Ketidakjujuran Seorang Guru Dan Tiga Pilar Keruntuhan Pendidikan Di Indonesia

AYU

Banyak dari kita ( masyarakat ) mulai menyadari dan memngkritisi bahkan berteriak dengan bahasan halus sampai kasar dimana secara perlahan dunia pendidikan kita mengalami keruntuhan baik dari segi mutu, etika / budi pekerti dan sebagainya, dan ironisnya banyak orang khususnya kalangan pendidikan selalu menyalahkan/ mencari kabing hitam : sytem pendidikan yang ngga pernah bener, atau kurikulum yang selalu ganti ganti… atau pemerintah, pemerintah yang selalu mengadakan UN dengan dalih standarisasi pendidikan atau yang lebih ektrim pemerintah ( departemen pendidikan ) yang becus mengelola pendidikan?

kalau dari masyarakat menyalahkan sekolah….. guru yang nggak becus mengajar, pendidikan yang masih dengan kekerasan, biaya pendidikan yang mahal dan lain lain….. masih seabreg alasan untuk saling menyalahkan. Kalo kita mau jujur semua ( jika masih ada kejujuran di negeri ini lho ? ). ada 3 pilar mendasar yang menyebabkan keruntuhan pendidikan kita ( ini tidak bermaksud menyalahkan atau melemparkan kesalahan ke pihak lain ):

1. Orang Tua sangat berperan terhadap perkembangan dan pendidikan anak ( prioritas pendidikan anak kurang/masih kurang, Pengawasan terhadap anak sangat lemah khusunya dalam belajar, orang tua terjebak terhadap prioritas kebutuhan ekonomi anak dibandingkan kebutuhan pendidikan ).

2. Masyarakat yang ikut memberi peran akan parahnya suasana tak kondusif untuk belajar.

3. Guru yang tidak jujur terhadap diri sendiri ( ketidak jujuran dalam mengakui kemampuan dalam mengajar, serta ketidak obyektif dalam proses penilaian , ketidak beranian guru dalam memberikan hasil penilaian siswa ).

Sekarang Orang tua / masyarakat lebih percaya pada lembaga pendidikan non formal ( bimbingan belajar dari pada sekolah ) untuk mendapatkan hasil instan anaknya dan ketidak percayaan terhadap guru dan lembaga pendidikan formal/sekolah. Ketakutan orang tua jika anaknya tidak lulus /tidak naik kelas baru dalam tahap akhir orang tua mencari sulusi dengan les, privat tanpa memperhatikan proses yang diperoleh.

Andai semua ini bisa di jembatani alangkah indahnya, jika orang tua lebih arif dan memperhatikan kegiatan anak diluar sekolah dan memperhartikan belajar anaknya ( PR, tugas dan ulangan jadwal selalu tahu dan selalu ikut membimbing ) maka ketakutan dan ketidak percayaan terhadap guru dan sekolah tidak terjadi.

Jika guru obyektif dalam melakukan penilaian tanpa takut dianggap tidak bisa mengajar,melakukan penilain dengan jujur, obyektif dan transparan ( selalu dilaporkan pada siswa/orangtua ) dan selalu mencari perubahan perubahan untuk memperolah hasil yang lebih baik, serta mencari inovasi pembelajaran dan mencari keseimbangan antara pembelajaran proses dan kontekstual serta konseptual, mencari waktu untuk melalakukan trrik dalam mengerjakan soal dan permasalahan dan selalu mencari dan membuat predikdi prediksi soal dan ulangan ulangan yang relevan dengan pembahasan yang cepat dan cerdas. andai 3 pilar ini sinergi dan saling percaya maka setidaknya satu langkah kemajuan pasti dapat di raih.

( penulis hanyalah seorang guru desa kemudian pindah ke kota yang dari berangkat dari gaji kecil golongan IIb dan sampai sekarang dengan gaji lumayan ….dan hanya cukup untuk makan sekarang….namun tetap bangga menjadi guru…..dan abdi anak – anak )

3 Komentar

  • lia

    May 22, 2011

    yupzs"setuju,itulah yang berkembang d indonesia sekarang ini,mungkin sekarang tidak begitu terasa dampak yang akan terjadi,tapi bagaimana nasib generasi penerus kita karena lama lama pendidikan hanya sebuah formalitas,ya ga?tambah hancurlah negara kita ini....

  • jono

    Jun 04, 2011

    Jujur itu masalah abstrak, pengabdian adalah hal yang riil/ konkrit,..itu dua alam berbeda. yang ingin saya pahami dan ingin saya ajak sem,ua orang pahami, nigri ini akan mati tanpa guru,...gitu lho...

  • Kun Mardiono

    Jun 15, 2011

    Guru itu ujung tombaknya pendidikan. Artinya berhasil tidaknya pendidikan ditangan guru. Kalau saat ini pendidikan dianggap gagal permasalahannya ada pada guru. Walaupun kurikulum baik, terus perhatian pemerintah juga baik terhadap pendidikan, tapi dipihak guru kurang mampu mengapresiasi hasilnya juga bisa-bisa tidak sesuai dengan harapan. Lagu bagus, pemusiknya bagus, tapi penyanyinya bersuara sumbang apa jadinya.

SILAKAN BERI KOMENTAR

Temui Kami di Facebook

Statistik

  • 34Dibaca Hari Ini:
  • 1839Dibaca Kemarin:
  • 13971Dibaca Per Bulan:
  • 346868Total Pengunjung:
  • 31Pengunjung Hari ini:
  • 13305Kunjungan Per Bulan:
  • 1Pengunjung Online: