Lebak

Ovi Nurna Oktaviani

Sejarah singkat tentang kampungku yang tepatnya di daerah Kabupaten Lebak, kecamatan Rangkasbitung. Pada tanggal 2 desembertahun 1882, adalah tanggal ditetapkannya sebagai hari jadi kabupaten Lebak.

Pada waktu itu konon kabupaten lebak merupakan bagian dari wilayah keresidenan Banten, dengan wilayahnya meliputi distrik Sajira, Lebak Parahyangan, Parung Kujang, dan distrik Madhoor. Dan masing-masing distrik tersebut terbagi lagi kedalam wilayah Onderdistrict.

Pada tanggal 31 maret 1851, secara resmi ibu kota kabupaten Lebak dipindahkan dari Warunggunung ke Rangkasbitung. Namun sebelum itu, ibu kota kabupaten Lebak terletak di Parahyang.

Pada tanggal 28 oktober 1882, terjadi lagi perubahan wilayah pembagian wilayah kabupaten Lebak. Pembagian itu meliputi distrik Rangkasbitung yang terdiri atas onderdistrict Rangkasbitung, Kolelet wetan, Warunggunung, dan cikulur. Yang meliputi distrik Lebak terdiri atas onderdistrict Lebak, Muncang, Cilaki Dan Cikeuyeup. Yang meliputi distrik sajira terdiri atas onderdistrict Sajira, Saijah, Candi, Dan Maja.

Kabupaten lebak baru berfungsi sebagai daerah pemerintahan yang berdiri sendiri pada tanggal 14 agustus 1925, berdasarkan keputusan gubernur jenderal Hindia-Belanda. wilayahnya meliputi distrik parungkujang, rangkasbitung, lebak dan cilangkahan. (Buku Bunga Rampai Jawa Barat, 1991 : 275) Di rangkasbitung khususnya dikampungku/ didesaku kaum lebak, yang saya tahu waktu kecil dulu konon di kaum lebak ada satu tradisi alat music yang memakai alat musiknya sangat tradisional.

Singkat cerita yang pada jaman itu sangat rutin dipakai pada acara-acara tertentu misalnya pernikahan, khitanan, hari kemerdekaan (untuk dilombakan kelihaian dalm membuat iramanya), dan biasanya yang memainkannya kaum ibu-ibu danbapak-bapak. Nama musik dan alat yang dipakai untuk tarian ibu-ibu itu adalah bendrongan dan nama alat yang dipakainya lesung, pelaku tarian ini adalah mayoritas kaum perempuan/ ibu-ibu. Seru rasanya bila sudah liat music bendrongan karna kebahagian dan kekompakan yang tertuang dari tarian itu, karena music yang dihasilkan suara yang khas yang didapat dari pukulan antara kayu dan lesung itu.Sedangkan nama dan alat music yang dipakai untuk kaum bapak-bapak adalah ketimpringan dan nama alat yang dipakainya rebana, dan dalam music ini juga tidak kalah serunya dengan tarian ibu-ibu tadi karena dari suara rebana itu sangat besar dan juga seru karena kekompakan juga dalam memainkan alat music itu untuk mendapatkan suara yang merdu dan indah dari ketimpringan itu. Tetapi setelah saya beranjak remaja saya sudah jarang dan bahkan tidak melihat dan mendengar suara dari musik tarian itu, karena mungkin anak muda sekarang lebih melestarikan music dan tarian pop di banding dengan tradisi daerah sendiri.

Hanya itu yang bisa sampaikan dari sekilas sepenggal sejarah kabupaten Lebak, kecamatan Rangkasbitung, khususnya di Kaum Lebak.

SILAKAN BERI KOMENTAR

Temui Kami di Facebook

Statistik

  • 1704Dibaca Hari Ini:
  • 1035Dibaca Kemarin:
  • 13802Dibaca Per Bulan:
  • 346745Total Pengunjung:
  • 1566Pengunjung Hari ini:
  • 13182Kunjungan Per Bulan:
  • 12Pengunjung Online: