keanekaragaman budaya

KEANEKARAGAMAMAN BUDAYA

A. Konsep-konsep dalam Keanekaragaman Budaya

Manusia dan kebudayaan adalah dua hal yang selalu berhubungan. Manusia dengan kemampuan akal dan budinya telah mengembangkan berbagai macam sistem tindakan demi keperluan hidupnya. Berbagai macam sistem tindakan itulah yang akhirnya memunculkan keanekaragaman budaya, dan ini merupakan obyek kajian serta analisa yang penting bagi ahli antropologi khususnya yang mendalami tentang ilmu etnografi.

Di daerah-daerah perbatasan antar negara, antar-suku bangsa, antaretnik, antarras, dan antargeografis adalah tempat hidup dan tumbuh suatu budaya. Disinilah muncul situasi dan kondisi masyarakat yang memiliki keragaman budaya. Penggunaan istilah metaphors (metafora, istilah yang digunakan di AS) untuk menggambarkan kebudayaan campuran (mixed culture) bagi suku bangsa yang berbatasan dengan AS. Namun, kemudian pengertian metafora itu meluas. Di AS sendiri selalu digunakan istilah cultural diversity atau keragaman budaya (Jason Lin, 2001)

Ada beberapa istilah yang berkaitan dengan konsep metafora, yakni: (dalam Liliweri, 2003:16)

1. Metafora Melting Pot

Merupakan konsep tertua dari metafora. Metafora ini mengibaratkan AS sebagai wadah besar tempat peleburan logam, sebuah kontainer yang memiliki temperatur yang sangat tinggi, yang di dalamnya dapat dijadikan tempat untuk memasak daging atau meleburkan logam. Konsep ini menggambarkan situasi awal tatkala para imigran yang berasal dari banyak kebudayaan datang ke AS untuk mencari pekerjaan. Para imigran itu akhirnya berbaur bersama-sama dengan orang-orang dari kebudayaan lain-yang telah tiba lebih dahulu-dalam satu kebudayaan besar sehingga terbentuklah sebuah kebudayaan yang kuat dan perkasa, melebihi kebudayaan mereka. Kenyataan ini memang bukan merupakan suatu masalah karena salah satu sifat kebudayaan adalah berubah. Namun, para pendatang itu masih memelihara keunikan kebudayaannya untuk membedakan keturunan mereka dengan orang lain.

2. Metafora Tributaries

Adalah sebuah metafora yang menggambarkan aliran sungai yang airnya merupakan campuran dari aliran sungai-sungai kecil lain. Aliran sungai itu menuju ke arah yang sama, ke sebuah muara. Konsep ini menggambarkan budaya AS ibarat sebuah muara sungai yang merupakan lintasan dari sejumlah budaya yang terus mengalir. Ibarat aliran sungai, alran itu terus bergerak ke muara, namun sumber-sumber air dari anak sungai itu tidak akan hilang, bahkan tetap dipelihara ekosistemnya.

3. Metafora Tapestry

Adalah dekorasi pakaian yang terbentuk dari helai-helai benang. Konsep ini kemudian diambil untuk menggambarkan kebudayaan AS sebagai kebudayaan dekoratif, jadi kebudayaan AS itu ibarat selembar kain yang dijahit dari helai-helai benang yang beraneka ragam warna.

4. Metafora Garden Salad

Diartikan sebagai sebuah ‘salad’ baru yang dihasilkan dari campuran beragam jenis salad dari pelbagai suku bangsa di AS. Konsep metafora Garden Salad ini menggambarkan bahwa kebudayaan AS itu ibarat mangkuk yang berisi campuran salad, sering juga melukiskan kekuatan budaya AS yang dibentuk oleh campuran pasukan tempur, yang berasal dari pelbagai budaya yang berbeda-beda, dan kemudian dicampur ke dalam sebuah pasukan campuran yang khusus dan elit.

Dalam konteks Indonesia, keberadaan masyarakat pluralistis dengan keragaman kebudayaannya ditanggapi berbeda-beda. Prof. Dr. Harsya Bahtiar mengatakan bahwa harus disadari disamping nation yang besar yaitu nation Indonesia, yang mewadahi kebhinekaan dalam suatu ikatan rasa kebangsaan, terdapat pula nation-nation lama yang lebih kecil dan banyak jumlahnya. Nation-nation yang dimaksud adalah suku bangsa – suku bangsa yang ada di Indonesia. Sementara the founding fathers, mendirikan Indonesia dengan semangat multikulturalisme dan melahirkan konsep Bhineka Tunggal Ika.

Namun demikian tidaklah banyak orang yang mampu menjelaskan dengan baik dimana ke-bhineka-an (keragaman) serta ke-tunggal-an masyarakat dan kebudayaan di Indonesia yang tersebar di Nusantara dari Sabang sampai Merauke.

Seorang guru besar Antropologi Universitas Indonesia, Prof. Dr. S. Budhisantoso mengatakan, sesungguhnya apa yang dibanggakan oleh kebanyakan orang bahwa masyarakat bangsa Indonesia mempunyai aneka ragam kebudayaan memang tidak jauh dari kebenaran. Bangsa Indonesia yang terdiri atas suku-suku bangsa yang besar dan kecil itu masing-masing mengembangkan kebudayaan sebagai perwujudan tanggapan aktif mereka terhadap tantangan yang timbul dalam proses adaptasi di lingkungan masing-masing. Aneka ragam kebudayaan yang berkembang di kepulauan Nusantara itu dihayati oleh para pendukungnya sebagai acuan dalam bersikap dan menentukan tindakan selanjutnya. Kebudayaan suku bangsa itu juga berfungsi sebagai ciri pengenal yang membedakan kelompoknya dari kelompok suku bangsa yang lain (Hidayah, 1996: ix).

Dalam pembahasan tentang keanekaragaman budaya di Indonesia, seorang ahli tentunya tidak terlepas dari pembahasan tentang konsep-konsep suku bangsa, konsep daerah kebudayaan (culture area), dan konsep tentang kebudayaan di Indonesia. Semua konsep itu saling terkait dan merupakan satu kesatuan yang utuh.

Konsep suku bangsa

Kontjaraningrat (1984:264) konsep yang tercakup dalam istilah “suku bangsa” adalah suatu golongan manusia yang terikat oleh kesadaran identitas akan “kesadaran kebudayaan, sedangkan kesadaran dan identitas tadi seringkali (tetapi tidak selalu) dikuatkan juga oleh kesatuan bahasa juga. Dengan demikian “kesatuan kebudayaan” ditentukan oleh warga kebudayaan bersangkutan itu sendiri.

Kesatuan kebudayaan itu muncul karena adanya corak khas dari suatu wujud kebudayaan yang berbentuk khusus. Dikatakan khusus karena adanya unsur-unsur yang berbeda menyolok dengan kebudayaan tetangganya.

Namun dalam kenyataannya, konsep “suku bangsa” lebih kompleks dari pada yang terurai diatas. Ini disebabkan karena dalam kenyataan batas dari kesatuan manusia yang merasakan dan terikat oleh keseragaman itu dapat meluas atau menyempit, tergantung pada keadaan. Misalnya, penduduk pulau Jawa terdiri dari beberapa suku bangsa yang khusus, yang menurut kesadaran orang Jawa itu sendiri terdiri dari: orang Jakarta, orang Banten, orang Badui, orang Sunda, orang Tengger, orang Madura, orang Jawa, dan sebagainya. Kepribadian khas dari tiap suku bangsa tersebut dikuatkan pula oleh bahasa-bahasa khusus, yaitu bahasa Jawa, bahasa Osing, bahasa Sunda dan lain sebagainya. Sedangkan dalam penggolongan politik atau administrative di tingkat nasional, mereka akan merasa sebagai putra Jawa jika mereka sedang berada di luar pulau Jawa.

Konsep daerah kebudayaan

Koentjaraningrat (1984:271) menjelaskan bahwa suatu “daerah kebudayaan” atau “culture area” merupakan suatu penggabungan atau penggolongan (yang dilakukan oleh antropologi) dari suku-suku bangsa yang dalam masing-masing kebudayaannya yang beraneka warna dan mempunyai unsur dan ciri menyolok yang serupa. Ciri-ciri menyolok yang sama dalam suatu jumlah kebudayaan yang menjadi alasan untuk klasifikasi. Biasanya hanya beberapa kebudayaan di pusat dari suatu culture area itu menunjukkan persamaan besar dari unsure-unsur kebudayaan. Semakin menjauh dari pusat makin berkurang pula jumlah unsur-unsur yang sama, dan akhirnya persamaan itu tidak ada lagi, itu berarti sudah masuk ke dalam culture area tetangga. Jadi batas antar culture area tidak pernah jelas. Ciri-ciri yang menjadi alasan untuk klasifikasi itu tidak hanya berwujud unsur kebudayan fisik, seperti misalnya benda-benda budaya melainkan juga unsur-unsur kebudayan yang lebih abstrak, misalnya pada unsur-unsur organisasi kemasyarakatan, sstem perkawinan, upacara-upacara keagamaan, adat istiadat.

Klasifikasi culture area seperti di atas telah menimbulkan kritik di kalangan antropologi sendiri, karena batas-batas culture area masih tidak jelas. Akan tetapi metode klasifikasi ini masih banyak dipergunakan sampai sekarang, karena pembagian ke dalam culture area itu memudahkan gambaran keseluruhan dalam hal menghadapi suatu daerah yang luas dengan beraneka warna kebudayaan di dalamnya.

Koentjaraningrat (1997:2),J.A Clifton di dalam bukunya yang berjudul : “Introduction to Cultural Antropologi (1968:15)” telah memodifikasi daftar susunan kesatuan suku bangsa untuk menentukan suatu pokok etnografi yang telah disusun oleh R. Naroll, yaitu sebagai berikut :

1. Kesatuan masyarakat yang dibatasi oleh satu desa atau lebih dari satu desa;

2. Kesatuan masyarakat yang terdiri dari penduduk yang mengujar satu bahasa atau satu logat bahasa;

3. Kesatuan masyarakat yang dibatasi garis batas daerah politik-administratif;

4. Kesatuan masyarakat yang batasnya ditentukan oleh rasa identitas penduduknya sendiri;

5. Kesatuan masyarakat yang ditentukan oleh suatu wilayah geografi yang merupakan kesatuan daerah fisik;

6. Kesatuan masyarakat yang ditentukan oleh kesatuan ekologi;

7. Kesatuan masyarakat dengan penduduk yang memiliki pengalaman sejarah yang sama;

8. Kesatuan masyarakat dengan frekuensi interaksi yang tinggi;

9. Kesatuan masyarakat dengan susunan sosial yang seragam;

10. Kesatuan berdasarkan kebudayaan suku bangsa.

Klasifikasi dari aneka warna suku bangsa di wilayah Indonesia mula-mula disusun oleh Van Vollenhoven yang membagi wilayah Indonesia ke dalam 19 daerah berdasarkan sistem lingkaran-lingkaran hukum adat, yaitu :

1. Aceh

2. Tanah Gayo – Alas dan Batak serta Nias

3. Minangkabau beserta Mentawai

4. Sumatera Selatan

5. Melayu ( Sumatera Timur, Jambi dan Riau)

6. Bangka dan Belitung

7. Kalimantan

8. Minahasa

9. Gorontalo

10. Toraja

11. Sulawesi Selatan

12. Kepulauan Ternate

13. Maluku dan Ambon

14. Irian

15. Kepulauan Timur

16. Bali dan Lombok (beserta Sumbawa Besar)

17. Jawa Tengah dan Jawa Timur (beserta Madura)

18. Daerah-daerah Swapraja (Surakarta dan Jogjakarta)

19. Jawa Barat.

Konsep kebudayaan

Kata kebudayaan berasal dari bahasa Sansekerta buddhayah, yaitu bentuk jamak dari kata buddhi (budi atau akal). Adakalanya juga ditafsirkan bahwa kata budaya merupakan perkembangan dari kata majemuk budi-daya yang berarti daya dari budi, yaitu berupa cipta, karsa dan rasa. Sedangkan kebudayaan adalah hasil dari cipta, karsa dan rasa. Dalam istilah antropologi budaya perbedaan itu ditiadakan. Kata “kebudayaan” dengan arti yang sama. Lebih lanjut Koentjaraningrat (1984:180-181) sendiri mendefinisikan kebudayaan merupakan keseluruhan sistem gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri dengan belajar.

Selanjutnya J.J. Honigman (1954) membedakan ada fenomena kebudayaan atau wujud kebudayaan, yaitu: sitem budaya (sistem nilai, gagasan-gagasan dan norma-norma), sistem sosial (kompleks aktifitas dan tindakan berpola dari manusia dalam masyarakat), dan artefak atau kebudayaan fisik. C.Kluckhohn juga mengatakan bahwa dalam setiap kebudayaan mahluk manusia juga terdapat unsur-unsur kebudayaan yang sifatnya universal, meliputi: sistem organisasi sosial, sistem mata pencaharian hidup, sistem tehnologi, sistem pengetahuan, kesenian, bahasa dan religi (Hari Poerwanto, 2000:53).

R. Lipton memerinci tiap unsur kebudayan universal tersebut di atas ke dalam unsur-unsur yang lebih kecil lagi sampai beberapa kali kecuali wujud fisik kebudayaan. Sebagai contoh dari pemerincian itu adalah sebagai berikut : Organisasi social sebagai salah satu unsur universal, mempunyai unsur besar, yaitu ada adat istiadatnya, aktifitasnya dan peralatan fisiknya diperinci lagi dalam sub unsur yang lebih kecil lagi yaitu sistem kekerabatan, sistem pelapisan sosial, sistem politik dan seterusnya. Selanjutnya dari salah satu sub unsur itu yaitu kekerabatan dapat diperinci lagi dalam perkawinan, kematian dan sebagainya. Dari perkawinan dapat diperinci lagi dalam bentuk tindakan lamaran, perayaan, mas kawin, adat menetap dan sebagainya. Setiap sub unsur sudah tentu mempunyai peralatannya sendiri, yang secara konkrit terdiri dari benda-benda budaya.

Dari uraian singkat tentang ke-tiga konsep tersebut di atas, maka alangkah banyaknya keanekaragaman budaya yang ada di Indonesia untuk bisa dianalisa dan diungkapkan.

B. Pengaruh Budaya asing terhadap Keanekaragaman Budaya di Indonesia

Tidak ada satu pun kebudayaan suatu bangsa dapat hidup sendiri, tanpa adanya suatu hubungan dengan kebudayaan bangsa lain di dunia. Setiap kebudayaan dan bangsa itu akan selalu dihadapkan pada pengaruh aneka ragam pemikiran dan pendekatan yang pada akhirnya berpengaruh pula pada nilai-nilai hakikat yang dianut oleh kebudayaan masyarakat suku bangsa di dunia.

Bagi Indonesia, pengaruh budaya luar (budaya asing) sudah terjadi sejak jaman dahulu. Keaneka ragaman budaya di Indonesia juga diperkaya dengan kehadiran pendukung kebudayaan dari bangsa-bangsa lain, yaitu sejak berabad-abad yang lalu, karena penjajahan, hubungan perdagangan, penyebaran agama dan sebagainya. Keanekaragaman corak budaya yang paling muda dilihat adalah pengaruh kebudayaan Hindu, pengaruh kebudayaan Islam dan pengaruh kebudayaan Eropa. Sekilas tentang pengaruh tersebut, Koentjaraningrat (2002: 21-34) menjelaskan sebagai berikut:

1. Pengaruh Kebudayaan Hindu

Seperti apa yang telah kita ketahui semua, tanda-tanda tertua dan adanya pengaruh kebudayaan Hindu di Indonesia adalah batu-batu bertulis di Jawa Barat atau di daerah sungai Cisadane dekat kota Bogor. Batu-batu bertulis juga ditemukan di Kalimantan Timur, yaitu di daerah Muara karam, Kutai. Bentuk dan gaya huruf dari tulisan pada batu yang disebut huruf Palawa, raja-raja pada jaman itu (4 Masehi) mengadopsi konsep-konsep Hindu dengan cara mengundang ahli-ahli dan orang pandai dari golongan Brahmana (Pendeta) di India Selatan yang beragama Wisnu atau Brahma. Orang-orang pandai tadi tempat konsultasi dan meminta nasehat mengenai struktur dan upacara keagamaan juga bentuk organisasi di negara di India Selatan. Pengaruh Hindu dan kesusasteraan Hindu juga masuk dalam kebudayaan Indonesia.

2. Pengaruh Kebudayaan Islam

Sejajar dengan naiknya kekuasaan negara-negara di Jawa Timur, pada saat kekuasaan sriwijaya mundur, kira-ira abad ke-13, perdagangan di Nusantara bagian Barat dikuasahi oleh pedagang-pedagang dari Parsi dan Gujarat yang waktu itu sudah memeluk agama Islam. Gelombang pengaruh pertama dari ajaran Islam di sana waktu itu mengandung banyak unsur-unsur mistik (suatu gerakan kebathinan dalam agama, dimana manusia itu mencoba kesatuan total dengan Tuhan, dengan bermacam-macam cara, berikut yang bersifat samadi dan pemusatan pikiran maupun yang bersifat ilmu gaib dan ilmu sihir). Agama Islam yang seperti itu juga dalam folklore orang Jawa ada sebutan “Wali” dan didalam kepercayaan rakyat dianggap sebagai orang keramat.

Gelombang pengaruh agama Islam ke dua adalah pada saat orang Indonesia sudah mengunjungi Mekkah dan Madinah serta kembali dari naik haji.

Aceh, Banten, pantai utara Jawa dan Sulawesi Selatan juga Sumatera Barat, dan pantai kalimantan merupakan daerah yang belum terpengaruh ajaran Hindu. Sementara di Jawa Tengah dan di Jawa Timur merupakan daerah di mana pengaruh kebudayaan Hindu itu kuat dan telah mengembangkan suatu corak tersendiri, agama Islam diubah menjadi suatu agama yang kita kenal dengan agama Jawa atau kejawen.

3. Pengaruh Kebudayaan Eropa

Kekuasaan pemerintah kolonial di Indonesia di Indonesia juga ikut mengembangkan pengaruh bagi kebudayaan Indonesia, antara lain adanya mentalitas priyayi, pengaruh ilmu pengetahuan dan teknologi serta agama Katolik dan agama Kristen Protestan pada daerah-daerahndengan penduduk yang belum pernah mengalami pengaruh Hindu dan Budha, atau yang belum memeluk agama Islam, misalnya di sebagian besar wilayah Papua, Maluku Tengah dan Selatan, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, NTT dan pedalaman Kalimantan.

Pengaruh budaya luar terhadap kebudayaan Indonesia selain dapat membawa dampak yang positip dapat pula membawa pengaruh negatif. Pengaruh unsur budaya luar mau tidak mau harus diterima sebagai fenomena baru bagi kekayaan bangsa kita. Pada dasarnya di era globalisasi diharapkan tidak menutup diri dari masuknya berbagai unsur budaya luar, karena sama halnya dengan menutup diri dari masuknya unsur budaya luar. Namun dalam penerimaan budaya luar tersebut hendaknya harus cukup selektif. Selektif di sini dimaksudkan adalah budaya luar yang memiliki pengaruh negatif tidak perlu diikuti atau didukung. Misalnya, hidup secara free sex, pola hidup konsumerisme dan lain sebagainya. Mengantisipasi segala kemungkinan adanya dampak negatif dari masuknya budaya luar, misalnya, meningkatnya, kejahatan timbulnya kenakalan remaja, penyalahgunaan narkoba, dan sebagainya.

Sementara itu dampak positip dari masuknya unsur budaya luar bagi bangsa Indonesia dapat dilihat dari adanya alih tehnologi. Transformasi kebudayaan yang memungkinkan bangsa kita dapat membangun, menguasahi ilmu pengetahuan dan teknologi canggih. Adanya interaksi yang baik dengan bangsa-bangsa lain di dunia juga dapat dirasakan dalam bidang ekonomi, perdagangan dan transportasi.

C. Keanekaragaman Budaya di Indonesia bagi Integrasi Bangsa.

Integrasi bangsa dimaksudkan dalam pengertian antropologi adalah proses penyesuaian di antara unsur-unsur budaya yang berbeda sehingga mencapai suatu keserasian dalam kehidupan masyarakat. Sedangkan secara politis berarti penyatuan kelompok budaya dan sosial ke dalam kesatuan wilayah nasional yang membentuk suatu identitas nasional. Integrasi bangsa atau intergrasi nasional diartikan pula sebagai suatu kesatuan yang terdiri atas bagian-bagian yang lebih kecil yang satu sama lain secara sadar mengikatkan diri dalam suatu wadah yang lebih besar. Bagian-bagian kecil itu adalah suatu suku bangsa atau nation yang ada di seluruh nusantara yang karena mempunyai kesamaan latar belakang dan solidaritas satu sama lain bersatudan membentuk satu kesatuan yang lebih besar serta lebih kokoh guna mencapai tujuannya.

Upaya memahami keanekaragaman suku bangsa dan kebudayaan di Indonesia adalah bertujuan untuk mengungkap berbagai bentuk interaksi sosial yang terjadi pada berbagai suku bangsa atau etnis yang saling berbeda kebudayaannya.

Ada kecenderungan bahwa setiap orang akan mengidentifikasikan dirinya dengan suku bangsa tertentu, sementara di pihak lain juga berusaha mengidentifikasikan perilakunya dengan latar belakang suku bangsanya sendiri.

Dalam kehidupan masyarakat majemuk seperti Indonesia, seringkali muncul gambaran subyektif mengenai suku bangsa lain atau biasa disebut stereotype ethnic. Sekalipun ruang lingkup pengertian stereotipe etnik tidak selalu berupa gambaran yang bersifat negatif, tetapi acapkali gambaran yang muncul lebih bersifat negatif dari pada positif.

Keanekaragaman suku bangsa sebagai suatu kondisi dasar dalam masyarakat plural memiliki implikasi yang luas. Konflik yang lahir akibat keanekaragaman tersebut, telah menjadi ancaman bagi keamanan sosial dan kesejahteraan masyarakat bsecara luas. Untuk itu, berbagai akomodasi kultural yang merupakan sumber dalam mengatasi berbagai konflik perlu dianalisis keberadaannya dan efektivitasnya dalam berbagai lingkungan sosial. Usaha ini dapat dapat dimulai dengan melihat kembali bagaimana konstruksi sosial dari etnisitas itu sendiri dalam seting sosial budaya tertentu karena ini akan menegaskan hubungan-hubungan yang kompleks antara etnis dan parameter sosial yang lain.

Keberadaan suatu etnis di suatu tempat memiliki sejarahnya secara tersendiri, khususnya menyangkut status yang dimiliki oleh suatu etnis dalam hubungannya dengan etnis lain. Sebagai suatu etnis yang merupakan kelompok etnis pendatang dan berinteraksi dengan etnis asal yang terdapat di suatu tempat, maka secara alami akan menempatkan pendatang dalam posisi yang relatif lemah. Namun demikian, etnis tersebut memiliki status yang relatif seimbang dengan etnis lain pada saat mereka sama-sama berstatus sebagai pendatang dalam lingkungan sosial yang baru. Hubungan semacam ini hanya dapat dibenarkan dalam suatu lingkungan sosial karena ciri lingkungan sosial inilah yang kemudian mengartikulasikan kembali apa yang disebut sebagai etnis itu sendiri. Ruang sosial yang merupakan ruang publik merupakan tempat dimana berbagai perbedaan dipertemukan.

Terhadap gambaran diatas, maka diperlukannya cara pandang yang jelas dan terarah dalam setiap melihat permasalahan sosial dan budaya dalam masyarakat. Penanganan yang cermat dan tepat dalam menyikapi permasalahan sosial budaya bisa ditelusuri dari latar belakang suku-suku bangsa yang ada.

Untuk mengungkapkan persoalan keanekaragaman budaya, setidaknya ada tiga strategi yang perlu dipertimbangkan. Pertama, perlu ditemukan titik-titik interaksi antaretnis yang meliputi tempat, kegiatan, dan simbol-simbol yang digunakan dalam komunikasi. Kedua, selain itu perlu diperhatikan bentuk ekspresi etnis yang tampak dari bahasa yang dipakai, tingkah laku dan penataan ruang dalam rumah. Dengan cara ini persepsi tentang berbagai hal yang menyangkut interaksi antaretnis dapat dipahami dengan baik. Ketiga, perlu ditemukan bentuk-bentuk kesepakatan terutama bagaimana selama ini komunikasi antaretnis terjadi dan bagaimana perbedaan antar etnis ditegaskan dan diterima sebagai bagian yang sah dalam suatu lingkungan permukiman. Berbagai hal yang berkaitan dengan unsur sosial dan komunal yang dibentuk bersama oleh berbagai etnis dan pranata yang telah eksis perlu direkonstruksikan kembali.

Ketiga aspek yang dikaji tersebut akan memperjelas pendekatan yang digunakan dalam kajian-kajian tentang kesuku-bangsaan. Untuk tujuan ini perlu diketahui sisi kesejarahan suatu lingkungan sosial dan ciri-ciri umum seperti pengelompokkan orang dalam satu permukiman. Selain itu, kajian yang menyangkut aspek kesejarahan ini akan menjelaskan “alasan” dari kehadiran suatu ekspresi budaya dan juga akan menjelaskan “nilai-nilai” tertentu yang ada di balik ekspresi tersebut.

Tujuan kemerdekaan bagi bangsa Indonesia yang tiada lain integrasi nasional, memajukan dan meningkatkan kehidupan seluruh masyarakat Indonesia, serta menjadikan masyarakat yang adil dan makmur. Usaha untuk mewujudkan itu direalisasikan dengan pembangunan di segala sektor kehidupan.

Pembangunan kebudayaan daerah berarti pembangunan kebudayaan nasional. Sebaliknya pembangunan kebudayaan nasional berarti juga pembangunan kebudayaan daerah. Ini disebabkan karena masing-masing kebudayaan daerah sudah terintegrasi ke dalam kebudayaan nasional. Pembangunan kebudayaan nasional hanya bisa berjalan dengan lancar bila integrasi nasional terpelihara dengan baik. Oleh sebab itu, upaya menjaga dan memelihara persatuan dan kesatuan bangsa adalah menjadi salah satu program pembangunan nasional.

Pembangunan merupakan partisipasi aktif semua anggota masyarakat. Perencanaan, pelaksanaan dan hasil pembangunan tidak akan ada artinya tanpa dukungan dan keterlibatan masyarakat di dalamnya. Dalam pembangunan ini tidak membedakan agama, golongan, suku dan tempat tinggal.

Selain partisipasif aktif dari semua anggota masyarakat, sikap toleransi juga perlu dikembangkan bagi setiap anggota masyarakat. Sikap toleransi terhadap kelompok-kelompok manusia dengan kebudayaan yang berbeda dengan kebudayaan sendiri hanya mungkin tercapai dalam suatu akomodasi. Sikap oleransi tersebut diharapkan dapat mendorong terjadinya komunikasi, dan sikap ini akan mempercepat terjadinya asimilasi.

Tidak kalah pentingnya dalam peran integrasi bangsa, maka sikap empati perlu juga dikembangkan dalam masyarakat. Daniel Goleman dalam bukunya Emotional Intelegence menjelaskan, bahwa empati memungkinkan seseorang untuk menghayati masalah yang tersirat adanya perasaan orangn lain, yang tidak hanya diungkapkan melalui kata-kata.

Melalui empati, seseorang tidak hanya keluar diri dalam usaha memahami orang lain, tetapi juga melakukan pemahaman internal sebagai berikut:

1. Kesadaran bahwa tiap orang memiliki sudut pandang berbeda, akan mendorong seseorang mampu menyesuaikan diri sesuai dengan lingkungan sosialnya. Dengan menggunakan mobilitas pikirannya, seseorang dapat menempatkan diri pada posisi perannya sendiri maupun peran orang lain sehingga akan membantu melakukan komunikasi efektif.

2. Mampu berempati mendorong seseorang melakukan tindakan altruistis, yang tidak hanya mengurangi/menghilangkan penderitaan orang lain. Merasakan apa yang dirasakan individu lain akan menghambat kecenderungan perilaku agresif terhadap individu itu.

3. Kemampuan untuk memahami perspektif orang lain membuat seseorang menyadari bahwa orang lain dapat membuat penilaian berdasarkan perilakunya. Kemampuan ini membuat individu lebih melihat ke dalam diri dan lebih menyadari serta memperhatikan pendapat orang lain mengenai dirinya. Proses itu akan membentuk kesadaran diri yang baik dimanifestasikan dalam sifat optimis, fleksibel, dan emosi yang matang.

D. Keanekaragaman budaya di Indonesia.

Khasanah kekayaan budaya suku-suku bangsa di Indonesia selain banyak yang bisa kita lihat, sebagian masih dalam bentuk tidak tertulis, dan sebagian lainnya terhimpun dalam bentuk verbal, misalnya cerita-cerita rakyat atau foklore. Sebagian juga sudah tertulis tetapi belum dibukukan, karena tidak semua dapat dibeberkan di sembarang tempat dan waktu mengingat sifat yang keramat atau sakral (Hari Poerwanto, 2000:119).

Keanekaragaman budaya di Indonesia meliputi pada 7 bentuk kebudayaan universal. Berikut ini beberapa keanekaragaman budaya di Indonesia dalam perwujudannya yang terdapat pada semua unsur kebudayaan universal.

1. Bahasa

Koentjaraningrat (1997:16) menjelaskan catatan etnografi mengenai bahasa suku bangsa tidak perlu sedalam deskripsi mengenai susunan sistem fonetik, fonologi, sintaksis dan semantik, seperti yang dilakukan oleh seorang ahli bahasa dalam penyusunan tata bahasa. Pengumpulan data tentang ciri-ciri yang mencolok, data mengenai daerah persebarannya, variasi geografi, dan variasi yang ada sesuai dengan lapisan-lapisan sosial yang ada.

Lebih lanjut Koentjaraningrat menjelaskan, bahwa menentukan luas persebaran suatu bahasa tidak mudah, karena di daerah perbatasan hubungan antar warga dari dua suku bangsa yang tinggal berdekatan umumnya sangat intensif, sehingga terjadi saling mempengaruhi. Sebagai contoh bahasa Jawa dengan bahasa Madura. Sebaliknya walaupun terletak pada daerah yang berdekatan tidak menutup kemungkinan juga adanya perbedaan dalam berbahasa daerah, contohnya bahasa Jawa di Surabaya dengan bahasa Jawa di Trenggalek yang nota bene masih dalam satu wilayah propinsi, terdapat perbedaan logat (dialek). Demikian pula penduduk di hilir sungai di tepi pantai Irian Jaya tinggal dalam 24 desa kecil yang hampir semuanya terletak rapi di jalur pantai pasir terbagi dalam tujuh kelompok namun masing-masing kelompok memiliki bahasa sendiri.

Perbedaan bahasa pada suku bangsa di Indonesia juga dipengaruhi adanya pelapisan sosial, sebagai contoh: bahasa Jawa yang digunakan orang Jawa pada umumnya berbeda dengan bahasa Jawa yang digunakan dalam lingkungan keraton. Perbedaan bahasa berdasarkan lapisan sosial dalam masyarakat bersangkutan disebut “tingkat sosial bahasa”. Tingkatan bahasa dalam suku bangsa Jawa yang sangat mencolok adalah kromo dan ngoko. Semakin tinggi usia atau status lawan bicara, maka semakin tinggi atau halus tingkatan bahasanya, yaitu kromo andhap, kromo madya atau kromo inggil.

2. Sistem pengetahuan

Banyak sekali pembahasan tentang keanekaragaman sistem pengetahuan pada suku bangsa di Indonesia. Namun secara singkat Grandes menggolongkan bentuk keanekaragaman sistem pengetahuan suku bangsa di Indonesia itu dalam golongan 10 unsur kebudayaan Indonesia asli, yaitu :

a) Astronomi atau perbintangan.

Digunakan untuk pelayaran di malam hari, juga berkaitan dengan “Zodiak Bekker”, menggunakan perhitungan bintang untuk meningkatkan hasil panen. Demikian pula perhitungan hari, di Jawa terkenal dengan sebutan weton (Pon, Wage, Kliwon dan legi), dimana segala aktifitas yang terkait dengan lingkaran hidup selalu menggunakan perhitungan weton untuk menjaga keamanan, kelancaran dan kemulyaan hidup.

b) Metrum / Puisi

Merupakan suatu rangkaian kata atau kalimat yang tersusun indah. Biasa digunakan dalam bahasa pergaulan. Contohnya yang terkenal dengan sebutan parikan di Jawa. Bahkan bisa ditemukan pada saat upacara perkawinan, yaitu pantun berbalas di Sumatera.

c) Pelayaran

Dengan pengetahuan ilmu perbintangan (astronomi) dapat membantu para pelaut dalam berlayar (navigasi), selain itu teknologi perkapalan juga meningkat dari kapal yang berupa perahu lesung (sederhana) berkembang menjadi kapal bercadik hingga akhirnya kapal pinisi (kompeks)

d) Pertanian

pertanian di Indonesia masih bervariasi ada yang masih dalam bentuk berburu dan meramu (food gathering and hunting) hal ini terjadi di Papua, ladang berpindah seperti yang ada di Kalimantan dan ada juga yang telah menggunakan irigasi (maju) seperti di Jawa, Sumatera, Bali, dan lain-lain

e) Seni mengenal Tuang/Logam

Teknik pembuatan perunggu menghendaki keahlian khusus dan secara sederhana telah diterapkan oleh masyarakat (berdasarkan penemuan cetakan perunggu di beberapa tempat di Jawa Barat dan Bali). Contoh barang perunggu tersebut adalah kapak perunggu yang ditemukan di daerah Jawa, Bali, Pulau Rote, dan lain-lain. Moko yang merupakan variasi dari nekara perunggu yang berkembang di Asia Tenggara, sedangkan di Indonesia ditemukan antara lain di daerah Dieng, Pejeng, Basang Be dan sebagainnya (Soejono, 1984:25)

f) Sitem Uang

Sistem uang pada suatu kerajaan diberikan sebagai suatu penghargaan bergambar tokoh Punakawan.

g) Orkestra / Musik / Wayang

Seni pewayangan merupakan karya anak bangsa yang sarat dengan nilai-nilai filosofi yang terdapat pada kehidupan masyarakat Indonesia khususnya di Jawa. Demikian pula bentuk fisik dari seni pewayangan, memerlukan keahlian dan ketrampilan khusus untuk membuat maupun memainkannya.

h) Perdagangan

Adanya perdagangan secara tradisional dengan memakai sistem barter yaitu pertukaran barang yang dilakukan oleh masyarakat tradisional.

i) Pemerintahan

sistem pemerintahan di daerah pedalaman biasanya dipimpin oleh tetua adat setempat yang biasanya diturunkan kepada anak dan kemudian diturunkan kepada anak cucu begitu seterusnya.

j) Batik

Batik di Indonesia merupakan suatu hasil karya bangsa yang mengawali munculnya batik-batik lain di dunia. Dibutuhkan pengetahuan dan ketrampilan khusus untuk membuat batik. Baik pengetahuan tentang motif batik , tehnik serta peralatan membatik dan pengetahuan pemilihan bahan untuk membatik. Pembuatan motif batik bukan sekedar menorehkan warna pada kain, akan tetapi setiap motif batik mempunyai perlambang tersendiri. Contohnya, motif “semen”, berasal dari kata “semi” merupakan suatu lambang dari kehidupan yang terus menerus. Motif “Garuda” menandakan lambang dunia atas, dan motif “Ular” menandakan lambang dunia bawah. Tehnik dan peralatan membatik menggunakan alat khusus yaitu canthing (tempat malam), ada yang berlubang satu, berlubang dua atau berlubang tiga. Sementara dalam pemilihan bahan pewarnapun juga tidak sekedar memberi warna. Warna merah adalah suatu lambang keabadian/kehidupan dikaitkan dengan darah. Warna hitam lambang kekuatan,

3. Organisasi sosial

Manusia sebagai kodratnya selain sebagai mahluk biologis juga merupakan mahluk sosial. Ini berarti dalam melakukan aktifitas hidupnya memerlukan manusia lain. Berarti pula dimungkinkan juga bahwa organisasi sosial yang pertama adalah keluarga dan kekerabatan, setelah itu baru membentuk kelompok-kelompok yang lebih besar lagi.

Sub-sub unsur dari organisasi sosial meliputi antara lain: sistem kekerabatan, sistem komunitas, sistem pelapisan sosial, sistem kepemimpinan, sistem politik, sistem ekonomi dan lain-lain.

Kekerabatan bisa terjadi karena hubungan darah dan karena perkawinan.

Sistem kekerabatan pada budaya suku bangsa di Indonesia beranekaragam bentuknya, namun pada sebagian ada yang memiliki pola yang sama. Contohnya, pada sub unsur perkawinan, pada umumnya terdapat sub unsur perkenalan, peminangan, perayaan dan mas kawin. Proses tersebut bisa dalam wujud yang berbeda-beda baik cara maupun sarananya, namun tujuannya sama. Contohnya, pada sub unsur cara-cara memperoleh jodoh, terdapat berbagai macam cara, yaitu antara lain :

a) Meminang, banyak ditemui pada suku-suku bangsa di Indonesia

b) Menculik gadis, ada dua kemungkinan, yaitu dengan persetujuan orang tua, untuk menghindari ketentuan membayar mas kawin, misalnya pada suku bangsa di Bali disebut melegandang, dan kemungkinan lain yaitu tanpa persetujuan keluarganya.

c) Mengabdi, ini disebabkan karena pihak laki-laki tidak mampu membayar mas kawin, contohnya dengan mengangkat sebagai anak di Lampung, atau di Bali terkenal dengan istilah sentana.

d) Tukar menukar, yaitu pihak laki-laki menyediakan gadis pada saat melamar, tujuannya untuk dikawinkan pada kerabat perempuan, contohnya ada pada suku bangsa di Irian Jaya

e) Sororat, yaitu perkawinan lanjutan, dimana seorang duda mengawini saudara perempuan istri, di Jawa terkenal dengan sebutan ngarang wuluh

f) Levirat, yaitu kebalikan dari sororat

Selain itu ada sub unsur adat menetap. Beranekaragam bentu adat menetap setelah menikah pada suku-suku bangsa di Indonesia, antara lain :

a) Utrolokal yaitu memberi kemerdekaan pengantin baru untuk tinggal di sekitar kerabat suami atau istri

b) Virilokal yaitu adat menetap di sekitar kerabat suami

c) Uxorilokal yaitu adat menetap di sekitar kerabat istri

d) Neolokal yaitu pengantin baru tinggal di rumah baru

Sistem pelapisan masyarakat pada suku-suku bangsa di Indonesia terdapat beranekaragam bentuknya. Di Bali ada Brahmana, Ksatria, Waisya dan Sudra; di Jawa ada kaum priyayi (keraton) dan wong cilik penduduk pada umumnya; di Palembang ada golongan priyayi (meliputi: golongan Pangeran, Raden dan Mas Agus), dan golongan rakyat (meliputi: golongan Kyai Mas, Kyai Agus dan rakyat jelata yang dibagi lagi menjadi orang Miji, orang Senan dan Budak), dan lain sebagainya.

4. Sistem mata pencaharian hidup

Sistem mata pencaharian berbagai suku bangsa di Indonesia dapat dibedakan berdasarkan mata pencahariannya, yaitu: (1) masyarakat pemburu dan peramu, (2) masyarakat peternak (pastoral societes), (3) masyarakat peladang (shifting cultivators societes), (4) masyarakat nelayan (fishing communities), masyarakat petani-pedesaan (peasant communities), (5) masyarakat perkotaan yang kompleks (urban complex societies).

Di Indonesia masih terdapat penduduk yang hidup sebagai pemburuh dan peramu hasil hutan, antara lain penduduk di Lembah Baliem Irian Jaya dan di sekitar daerah danau di Paniai Irian Jaya, dan suku Anak Dalam atau orang Kubu di Sumatera. Mereka belum mengenal bercocok tanam, dan hidup berkelompok dalam jumlah yang tidak banyak. Bersama-sama dengan penduduk yang masih hidup sebagai peladang berpindah-pindah (slash and burn agriculture seperti orang Togutil di Halmahera Tengah; mereka sering diklasifikasikan sebagai masyarakat “terasing”. Kategori ini, disamping mereka itu tinggal di suatu lokasi yang jauh dari jangkauan alat transportasi, juga didasarkan atas tingkat kesejahteraan dan kemajuan, terutama yang berkaitan dengan proses akulturasi dan sikap mereka terhadap inovasi. Selain itu ada juga orang Laut yang mengembara di sepanjang laut kepulauan Riau dan Bajo di kawasan pantai Sulawesi Utara, orang Badui di Banten Jawa Barat, orang Donggo di pedalaman pegunungan Sumbawa Timur, orang Amma Toa di Sulawesi Tengah (Hari Poerwanto, 1997:122-123).

Suku-suku bangsa peramu sagu di Papua memiliki konsepsi yang tegas mengenai hutan-hutan sagu, yaitu bagian mana yang menjadi milik sendiri, milik kerabat ibu dan lain-lain, yang tidak demikian saja berani mereka langgar.

Hewan buruan yang utama di Irian Jaya adalah babi dan buaya, namun jarang sekali penduduk Irian Jaya yang memiliki keahlian berburuh buaya, sehingga umumnya mereka hanya sebagai pengendali perahu atau pembantu pemburu. Sedangkan pemburu buaya pada umumnya berasal dari luar Irian Jaya, yaitu Ternate, Maluku Buton dan tempat-tempat lain di Sulawesi.

Setelah Perang Dunia Ke-2, penduduk pantai Irian Jaya mulai mengenal bercocok tanam di ladang. Namun ini dilakukan secara sambilan, sebab hanya dilakukan terutama pada musim-musim kurang menguntungkan bagi nelayan untuk pergi melaut.

Perahu yang digunakan para nelayan tradisional, umumnya berbentuk perahu lesung, yaitu batang pohon kayu yang ditinggikan sisinya dengan papan. Untuk menjaga keseimbangan perahu dilengkapi dengan cadik pada salah satu sisi atau semua sisinya. Kadang-kadang perahu juga dilengkapi dengan layar. Bentuk perahu dengan ukuran yang lebih besar menggunakan konstruksi lunas, dengan kerangka yang dibuat dari balok-balok.

Sistem berladang juga masih banyak diterapkan di Indonesia. Di pulau Jawa berladang memang hampir jarang ditemukan lagi, tetapi di daerah Sumatera, Kalimantan, Sulawesi Tengah, kepulauan Maluku, Nusa Tenggara dan Papua berladang merupakan kegiatan bercocok tanam yang umum.

Sistem kesatuan kerja dalam kegiatan berladang adalah keluarga inti, namun tidak menutup kemungkinan juga keluarga luas. Tenaga tambahan juga kadang-kadang diperlukan. Pada suku bangsa Sumbawa Barat tenaga tambahan itu disebut basiru (tidak ada pembayaran jasa), saleng tulong (pengembalian jasanya suatu saat di kemudian hari) dan nulong (pembayaran tunai/langsung).

Mata pencaharian penduduk di Indonesia dengan cara bercocok tanam menetap, dibagi atas bercocok tanam tanpa bajak (hand agriculture, hoe agriculture atau horticulture) dan bercocok tanam dengan bajak (plough agriculture).

Perhitungan musim juga diperlukan dalam bercocok tanam. Pada suku Batak ada 4, yaitu : si paha onom (September=musim hujan), si paha pitu, si paha valu (Oktober-Nopember= mengerjakan / mengolah sawah), si paha sia (Desember=penaburan benih dan dilakukan upacara boras pan initano yaitu agar padi terhindar dari serangan hama dan si paha tolu (Juni=memanen secara gotong royong. Saat itu kesempatan para pemuda dan gadis untuk menemukan jodohnya).

5. Sistem Peralatan Hidup dan Teknologi

J.J. Honigman dalam Koentjaraningrat (2002: 23), menjelaskan bahwa teknologi adalah segala tindakan baku yang digunakan manusia untuk mengubah alam termasuk tubuhnya sendiri / tubuh orang lain. Obyeknya meliputi:

a) Alat alat produksi

b) Senjata

c) Wadah. Yang terdiri dari: cetakan yang kemudian dirusak; ceiling technique yaitu menyusun lintingan tanah liat berbentuk tali panjang sehingga membentuk wadah; modelling technique yaitu membentuk tanah liat dengan tangan; pottery wheel technique dengan bantuan alat berputar

d) Makanan

e) Pakaian

f) Rumah

g) Transportasi

6. Kesenian

Umumnya bagi orang yang berbahasa Indonesia, “kebudayaan” adalah kesenian, sebab unsur kesenian hampir selalu ada atau mengiringi setiap aktifitas hidup pada suku-suku bangsa di Indonesia. Koentjaraningrat (1997:19) merumuskan bahwa kebudayaan )dalam arti kesenian adalah, ciptaan dari segala pikiran dan perilaku manusia yang fungsional, estetis dan indah, sehingga ia dapat dinikmati dengan panca inderanya (penglihatan, penciuman,pengecap, perasa dan pendengaran)

Secara umum keanekaragaman di Indonesia yang berwujud kesenian meliputi seni verbal (dapat didengar), seni rupa (dapat dilihat) dan gabungan dari seni verbal dan seni rupa.

Keanekaragaman kebudayaan yang berwujud verbal dari kesenian antara lain, puisi, pantun berbalas, “parikan”, tembang-tembang atau lagu-lagu daerah. Bahkan irama dari doa-doa yang dilantunkan pada suatu kegiatan keagamaan, bisa dinikmati melaui pendengaran.

Muatan isi yang ada pada seni verbal di Indonesia pada umumnya berisi pesan, sindiran, petuah, keindahan alam dan suasana perasaan.

Seni rupa dalam keanekaragaman budaya di Indonesia banyak berorientasi pada lingkungan, yaitu berupaya meniru alam. Dalam upaya meniru lingkungan itu, kadang-kadang hampir sempurna.

Selain berupaya meniru lingkungan atau alam, seni budaya pada suku-suku bangsa di Indonesia, memuat “perlambang-perlambang” sebuah alur kisah atau cerita, harapan-harapan. Contoh paling lengkap yang memuat semua itu adalah bangunan candi. Selain bentuk bangunannya yang memuat unsur kosmologi, relief pada dinding candi juga menggambarkan alur sebuah cerita, misalnya kisah Rama dan Shinta. Simbol-simbol atau perlambang-perlambang juga banyak ditemui pada bangunan candi, misalnya, pahatan yang berbentuk kepala Kala (disebut Banaspati=Raja Hutan) pada bagian atas pintu candi dan pahatan Makara (semacam ikan yang mulutnya ternganga). Arca- arca kecil dari batu, logam atau perunggu bahkan berlapis emas yang biasa diletakkan dan ditata secara rapi pada tempat pemujaan, tiang-tiang mbis (patung-patung yang menggambarkan orang-orang yang disusun secara vertical) pada suku bangsa di Irian Jaya, merupakan gambaran orang dengan para leluhurnya, dan sebagainya.

Motif- motif batik, tato pada suku bangsa Dayak dan lukisan pada wajah seorang pengantin perempuan, juga merupakan salah satu wujud budaya seni lukis/gambar pada suku bangsa di Indonesia.

Seperti halnya pada seni pahat, seni lukis pada budaya tradisional suku-suku bangsa Indonesia, juga memuat perlambang-perlambang.

Hasil seni budaya suku bangsa di Indonesia yang merupakan gabungan antara seni verbal dan seni rupa yang juga dapat dinikmati dan dinilai keindahannya, misalnya, pada pergelaran seni wayang, ada perangkat gamelan (seni rupa), irama gamelan (seni musik), tembang-tembang (seni verbal), perangkat wayang (seni rupa, pahat dan lukis), dan masih banyak hasil-hasil budaya di Indonesia yang mempunyai nilai estetika tinggi dan dapat dinikmati oleh semua orang.

7. Sistem religi

Mendiskripsikan tentang keanekaragaman sistem religi pada suku bangsa di Indonesia, tidak terlepas dari konsep alam kebudayaan, yang meliputi: alam religi (ketuhanan), alam mistis (gaib) dan alam profan (duniawi). Selain alam kepercayaan tersebut, sistem religinya juga memuat unsur pokok religi, yaitu:

a) Emosi keagamaan (getaran jiwa) yang menyebabkan bahwa manusia didorong untuk berperilaku keagamaan.

b) Sistem kepercayaan atau bayang-bayang manusia tentang bentuk dunia, alam, alam gaib, hidup, maut dan sebagainya.

c) Sistem ritus atau upacara keagamaan yang berfungsi untuk mencari hubungan dengan dunia gaib berdasarkan sistem kepercayaan.

d) Kelompok atau kesatuan-kesatuan keagamaan.

e) Peralatan keagamaan.

Bagi suku bangsa di Indonesia, menterjemahkan alam religius atau ketuhanan sangat bermacam-macam, mulai wujud dewa-dewa, ruh manusia yang telah meninggal, kekuatan sakti, maupun wujud dari bumi dan alam semesta (yang disebut ilmu kosmogoni atau kosmologi).

Konsep-konsep yang berkembang pada suku bangsa di Indonesia berkaitan dengan alam meliputi:

1) Konsep tabu yaitu larangan umum tentang sesuatu hal.

2) Magi imitative yang menjelaskan bahwa kekuatan gaib dapat menghasilkan dampak seperti apa yang ditiru (contohnya, santet atau melukai seseorang melalui media boneka)

3) Demonologi yaitu bahwa mahluk halus itu bisa melakukan apa saja sesuai dengan yang mengendalikannya.

4) Animatisme (dibedakan dari Animisme). Upacara bersih desa.

5) Konsep Mandala atau kosmologi yaitu ketentraman manusia dapat diperoleh jika mengembangkan hubungan yang serasi dengan alam (misalnya, pembangunan rumah pada suku bangsa di Jawa yang menghadap utara – selatan, dan pada suku bangsa di Bali yang terkenal dengan kaja – kelod).

6) Konsep Numerologi, misalnya, “penghitungan-penghitungan” untuk mengawali suatu upacara adat.

Wujud konsekuensi dari konsep-konsep tersebut adalah dilakukannya perilaku keagamaan yang biasa dikenal dengan sebutan upacara adat.

Pada umumnya suku-suku bangsa di Indonesia dalam menjalani siklus atau daur kehidupannya (lahir-hidup-mati) ditandai dengan upacara adat atau perilaku keagamaan, dengan harapan adanya imbalan keselamatan dalam hidup, serta kesempurnaan dalam menjalani kehidupan setelah matinya.

Bentuk-bentuk aktifitas keagamaan, sebenarnya merupakan suatu wujud “kepasrahan” manusia pada kekuatan gaib yang dipercaya dapat mempengaruhi dan berkuasa atas hidupnya.

Kekuatan gaib juga dipercaya berasal dari benda-benda yang ada di lingkungan manusia, misalnya; pada sebagian suku bangsa di Irian Jaya memakai kalung yang berhiaskan gigi babi, dengan harapan si pemakai dapat selamat dari musibah. Pada sebagian masyarakat Indonesia juga masih percaya pada kekuatan jimat yang berasal dari seseorang yang dipercaya mempunyai kekuatan supranatural. Bentuk jimat ini bisa berbentu keris, pusaka, bungkusan yang berisi doa-doa dan dikalungkan atau diikatkan pada tubuh dan lain-lain.

Seiring dengan kegiatan religinya, ada media-media yang disiapkan, yang berfungsi sebagai sarana dalam melakukan ritus atau upacara adat. Dalam kajian antropologis, ini sebenarnya merupakan suatu bentuk rayuan pada kekuatan gaib, supaya apa yang diinginkan tecapai. Misalnya, kemenyan, asap kemenyan dipercaya sebagai penghantar doa untuk bisa sampai pada Yang Maha Kuasa, bentuk-bentuk sajian yang berupa makanan adalah ungkapan pemberian makan pada roh leluhur (yang dipercaya setiap saat bisa hadir di sekitarnya) dan mau ikut menjaga kehidupan orang atau keluarga bahkan masyarakat pelaku upacara adat. Pada beberapa suku bangsa Jawa (khususnya di Jawa Timur dan Jawa Tengah) yang nota bene beragama Islam, dalam melakukan aktifitas keagamaannya masih menyertakan sesaji (bunga-bunga, makanan dan kemenyan) dalam kegiatan ritualnya. Biasa dikenal dengan agama Jawa Islam Abangan. Pengaruh kebudayaan Hindu-Budha masih ada.

Pengaruh kebudayaan Hindu-Budha inipun juga dapat ditemui pada bentuk bangunan fisik pada beberapa masjid jaman dahulu, yaitu pada bentuk bagian atap yang mirip sebuah kuil.

Sarana atau media dalam melakukan kegiatan adat tersebut, selain benda-benda, media manusia juga dipercaya bisa menghubungkan antara pelaku religi dengan kekuatan gaib yang ada dalam kepercayaannya, misalnya, dukun, shaman. Bahkan pada era modern di saat magis sudah sering tidak berhasil, banyak masyarakat yang mulai beralih pada kekuatan-kekuatan doa para pemimpin keagamaan untuk membantu kesulitan hidupnya, misalnya: dengan bantuan doa seorang pemimpin agama diharapkan dapat melepaskan diri dari bala (misalnya, rasa sakit, musibah dan lain-lain).

Kelompok atau kesatuan perilaku keagamaan atau kepercayaan di Indonesia nampak dari atribut yang digunakan dalam aktifitas keagamaannya, bangunan atau sarana fisik yang dipergunakan dalam pemujaan termasuk yang ada di tempat tinggalnya. Misalnya: hampir seluruh masyarakat di Bali, pada halaman rumahnya terdapat tiang (untuk menaruh sesaji) atau bangunan untuk pemujaan, ini merupakan kesatuan penganut agama Hindu.

Akan tetapi semua sistem religi yang dianut oleh semua suku bangsa di Indonesia, walau macam maupun sarananya beranekaragam, namun semua tujuannya satu, yaitu memuja pada satu kekuatan gaib yang dianggap suci dalam hidupnya untuk dapat memberikan keselamatan dan kemulyaan dalam hidup dan kesempurnaan dalam hidup setelah mautnya

Daftar Pustaka

Baal, J Van, 1988. Sejarah Pertumbuhan Teori Antropologi (Hingga Dekade 1970). Jakarta: Gramedia.

Daeng, Hans J, 2000. Manusia, Kebudayaan dan Lingkungan (Tinjauan Antropologis). Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Geertz, Clifford, 2003. Kebudayaan dan Agama. Yogyakarta: Kanisius.

Haviland, 1999. Antropologi 1. Jakarta: Erlangga.

Hasan, Fuad, 1989. Renungan Budaya. Jakarta: Balai Pustaka.

Hidayah, Zulyani, 1997. Ensiklopedi Suku Bangsa di Indonesia. Jakarta: LP3ES.

Irianto, Sulistyowati, 2003. Multikulturalisme dalam Perspektif Hukum: Tragedi Perempuan Tionghoa, dalam Jurnal Masyarakat Indonesia. Jakarta: Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia.

Koentjaraningrat, 1987. Sejarah Teori Antropologi I. Jakarta: UI Press.

——————–, 1990. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Rineka Cipta.

——————–, 1993. Kebudayaan Mentalitet dan Pembangunan, Jakarta: Gramedia.

——————–, 2002. Manusia dan Kebudayaan Indonesia. Jakarta: Djambatan.

——————–, 2002. Pengantar Antropologi (Pokok-Pokok Etnografi) II. Jakarta: Rineka Cipta.

Liliweri, Alo, 2003. Makna Budaya dalam Komunikasi Antar Budaya. Yogyakarta: LKIS.

Poerwanto, Hari, 2000. Kebudayaan dan Lingkugan (Dalam perspektif Antropologi). Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Wiranata, I Gede A B, 2002. Antropologi Budaya. Bandung: Citra Adi Bakti.

SILAKAN BERI KOMENTAR

Temui Kami di Facebook

Statistik

  • 1642Dibaca Hari Ini:
  • 1035Dibaca Kemarin:
  • 13740Dibaca Per Bulan:
  • 346693Total Pengunjung:
  • 1514Pengunjung Hari ini:
  • 13130Kunjungan Per Bulan:
  • 11Pengunjung Online: