KEANEKARAGAMAN BUDAYA (2)

D. Keanekaragaman budaya di Indonesia.

Khasanah kekayaan budaya suku-suku bangsa di Indonesia selain banyak yang bisa kita lihat, sebagian masih dalam bentuk tidak tertulis, dan sebagian lainnya terhimpun dalam bentuk verbal, misalnya cerita-cerita rakyat atau foklore. Sebagian juga sudah tertulis tetapi belum dibukukan, karena tidak semua dapat dibeberkan di sembarang tempat dan waktu mengingat sifat yang keramat atau sakral (Hari Poerwanto, 2000:119).

Keanekaragaman budaya di Indonesia meliputi pada 7 bentuk kebudayaan universal. Berikut ini beberapa keanekaragaman budaya di Indonesia dalam perwujudannya yang terdapat pada semua unsur kebudayaan universal.

1. Bahasa

Koentjaraningrat (1997:16) menjelaskan catatan etnografi mengenai bahasa suku bangsa tidak perlu sedalam deskripsi mengenai susunan sistem fonetik, fonologi, sintaksis dan semantik, seperti yang dilakukan oleh seorang ahli bahasa dalam penyusunan tata bahasa. Pengumpulan data tentang ciri-ciri yang mencolok, data mengenai daerah persebarannya, variasi geografi, dan variasi yang ada sesuai dengan lapisan-lapisan sosial yang ada.

Lebih lanjut Koentjaraningrat menjelaskan, bahwa menentukan luas persebaran suatu bahasa tidak mudah, karena di daerah perbatasan hubungan antar warga dari dua suku bangsa yang tinggal berdekatan umumnya sangat intensif, sehingga terjadi saling mempengaruhi. Sebagai contoh bahasa Jawa dengan bahasa Madura. Sebaliknya walaupun terletak pada daerah yang berdekatan tidak menutup kemungkinan juga adanya perbedaan dalam berbahasa daerah, contohnya bahasa Jawa di Surabaya dengan bahasa Jawa di Trenggalek yang nota bene masih dalam satu wilayah propinsi, terdapat perbedaan logat (dialek). Demikian pula penduduk di hilir sungai di tepi pantai Irian Jaya tinggal dalam 24 desa kecil yang hampir semuanya terletak rapi di jalur pantai pasir terbagi dalam tujuh kelompok namun masing-masing kelompok memiliki bahasa sendiri.

Perbedaan bahasa pada suku bangsa di Indonesia juga dipengaruhi adanya pelapisan sosial, sebagai contoh: bahasa Jawa yang digunakan orang Jawa pada umumnya berbeda dengan bahasa Jawa yang digunakan dalam lingkungan keraton. Perbedaan bahasa berdasarkan lapisan sosial dalam masyarakat bersangkutan disebut “tingkat sosial bahasa”. Tingkatan bahasa dalam suku bangsa Jawa yang sangat mencolok adalah kromo dan ngoko. Semakin tinggi usia atau status lawan bicara, maka semakin tinggi atau halus tingkatan bahasanya, yaitu kromo andhap, kromo madya atau kromo inggil.

2. Sistem pengetahuan

Banyak sekali pembahasan tentang keanekaragaman sistem pengetahuan pada suku bangsa di Indonesia. Namun secara singkat Grandes menggolongkan bentuk keanekaragaman sistem pengetahuan suku bangsa di Indonesia itu dalam golongan 10 unsur kebudayaan Indonesia asli, yaitu :

a) Astronomi atau perbintangan.

Digunakan untuk pelayaran di malam hari, juga berkaitan dengan “Zodiak Bekker”, menggunakan perhitungan bintang untuk meningkatkan hasil panen. Demikian pula perhitungan hari, di Jawa terkenal dengan sebutan weton (Pon, Wage, Kliwon dan legi), dimana segala aktifitas yang terkait dengan lingkaran hidup selalu menggunakan perhitungan weton untuk menjaga keamanan, kelancaran dan kemulyaan hidup.

b) Metrum / Puisi

Merupakan suatu rangkaian kata atau kalimat yang tersusun indah. Biasa digunakan dalam bahasa pergaulan. Contohnya yang terkenal dengan sebutan parikan di Jawa. Bahkan bisa ditemukan pada saat upacara perkawinan, yaitu pantun berbalas di Sumatera.

c) Pelayaran

Dengan pengetahuan ilmu perbintangan (astronomi) dapat membantu para pelaut dalam berlayar (navigasi), selain itu teknologi perkapalan juga meningkat dari kapal yang berupa perahu lesung (sederhana) berkembang menjadi kapal bercadik hingga akhirnya kapal pinisi (kompeks)

d) Pertanian

pertanian di Indonesia masih bervariasi ada yang masih dalam bentuk berburu dan meramu (food gathering and hunting) hal ini terjadi di Papua, ladang berpindah seperti yang ada di Kalimantan dan ada juga yang telah menggunakan irigasi (maju) seperti di Jawa, Sumatera, Bali, dan lain-lain

e) Seni mengenal Tuang/Logam

Teknik pembuatan perunggu menghendaki keahlian khusus dan secara sederhana telah diterapkan oleh masyarakat (berdasarkan penemuan cetakan perunggu di beberapa tempat di Jawa Barat dan Bali). Contoh barang perunggu tersebut adalah kapak perunggu yang ditemukan di daerah Jawa, Bali, Pulau Rote, dan lain-lain. Moko yang merupakan variasi dari nekara perunggu yang berkembang di Asia Tenggara, sedangkan di Indonesia ditemukan antara lain di daerah Dieng, Pejeng, Basang Be dan sebagainnya (Soejono, 1984:25)

f) Sitem Uang

Sistem uang pada suatu kerajaan diberikan sebagai suatu penghargaan bergambar tokoh Punakawan.

g) Orkestra / Musik / Wayang

Seni pewayangan merupakan karya anak bangsa yang sarat dengan nilai-nilai filosofi yang terdapat pada kehidupan masyarakat Indonesia khususnya di Jawa. Demikian pula bentuk fisik dari seni pewayangan, memerlukan keahlian dan ketrampilan khusus untuk membuat maupun memainkannya.

h) Perdagangan

Adanya perdagangan secara tradisional dengan memakai sistem barter yaitu pertukaran barang yang dilakukan oleh masyarakat tradisional.

i) Pemerintahan

sistem pemerintahan di daerah pedalaman biasanya dipimpin oleh tetua adat setempat yang biasanya diturunkan kepada anak dan kemudian diturunkan kepada anak cucu begitu seterusnya.

j) Batik

Batik di Indonesia merupakan suatu hasil karya bangsa yang mengawali munculnya batik-batik lain di dunia. Dibutuhkan pengetahuan dan ketrampilan khusus untuk membuat batik. Baik pengetahuan tentang motif batik , tehnik serta peralatan membatik dan pengetahuan pemilihan bahan untuk membatik. Pembuatan motif batik bukan sekedar menorehkan warna pada kain, akan tetapi setiap motif batik mempunyai perlambang tersendiri. Contohnya, motif “semen”, berasal dari kata “semi” merupakan suatu lambang dari kehidupan yang terus menerus. Motif “Garuda” menandakan lambang dunia atas, dan motif “Ular” menandakan lambang dunia bawah. Tehnik dan peralatan membatik menggunakan alat khusus yaitu canthing (tempat malam), ada yang berlubang satu, berlubang dua atau berlubang tiga. Sementara dalam pemilihan bahan pewarnapun juga tidak sekedar memberi warna. Warna merah adalah suatu lambang keabadian/kehidupan dikaitkan dengan darah. Warna hitam lambang kekuatan,

3. Organisasi sosial

Manusia sebagai kodratnya selain sebagai mahluk biologis juga merupakan mahluk sosial. Ini berarti dalam melakukan aktifitas hidupnya memerlukan manusia lain. Berarti pula dimungkinkan juga bahwa organisasi sosial yang pertama adalah keluarga dan kekerabatan, setelah itu baru membentuk kelompok-kelompok yang lebih besar lagi.

Sub-sub unsur dari organisasi sosial meliputi antara lain: sistem kekerabatan, sistem komunitas, sistem pelapisan sosial, sistem kepemimpinan, sistem politik, sistem ekonomi dan lain-lain.

Kekerabatan bisa terjadi karena hubungan darah dan karena perkawinan.

Sistem kekerabatan pada budaya suku bangsa di Indonesia beranekaragam bentuknya, namun pada sebagian ada yang memiliki pola yang sama. Contohnya, pada sub unsur perkawinan, pada umumnya terdapat sub unsur perkenalan, peminangan, perayaan dan mas kawin. Proses tersebut bisa dalam wujud yang berbeda-beda baik cara maupun sarananya, namun tujuannya sama. Contohnya, pada sub unsur cara-cara memperoleh jodoh, terdapat berbagai macam cara, yaitu antara lain :

a) Meminang, banyak ditemui pada suku-suku bangsa di Indonesia

b) Menculik gadis, ada dua kemungkinan, yaitu dengan persetujuan orang tua, untuk menghindari ketentuan membayar mas kawin, misalnya pada suku bangsa di Bali disebut melegandang, dan kemungkinan lain yaitu tanpa persetujuan keluarganya.

c) Mengabdi, ini disebabkan karena pihak laki-laki tidak mampu membayar mas kawin, contohnya dengan mengangkat sebagai anak di Lampung, atau di Bali terkenal dengan istilah sentana.

d) Tukar menukar, yaitu pihak laki-laki menyediakan gadis pada saat melamar, tujuannya untuk dikawinkan pada kerabat perempuan, contohnya ada pada suku bangsa di Irian Jaya

e) Sororat, yaitu perkawinan lanjutan, dimana seorang duda mengawini saudara perempuan istri, di Jawa terkenal dengan sebutan ngarang wuluh

f) Levirat, yaitu kebalikan dari sororat

Selain itu ada sub unsur adat menetap. Beranekaragam bentu adat menetap setelah menikah pada suku-suku bangsa di Indonesia, antara lain :

a) Utrolokal yaitu memberi kemerdekaan pengantin baru untuk tinggal di sekitar kerabat suami atau istri

b) Virilokal yaitu adat menetap di sekitar kerabat suami

c) Uxorilokal yaitu adat menetap di sekitar kerabat istri

d) Neolokal yaitu pengantin baru tinggal di rumah baru

Sistem pelapisan masyarakat pada suku-suku bangsa di Indonesia terdapat beranekaragam bentuknya. Di Bali ada Brahmana, Ksatria, Waisya dan Sudra; di Jawa ada kaum priyayi (keraton) dan wong cilik penduduk pada umumnya; di Palembang ada golongan priyayi (meliputi: golongan Pangeran, Raden dan Mas Agus), dan golongan rakyat (meliputi: golongan Kyai Mas, Kyai Agus dan rakyat jelata yang dibagi lagi menjadi orang Miji, orang Senan dan Budak), dan lain sebagainya.

4. Sistem mata pencaharian hidup

Sistem mata pencaharian berbagai suku bangsa di Indonesia dapat dibedakan berdasarkan mata pencahariannya, yaitu: (1) masyarakat pemburu dan peramu, (2) masyarakat peternak (pastoral societes), (3) masyarakat peladang (shifting cultivators societes), (4) masyarakat nelayan (fishing communities), masyarakat petani-pedesaan (peasant communities), (5) masyarakat perkotaan yang kompleks (urban complex societies).

Di Indonesia masih terdapat penduduk yang hidup sebagai pemburuh dan peramu hasil hutan, antara lain penduduk di Lembah Baliem Irian Jaya dan di sekitar daerah danau di Paniai Irian Jaya, dan suku Anak Dalam atau orang Kubu di Sumatera. Mereka belum mengenal bercocok tanam, dan hidup berkelompok dalam jumlah yang tidak banyak. Bersama-sama dengan penduduk yang masih hidup sebagai peladang berpindah-pindah (slash and burn agriculture seperti orang Togutil di Halmahera Tengah; mereka sering diklasifikasikan sebagai masyarakat “terasing”. Kategori ini, disamping mereka itu tinggal di suatu lokasi yang jauh dari jangkauan alat transportasi, juga didasarkan atas tingkat kesejahteraan dan kemajuan, terutama yang berkaitan dengan proses akulturasi dan sikap mereka terhadap inovasi. Selain itu ada juga orang Laut yang mengembara di sepanjang laut kepulauan Riau dan Bajo di kawasan pantai Sulawesi Utara, orang Badui di Banten Jawa Barat, orang Donggo di pedalaman pegunungan Sumbawa Timur, orang Amma Toa di Sulawesi Tengah (Hari Poerwanto, 1997:122-123).

Suku-suku bangsa peramu sagu di Papua memiliki konsepsi yang tegas mengenai hutan-hutan sagu, yaitu bagian mana yang menjadi milik sendiri, milik kerabat ibu dan lain-lain, yang tidak demikian saja berani mereka langgar.

Hewan buruan yang utama di Irian Jaya adalah babi dan buaya, namun jarang sekali penduduk Irian Jaya yang memiliki keahlian berburuh buaya, sehingga umumnya mereka hanya sebagai pengendali perahu atau pembantu pemburu. Sedangkan pemburu buaya pada umumnya berasal dari luar Irian Jaya, yaitu Ternate, Maluku Buton dan tempat-tempat lain di Sulawesi.

Setelah Perang Dunia Ke-2, penduduk pantai Irian Jaya mulai mengenal bercocok tanam di ladang. Namun ini dilakukan secara sambilan, sebab hanya dilakukan terutama pada musim-musim kurang menguntungkan bagi nelayan untuk pergi melaut.

Perahu yang digunakan para nelayan tradisional, umumnya berbentuk perahu lesung, yaitu batang pohon kayu yang ditinggikan sisinya dengan papan. Untuk menjaga keseimbangan perahu dilengkapi dengan cadik pada salah satu sisi atau semua sisinya. Kadang-kadang perahu juga dilengkapi dengan layar. Bentuk perahu dengan ukuran yang lebih besar menggunakan konstruksi lunas, dengan kerangka yang dibuat dari balok-balok.

Sistem berladang juga masih banyak diterapkan di Indonesia. Di pulau Jawa berladang memang hampir jarang ditemukan lagi, tetapi di daerah Sumatera, Kalimantan, Sulawesi Tengah, kepulauan Maluku, Nusa Tenggara dan Papua berladang merupakan kegiatan bercocok tanam yang umum.

Sistem kesatuan kerja dalam kegiatan berladang adalah keluarga inti, namun tidak menutup kemungkinan juga keluarga luas. Tenaga tambahan juga kadang-kadang diperlukan. Pada suku bangsa Sumbawa Barat tenaga tambahan itu disebut basiru (tidak ada pembayaran jasa), saleng tulong (pengembalian jasanya suatu saat di kemudian hari) dan nulong (pembayaran tunai/langsung).

Mata pencaharian penduduk di Indonesia dengan cara bercocok tanam menetap, dibagi atas bercocok tanam tanpa bajak (hand agriculture, hoe agriculture atau horticulture) dan bercocok tanam dengan bajak (plough agriculture).

Perhitungan musim juga diperlukan dalam bercocok tanam. Pada suku Batak ada 4, yaitu : si paha onom (September=musim hujan), si paha pitu, si paha valu (Oktober-Nopember= mengerjakan / mengolah sawah), si paha sia (Desember=penaburan benih dan dilakukan upacara boras pan initano yaitu agar padi terhindar dari serangan hama dan si paha tolu (Juni=memanen secara gotong royong. Saat itu kesempatan para pemuda dan gadis untuk menemukan jodohnya).

5. Sistem Peralatan Hidup dan Teknologi

J.J. Honigman dalam Koentjaraningrat (2002: 23), menjelaskan bahwa teknologi adalah segala tindakan baku yang digunakan manusia untuk mengubah alam termasuk tubuhnya sendiri / tubuh orang lain. Obyeknya meliputi:

a) Alat alat produksi

b) Senjata

c) Wadah. Yang terdiri dari: cetakan yang kemudian dirusak; ceiling technique yaitu menyusun lintingan tanah liat berbentuk tali panjang sehingga membentuk wadah; modelling technique yaitu membentuk tanah liat dengan tangan; pottery wheel technique dengan bantuan alat berputar

d) Makanan

e) Pakaian

f) Rumah

g) Transportasi

6. Kesenian

Umumnya bagi orang yang berbahasa Indonesia, “kebudayaan” adalah kesenian, sebab unsur kesenian hampir selalu ada atau mengiringi setiap aktifitas hidup pada suku-suku bangsa di Indonesia. Koentjaraningrat (1997:19) merumuskan bahwa kebudayaan )dalam arti kesenian adalah, ciptaan dari segala pikiran dan perilaku manusia yang fungsional, estetis dan indah, sehingga ia dapat dinikmati dengan panca inderanya (penglihatan, penciuman,pengecap, perasa dan pendengaran)

Secara umum keanekaragaman di Indonesia yang berwujud kesenian meliputi seni verbal (dapat didengar), seni rupa (dapat dilihat) dan gabungan dari seni verbal dan seni rupa.

Keanekaragaman kebudayaan yang berwujud verbal dari kesenian antara lain, puisi, pantun berbalas, “parikan”, tembang-tembang atau lagu-lagu daerah. Bahkan irama dari doa-doa yang dilantunkan pada suatu kegiatan keagamaan, bisa dinikmati melaui pendengaran.

Muatan isi yang ada pada seni verbal di Indonesia pada umumnya berisi pesan, sindiran, petuah, keindahan alam dan suasana perasaan.

Seni rupa dalam keanekaragaman budaya di Indonesia banyak berorientasi pada lingkungan, yaitu berupaya meniru alam. Dalam upaya meniru lingkungan itu, kadang-kadang hampir sempurna.

Selain berupaya meniru lingkungan atau alam, seni budaya pada suku-suku bangsa di Indonesia, memuat “perlambang-perlambang” sebuah alur kisah atau cerita, harapan-harapan. Contoh paling lengkap yang memuat semua itu adalah bangunan candi. Selain bentuk bangunannya yang memuat unsur kosmologi, relief pada dinding candi juga menggambarkan alur sebuah cerita, misalnya kisah Rama dan Shinta. Simbol-simbol atau perlambang-perlambang juga banyak ditemui pada bangunan candi, misalnya, pahatan yang berbentuk kepala Kala (disebut Banaspati=Raja Hutan) pada bagian atas pintu candi dan pahatan Makara (semacam ikan yang mulutnya ternganga). Arca- arca kecil dari batu, logam atau perunggu bahkan berlapis emas yang biasa diletakkan dan ditata secara rapi pada tempat pemujaan, tiang-tiang mbis (patung-patung yang menggambarkan orang-orang yang disusun secara vertical) pada suku bangsa di Irian Jaya, merupakan gambaran orang dengan para leluhurnya, dan sebagainya.

Motif- motif batik, tato pada suku bangsa Dayak dan lukisan pada wajah seorang pengantin perempuan, juga merupakan salah satu wujud budaya seni lukis/gambar pada suku bangsa di Indonesia.

Seperti halnya pada seni pahat, seni lukis pada budaya tradisional suku-suku bangsa Indonesia, juga memuat perlambang-perlambang.

Hasil seni budaya suku bangsa di Indonesia yang merupakan gabungan antara seni verbal dan seni rupa yang juga dapat dinikmati dan dinilai keindahannya, misalnya, pada pergelaran seni wayang, ada perangkat gamelan (seni rupa), irama gamelan (seni musik), tembang-tembang (seni verbal), perangkat wayang (seni rupa, pahat dan lukis), dan masih banyak hasil-hasil budaya di Indonesia yang mempunyai nilai estetika tinggi dan dapat dinikmati oleh semua orang.

7. Sistem religi

Mendiskripsikan tentang keanekaragaman sistem religi pada suku bangsa di Indonesia, tidak terlepas dari konsep alam kebudayaan, yang meliputi: alam religi (ketuhanan), alam mistis (gaib) dan alam profan (duniawi). Selain alam kepercayaan tersebut, sistem religinya juga memuat unsur pokok religi, yaitu:

a) Emosi keagamaan (getaran jiwa) yang menyebabkan bahwa manusia didorong untuk berperilaku keagamaan.

b) Sistem kepercayaan atau bayang-bayang manusia tentang bentuk dunia, alam, alam gaib, hidup, maut dan sebagainya.

c) Sistem ritus atau upacara keagamaan yang berfungsi untuk mencari hubungan dengan dunia gaib berdasarkan sistem kepercayaan.

d) Kelompok atau kesatuan-kesatuan keagamaan.

e) Peralatan keagamaan.

Bagi suku bangsa di Indonesia, menterjemahkan alam religius atau ketuhanan sangat bermacam-macam, mulai wujud dewa-dewa, ruh manusia yang telah meninggal, kekuatan sakti, maupun wujud dari bumi dan alam semesta (yang disebut ilmu kosmogoni atau kosmologi).

Konsep-konsep yang berkembang pada suku bangsa di Indonesia berkaitan dengan alam meliputi:

1) Konsep tabu yaitu larangan umum tentang sesuatu hal.

2) Magi imitative yang menjelaskan bahwa kekuatan gaib dapat menghasilkan dampak seperti apa yang ditiru (contohnya, santet atau melukai seseorang melalui media boneka)

3) Demonologi yaitu bahwa mahluk halus itu bisa melakukan apa saja sesuai dengan yang mengendalikannya.

4) Animatisme (dibedakan dari Animisme). Upacara bersih desa.

5) Konsep Mandala atau kosmologi yaitu ketentraman manusia dapat diperoleh jika mengembangkan hubungan yang serasi dengan alam (misalnya, pembangunan rumah pada suku bangsa di Jawa yang menghadap utara – selatan, dan pada suku bangsa di Bali yang terkenal dengan kaja – kelod).

6) Konsep Numerologi, misalnya, “penghitungan-penghitungan” untuk mengawali suatu upacara adat.

Wujud konsekuensi dari konsep-konsep tersebut adalah dilakukannya perilaku keagamaan yang biasa dikenal dengan sebutan upacara adat.

Pada umumnya suku-suku bangsa di Indonesia dalam menjalani siklus atau daur kehidupannya (lahir-hidup-mati) ditandai dengan upacara adat atau perilaku keagamaan, dengan harapan adanya imbalan keselamatan dalam hidup, serta kesempurnaan dalam menjalani kehidupan setelah matinya.

Bentuk-bentuk aktifitas keagamaan, sebenarnya merupakan suatu wujud “kepasrahan” manusia pada kekuatan gaib yang dipercaya dapat mempengaruhi dan berkuasa atas hidupnya.

Kekuatan gaib juga dipercaya berasal dari benda-benda yang ada di lingkungan manusia, misalnya; pada sebagian suku bangsa di Irian Jaya memakai kalung yang berhiaskan gigi babi, dengan harapan si pemakai dapat selamat dari musibah. Pada sebagian masyarakat Indonesia juga masih percaya pada kekuatan jimat yang berasal dari seseorang yang dipercaya mempunyai kekuatan supranatural. Bentuk jimat ini bisa berbentu keris, pusaka, bungkusan yang berisi doa-doa dan dikalungkan atau diikatkan pada tubuh dan lain-lain.

Seiring dengan kegiatan religinya, ada media-media yang disiapkan, yang berfungsi sebagai sarana dalam melakukan ritus atau upacara adat. Dalam kajian antropologis, ini sebenarnya merupakan suatu bentuk rayuan pada kekuatan gaib, supaya apa yang diinginkan tecapai. Misalnya, kemenyan, asap kemenyan dipercaya sebagai penghantar doa untuk bisa sampai pada Yang Maha Kuasa, bentuk-bentuk sajian yang berupa makanan adalah ungkapan pemberian makan pada roh leluhur (yang dipercaya setiap saat bisa hadir di sekitarnya) dan mau ikut menjaga kehidupan orang atau keluarga bahkan masyarakat pelaku upacara adat. Pada beberapa suku bangsa Jawa (khususnya di Jawa Timur dan Jawa Tengah) yang nota bene beragama Islam, dalam melakukan aktifitas keagamaannya masih menyertakan sesaji (bunga-bunga, makanan dan kemenyan) dalam kegiatan ritualnya. Biasa dikenal dengan agama Jawa Islam Abangan. Pengaruh kebudayaan Hindu-Budha masih ada.

Pengaruh kebudayaan Hindu-Budha inipun juga dapat ditemui pada bentuk bangunan fisik pada beberapa masjid jaman dahulu, yaitu pada bentuk bagian atap yang mirip sebuah kuil.

Sarana atau media dalam melakukan kegiatan adat tersebut, selain benda-benda, media manusia juga dipercaya bisa menghubungkan antara pelaku religi dengan kekuatan gaib yang ada dalam kepercayaannya, misalnya, dukun, shaman. Bahkan pada era modern di saat magis sudah sering tidak berhasil, banyak masyarakat yang mulai beralih pada kekuatan-kekuatan doa para pemimpin keagamaan untuk membantu kesulitan hidupnya, misalnya: dengan bantuan doa seorang pemimpin agama diharapkan dapat melepaskan diri dari bala (misalnya, rasa sakit, musibah dan lain-lain).

Kelompok atau kesatuan perilaku keagamaan atau kepercayaan di Indonesia nampak dari atribut yang digunakan dalam aktifitas keagamaannya, bangunan atau sarana fisik yang dipergunakan dalam pemujaan termasuk yang ada di tempat tinggalnya. Misalnya: hampir seluruh masyarakat di Bali, pada halaman rumahnya terdapat tiang (untuk menaruh sesaji) atau bangunan untuk pemujaan, ini merupakan kesatuan penganut agama Hindu.

Akan tetapi semua sistem religi yang dianut oleh semua suku bangsa di Indonesia, walau macam maupun sarananya beranekaragam, namun semua tujuannya satu, yaitu memuja pada satu kekuatan gaib yang dianggap suci dalam hidupnya untuk dapat memberikan keselamatan dan kemulyaan dalam hidup dan kesempurnaan dalam hidup setelah mautnya

( Dedi Sambas : Dosen STKIP Setia Budhi Rangkasbitng)

Daftar Pustaka

Baal, J Van, 1988. Sejarah Pertumbuhan Teori Antropologi (Hingga Dekade 1970). Jakarta: Gramedia.

Daeng, Hans J, 2000. Manusia, Kebudayaan dan Lingkungan (Tinjauan Antropologis). Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Geertz, Clifford, 2003. Kebudayaan dan Agama. Yogyakarta: Kanisius.

Haviland, 1999. Antropologi 1. Jakarta: Erlangga.

Hasan, Fuad, 1989. Renungan Budaya. Jakarta: Balai Pustaka.

Hidayah, Zulyani, 1997. Ensiklopedi Suku Bangsa di Indonesia. Jakarta: LP3ES.

Irianto, Sulistyowati, 2003. Multikulturalisme dalam Perspektif Hukum: Tragedi Perempuan Tionghoa, dalam Jurnal Masyarakat Indonesia. Jakarta: Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia.

Koentjaraningrat, 1987. Sejarah Teori Antropologi I. Jakarta: UI Press.

——————–, 1990. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Rineka Cipta.

——————–, 1993. Kebudayaan Mentalitet dan Pembangunan, Jakarta: Gramedia.

——————–, 2002. Manusia dan Kebudayaan Indonesia. Jakarta: Djambatan.

——————–, 2002. Pengantar Antropologi (Pokok-Pokok Etnografi) II. Jakarta: Rineka Cipta.

Liliweri, Alo, 2003. Makna Budaya dalam Komunikasi Antar Budaya. Yogyakarta: LKIS.

Poerwanto, Hari, 2000. Kebudayaan dan Lingkugan (Dalam perspektif Antropologi). Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Wiranata, I Gede A B, 2002. Antropologi Budaya. Bandung: Citra Adi Bakti.

SILAKAN BERI KOMENTAR

Temui Kami di Facebook

Statistik

  • 687Dibaca Hari Ini:
  • 1839Dibaca Kemarin:
  • 14624Dibaca Per Bulan:
  • 347459Total Pengunjung:
  • 622Pengunjung Hari ini:
  • 13896Kunjungan Per Bulan:
  • 10Pengunjung Online: