ketileng

Edy febriyadi (4322311030019)

Sebuah rumah yang berada di tengah kebun melinjo tidak jauh dari tempat pemakaman umum, dengan bentuk bangunan sederhana dinding masih menggunakan tembikar tepatnya didesa ketileng,propinsi Jawa Barat pada tahun 1961.

Rumah tersebut awalnya dibangun oleh seorang yang bekerja sebagai petani (kakeku) , sedangkan istrinya seorang pembuat emping(nenekku). Rumah itu dibangun diatas tanah warisan keluarga waktu itu bapaku berumur 15 tahun. Lingkungan disekitar rumah hanya ada pohon melinjo dan kelapa, jarak dengan tetangga berjarak sekitar 200 meter dari rumah kerumah, terhalag oleh perkebunan kacang tanah dan pohon durian. Dulu disekitar rumah ini banyak pohon durian sehingga sering dating seorang pedagang untuk memborong buah durian.

Dua tahun kemudian ada seorang pendatang yang membeli tanah tetangga yang tidak begitu jauh dari rumah, orang berasal dari daerah bandung.

Pada umur 21 tahun ayahku menikah dengan gadis yang tidak jauh adalah tetangga sendiri yang jaraknya hanya 3 rumah dari rumah kakekku. Ayahku sudah bekerja di pejagalan kerbau, 4 tahun kemudian ayahku memperluas rumah kakeku dengan menambahkan satu kamar dari dinding terbuat dari tembikart ahun (1968). 1 tahun kemudian ayah ku dikaruniai anak laki-laki dan pada saat kakaku berusia 5 tahun ayahku merehab rumah itu menggantinya dengan dinding bata tahun 1969 . Selang satu tahun setelah rumah itu selesai kakak ku yang ke 2 lahir perempuan 1970. Mulai banyaknya rumah yang dibangun di sekitar rumahku hingga bertambah ramai. 3 tahun kemudian kakaku yang ke 3 lahir 24 agustus 1973 .Lalu pada tahun 1976 didepan rumah dibangun satu ruangan untuk membuka warung. Sampai pada tahun 1979 kakaku lahir rumah masih dalam bentuk yang sama.3 tahun kemudian aku lahir pada tahun 1982. Karna ramainya warung ibuku bejualan hingga mendapat keuntungan yang lumayan besar, kemudian uang itu di gunakan untuk berangkat haji bersama bapaku pada tahun 1990.

Kemudian rumah dibangun total kembali pada tahun 1995 sambil bapakku mengurus sertifikat tanah agar dilegalkan dengan cara kolektif. Pada tahun 2005 jalan sudah mulai diaspal dan rumah tepat di pinggir jalan.sehingga pada tahun 2007 ada pelebaran jalan warung yang dipakai berjualan pun terkena pelebaran jalan sehingga mendapatkan ganti rugi oleh pemerintah. Kemudian uang tersebut digunakan untuk merehab warung yang dibongkar pindah diruang tamu sehingga rumah menambah ruang lagi dan sekaligus membangun kandang kebo itu dijadikan sebuah kamar mandi. Namun masih ada yang belum selesai dibangun sampai sekarang (2011) yaitu ruang tengah yang sekarang dijadikan tempat untuk mencuci dan menjemur baju. Cerita ini saya dapatkan dari uwa saya yg kebetulan masih hidup dan menjadi tokoh masyarakat di linkungan rumah.

Terbentuknya wajah yang menyerupai raut cemberut tersebut merupakan dampak dari daun-daunan merambat yang tumbuh memenuhi keseluruhan dinding luar rumah ini.Hanya kotak jendela dan kotak pintu yang “selamat” dari rimbunnya dedaunan, sehingga tampaklah raut seperti wajah cemberut. Daun-daunan merambat yang tumbuh di sisi-sisi bangunan pondok tersebut sengaja ditanam dengan tujuan agar dapat memberi rasa hangat ke dalam ruangan pondok tersebut. Pondokan yang cocok jika digunakan sebagai tempat syuting film horor ini dibangun pada abad ke-15. Selama 1500 tahun berdiri, bangunan ini tidak pernah diubah bentuknya. Fungsi dari bangunan ini pun berubah-ubah, mulai hanya dari rumah penginapan, hingga jadi gedung pengadilan. Kini, sudah selama 50 tahun yang lalu, rumah yang tampak horor ini merupakan sebuah kedai teh dan terkenal sebagai tempat dijualnya kue-kue buatan rumah. Demikian lansir Dailymail, Juamt (15/7/2011). Karena telah berumur sangat tua, bangunan ini pun telah menuai banyak sejarah dan mitos. Uniknya, jika pada musim dingin datang, daun-daun yang tadinya berwarna hijau segar akan berubah menjadi merah keungu-unguan dan menampilkan kesan horor.

Bangunan yang berada di gerbang Taman Nasional Snowdonia, Wales, ini kini dimiliki oleh National Trust, sebuah organisasi yang berdedikasi untuk melestarikan kekayaan budaya atau lingkungan pada suatu wilayah.

 

SILAKAN BERI KOMENTAR

Temui Kami di Facebook

Statistik

  • 1950Dibaca Hari Ini:
  • 1839Dibaca Kemarin:
  • 15887Dibaca Per Bulan:
  • 348635Total Pengunjung:
  • 1798Pengunjung Hari ini:
  • 15072Kunjungan Per Bulan:
  • 4Pengunjung Online: