Manipulasi Adat

Pada masa kolonial, pihak pemerintah Hindia Belanda menyikapi adanya keanekaragaman entitas masyarakat komunal (tradisi) di Nusantara, diperlukan suatu usaha identifikasi masyarakat komunal untuk merumuskan strata sosial masyarakat di Nusantara yang dapat mendukung jalannya mobilisasi modal beserta pengeksploitasiannya. Karena wilayah-wilayah modernisasi ekonomi di awal abad XX oleh pihak Hindia Belanda, berada pada wilayah geo sosial masyarakat komunal tersebut. Untuk itulah dilakukan normalisasi masyarakat komunal di Nusantara dengan mengidentifikasi mereka dengan istilah masyarakat ‘adat’. Salah seorang penasehat jajahan Vollenhoven merumuskan masyarakat di pedalaman secara geografis tersebut sebagai istilah ‘adat’. Kebutuhan untuk meng ‘adat’ kan masyarakat lokal atau komunal tersebut adalah untuk melokalisir masyarakat tersebut dalam wilayah teritorinya sendiri, sehingga dapat mendukung tertib (rest and orde) hukum sebagai pijakan terhadap berlangsungnya praktek kolonial Hindia Belanda. Peng ‘adat’ an sebagai bentuk lokalisasi masyarakat yang melahirkan istilah ‘hukum adat’, yang kemudian menjadikan dinamika ‘hukum adat’ yang berasal dari masyarakat komunal tersebut tidak memiliki dinamikanya terhadap entitas dilingkungannya atau di sosial sekitarnya. Kondisi ini seakan-akan bahwa ‘hukum adat’ menjadi tidak berkorelasi dengan persoalan-persoalan kebangsaaan secara nasional. Fase kolonial modern inilah yang kemudian menciptakan piramida sosial masyarakat Nusantara yang semakin menguat dengan praktek meng-komprador-kan para elite masyarakat, khususnya para elite lokal masyarakat.

Warisan piramida sosial dari kolonial Hindia Belanda masih terasa sejak hari ini. Fase ini pulalah yang pernah kita lalui dari perjalanan kebangsaan sejak kemerdekaan yang menghasilkan konflik horisontal di tahun 65. Di masa orde baru pun, piramida sosial Indonesia kita semakin mengkrucut kembali dengan politik massa mengambang dengan mengkooptasi setiap elit entitas masyarakat, serta perilaku birokratisasi aparat politiknya. Intensitas piramida masyarakat inilah yang kemudian kadang kita keliru menaksir, khususnya dalam masyarakat Jawa dalam budaya ‘sungkan’, ‘menghormati sesepuh’, sampai pepatah ‘padi yang berisi akan menunduk’ sebagai entitas budaya masyarakat.

SILAKAN BERI KOMENTAR

Temui Kami di Facebook

Statistik

  • 1492Dibaca Hari Ini:
  • 1839Dibaca Kemarin:
  • 15429Dibaca Per Bulan:
  • 348206Total Pengunjung:
  • 1369Pengunjung Hari ini:
  • 14643Kunjungan Per Bulan:
  • 13Pengunjung Online: