Mahasiswa harus mengkonstruksi pengetahuannya sendiri

by Nina

Hari senin tanggal 17 febuari 2014 sejarah mengawali agenda baru dengan melaksanakan seminar, dalam seminar kali ini da yang berbeda karena masing-masing dosen mempresentasikan rancangan untuk perkuliahn semester genap jadi apa yang mereka (atau sebut para dosen sejarah ) presentasikan itu akan merek terapkn pada perkuliahan semester genap ini dengan cara atau metode yang suda para dosen rancang sebulumny bukan sesuatu yang mudah karena rancangan mereka yang dibuat membutuhkan waktu. Sayang dosen yang hadir hanya sebagian karena sebagiannya lagi sedang berhalangan, padahal sangat menyenangkan bil hadir semua karena saya selku mahasiswa dapat mengetahui rancangan tersebut yang akan dijadikan acun dalam pembelajaran dikelas. Tapi sayang apa yang diharapkan tidak sesuai dengan kenyataan dan kenyatannya berlawanan. Seminar berjalan baik sekalipun hanya 4 (empat) dosen yang menghadiri itupun plus (+) ketua prodi yang menjadi MC dadakan tapi walaupun demikian proses seminar berjalan dengan baik sekalipun hanya berjalan satu season dan selesai lebih cepat tidak seperti yang sudah direncankan. Sebelum seminar berlangsung pembukaan diawali oleh sambutan ketua parodi dalam sabutan tersebutsaya menyimak beberapa kalimat yang bertujuan untuk memotivasi mahasiswa agar menjadi manusia yang berkualitas karena hanya orang-orang yang memiliki wawasan luaslah yang masuk dalam peradabaan. Setelah itu para dosen masing-masing memprsentasikan rancangannya ada tiga dosen yang mempresentasikan rancangan pembelajaran untuk diterapkan dalam pembelajaraan dosen pertama menjelas kan tentang “ pendidikan nilai dalam pembelajaraan sejarah berbasis kearifan budaya lokal dengan mengunakan metode etnografi yang bisa dijadikan sumber belajar dan masyarakat suku adat sebagai pengembangan nilai disekolah. Karena kebanyakan buku paket menjadi acuan maksudnya mengikuti semua yang ada dalam buku paket padahal tidak harus seperti itu karena belajar bukan sekedar kegiatan pasif menerima materi dari guru, melainkan proses aktif menggali pengalaman lama, mencari dan menemukan pengalaman baru serta mengasimilasi dan menghubungkan antara keduanya sehingga membentuk makna. Makna tercipta dari apa yang mahasiswa lihat, dengar, rasakan, dan alami. Untuk dosen, mengajar adalah kegiatan memfasilitasi siswa dalam mengkonstruksi sendiri pengetahuannya lewat keterlibatannya dalam kegiatan pembelajaran. Dengan kata lain, sebagian besar waktu proses pembelajaran berlangsung dengan berbasis pada aktivitas mahasiswa. Kearifan lokal sesungguhnya mengandung banyak sekali keteladanaan dan kebijaksanaan hidup pentinya kearifan lokal dalam pendidikan secara luas adalah bagian dari upaya meningkatkan ketahanaan nasional kita sebagai bangsa. Budaya nusantara yang plural dan dinamis merupakan sumber kearifan lokal yang tidak akan mati. Karena semunya merupakn kenyataan hidup yang tidak dapat dihindari.

Yang selanjutnya kedua diteruskan oleh dosen ke-2 yang mengambil rancangan penciftaan model-model dinamika kelas misal belajar berkelompok, belajar dengan kemapuan anggota anggotanya yang beragam sehingga terjadi perubahan konseptual. Dan agar mampu mengajak temannya karena ketika belajar berkelompok kita dapat membantu satu sama lain dalam kesulitan karena tidak semua diketahui oleh satu orang maka dari itu belajar berkelompok dapat mempermudah mengerjakan sesuatu dengan cara saling bertukar informasi nah… dengan berbagai metode atuh model-model dalam pembelajaran tidak akan membuat mahasiswa jenuh dalam pembelajaran dan pembelajaran dibuat semenarik mungkin agar mahasiswa bersemangat dan terhibur dalam belajar karena kalau belajar hanya mennggunkan satu model saja itu hanya akan membuat mahasiswa bosan dan jenuh. Dengan berbagai variasi model-model dalam pembelajaran membuat mahasiswa termotivasi dalam belajar karena pendidikan hendaknya mampu menggkondisikan dan memberikan dorongan untuk dapat mengoptimalkan dan membangkitkan potensi mahasiswa, menumbuhkan aktifitas dan daya cipta kreativitas sehingga akan menjamin terjadinya dinamika di dalam proses pemebelajaran. Karena dalam belajar tidak semua fasilitas terdukung maka mahasiswa dapat menggunakan media yang ada di sekitar seperti barang bekas atau apapun yang bernilai murah meriah itu tergantung kreativitas dari mahasiswa dalam menggunakn media untuk pembelajaraan.

Yang terahir dari dosen ketiga memjelaskn tentang rancangan yang akan di gunakan dikelas dalam pembelajaran yaitu penggabungan metode konvesionl dengan internet. Karena untuk mempermudah dosen memperkenalkan sesuatu yang jauh kepada mahasiswa dengan internet akan memper mudah mendekatkan sesuatu yang jauh dengan sekali sentuhan. Semisalkan dosen ingin memperkenalkan tentang sejarah Eropa dosen tidak mungkin membawa benua Eropa kedalam ruangan untuk dijelaskan nah… dengan bantuan internet tersebutlah maka akan mempermudah mahasiswa mengetahui tentang sejarah Eropa tanpa harus juh-jauh mengunjungi keeropa yang menurut saya haru menggunakan biyaya yang tidak sedikit alias mahal 😀

Dari presentasi tersebut saya dapat menyimpulkan bahwa belajar tidak harus selalu terpaku pada buku namun kita juga harus melihat pada realita atau kenyataan yang ada dan ke

 

 

SILAKAN BERI KOMENTAR

Temui Kami di Facebook

Statistik

  • 221Dibaca Hari Ini:
  • 1839Dibaca Kemarin:
  • 14158Dibaca Per Bulan:
  • 347038Total Pengunjung:
  • 201Pengunjung Hari ini:
  • 13475Kunjungan Per Bulan:
  • 6Pengunjung Online: