Kerajinan Amai Setia Koto Gadang

KERAJINAN AMAI SETIA (KAS) di Koto Gadang adalah suatu organisasi wanita yang pertama di Minangkabau. Ia didirikan atas kesadaran jiwa kaum wanitanya untuk berjuang dalam mencapai kemajuan. Sebelumnya sebagai tradisi yang diwarisi dari zaman yang dahulu, wanita-wanita Koto Gadang belum dibolehkan memasuki sekolah-sekolah.

Pada tanggal 11 Februari 1911 lahirlah perkumpulan yang diberi nama Kerajinan Amai Setia diprakarsai oleh Ibu Rakena Puti dan dipimpin oleh seorang tokoh wanita Ibu Rohana Kudus. Dengan berdirinya organisasi ini maka tradisi-tradisi lama ini secara berangsur-angsur dapat dihilangkan dan mulailah kaum wanitanya menempuh pendidikan modern. Sejak semula K.A.S bergerak dalam bidang sebagaimana tercantum dalam pasal 2 dari anggaran dasarnya yang berbunyi sbb : De vereniging stelt zich tot doel de pheffing van de Minangkabausche vrouw en tracht dit doel te bereiken door het geven van onderricht in schrijven, lezen en rekenen, het beheren van de hiishouding, goede manieren, fraaie handwerken en het verkopen van de werken van huisvlijt”. Jadi tujuan utamanya ialah meningkatkan derajat wanita Kotogadang khususnya dan wanita Minangkabau umumnya dengan jalan memberi pelajaran menulis, membaca, berhitung urusan rumah tangga, etiket, kerajinan tangan dan menjualkan hasil kerajinan tangan itu. Pada tahun 1915 K.A.S mendapat pengakuan RECHTSPERSOON (BADAN HUKUM) dengan surat Putusan No. 31 tanggal 16 Januari 1915 dan pada waktu itu hampir seluruh penduduk wanita Koto Gadang menjadi anggotanya. Selanjutnya oleh pemerintah diberikan subsidi kepada organisasi ini dan subsidi ini dipergunakan untuk memulai membangun sekolah diatas sebidang tanah yang telah dibelinya (tahun 1916) dan dapat diselesaikan dan dipergunakan pada tgl 23 Februari 1919.

Pada mulanya pelajaran-pelajaran yang diberikan hanya berupa kursus-kursus (menjahit mesin, bordiran mesin, menyulam, merenda bangku, bertenun, dll.). Pada tahun 1923 K.A.S membuka Nijverheidschool (Sekolah Kepandaian Puteri) yang dapat berjalan dengan lancar sampai terpaksa tutup ketika Jepang masuk tahun 1942. Sebagai hasil dari kegiatannya K.A.S telah berhasil dalam :

  • Memperbaharui seni menenun, terutama dalam barang-barang kebutuhan sehari-hari seperti kain sarung, serbet, alas meja, kain dinding, dll.
  • Memperkenalkan renda bangku Belgia. Ini sempat tumbuh sebagai seni kerajinan khusus dari wanita Koto Gadang dan sekarang dikenal sebagai RENDA BANGKU KOTO GADANG.
  • Melahirkan hasil baik dalam seni sulam-menyulam, yang sekarang dikenal sebagai SULAMAN KOTO GADANG yaitu terawang, suji cair (satin stitch), Kepala peniti (French knots), filet, kelengkang, dll.

Di zaman Hindia Belanda tiap tahun dimana diadakan Pasar Keramaian, baik diseluruh kepulauan Indonesia maupun di Luar Negeri, dikirim barang-barang hasil karya K.A.S untuk dipamerkan. Hingga hasil karya KERAJINAN AMAI SETIA sampai sekarang terkenal di seluruh Tanah Air. Dari Luar Negeri seperti dari Paris, New York dan Amsterdam hasil karya ini mendapat penghargaan yang tinggi.

Pada tahun 1929 K.A.S mendapat kunjungan dari Gubernur Jendral Hindia Belanda De Graaf dalam rangka member penghargaan jasa dalam bentuk Bintang Jasa kepada Ketua Ibu Hadisah atas jasa-jasa beliau dalam keberhasilannya memajukan K.A.S. Beliau telah memimpin K.A.S dari tahun 1916-1929. Sebagai akibat dari Perang Dunia II maka hubungan K.A.S dengan Luar Negeri terputus; untuk kebutuhan dalam negeri K.A.S tetap dapat melayani, tetapi dalam keadaan yang terbatas. Setelah mengalami beberapa perubahan zaman yang dilalui masyarakat Koto Gadang, maka pada tahun 1960 K.A.S mendapat kunjungan dari Bapak Menteri Perindustrian dan kerajinan Rakyat Dr. Azis Saleh, dalam usaha menggalakkan seni kerajinan tangan rakyat. Dan beliau telah mendrop sokongan untuk membantu memulai pemugaran gedung K.A.S. Pada tahun 1980 K.A.S telah mendapat pinjaman bahan baku PERAK sebanyak 1 kg dari Kanwil Perindustrian Sumbar Padang, yang sampai sekarang masih diperpanjang terus. Sebagaimana diketahui, Koto Gadang terkenal memiliki seni kerajinan Perak. Pengrajin perak tidak hanya membikin perhiasan tradisionil saja, tapi mereka juga menciptakan disaindisain baru, seperti semat hias, kalung, gelang, rumah2 adat miniatur. Walau kelihatannya seni kerajinan tradisionil Koto Gadang seolah-olah sedang menghilang, angkatan muda dari kampung ini sebagai ahli waris dari nenek moyangnya yang berbakat tinggi masih memiliki bakat seni dan masih mengembangkan serta berusaha mencapai apa yang dikatakan “cap Koto Gadang” yang bercirikan pemeliharaan kwalitas, kejujuran, kesederhanaan dan kewajaran. Karena mereka tak mengenal teknik manipulasi, hasil kerajinan tangannya tetap dihargai sebagai hasil yang berarti. Dalam usaha meningkatkan produksi untuk mensukseskan Pelita III, K.A.S telah memperkuat kedudukan Hukumnya dengan membentuk Yayasan dalam pengertian K.A.S milik masyarakat wanita Koto Gadang dengan tujuan mendapatkan bantuan kredit dari Pemerintah R.I / Bank. Sayang ini tidak berhasil, karena ternyata Pemerintah hanya memberi kredit kepada Koperasi, sehingga sampai sekarang K.A.S belum pernah dapat bantuan kredit dari Pemerintah (kecuali 1 kg perak). Namun K.A.S tetap mendapatkan perhatian dari Pemerintah dengan selalu mengikutsertakan dalam tiap-tiap kegiatan Pemerintah untuk membantu Perusahaan Ekonomi Lemah, seperti Penataran Manajemen, Latihan Peningkatan Disain Produk Perak, Pameran tetap Perdagangan dan pameran-pameran yang sewaktu-waktu diselenggarakan oleh Departemen Perindustrian dan Departemen Perdagangan.

SILAKAN BERI KOMENTAR

Temui Kami di Facebook

Statistik

  • 1614Dibaca Hari Ini:
  • 1035Dibaca Kemarin:
  • 13712Dibaca Per Bulan:
  • 346673Total Pengunjung:
  • 1494Pengunjung Hari ini:
  • 13110Kunjungan Per Bulan:
  • 15Pengunjung Online: