KOMUNE PARIS

Aillen O’Carroll,

Akhir dari perang

Tahun 1871 Perancis berperang melawan Prussia dan ternyata mengalami kekalahan. Kepala pemerintahan nasional, Adolphe Thiers, telah bernegosiasi detail tentang perdamaian dengan Prussia. Setelah melakukan semua ini, dia dihadapkan dengan masalah pengambil alihan kembali kontrol dari Paris, dan meyakinkan Paris bahwa perang dengan Prussia telah berakhir serta pembubaran tentara nasional. Thiers hanya tinggal mempunyai 12.000 pasukan setelah gencatan senjata melawan ribuan pasukan nasional. Pos keluar kota yang terbesar telah berpindah dari Bordeaux dimana tempat pertemuan untuk yang pertama kalinya diselenggarakan untuk pembersihan dari Prussia, ke Versailles, dekat Paris.

Orang-orang Prussia masih tetap menduduki Perancis utara, sebagai pembayaran dari ganti rugi yang telah disetujui Perancis untuk membayar kondisi damai. Untuk dapat membayar cicilan yang pertama dari ganti rugi itu, dan untuk keselamatan evakuasi dari Perancis utara oleh pasukan Prussia, pemerintah Perancis harus menaikkan pinjaman. Pinjaman hanya bisa dinaikkan dengan meningkatnya kepercayaan publik di dalam pemerintahan yang baru itu. Dalam kepemerintahan Thiers, masalahnya adalah perbaikan kepercayaan. Semua harus bermula dengan pemapanan ulang, pembukaan kembali toko-toko, pemulihan sistem bisnis, dan kehidupan yang kembali ke keadaan normal. Dengan semua yang telah disebutkan di atas, sejak Paris telah menjadi ibukota, maka Paris harus dapat diambil alih di bawah kontrol dari Pemerintah Nasional.

Bagaimanapun juga Paris bersikap menentang, dimana tidak dapat menerima kemenangan Prussia. Ini artinya Paris tidak puas dengan penyerahan pemerintahan ke tangan Prussia. Kemarahan patriotik Perancis mengalahkan ketidakmampuan kemarahan pemerintahan baru di Versailles. Pasukan nasional Paris tetap bersiaga, siap untuk menolak segala macam pemasukan dengan paksa dari para Prussia ke Paris. Meriam-meriam yang digunakan pengepungan kota Paris telah dibawa ke berbagai tempat di Paris. Akhirnya semua meriam itulah yang dibawa ke berbagai daerah, sehingga menjadi isu yang kritis. Seperti yang dikatakan oleh Thiers setelah itu, “…para orang-orang bisnis akan dengan konstan akan tetap mengulang bahwa pembenahan keuangan tak akan pernah berjalan lagi sampai semua keadaan buruk berhenti (selesai) dan meriam mereka telah dibawa pergi.”

Ini adalah usaha pemerintah yang berusaha untuk merebut senjata dari para penjaga nasional pada hari sabtu dini hari, yang meninggalkan jejak bagi revolusi. Rencananya adalah dengan menduduki titik-titik strategis di kota, merebut persenjataan dan menangkap para revolusioner yang sudah dikenal. Thiers sendiri bersama beberapa menterinya pergi ke Paris untuk mengawasi jalannya operasi. Pertama-tama semua operasi yang ada di Paris memang berjalan dengan lancar, tetapi kemudian orang-orang di sana mulai mengejek dan mencemooh para serdadu. Tentara-tentara nasional mulai berbalik, tidak lagi mendukung pemerintah, tapi juga tetap tidak tahu harus berbuat apa. Para tentara-tentara yang masih menunggu transportasi yang akan membawa senjata-senjata pergi, mulai mendapati diri mereka tak dihargai. Even-even pertama kali berbalik menjadi serius di Montmarte, dimana para tentara menolak untuk menembak kerumunan massa dan berbalik menangkap komandan mereka, yang kemudian ditembak. Di lain tempat di pusat kota, para perwira menyadari bahwa mereka tidak dapat lagi mengandalkan anak buahnya, dan sebelum sore hari tiba Thiers telah memutuskan untuk meninggalkan ibukota. Pada saat menunggu itu, dia mengeluarkan perintah untuk menyelesaikan evakuasi para tentara ke Versailles dan memerintahkan kepada semua sisa menterinya untuk mengikuti dirinya. Kemunduran tentara ke Versailles itu sangat kacau. Para pasukan itu menjadikan para perwiranya tunduk kepada mereka dan tinggal hanya para polisi militer yang dapat memberi semacam perintah kepada mereka. Jadi mereka dengan sangat terburu-buru menarik kembali beberapa resimen yang terlupakan dan tertinggal di Paris (sekitar 20 ribu orang). Para perwira dijadikan tahanan, sementara sekitar 1.500 orang tertinggal tanpa perintah dan hanya duduk-duduk selama periode komune. Orang-orang yang duduk di pemerintahan meninggalkan kota.

Jam 11 tepat pada malam itu, komite pusat dari Tentara Nasional akhirnya dapat mengumpulkan anggotanya beserta cukup keberanian untuk mengambil alih Hotel de Ville yang ditinggalkan, sementara komandan Tentara Nasional lainnya dan anak buahnya tetap tinggal di gedung-gedung umum di pusat kota.

Para Blanguist-lah yang akhirnya mengambil inisiatif saat Brunell membiarkan keragu-raguan Bellevois (kepala komite Tentara Nasional) dalam kesunyian Hotel de Ville. Saat pada akhirnya komite pusat sampai di Hotel de Ville, terjadi kebingungan besar, dimana para Tentara Nasional dan pasukannya berada di mana-mana tanpa ada yang punya kewenangan untuk memimpin. Revolusi ini secara spontan merebak ke pusat kota, dimana tidak ada tujuan central oleh berbagai komite dari Tentara Nasional.

Komite Duval, Eudes, Brunel, dan semua komite Montmartre semuanya berbaris ke Versaille, walaupun para Blanguist tidak tergerak. Para pemberontak menemukan Paris terbuka untuk pengambil-alihan, tetapi kekhawatiran utama komite Pusat Tentara Nasional ialah ‘melegalisasi’ situasi dengan melepas kekuatan yang tidak disangka-sangka jatuh ke tangan mereka. Oleh karena itu untuk mengikuti pergerakan para pasukan dengan berbaris ke Versailles disaat para Blanquist terburu-buru mendorong Komite untuk melakukan negosiasi dengan satu-satunya badan konstitusi yang ada di kota –yaitu Mayor– untuk mengatur pemungutan suara. Seperti yang ditanyakan oleh seorang komunard (anggota komune) pada hari pemungutan suara, “Apa arti legalisasi saat terjadinya revolusi?” Hal ini membuat pengkajian kembali mengenai legalisasi yang selama ini memoderasi para revolusioner. Banyak anggota dari Komite Pusat merasa bahwa banyak even yang telah menelanjangi mereka. Seperti yang dikatakan oleh salah satu dari mereka, “pada sore hari itu kami semua tidak tahu harus berbuat apa; kami tidak mau memiliki Hotel de Ville, yang kami mau hanyalah membentuk barikade. Kami merasa malu dengan kewenangan yang kami miliki.” Semua itu tinggal sastra Bohemian dari Edourard Moreau, untuk meyakinkan komite pusat ditengah-tengah teriakan “Hidup komune” untuk mempertahankan pendudukan Hotel de Ville paling tidak untuk beberapa hari hingga segala sesuatu yang berhubungan dengan pemungutan suara dapat terselenggara.

Delapan hari kemudian pemungutan suara di Paris diadakan dengan 227.000 suara yang terhitung. Ini hanyalah setengah dari jumlah pendaftar yang mendaftar sebelum perang, semenjak terjadi pengurangan populasi besar-besaran. Eksodus ini berjalan untuk mengambil keuntungan dari ‘area kelas pekerja’ yang pada saat itu menjadi daerah yang sangat makmur yang masih ada. Juga dengan sistem representatif yang proporsional yang diadopsi oleh Komute Pusat yang memberikan lebih banyak representasi bagi distrik dimana banyak populasi kelas pekerja daripada sistem yang sebelumnya. Hasil menunjukkan kelebihan ada pada kelompok kiri, hanya sekitar 15-20 dari kaum republik moderat yang dipilih dimana mereka segera meletakkan jabatan.

Distrik kelas pekerja yang paling padat adalah distrik dimana para pro-komunard tinggal. Data dari para komite Vigilance, para pemungut suara di pemilihan umum sebulan hanya sedikit sekali yang berminat akan hal tersebut tetapi lalu menemukan bahwa diri mereka saat ini menjadi mayoritas. Hal ini bukan karena keterburu-buruan ‘posisi sosialis revolusioner’, tapi karena mayoritas kaum republik di Paris sekarang bersedia untuk memilih komune atas dasar sikap bertahan untuk melawan Thiers dan kaum monarkis National Assembly di Versailles. Di distrik kelas pekerja kemenangan menjadi sesuatu yang sangat berarti, sesuatu yang diharapkan akan dapat dilaksanakan dengan sangat serius dengan tidak mempedulikan pemerintah pada saat itu.

Secara formal, komune diterapkan di Hotel de Ville dua hari kemudian pada saat teriknya musim panas yang penuh kejayaan di hari Selasa tanggal 28 Maret. Batalyon Tentara Nasional berkumpul, nama-nama yang baru pilih akhirnya dibacakan, dengan mengenakan pakaian merah, mereka berbaris ke Hotel de Ville dengan kebanggaan yang mengerumuni dan menyingkirkan republik. Bendera merah dikibarkan tinggi-tinggi sejak mulai tanggal 18 Maret dan rentetan senjata dibunyikan menyambut Proklamasi Komune Paris.

Komposisi Dalam Komune

Komune pada akhirnya terdata memiliki sebanyak 81 orang anggota, dengan rata-rata berusia 38 tahun, 5 orang anggota berusia lebih dari 60. Raoul Rigault, perwira polisi dalam komune, berusia 25 tahun dan merupakan yang termuda dari sejumlah 15 orang yang berada di usia 20-an, dan 18 anggota yang lain baru berusia 30.

Para anggota dari komune itu banyak yang tidak berpengalaman dalam bidang politik. Debat mereka seringkali menyimpang dari masalah sesungguhnya, lebih banyak masalah yang dianggap hilang bukannya terus didiskusikan untuk mendapatkan pemecahannya dan secara lengkapnya banyak point-point yang tidak berhubungan dengan diskusi malahan terus dibicarakan. Hal-hal tersebut menyebabkan banyak sekali omongan buruk diantara mereka sendiri dan lambat laun hal ini yang membawa mereka kepada perpecahan. Komune ini pada keseluruhannya kekurangan sudut yang politis. Hal ini menjadi sangat serius, karena mereka seharusnya memenangkan perang sipil untuk dapat bertahan hidup. Mulai muncul pertanyaan-pertanyaan mengenai bidang pendidikan pengajaran atau pembangunan kembali kondisi kerja karena pengalaman dalam serikat kerja yang pernah dialami beberapa anggota komune memperlihatkan hasil yang terbaik.

Blanqui, sebagai revolusioner yang berpengalaman mungkin hanya menyediakan sedikit kohesi politik, tetapi sayangnya dia terlebih dahulu ditangkap polisi dan menghabiskan waktu revolusi kedua di dalam penjara.

Charles Deleschulz adalah figur politikus yang paling terkemuka dimasa lampau yang mendapat kedudukan di kursi komune. Dia pernah menjadi figur radikal Jacobean pada revolusi tahun 1848 hingga kemudian dipaksa untuk hidup dalam pengasingan dan dimasukkan ke dalam penjara saat ia berusaha melarikan diri dengan sembunyi-sembunyi. Bagaimanapun juga bertahun-tahun di kepulauan Devil telah menghancurkan kesehatan tubuhnya. Dia hanya bisa berbicara dengan suara yang parau dan berkutat dengan persoalan pribadinya dan menimbulkan pertengkaran dalam komune sampai dipanggil untuk bersikap hormat yang tetap menemui kegagalan pada akhirnya. Menuju kematiannya dengan tenang di barikade di tempat dimana sekarang tempat tersebut bernama Place de la Republic.

Delapan belas orang anggota komune datang dari latar belakang kelas menengah dimana mereka memerdekakan diri di masa sekolah dan saat masih menjadi pelajar. Dari semuanya, 30 orang anggota komune bisa dikelompokkan dari beberapa propinsi, setengah dari mereka adalah jurnalis dari koran kaum republik. Sisanya termasuk tiga orang dokter, hanya tiga orang pengacara, tiga orang guru, satu orang dokter hewan, satu arsitek dan sebelas orang yang pernah menjadi juru tulis.

Sekitar tiga puluh lima orang anggota adalah pekerja manual atau setidaknya bekerja sebelum terlibat dalam politik revolusioner. Terdapat beberapa juru tulis di tempat kerja kecil yang telah memapankan pusat dagang di kota besar. Tipikal kelompok ini adalah para pengrajin perunggu dan pandai besi, tukang kayu, dekorator rumah, dan pembundel buku. Apa yang mengejutkan kita adalah bagaimana beberapa dari mereka yang datang dari industri berat yang baru, telah berkembang di banyak tempat di kota Paris. Pada keseluruhannya, para pekerja dalam industri yang berskala besar di pabrik-pabrik dan daerah pinggiran Paris belum membentuk organisasi dan pasukan gaya mereka sendiri. Tampaknya kepemimpinan lokal yang sudah berkembang meresa tidak yakin akan diri mereka sendiri, terlalu tidak cocok untuk menjalankan peran penting dalam skala yang lebih besar. Masalah seperti ini mereka limpahkan pada para militan dari banyak distrik-distrik borjuis kecil.

Sekitar empat puluh orang anggota telah terlibat dalam gerakan Buruh Perancis dan kebanyakan dari mereka telah bergabung dalam gerakan internasional. Pengalaman mereka dalam serikat dagang dan asosiasi pekerja telah membuat mereka mencurigai kekuatan politik dan hal itu membuat mereka berpikir dengan warna-warna anarkis (lebih banyak dengan tradisinya Proudhon daripada Mikhail Bakunin). Sekitar selusin anggota komune adalah Blanquists. Harapan utama mereka adalah menyelamatkan revolusi dengan membebaskan Blanqui, baik dengan membantu dia meloloskan diri dengan cara pertukaran sandera… Archbishop dari Paris adalah seseorang yang masuk dalam daftar.

Komune telah diterapkan pada tanggal 28 Maret dan pada tanggal 2 April pasukan Thiers mulai menyerang. Pertama kali, pertemuan komune di ruang rahasia bawah tanah adalah membicarakan sebuah ‘dewan perang’, bagaimanapun juga kerahasiaan bukanlah sesuatu yang diharapkan oleh pertemuan pada umumnya. Komite pusat terdiri dari paling tidak 20 distrik, dari Internasional dan beberapa perkumpulan yang popular, semua terpaksa membuat publik session sendiri. Mengikuti penekanan ini, komune bersepakat untuk mempublikasikan debat tersebut dalam Jurnal Resmi harian, dan pada prinsipnya setuju kepada publik soal debat tersebut. Bagaimanapun juga itu membuktikan bagaimana sulitnya untuk menemukan ruang yang yang cukup besar dan karenanya permasalahan yang tidak pernah benar-benar dapat terselesaikan.

Beberapa teori yang pernah dikemukakan pada tahun 1871 berdasarkan pada ide-ide di tahun 1793 dari kedaulatan popular: mereka yang terpilih untuk merepresentasikan rakyat bertindak sebagai delegasi, bukan sebagai anggota parlemen. Perkumpulan-perkumpulan popular yang beberapa kali menuntut pembagian kedaulatan yang adil selama mereka berada di sana bersama-sama Komune di Hotel de Ville. Mereka yang terpilih oleh rakyat menjadi subyek untuk di recall oleh rakyat dan hal tersebut adalah kewajiban dari mereka yang terpilih untuk melaporkan kembali dan tetap berhubungan secara konstan dengan sumber kedaulatan popular. Hal tersebut dibicarakan dalam beberapa perkumpulan tersebut mengenai bahwa merekalah yang dapat memberikan tekanan-tekanan pada komune, dan mereka memutuskan untuk mengumpulkan kekuatan perkumpulan itu sehingga dapat melakukan semuanya dengan lebih baik. Beberapa anggota Komune tetap berusaha untuk berhubungan dengan kekuatan yang membawa mereka ke dalam perkumpulan.

Politik Dalam Komune

Perundang-undangan sosial yang baru tampaknya lebih bersifat reformis bukannya revolusioner, mengambil tuntutan yang telah diformulasikan oleh gerakan buruh semenjak 20-30 tahun yang lalu. Masalah hak menyewakan kepemilikan dibatalkan selama periode pengepungan, tetapi hak atas private property tidak pernah dipertanyakan. Setelah perdebatan yang panjang, 3 tahun menjadi tenggat waktu yang dijamin untuk pembayaran pelunasan hutang-hutang. Diangkatnya secara bersamaan masalah ini telah membuat kaget opini para kaum borjuis di luar Paris. Komune menyusun pertukaran pengangguran di balai kota dan menghapuskan kerja malam bagi tukang roti yang menghadapi tentangan dari mereka yang tidak menganggur. Pertanyaan sosial paling mendesak bagi komune diajukan oleh para penganggur dan mengambil langkah radikal untuk membiarkan serikat dagang dan pekerja untuk berkerjasama mengambil alih pabrik-pabrik yang tidak berjalan untuk kemudian memulainya kembali. Bagaimanapun juga saran-saran yang ekstrim yang mengatakan bahwa ’semua pabrik-pabrik besar yang memonopoli’ harus diambil alih oleh semua pekerja, ditolak. Pada tanggal 14 Mei, empat puluh tiga produksi bersama telah dibentuk diantara industri-industri manual di kota.

Di bidang pendidikan, tujuan utamanya adalah menyediakan pendidikan dasar untuk semua orang. Gerakan reformasi melawan dengan kuat sekolah-sekolah gereja yang melingkupi lebih dari setengah sekolah-sekolah di Paris. Tentara Nasional digunakan untuk mengusir para pendeta dan suster dan menggantikan mereka dengan kaum republik. Pendidikan perempuan diberi perhatian khusus karena pada sistem sebelumnya telah diabaikan. Komisi khusus dengan keanggotaan seluruhnya perempuan, dibentuk untuk mengamati usaha-usaha yang dibangun untuk membuat sekolah-sekolah perempuan. Balai pengobatan harian yang dibangun di dekat pabrik-pabrik juga diajukan sebagai bagian untuk membantu para pekerja perempuan. Tidak ada dari semua aksi ini –dari sikap berkerjasamanya organisasi industrial atau reformasi pendidikan yang dapat berhasil secara sempurna. Hal itu dikarenakan sangat sedikitnya waktu yang dimiliki sementara mereka juga harus memenangkan perang.

Yang lebih penting lagi dari semua itu adalah keberadaan komune sebagai pemerintah yang mencakup sebuah proporsi yang substansial bagi para pekerja laki-laki dan satu hal yang sangat serius diperhatikan untuk mengimprovisasikan sebagian besar populasi.

Thiers dan para menterinya di Versailles sangat yakin bahwa Komune Paris adalah sebuah deklarasi perubahan sosial yang harus dihancurkan dengan perang sipil. Hal ini merupakan sebuah pandangan yang sama dari para pemerintah di luar Perancis, bahwa keberadaan Komune telah membangkitkan kemarahan para borjuis Eropa. Tanggal 29 Maret, harian London Times mendeskripsikan revolusi tersebut sebagai “awal dominasi proletariat atas kelas orang-orang kaya, dari para pekerja atas majikannya, dari para buruh atas pemodal.” Kerajaan Rusia menekan pemerintah Jerman untuk tidak menghalangi tekanan Perancis atas komune karena pemerintah di Versailles adalah ‘penyelamat baik bagi Perancis maupun bagi seluruh Eropa’ dan Bismarck mengancam akan menggunakan tentara Jerman apabila Thiers tidak bertindak cepat. Dalam komune dapat terlihat munculnya sikap sosial secara alamiah baik dari kelompok kanan maupun dari kelompok Leftis.

Sebuah Festival Kaum Tertindas

Dalam banyak cara, aspek yang paling menarik dari Komune adalah sikap alamiah Paris yang penuh suka cita; hal tersebut menjadi sebuah ‘Festival Kaum Tertindas’. Atmosfir yang ada bukanlah sebuah ibukota yang didominasi oleh perang, melainkan sebuah kota dimana ’semua menandakan seakan hari libur’.

Beberapa lama kemudian saat mood mulai menurun. Pemakaman dari Tentara Nasional yang telah terbunuh di medan perang menjadi prosesi besar di sepanjang kota, dipimpin oleh anggota-anggota komune dan semua yang menolak hadir terpaksa harus turut karena teriakan-teriakan massa. Kejadian lain yang dramatis terjadi pada saat para anggota kebathinan yang berbaris menuju komune dan bergerak membawa spanduk-spanduk, sebuah hal yang tidak pernah terlihat sebelumnya di depan publik hingga ke tembok kota, dimana mereka mengirimkan beberapa orang untuk melihat Thiers (yang menolak bertemu mereka sehingga mereka kembali ke Paris). Seremoni publik yang besar diadakan dengan pembakaran guillotine dan penghancuran Verdoone Column (sebuah simbol kekuasaan). “Keceriaan sangat jelas terlihat” kata salah satu pengamat Inggris menulis, “bahwa orang-orang bergerak seperti dalam mimpi”. Meskipun pada hari dimana kekuatan Versailles terpecah ke Paris –Minggu tanggal 21 Mei ditemui kerumunan massa yang besar di taman Tuileries memperdengarkan salah satu dari satu seri konser yang ditujukkan untuk membantu para janda dan anak yatim piatu.

Bagi perluasan daerah, komune mennjajaki ulang kota dengan populasi yang lebih besar yang telah disisihkan ke daerah pinggiran oleh kebijakan pemapanan dari Haussmans. Selama waktu yang belum pasti, sebagian besar dari populasi menjadi sangat aktif terlibat dalam kepentingan-kepentingan umum baik dalam level distrik mereka sendiri ataupun dalam level kota.

Akhir dari Komune

Komune pada akhirnya memperkuat diri dengan mensubstansikan kekuatan militer untuk dipersiapkan melawan Thiers dan pasukannya untuk 2 bulan, walaupun pada tanggal 21 Mei pasukan pemerintahan telah memasuki Paris. Hal ini diikuti dengan pertumpahan darah yang penuh kepahitan pertempuran jalanan dan menjadi lebih pahit karena tidak adanya lagi harapan bagi para Parisian untuk menang.

Beberapa persiapan telah diadakan untuk menghadapi pasukan pemerintahan yang akan memasuki Paris dan kebanyakan pembicaraan tentang adanya barisan kedua untuk pertahanan ternyata tidak ada. Bagi semua yang bertanggung jawab atas barikade tersebut bersikap terlalu methodis dan lamban, sehingga hanya beberapa barikade yang muncul. Sepanjang malam dan memasuki hari Senin pagi para pasukan memasuki Paris dengan lima jalan yang berbeda. Mereka dengan cepat menduduki dua distrik borjuis di barat daya kota. Darisana dua kelompok menyerang, satu di sepanjang jalan dari sisi kiri Seine dan yang lainnya di sisi kanannya. Di jalan-jalan besar Haussmans memperlihatkan jumlah mereka dalam membangun kekuatan yang solid dari sejumlah besar laki-laki untuk mengepung distrik-distrik revolusioner dan barikade-barikadenya. Pada paginya Senin, tanggal 22 Mei sepertiga bagian barat Paris telah jatuh ke tangan pemerintah setelah melalui pertempuran yang berat dan sekitar 1.500 Tentara Nasional menyerah.

Komune mengadakan rapat pada jam 9.00, dua puluh orang anggota ditemukan berada di Hotel de Ville, sebuah poster yang telah digambar untuk mengajak penduduk mengangkat senjata dan bergabung dalam barikade.

Beberapa-barikade dengan cepat terbentuk di tengah-tengah kota Paris. Di Rude de Rivoli 50 tukang batu bertahan beberapa jam membangun sebuah barikade setinggi 18 kaki dan dengan kedalaman beberapa yards. Banyak anak-anak membawakan berbagai benda yang bisa dijadikan barikade dan para pelacur dari La Halle menolong dengan mengisi barikade dengan kantong-kantong pasir. Lebih dari 160 barikade terbentuk pada hari pertama, dari keseluruhan yang berjumlah enam ratus barikade. Kebanyakan dari mereka mempunyai ketinggian 5 sampai 6 kaki dengan konstruksi yang baik dari batu yang diambil dari jalanan dan kadang beberapa besi-besi yang digunakan untuk membuat bagian bawah, dipersenjatai dengan sebuah senapan mesin atau sebuah cannon atau senapan mesin serta bendera merah dikibarkan di puncaknya.

Barikade di Rue de Gaubourg dibuat dari matras-matras yang ditemukan dari penginapan-penginapan terdekat, dan dibangun oleh para perempuan. Yang lain membangun barikade tersebut dengan menggunakan bus-bus dan taksi-taksi, kantung pasir, batu bata, atau apa saja yang dapat mereka gunakan untuk membangun barikade tersebut. Semua orang yang lewat dipaksa untuk membantu. Di Place Blanch, sebuah batalyon yang terdiri dari 120 perempuan menjadi barikade bersejarah dimana mereka membela dan bertahan dengan teguh pada hari Selasa dimana banyak diantara mereka yang gugur setelah kekalahan mereka. Para federal yang ditempatkan di barisan depan tentara Perancis meminta untuk dibalikkan dan lebih memilih untuk gugur di daerah masing-masing.

Kritikan keras dari Blangui yang dibuat pada bulan Juni 1868 tentang kebangkitan Juni 1848 berdampak juga pada barikade-barikade dalam komune. Taktik pertempuran yang digunakan dalam masing-masing area tanpa organisasi sentral membuat pasukan mudah untuk mebelah kekuatan mereka dan menundukkan barikade satu per satu.

Pada Selasa pagi, pasukan Versailles bergerak melalui zona netral di luar Paris, orang-orang Prussia berubah menjadi ‘buta’, mereka memasuki Paris dari jembatan lain dan menduduki dua daerah pinggiran Paris. Pembunuhan besar-besaran mulai mengembangkan ketakutan dimana pembantaian dimulai, 42 laki-laki, 3 perempuan, dan 4 anak-anak ditembak di depan sebuah tembok, sebuah sidang diadakan di sebuah rumah di Rue de Rosiers dan selama waktu di minggu tersebut para tahanan dibawa ke sana untuk dieksekusi.

Pada Selasa malam para komunard mulai membakar gedung-gedung yang dianggap mengancam keamanan barikade karena dapat menjadi tempat perlindungan bagi para sniper. Seluruh Rue de Rivoli berada dalam kobaran api, begitu juga dengan Tuluise Palace dan tempat Ministry of Finance (menteri keuangan) semuanya terbakar. Pada pemadam kebakaran dikirimkan ke sana untuk berusaha memadamkan api tapi gagal, dan dimana-mana berterbangan dokumen-dokumen yang terbakar berwarna merah dan hitam sehingga terlihat seperti langit terpenuhi dengan hujan kertas yang terbakar. Dengan adanya angin, pecahan-pecahan kertas yang terbakar tersebut terbawa sampai ke Saint German 10 mil jauhnya sehingga massa di mana-mana dapat menyaksikan kejadian saat terbakarnya Paris. Barikade yang tidak terambil alih hingga Rabu pagi, dan seorang perempuan berdiri mengibarkan bendera merah di hadapan barisan pasukan penyerang di salah satu dari barikade terakhir tersebut.

Sebanyak tigapuluh yang bertahan dijadikan tahanan dan ditembak, mayat mereka dibuang di parit di depan barikade. Pada pukul 8.00 hari Rabu pagi, disepakati untuk menutup Hotel de Ville dan dibakar untuk menutupi kekalahan. Paris yang terbakar masih sering menjadi gambaran yang digunakan oleh komune, daftar gedung yang terbakar tak dapat dihitung, beberapa gedung yang masih dapat digunakan, seperti Prefecture of Police dan The Palace of Justice dibakar oleh massa komune, dan sebagian lagi oleh orang-orang dari Versailles. Kabar angin telah tersebar, bahwa tidak ditemukan bahan peledak yang digunakan, dan para perempuanlah yang mengobarkan api dari lantai dasar serta banyak tersiar kabar bahwa banyak juga perempuan yang tidak bersalah ditembak. Bagaimanapun juga banyak komunard yang mengetahui bahwa hal ini adalah saat-saat terakhir mereka dan mereka memohon untuk membawa Paris bersama mereka. Pada hari Rabu, seorang perwira Tentara Nasional mencoba untuk membujuk anak buahnya untuk bergabung bersamanya ke dalam depot penyimpanan amunisi Arsenal dan meledakkan semuanya (termasuk diri mereka), dan meyakinkan dengan berkata, “kita semua akan bekerja sama sebagai tim yang tangguh dan kuat.”

Sementara kabar yang beredar tentang pembantaian besar-besaran mulai beredar, massa mulai menekan agar diadakan eksekusi para sandera sebagai pembalasan dendam atas pembantaian yang terjadi di Paris. Ferre setuju untuk menandatangani perjanjian yang isinya berisi tentang penyerahan enam orang sandera. Kepala penjara sendiri telah berkomitmen dengan komune untuk menolak menyerahkan Archbishop yang sangat diinginkan oleh masa karena namanya tidak tercantum dalam daftar. Sekretaris Ferre dengan terburu-buru segera menambahkan dalam daftar, “..dan juga dengan Archbishop”, hingga akhirnya Archbishop juga ditembak.

Sementara itu di Paris pembantaian dengan tidak pandang bulu terjadi, setiap saat dimana barikade jatuh, orang-orang yang mempertahankan barikade tersebut dihadapkan ke tembok dan ditembak; 300 orang ditembak setelah mereka mencoba menyelamatkan diri ke gereja Medelaine. Seminari yang diadakan oleh Saint-Suplice telah berubah menjadi rumah sakit, pasukan Versailles tiba dan menembak semua staff medis beserta para pasiennya, dan meninggalkan 80 mayat di sana, kejadian yang sama terjadi juga di rumah sakit Beaujon. Pertempuran demi mempertahankan Latin Quarter bertahan selama dua hari, pada hari Selasa dan Rabu. Selama hari Kamis dan Jumat para komunard dipaksa mundur, dan secara beangsur-angsur kehilangan kontrol atas kota.

Pada hari Sabtu pagi yang berkabut dan hujan turun di hari kedua, beberapa pertempuran masih terjadi di kuburan The Pere-Lachise dimana kira-kira 200 Tentara Nasional dengan bodohnya gagal untuk menempatkan diri dalam posisi pertahanan yang benar. Para tentara meledakkan jembatan dan di sana terjadi pertarungan hampir satu lawan satu di bawah hujan deras dan cahaya yang temaram. Bagi yang tidak terbunuh dalam pertarungan tersebut, dibariskan menghadap tembok di bagian pojok timur kuburan dan ditembak, dan pembunuhan terjadi selama beberapa hari. Barikade yang paling akhir dijatuhkan dengan memakan waktu kira-kira 15 menit karenan tertahan oleh pertahanan dari satu orang saja. Dia menembakkan peluru terakhirnya dan pergi meninggalkan tempat tersebut pada hari Minggu tanggal 28 Mei dan komune pada keseluruhannya telah runtuh.

Apabila dibilang pertempuran itu telah berakhir, tapi tidak halnya dengan penembakan. Kemenangan Versailles dengan cepat berubah menjadi lautan darah, siapa saja yang terlibat dengan komune atau hanya berada di tempat yang salah pada waktu yang salah segera ditembak. Setiap orang yang berada di Paris selalu dicurigai, dan dituduh bersalah. Reaksi dari para perwira ini memperlihatkan sikap yang umum dari para tentara Perancis.

Banyak yang tewas pada minggu terakhir di bulan Mei itu dibandingkan dengan pertempuran yang manapun dari perang Franco Prussian, dan juga dari pembantaian besar-besaran yang terjadi dalam sejarah Perancis. Teror yang terjadi dalam revolusi Perancis terhitung mengakibatkan sekitar 19.000 kematian dalam waktu setahun setengah. Tidak disebutkan berapa banyak tepatnya yang tewas dalam satu daerah dari 30.000 Parisian yang terbunuh selama komune dibandingkan dengan Versailles dengan angka kematian sekitar 900 dan 6.500 yang terluka.

Sekitar 50.000 orang ditahan, termasuk diantara mereka adalah Louise Michel. Pada pengadilannya, dia lebih memilih untuk ditembak mati dan mengatakan, “Dari tampaknya di dalam setiap jantung yang berdetak demi kebebasan, hak untuk memimpin sangatlah kecil, aku lebih memilih untuk berbagi dengan mereka semua.” Tapi dia tidak ditembak, melainkan dideportasi ke Kaledonia Baru, dimana terdapat koloni Perancis dari pesisir Australia, bersama-sama dengan 4.500 orang lainnya. Banyak dari antara mereka yang meninggal dalam penjara atau dalam perjalanan. Bagi mereka yang berusaha melarikan diri, dibuang ke dalam pengasingan di Switzerland, Belgia, Inggris atau dimana saja. Dua diantara mereka bahkan dalam kenyataan malahan menikah dengan dua orang putri dari Marx di Inggris. Seperti dimana Marx menulis kepada Engels, “Longuet adalah Proudhonist yang terakhir, Lafargue adalah Bakuninist yang terakhir. Setan telah mengambil mereka berdua.”

Sembilan tahun kemudian, amnesti diberikan. Ini adalah hasil dari kemenangan kaum republik dan sosialis dalam pemilihan umum, mendapat hasil yang tertinggi di pemilihan sebagai pembuat sepatu, bekas anggota komune Paris sebagai Deputy dari Belleville yang seorang sosialis. Dengan cepatnya 25.000 orang menanggapi kehadiran para sosialis, dan hal ini memicu serangan polisi terhadap demonstrasi pertama di ‘tembok’ Pierre-Lachaise.

Warisan dari komune

Konsekuensi yang segera dari kalahnya komune adalah bencana bagi momen Buruh Perancis selama periode penekanan yang diikuti dengan pertumpahan darah yang terjadi minggu lalu. Paris tetap berada di bawah hukum keadaan perang selama 5 tahun dan hubungan internasionalnya ditiadakan. Bersenjatakan kekuatan politik yang baru, para polisi bergerak aktif dalam menangkapi para aktivis dan kemudian dihukum berat. Dunia internasional praktis dipaksa kehilangan eksistensinya. Para pimpinan aktivis kelas pekerja diperkirakan tewas, di dalam penjara atau di dalam pembuangan.

SILAKAN BERI KOMENTAR

Temui Kami di Facebook

Statistik

  • 765Dibaca Hari Ini:
  • 1996Dibaca Kemarin:
  • 16698Dibaca Per Bulan:
  • 349400Total Pengunjung:
  • 722Pengunjung Hari ini:
  • 15837Kunjungan Per Bulan:
  • 10Pengunjung Online: