Keong Permai

Nama keong bagiku cukup unik, Kampung itu tepat berada di ujung jembatan. Sekilas tidak menandakan ada perkampungan karena tertutup warung-warung kecil dan sebuah pemakaman umum. asal nama Kampung Keong, amemang agak susah.

Menurut Usup (80) seorang pensiunan veteran tentara Kampung Keong dulunya merupakan tempat pembuangan. Itu terjadi saat zaman penjajahan Belanda dan Jepang. Disebut keong karena ada sebuah Leuwi (genangan arus sungai yang dalam) yang banyak terdapat keong.

Bahwa dulunya disini hanya sebuah rawa dengan jalan yang sangat becek, yang kadang sampai selutut. Biasanya warga berjalan melewati jalan itu tanpa alas kaki.

tentang perihal sungai kecil yang terdapat tepat didepan gerbang masuk Kampung Keong. ”sungai itu tidak membelah kampung ini, tetapi memang sudah ada dari zaman dulu. Awalnya  hanya saluran air kecil saja, di sini yang disebut membelah atau pemisah dari daerah sebelah selatan keong ialah Batu belah yang ada di Cirende.Terus sungai itu hulunya ada di sana. terkenal dengan adanya “Setan Lubang” dulu sejarahnya di sana ada ikan Lubang (sejenis ikan belut)”,

Letaknya di sebelah selatan Kampung Keong, jalan menuju daerah Cirende dan Lebak Parahiang. sungai Cikatapis, yang awalnya hanya sebuah selokan kecil yang bersumber dari batu belah.mengapa kampung tersebut dinamakan Kampung Keong? Dulunya,  disebut keong emas. Pertama kali ditemukan di sebelah utara kampung ini.

Bahwa di ujung sungai Cikatapis itulah banyak hantu,  Diantaranya hantu yang mirip ular tetapi bukan ular. Hantu tersebut bisa berubah wujud atau bentuk. Terkadang menjadi ular dan kadang berubah menjadi kerbau.

Ularnya sebesar kerbau dan dinamakan Leuwikebo kepalanya berada di hulu sungai Cikatapis. Jika berubah menjadi kerbau, dia akan terlihat mandi di Leuwi. Kalau di hulu disebut Leuwikebo maka yang di hilir sini disebut Leuwi Eneng”.

“Kenapa disebut Leuwi eneng?” Dulu ada anak perempuan Bupati yang mati dibawa oleh siluman kali. Saat itu Bupatinya bernama Hardiwinangun. Setiap tahunnya dipastikan ada peristiwa kematian. Korban yang pertama adalah anak perempuan Bupati, yang kedua anaknya Dandres (Komandan Resort) Kepala Polisi.

Pada saat anak perempuan itu akan di sunat, pembantunya membawanya mandi di sungai itu, tiba-tiba kaki anak itu seolah ada yang menariknya ke dalam sungai. Dulu diyakini anak perempuan itu ditarik siluman. Sesudah tiga hari lamanya barulah mayatnya di ketemukan. Siluman kali jembatan itu sangat jahat pada tamu.

Sebelumnya kampung di sini terbagi dua, sebelah utara Kampung Pulo. Disitulah keong di temukan. Kalau yang sebelah sini namanya Kampung Kidul (Selatan). Setelah ditemukannya benda (keong) itu maka kedua kampung tersebut disatukan menjadi Kampung Keong. Daerah ini diakui oleh pemerintahan sebelum 1945 dengan nama Kampung Keong.

Sebelum Belanda datang, kampung disini sudah bernama keong. Saat kedatangan Belanda pertama kali, warga pribumi dikejar-kejar, sedangkan kedatangan Jepang tidak separah Belanda sebelumnya. Ternyata jembatan yang di lewati saat memasuki Kampung Keong tersebut, dulunya berwarna kuning.

Besi jembatan melengkung-lengkung dan ada tempat khusus buat pejalan kaki. Jembatan tersebut ambruk terkena meriam Belanda saat Bupati Hardiwinangun menjabat. Setelah hancur, jembatan dibangun kembali oleh Belanda.

Tetapi, kira-kira tahun 1958 jembatan ambruk kembali karena memang sengaja dihancurkan oleh tentara kita. Ini dilakukan karena pada saat itu Belanda akan menyerang ke Selatan. Jembatan dihancurkan supaya Belanda tidak bisa menyeberang, kemudian Jepang datang ke Lebak merenovasi jembatan itu. Lalu jembatan dibangun kembali tahun 1997.

bahwa nama keong itu berasal karena memang banyak ditemukan keong disana, keong juga bisa diartikan tempat persembunyian. Karena Semua Tentara Indonesia bersembunyi di kampung ini. Sedangkan kalau di Lebak sendiri, pribumi tidak ada sama sekali.

Lagipula, selain untuk persembunyian para tentara, di kampung ini, disepanjang sungai Ciberang dari belakang kabupaten, muara, sampai ujung jembatan dua di buat galian namanya bentengan. Yang digunakan oleh orang Jepang, jadi mereka berjalan di bawah tanah.

Kampung keong walaupun diapit oleh dua sungai,tetapi kalau banjir kampung keong tidak pernah kebanjiran. Karena letak geografisnya bagus, dan disitu terdapat dengan sebutan Ki Buyut Lingsir, maka tidak terjadi banjir. Dan di sebelah utara terdapat nama dengan sebutan Ki Buyut Gunung.

SILAKAN BERI KOMENTAR

Temui Kami di Facebook

Statistik

  • 1977Dibaca Hari Ini:
  • 1839Dibaca Kemarin:
  • 15914Dibaca Per Bulan:
  • 348659Total Pengunjung:
  • 1822Pengunjung Hari ini:
  • 15096Kunjungan Per Bulan:
  • 9Pengunjung Online: