KOMPLEK BCM (BUMI CIUJUNG MAKMUR)

GINANDAR

Perumahan atau komplek yang berada di jalan siliwangi belakang kantor Departemen Agama Kabupaten Lebak tersebut, yakni komplek Bcm (Bumi Ciujung Makmur) dahulunya ialah sebuah rawa atau semak-semak belukar yang dikelilingi oleh pohon-pohon yang menjulang tinggi serta di naungi oleh pepohonan yang lumayan lebat, seperti pohon kelapa, pohon albasiah, pohon jati, pohon beringin, dan pohon angsana. Namun di tanah yang luasnya kira-kira 5 hektare ini diperkirakan tumbuhan yang paling mendominasi ialah pohon bambu dan rerumputan yang populasinya seperti tak pernah terjamah oleh manusia. Menurut sesepuh komplek Bcm, dahulu ketinggian rumputnya bisa mencapai setinggi pinggang orang dewasa yang tumbuh di pnggir-pinggir empang atau yang sering disebut oleh orang sunda yakni (balong). Bukan hal yang tidak mungkin jika di tanah seluas 5 hektare yang sekarang menjadi perumahan komplek Bcm yang berada di jalan siliwangi Rangkasbitung tersebut, banyak sekali pohon bambu yang tumbuh di area tersbut, karena mengingat nama Rangkasbitung pun di ambil dari sejarahnya dulu yang konon katanya banyak sekali pohon bambu yang tumbuh hampir di keseluruhan wilayah Rangkasbitung ini. Kata Rangkas atau Rangsak diambil dari bahasa sunda yang memiliki arti yakni “Rusak”, Sedangkan Bitung diambil dari jenis pepohonan bambu yang sering disebut oleh orang-orang dari sunda yakni Awi Bitung. Jadi Rangkasbitung itu artinya bambu jenis bitung yang rusak atau hancur terbengkalai. Karena menurut orangtua dulu di wilayah ini banyak sekali bambu-bambu berjenis bitung yang berserakan hampir diseluruh wilayah Rangkasbtung ini. Maka tak heran di Komplek Bcm pun dahulunya banyak sekali pohon bambu yang tumbuh. Sedangkan menurut sumber yang lain mengatakan bahwa Komp Bcm dahulunya ialah tempat perlintasan (tapak tilas) tentara-tentara dari kolonial belanda yang pada saat itu akan menuju alun-alun Rangkasbiitung. Walaupun tidak ditemukannya bukti yang jelas dan tidak ditemukannya bukti-bukti otentik bahwa Komplek Bcm ini pernah di lintasi oleh tentara-tentara kolonial belanda, namun tidak menutup kemungkinan hal itu bisa saja terjadi dan bisa saja menjadi berita fakta yang bukan sekedar isapan jempol belaka, karena mengingat pada zaman itu tentara-tentara kolonial belanda disetiap pelosok daerah Kabupaten Lebak dan khususnya Rangkasbitung, memang sedang memboikot/memblockade daerah tersebut. Lalu pada tahun 1978 tanah yang luasnya mencapai 5 hektare ini, akhirnya dibeli oleh seorang warga dari kp.jaura palaton, yakni Bapak H.Juhri. Setelah tanah yang sekarang menjadi perumahan itu sah dimiliki oleh Bapak H.Juhri, maka beliau mulai membersihkan tempat tersebut dengan menebang satu persatu pepohonan yang usianya mungkin sudah mencapai ratusan atau puluhan tahun silam. Lalu 1 bulan sesudah penebangan tersebut, beliau pun mulai bergegas kembali untuk membersihkan rerumputan liar yang pada saat itu mulai menjalar ke seluruh tempat sehingga hampir tempat itu didominasi oleh pemandangan rumput-rumput liar. Beliau melakukan pembersihan rumput-rumput liar itu dengan cara dicabut/ditarik dari bawah ke atas, lalu di papas serta di bakar. Beliau melakukan pekerjaan berat tersebut dibantu oleh saudara-saudaranya, kawannya serta warga-warga se kampungnya. Kira-kira 45 hari Setelah tanah yang ditumbuhi pepohonan liar tersebut rapih dan (Ngeunah di tempo) enak dilihat, maka Bapak H.juhri mulai bercocok tanam kembali dengan menanam bibit pepohonan yang buahnya akan menghasilkan daya jual yang tinggi, seperti pohon mangga, pohon durian, pohon rambutan dan pohon pepaya. Beliaupun menggarap sawah agar nanti padinya menghasilkan beras-beras yang berkualitas dan berkuantitas serta memanfaatkan empang yang ada di tempat tersebut dengan menernak benih-benih ikan supaya menjadi sumber penghasilan yang lebih bagi beliau dan menjadi lahan usaha yang berkembang pesat pada saat itu. Setelah bibit-bibit pohon rambutan, pohon mangga, pohon durian, dan pohon pepaya tersebut berbuah dan menghasilkan buah yang segar, maka beliau mulai mencari realase untuk menjual hasil kebun serta hasil ternaknya itu ke pasaran luas namun sayangnya hasil dari sawah beliau ternyata mengalami gagal panen. Dalam waktu yang amat singkat beliau bisa menjual semua hasil kebun serta ternaknya dengan mendapatkan keuntungan sebesar 80% dari modal yang beliau keluarkan sebesar 50%. Menurut sesepuh komplek Bcm tersebut, bpak H.juhri saat itu menjual hasil kebun dan ternaknya ke pasar Rangkasbitung sampai ke pasar Jasinga Bogor Jawa Barat. Ditengah kesuksesan yang beliau rasakan dan beliau nikmati, lalu pada tahun 1986 tak lama kemudian ALLAH SWT mengujinya dengan memberikan penyakit yang sekaligus menjadi penutup usianya (Wafat). Masyarakat jaura palaton pada saat itu mengira dan menyangka bahwa kematian beliau karena ulah makhluk astral/ghaib, karena saat itu beliau pernah memasuki daerah terlarang yang diyakini masyarakat sekitar jaura palaton sebagai makam ki gunung mas yang tepat berada di belakang Komplek Bcm. Ditempat makam ki gunung mas tersebut terdapat sumur-sumur tua yang di yakini masyarakat sekitar jaura palaton sebagai sumur angker yang amat sangat dalam kedalaman sumurnya. Sejak kejadian tersebut mulai banyak sekali kabar-kabar yang tidak mengenakan dan kabar yang tidak jelas bagi keluarga mendiang H.Juhri. Tak jarang sekali masyarakat sekitar berspekulasi bahwa kematian H.juhri itu karena (kangancikan jurig gunung mas) terasuki sebagian jiwanya oleh jin dan roh ki gunung mas tersebut. Makam ki gunung mas tersebut sekarang telah berubah menjadi kampung pasir jatake dan makam ki gunung mas itu dipindahkan ke tempat pemakaman umum yang berada tak jauh dari Komplek Bcm tersebut, yakni di TPU Sirna Raga depan sekolah SD Pengadilan Muara ciujung timur Rangksbitung. Perihal makam ki gunuing mas tersebut sampai saat ini masih belum diketahui asal usul dan darimana serta siapa Ki gunung mas tersebut yang konon katanya ada sangkut pautnya dengan kematian H.juhri. Setelah kematian Bapak H.juhri, tempat yang menjadi lahan usahanya selagi beliau hidup itu mulai tak layak lagi dan ahli waris dari tanah tersebut pun yakni keluarganya tidak mengurus serta memilahara tanah yang sekarang menjadi Komplek Bcm tersebut. Tanah yang luasnya mencapai 5 hektare tersebut dibarkan begitu saja seperti anak kehilangan orangtuanya. Tanah tersebut mulai kumuh kembali dan mulai bertumbuhan pepohonan liar seperti pohon bungur yang sekarang menjadi salah satu tempat berteduhnya warga atau masyarakat Komplek Bcm pada siang hari. Namun tak jarang pula ada warga lain yang berteduh disitu mengingat tempat tersebut letaknya berada di tengah-tengah Komplek Bcm yang sering di lintasi oleh pengguna jalan umum atau warga lain yang akan menuju komdik (Komplek Pendidikan). Tempat tersebut adalah salah satu tempat kebanggan warga Komplek Bcm yang diberinama oleh warga sekitar yakni Taman bungur indah. Satu tahun setelah kepergian beliau menghadap ke Rahmatullah, kira-kira pada tahun 1987 tanah kepemilikan yang beratas namakan H.juhri tersebut menjadi sengketa dengan Perusahaan yang bergelut dibidang perkebunan dari luar kabupaten Lebak. Perusahaan itu menuntut keluarga mendinag H.juhri mengganti rugi atas pengambil alihan tanah seluas 5 hektare tersebut tanpa ada konfirmasi terhadap Perusahaan tersebut yang konon katanya memiliki surat-surat sah atas kepemilikan tanah tersebut yang dibuktikan dengan akta tanah atau surat tanah yang sah dari pemerintahan setempat. Dan konon katanya jauh sebelum H.juhri membeli tanah tersebut ternyata perusahaan itu telah membelinya dari Dinas Badan Pertanahan Kabupaten Lebak. Walaupun keluarga dari mendiang H.Juhri tersebut tetap saja bersikeras dan bersikeruh atau yang sering disebut oleh orang sunda yakni (Keukeuh) akan kepemlikan tanah tersebut, tetap saja hasil yang didapatkannya sia-sia karena keluarga dari mendiang H.juhri hanya memiliki lembaran kwitansi sebagai bukti bahwa tanah tersebut telah di belinya, namun apalah daya tangan tak sampai, keluarga dari mendiang H.Juhri tersebut tidak memiliki bukti-bukti yang kuat atas kepemilikan tanah tersebut, tidak seperti Perusahaan itu yang memiliki bukti sangat kuat atas kepemilikan tanah tersebut, yakni akta tanah sah dari Pemerintahan Kabupaten Lebak yang di kelola oleh Badan Pertanahan Negara. Memang pada saat itu minimnya pengetahuan akan surat kepemilikan tanah yang sah berdasarkan undang-undang negara, maka keluarga dari mendiang H.Juhri tersebut pun mulai terpojokan seperti memasuki sebuah titik koordinat yang paling terendah. Setelah perdebatan sengketa tanah itu berlangsung berbulan-bulan dan kedua pihak masih saja bersikeras (Keukeuh) akhirnya salah satu dari pihak yang digugat yakni keluarga mendiang H.Juhri, mereka menyewa pengacara untuk memeriksa berkas-berkas akta tanah secara teliti dan saat itu pun mereka menemukan sebuah kejanggalan yang menurut mereka bisa menjadi asumsi mereka untuk memenangkan atas kepemilikan tanah tersebut, kejanggalan yang ditemukannya berupa pemalsuan tanda tangan dan masih banyak lagi. Akhirnya mereka langsung menyurvei ke Dinas Badan Pertahanan Negara guna meminta perjalasan perihal sengketa tanah tersebut. Setelah di check berkas-berkas dari Perusahaan yang mengaku telah membeli tanah itu langsung kepada Dinas terkait yang mengelola tentang pertanahan, sungguh mengejutkan sekali ternyata Perusahaan yang mengaku telah membeli tanah itu, berkas-berkas akta tanahnya Palsu dan orang-orang dalam yang bekerja di Badan Pertanahan pun mengaku belum pernah mentandatangani surat akta tanah yang berada tepat di bahu jalan siliwangi Rangkasbitung tersebut. Setelah menanyakan tentang kepemilikan akta tanah tersebut dan sudah mendapat pegangan bukti-bukti kuat bahwa Perusahaan itulah yang kedapatan melakukan sebuah penipuan, akhirnya keluarga dari mendiang H.Juhri lah yang memenangkan sengketa tersebut walau tidak melalui jalur persidangan resmi sekalipun dan akhirnya kebenaran serta keberanian lah yang dapat memenangkan sengketa tanah tersebut. Setelah merasa senang atas kemenangan kepemilikan tanh tersebut, maka Keluarga mendiang H.Juhri mulai membuat surat-surat dan berkas-berkas yang resmi yakni akta tanah agar tidak terjadi hal seperti ini lagi. Selama waktu terus berjalan dan Selama zaman terus menerus berubah-rubah menjadi semakin canggih, sampai kepada saat waktunya tanah seluas 5 hektare itu benar-benar terlihat tak layak untuk bercocok tanam lagi, karena memang pada saat itu bayak got-got yang beralih fungsi menjadi tempat pengerukan pasir got, lalu sampah yang berada di got itu di buang ke pinggir-pinggir got yang merupakan tanah H.juhri. Sampah berserakan dimana-mana, banyak binatang-binatang bermunculan, seperti ular,babi hutan dan masih banyak lagi. Setelah tanah yang luasnya 5 hektare yang berada di belakang Kantor Departemen Agama tersebut menjadi tanah yang tak layak pakai, lalu keluarga mendiang H.Juhri mulai menyiapkan langkah awal,yakni menjual tanah tersebut. Keluarga Mendiang H.Juihri mencarii realase keluar kota, ke warga Rangkasbitung dan skitarnya untuk membeli tanahnya, namun semua diluar perkiraan ternyata tanah tersebut tidak ada yang mau membelinya dengan alasan tanah tersebut tanah yang tak berguna dan tak layak huni, karena pada saat iitu memang kondisi tanah yang luasnya mencapai 5 Hektare ini, sangat memprihatinkan. Selain memperihatinkan, tanah tersebut pun menurut para ahli ekonomi, yakni tanah yang kurang strategis dan jauh dari hiruk pikuk keramaian kota pada saat itu, sehingga daya jualnya tidak akan tinggi walaupun kita membuat ruko di rentetan tanah tersebut, pasti hasilnya kurang memuaskan. Keluarga dari mendiiang H.Juhri mulai gundah gelisah kembalii karena tanah yang dijualnya tidak ada yang mau membelinya, mereka berdo’a sepanjang waktu berharap tanah tersebut ada yang membelinya. Dan akhirnya setelah satu tahun kemudian, tanggal 03-02-1988 tanah tersebut dibeli oleh Perusahaan yang bergelut di bidang pembangunan perumahan, yakni CV.Bcm (Bumi Ciujung Makmur). Setelah bernego harga akhirnya tanah tersebut sah menjadi tanah yang atas kepemilikannya oleh CV.Bcm. Lalu alat-alat berat mulai berdatangan ke tempat tersebut dan mulai meratakan kawasan itu dengan tanah merah yakni tanah lempung. Pembangunan segera dimulai dengan pertama kali membangun kantor pemasaran yang berada di pintu masuk Komplek Bcm yang sekarang menjadi Madrasah Al-Muhajirin. Dari sinilah cikal bakal nama Komplek Bcm tersebut terbuat yang bila di uraikan seperti ini, Komplek yang artinya perumahan dan Bcm diambil dari nama Perusahaan yang mendirikan Komplek tersebut, tapi tak sedikit masyarakat lain kerap kali menyebut Komplek Bcm ini dengan sebutan Balong Haji Juhri karena yang mereka ketahui pada saat itu Komplek Bcm adalah sebuah hamparan tanah yang luasnya 5 hektare yang di miliki oleh H.Juhri dan didalamnya terdapat empang milik H.juhri. Menurut keluarga H.Juhri memang pada saat iitu yang lebih populer di mata masyarakat luas adalah empang ternak ikannya Bapak H.juhri yang sekarang menjadi rumah atau tempat tinggal yang di beli oleh orang tua saya dan menjadi kediaman Bapak Dedi Supryadi sebagai orangtua saya. Dibawah bangunan tiga unit rumah tersebut, rumah orang tua saya Bapak Dedi supriyadi, dan dua tetangga saya Bapak Oyam dan Bapak Ending yang mengarah ke sebelah barat ternyata dahulunya ialah empangnya H.juhri yang terkenal pada saat itu dan mungkin sampai sekarang masih ada aja yang menyebut Komplek Bcm sebagai Balong Haji Juhri. Setelah selama tujuh bulan perataan tanah dan selesainya pembangunan kantor pemasaran akhirnya pada tanggal 14-09-1988 dimualailah pembangunan rumah-rumah yang layak huni untuk masyarakat dari mana saja, Perusahaan itu memperkerjakan buruh bangunan sekitar 113 buruh bangunan, karena ingin mengejar target satu tahun rampung dan beres. Perusahaan tersebut membangun 100 unit rumah layak huni, rumah ibadah seperti Mesjid, lalu dua buah lapangan dan empat buah siskamling serta satu taman tempat yang tadinya berfungsi untuk tempat rekreasi namun ternyata beralih fungsi menjadi lapangan badminton dan menjadi tempat untuk berteduh oleh masyarakat luas umumnya. Setelah pembangunan selesai selama satu tahun, dan pada tanggal 14-09-1989 mulailah perumahan itu dihuni oleh salah satu keturunan dari keluarga H.Juhri yaitu Bapak K.H.Zaenal abiddin yang lokasinya dekat pintu gerbang Komplek Bcm tersebut. Beliau orang pertama yang berumah tangga di komplek Bcm tersebut sekaligus menjadi cikal bakal terbentuknya perumahan Komplek Bcm tersebut. Komplek Bcm ini selain sering disebut oleh masyarkat luas sebagai Balong Haji Juhri ternyata yang lebih populer di klaim oleh masyarakat luas yaitu Btn Depag, karena lokasi dan tempat Komplek Bcm tersebut berada tepat di belakang Kantor Depaertemen Agama Kabupaten Lebak dan masyarakat luaspun mengira bahwa Komplek Bcm tersebut semua warganya pegawai Kantor Departemen Agama Kabupaten Lebak, padahal tidak semuanya yang bekerja di Kantor Departemen Agama Kabupaten Lebak ialah warga Komplek Bcm, karena di Komplek Bcm kebanyakannya berkerja sebagai Pegawai Negeri Sipil dari bermacam-macam instansi di Kabupaten Lebak maupun luar Kabupaten Lebak tapi ada pula yang berkerja sebagai pegawai swasta dan wirausahawan seperti K.H.Zaenal abiddin yang berwirausaha disekitar rumahnya dalam bidang penjualan makanan siap saji atau rumah makan ciremai namanya. Nama Btn Depag sampai sekarangpun masih populer di klaim oleh masyarakat luas khususnya masyarakat Kecamatan Rangkasbitung dan sekitarnya. Setelah K.H.Zaenal abddin bertempat tinggal dan berumah tangga di Komplek Bcm sebagai orang pertama, maka selanjutnya orang kedua yang berumah tangga dan bertempat tinggal di Komplek Bcm tersebut yakni Bapak Nunung Setiawan dan seterusnya sampai saat ini. Pada tahun 1990 orangtua sayapun mulai menetap dan bertempat tinggal di Komplek Bcm tersebut sampai saat ini. Pada tanggal 26 Agustus tahun 1991 lahirlah saya ke dunia ini dengan sejuta rasa penasaran dan satu cita-cita yaitu membahagiakan orangtua saya. Kesimpulan dari artikel yang saya tulis yakni Komplek Bcm tersebut didirikan pada tahun 1989 dan nama Komplek Bcm tersebut di ambil dari nama Perusahaan yang mendirikannya serta dari nama kelurahannya yang bernama Muara Ciujung Timur. Lalu nama Btn Depag yang diklaim oleh masyarakat luas tersebut karena lokasi Komplek Bcm tersebut tepat dibelakang Kantor Departemen Agama. Kesimpulan yang selanjutnya ialah jadilah manusia yang bersungguh-sungguh dalam segala hal jika ingin menjadi manusia yang sukses serta menjadi manusia yang gagah seperti Almarhum Bapak.H.Juhri yang sampai akhir hdupnya namanya terus dikenang sampai saat ini. Janganlah menjadi manusia yang pintar berdusta karena kebenaran dan kejujuran lah kunci keberhasilan. Sekian dari saya, bifadliika subhanna robbil idzatia’mma yasifun wassallamu a’allamursallin waridhollahuta’alla fill quranillkarrim wallhamdulillah hirobbilla’llamin. Semoga bermanfaat Terima kasih. Wabillahitaufik wall hidayah wassallamu’allaikum warohhmatu’llah hiwabarokatuh.

 

SILAKAN BERI KOMENTAR

Temui Kami di Facebook

Statistik

  • 1394Dibaca Hari Ini:
  • 1839Dibaca Kemarin:
  • 15331Dibaca Per Bulan:
  • 348117Total Pengunjung:
  • 1280Pengunjung Hari ini:
  • 14554Kunjungan Per Bulan:
  • 6Pengunjung Online: