Kesultanan Banten Berdiri

Tentang tarikh berdirinya Kasultanan Banten di Surosowan ini dituliskan sebagai berikut:

“Inkang kalang Banten nagari sedengnyan haro hara ikang nunaya jeng sisa Sabakingkin anak ira susuhunan Jatipurba lawan pra saparisharanya teka wong muslim prasiya sira, wiweha kahanan ika wadya Demak lan Charbon teka ta prahwa nira mandeg ing labuhan Banten nagari, irika tang ayuddha mwang anggepuk wadya bala Budha-Prawa. Bopatya Banten nagari lawan saparicharyanya lumayu menjing wanantara paran ira mangidul ngetan ringkitha-gung Pakuan Pajajaran, witan ikang pramatya Banten nagari. Ri huwuws ika binu patyakna ta sira Sabakingkin Banten nagari lawan nawastwan ngaran Hasanuddin deng rama nira Susuhunan Jatipurba kang lungguh raja paditha atahwa Sang Kamastwing sarat Sunda, kang tamolah ing Puserbumi nagari ya ta Charbon, kithaya sinebut Garage (Purwaka Caruban Nagari, pupuh 162 – 168).

Terjemahan teks tersebut adalah:

(162) Pada waktu itu di Banten sedang timbul huru-hara yang di-sebabkan oleh Pangeran Sabakingkin, putera Susuhunan Jatipurba dengan para pengikutnya. (163) Orang-orang muslim dan para muridnya, bertambah-tambah dengan kedatangan angkatan bersenjata Demak dan Cirebon yang telah berlabuh di pelabuhan Banten, kemudian menyerang dan memukul (164) angkatan bersenjata Budha-prawa. Adipati Banten dan para pengikutnya melarikan diri masuk hutan belantara menuju ke arah tenggara ke kota besar Pakuan Pajajaran. (165) Setelah itu dinobatkanlah Pangeran Sabakingkin di negeri Banten dengan gelar (168) Pangeran Hasanuddin oleh ayahnya dipertuan bagi seluruh daerah Sunda, yang berpusat di Puserbumi yaitu negeri Cirebon atau Garage (Atja, 1972: 57-58).

Djajadiningrat (1983:123-124) menuliskan tentang tarikh penaklukan Banten Girang ini ada dua sangkala yang keduanya berbeda. Brasta gempung warna tunggal tidak mempunyai nilai angka selain daripada 1400 Saka atau 1478 Masehi. Sangkala kedua berbunyi Ilang kari warna lan nagri; kata kari adalah suatu kesalahan penurunan naskah yang ditulis dalam pegon, karena kata ini tidak pernah ditemui dalam bahasa sangkala. Mungkin kata itu berasal dari kata kadi = kaya = 3. Sehingga seharusnya berbunyi: ilang kadi warna lan nagri, dan ini berarti angka tahun 1480 Saka atau 1558 Masehi.

Selanjutnya, dari keterangan Caeff, wakil VOC di Banten (1671), menyebutkan bahwa “Banten Lama” (dimaksudkan Banten Girang) yang letaknya sedikit di atas Clappadoa, kira-kira enam jam perjalanan kaki dari Tirtayasa ke Pontang dan tiga jam dari Banten. Sultan Ageng telah menyuruh mendirikan sebuah istana di sana, yang digunakan sebagai tempat mengungsi kaum wanita di masa perang. Kelapadua sekarang masih merupakan sebuah kampung kira-kira di barat laut Serang. Oleh karenanya, ibukota lama Banten haruslah letaknya di bagian barat atau barat daya Serang; yaitu Banten Girang (Banten Hulu). Tempat inilah yang dilaporkan Joao de Barros pada tahun 1525 Faletehan mendapat sambutan yang ramah dan selanjutnya menjadi tuan. Kemudian, masih menurut de Barros, pada tahun 1527 dari Banten yang letaknya lebih ke hilir sungai di tepi laut, Faletehan dapat menguasai Sunda Kalapa. Dari berita ini dapatlah ditarik kesimpulan, bahwa dua sangkala di atas haruslah diabaikan, karena tidaklah mungkin terjadi. Pemerintahan Banten tidak akan membiarkan “musuh” yang eksis di dekat-dekat dirinya, sementara Pinto menceritakan bahwa pada tahun 1546 Tagaril mengirimkan sebagian besar tentaranya untuk membantu Demak menggempur Pasuruan. Demikian pula pemindahan ibukota dari Banten Girang ke Banten yang diceritakan Sajarah Banten, tak dapat terjadi oleh Hasanuddin. Yang demikian itu haruslah dilakukan oleh ayahnya, dan barangkali segera setelah direbutnya Banten Girang; dan yang paling memungkinkan adalah antara tahun 1525 dan 1527(Djajadiningrat, 1983: 127).

Jika penaklukan Banten Girang terjadi pada tahun 1525 M, maka pendirian Banten Pesisir (Surosowan) sesuai bukti arkeologis dengan berita asing dan Purwaka Caruban Nagari terjadi tidak lain pada tahun 1526 M. Mengenai ketepatan waktu yang berupa tanggal, meskipun tidak ada berita pasti, namun dapat dianalogikan dengan hari mulia yaitu Muharram tanggal satu sebagaimana juga gambaran menuju peperangan ke Pakuwan Pajajaran yang dilakukan pada Muharram, tahun Alip 1579 (Djajadiningrat, 1983: 145-146).

1 Syuro atau 1 Muharram adalah hari baik untuk melakukan peristiwa penting yang dipercayai oleh masyarakat pada waktu itu, maka untuk pemindahan ibukota Banten dari Banten Girang ke Surosowan (Banten pesisir) itu dimungkinkan terjadi pada tanggal 1 Muharram 933 Hijriah yang, menurut Tabel Wuskfeld, bertepatan dengan tanggal 8 Oktober 1526 Masehi.

Halwany Microb dan A Mujahid Chudari. 1993.Catatan Masa Lalu Banten. Serang, Penerbit Saudara

 

SILAKAN BERI KOMENTAR

Temui Kami di Facebook

Statistik

  • 36Dibaca Hari Ini:
  • 1839Dibaca Kemarin:
  • 13973Dibaca Per Bulan:
  • 346869Total Pengunjung:
  • 32Pengunjung Hari ini:
  • 13306Kunjungan Per Bulan:
  • 1Pengunjung Online: