingkah laku dan penataan ruang dalam rumah. Dengan cara ini persepsi tentang berbagai hal yang menyangkut interaksi antaretnis dapat dipahami dengan baik. Ketiga, perlu ditemukan bentuk-bentuk kesepakatan terutama bagaimana selama ini komunikasi antaretnis terjadi dan bagaimana perbedaan antar etnis ditegaskan dan diterima sebagai bagian yang sah dalam suatu lingkungan permukiman. Berbagai hal yang berkaitan dengan unsur sosial dan komunal yang dibentuk bersama oleh berbagai etnis dan pranata yang telah eksis perlu direkonstruksikan kembali.

Ketiga aspek yang dikaji tersebut akan memperjelas pendekatan yang digunakan dalam kajian-kajian tentang kesuku-bangsaan. Untuk tujuan ini perlu diketahui sisi kesejarahan suatu lingkungan sosial dan ciri-ciri umum seperti pengelompokkan orang dalam satu permukiman. Selain itu, kajian yang menyangkut aspek kesejarahan ini akan menjelaskan “alasan” dari kehadiran suatu ekspresi budaya dan juga akan menjelaskan “nilai-nilai” tertentu yang ada di balik ekspresi tersebut.

Tujuan kemerdekaan bagi bangsa Indonesia yang tiada lain integrasi nasional, memajukan dan meningkatkan kehidupan seluruh masyarakat Indonesia, serta menjadikan masyarakat yang adil dan makmur. Usaha untuk mewujudkan itu direalisasikan dengan pembangunan di segala sektor kehidupan.

Pembangunan kebudayaan daerah berarti pembangunan kebudayaan nasional. Sebaliknya pembangunan kebudayaan nasional berarti juga pembangunan kebudayaan daerah. Ini disebabkan karena masing-masing kebudayaan daerah sudah terintegrasi ke dalam kebudayaan nasional. Pembangunan kebudayaan nasional hanya bisa berjalan dengan lancar bila integrasi nasional terpelihara dengan baik. Oleh sebab itu, upaya menjaga dan memelihara persatuan dan kesatuan bangsa adalah menjadi salah satu program pembangunan nasional.

Pembangunan merupakan partisipasi aktif semua anggota masyarakat. Perencanaan, pelaksanaan dan hasil pembangunan tidak akan ada artinya tanpa dukungan dan keterlibatan masyarakat di dalamnya. Dalam pembangunan ini tidak membedakan agama, golongan, suku dan tempat tinggal.

Selain partisipasif aktif dari semua anggota masyarakat, sikap toleransi juga perlu dikembangkan bagi setiap anggota masyarakat. Sikap toleransi terhadap kelompok-kelompok manusia dengan kebudayaan yang berbeda dengan kebudayaan sendiri hanya mungkin tercapai dalam suatu akomodasi. Sikap oleransi tersebut diharapkan dapat mendorong terjadinya komunikasi, dan sikap ini akan mempercepat terjadinya asimilasi.

Tidak kalah pentingnya dalam peran integrasi bangsa, maka sikap empati perlu juga dikembangkan dalam masyarakat. Daniel Goleman dalam bukunya Emotional Intelegence menjelaskan, bahwa empati memungkinkan seseorang untuk menghayati masalah yang tersirat adanya perasaan orangn lain, yang tidak hanya diungkapkan melalui kata-kata.

Melalui empati, seseorang tidak hanya keluar diri dalam usaha memahami orang lain, tetapi juga melakukan pemahaman internal sebagai berikut:

1. Kesadaran bahwa tiap orang memiliki sudut pandang berbeda, akan mendorong seseorang mampu menyesuaikan diri sesuai dengan lingkungan sosialnya. Dengan menggunakan mobilitas pikirannya, seseorang dapat menempatkan diri pada posisi perannya sendiri maupun peran orang lain sehingga akan membantu melakukan komunikasi efektif.

2. Mampu berempati mendorong seseorang melakukan tindakan altruistis, yang tidak hanya mengurangi/menghilangkan penderitaan orang lain. Merasakan apa yang dirasakan individu lain akan menghambat kecenderungan perilaku agresif terhadap individu itu.

3. Kemampuan untuk memahami perspektif orang lain membuat seseorang menyadari bahwa orang lain dapat membuat penilaian berdasarkan perilakunya. Kemampuan ini membuat individu lebih melihat ke dalam diri dan lebih menyadari serta memperhatikan pendapat orang lain mengenai dirinya. Proses itu akan membentuk kesadaran diri yang baik dimanifestasikan dalam sifat optimis, fleksibel, dan emosi yang matang.

( Dedi Sambas)

SILAKAN BERI KOMENTAR

Temui Kami di Facebook

Statistik

  • 1804Dibaca Hari Ini:
  • 1035Dibaca Kemarin:
  • 13902Dibaca Per Bulan:
  • 346808Total Pengunjung:
  • 1629Pengunjung Hari ini:
  • 13245Kunjungan Per Bulan:
  • 7Pengunjung Online: