Marta Christina Tiahahu

MARTA Christina Tiahahu seorang pahlawan puteri yang belum banyak diketahui oleh rakyat Indonesia, lain halnya dengan pahlawan bernama Cut Nyak Dien yang dikenal masyarakat di daerah lain terutama rakyat Aceh itu sendiri.

Memang Marta Christina Tiahahu tidak sehebat perjuangan Cut Nyak Dien, walaupun bentuk perjuangan Marta sangat sederhana tetapi harus dihargai karena sikapnya yang tegas tidak mau bekerjasama dengan pihak kolonial, kebenaran harus ditegakkan, ini prinsip hidupnya.

Siapakah Marta Christina Tiahahu? Ia adalah putri dari Paulus Tiahahu dan ibunya bernama Sina. Ia dilahirkan di daerah Nusa Laut yaitu tempat yang sangat terpencil di kepulauan Maluku, tepatnya di desa Abubu (Abobo). Dari sumber-sumber yang ada, tidak ada yang mencantumkan kapan ia dilahirkan, namun diperkirakan lahir pada tahun 1800. Setelah ditelusuri asal-usulnya, ia masih mempunyai hubungan garis keturunan yang disebut Kapiten Tabiwaka Tiahahu, yaitu orang tua dari Paulus Tiahahu ayahnya sendiri, berarti Marta memiliki titisan darah “kapiten” atau sifat pemberani.

Masa kanak-kanak Marta kurang menguntungkan, sebab ibunya cepat meninggal dunia, sehingga tanggung jawab mengasuh, mendidik serta membesarkannya seluruhnya ditangani oleh ayahnya sendiri. Karena sejak dari kecil Marta sudah dekat dengan ayahnya sehingga apa dan bagaimana tingkah laku serta sikap ayahnya ia sangat memahami bahkan tanpa disadarinya ia meniru seluruh tindak tanduk ayahnya itu, terutama masalah keberanian yang dimiliki oleh ayahnya.

Sejarah Bangsa Indonesia mencatat jauh sebelum Marta hadir di dunia ini, daerah Maluku sudah sering dikunjungi Bangsa Eropa, seperti Portugis, Spanyol, Inggris dan Belanda. Pada awalnya tujuan kedatangan mereka khususnya Portugis dan Spanyol berdagang dengan cara membeli apa yang dihasilkan bumi Maluku, seperti cengkeh dan pala untuk mereka bawa dan jual di Eropa. Namun semakin lama tujuan itu menjadi melenceng dengan adanya keinginan Bangsa Eropa itu untuk menguasai tanah Maluku, karena daerah ini dianggap sangat menguntungkan.

Demikian juga dengan daerah Nusa laut tempat dimana Marta Christina Tiahahu dilahirkan, Belanda mencoba untuk menguasai wilayah ini dengan cara-cara kekerasan. Lewat Organisasi perdagangan yang disebut dengan VOC (Verenigde Oost Indische), Belanda berhasil mengeruk keuntungan lebih banyak lagi. Keuntungan itu Belanda peroleh dengan menggunakan sistem monopoli barang dagangan terutama cengkeh dan pala. Sistem monopoli yang dilakukan Belanda sering dilakukan kurang manusiawi. Tujuan monopoli itu adalah untuk menjaga supaya harga rempah-rempah itu tetap stabil. Sistem monopoli yang dilaksanakan itu sering juga dibarengi dengan menggunakan alat senjata seperti pistol untuk mencapai tujuan yang dimaksud. Cara-cara seperti itu pada dasarnya sangat menyakiti hati rakyat Maluku.

Untuk lebih memantapkan tercapainya maksud dan tujuan dari pihak Kompeni itu, Belanda melakukan langkah-langkah yang harus ditempuh yaitu menerbitkan peraturan-peraturan seperti keharusan bagi petani untuk menebang pohon-pohon rempahnya apabila terjadi kelebihan produksi. Kemudian jika ada yang bersalah melakukan pelanggaran monopoli perdagangan, Belanda tidak segan-segan untuk menghukum yang bersangkutan. Di lain pihak kadang-kadang Belanda juga memaksa para penduduk untuk menanam pohon cengkeh dan pala jika situasi dimana barang komoditi di pasar jumlahnya berkurang atau Belanda melihat ada daerah-daerah tertentu dianggap tanahnya subur dan cocok untuk ditanami pohon pala dan cengkeh. Cara-cara pelaksanaan aturan itu oleh Kompeni disebut dengan Hongi Tochten yaitu menyiapkan armada untuk melakukan patroli ke daerah-daerah yang ditentukan sendiri.

Selain itu untuk memperlancar Hongi Tochten, pihak VOC mengharuskan di tiap rumah tangga menyiapkan Kora-kora dan awak kapal, dengan maksud apabila dibutuhkan/diperlukan tenaga pendayung selalu siap untuk menjalanan Kora-kora. Kora-kora adalah perahu yang dipersenjatai dengan meriam dan dilengkapi akomodasi yang mewah serta diiringi para pemusik yang memukul irama untuk para pendayung.

Sikap dan tindakan kompeni itu tidak dapat ditolerir lagi oleh penduduk di Maluku khususnya masyarakat di pulau Nusa laut. “Si Mutiara dari Nusa Laut” demikian predikat yang disandangnya, keberaniannya mulai terlihat ketika terjadi perang “Patimura” pada tahun 1817, senasib sepenanggungan dirasa bersama, demikianlah yang terjadi pada tanggal 14 Mei 1817 di hutan Saniri berkumpul seluruh rakyat Maluku, dan disana terlihat juga Thomas Matulessy sebagai pemimpin rakyat Maluku, termasuk Paulus Tiahahu dan Marta Christina Tiahahu, mereka datang atas nama masyarakat dari Nusa Laut untuk mengikuti musyawarah di hutan Saniri. Kesepakatan yang berhasil dicapai adalah melakukan peperangan dengan sasaran benteng-benteng pertahanan Belanda seperti Benteng Duurstede dan lain sebagainya yang ada di Maluku.

Marta Christina Tiahu dan Paulus Tiahu datang terlambat ke tempat pertemuan tersebut karena memang Paulus Tiahu tidak mengijinkan puterinya untuk ikut dalam musyawarah tersebut mengingat selain karena ia wanita dan juga ini dianggap sangat berbahaya jika ia turut terlibat dalam pertemuan itu. Walaupun berbagai dalih sudah diterangkan oleh ayahnya ia tetap bersiteguh ingin mendampingi ayahya mengetahui kebenaran oleh ayahnya ia tetap bersiteguh ingin mendampingi ayahnya mengetahui kebenaran dari cerita-cerita yang pernah ia dengar dari ayahnya. Ketetapan hatinya ini membuat Paulus Tiahahu tidak berdaya, sehingga meluluskan keinginan putrinya tersebut.

Ada argumentasi dan silang pendapat antara anak dengan ayah mengakibatkan tersisanya waktu sehingga hal ini pula yang membuat mereka terlambat datang ke pertemuan itu apalagi jarak tempuh dari Nusa Laut ke hutan Saniri (Saparua) harus melalui transportasi kapal/perahu.

Pada pertemuan itu Marta Christina Tiahahu bisa merasakan bagaimana menggebu-gebunya perasaan rakyat Maluku untuk menentang kekuasaan yang dilakukan pihak kolonial. Rancangan-rancangan dan strategi diatur sedemikian rupa dan pada saat itu semua yang hadir merasa persiapan mereka cukup matang.

Marta Christina Tiahahu melihat dan mendengar sendiri bagaimana ayahnya mengungkapkan pemikiran-pemikirannya pada pertemuan di hutan Saniri itu. Ayahnya berpidato dan menyampaikan aspirasi serta pendapatnya sebagai berikut “Thomas, raja-raja dan orang kaya, saya keberatan terhadap tindakan pemerintah Belanda yang sewenang-wenang terhadap rakyat, oleh karena itu saya akan turut serta dalam gerakan perlawanan terhadap Belanda. Hanya ada satu permintaan saya ijinkan anak saya Marta Christina Tiahahu ikut mendampingi saya dalam medan pertemuan. Ia juga memohon dengan sangat agar diperkenankan memanggul senjata dan terus mendampingi saya, kata Paulus Tiahahu.

Kata sambutan dari Paulus Tiahahu ini sangat direspon oleh Thomas Matulessy. Thomas mengatakan bahwa ia mengijinkan Marta Tiahahu memanggul senjata dengan tujuan supaya berakhir kekuasaan Kolonial di tanah Bumi Maluku.

Keputusan rapat yang telah disepakati itu segera terealisasi sesuai dengan front-front pertemuan yang telah diorganisir, seperti pimpin rakyat wilayah Nusa Laut adalah Kapiten Abubu, Paulus Tiahahu dan Marta Christina Tiahahu serta raja Titawaoi bernama Hehanusa. Selain para pemimpin tersebut, Patimura juga mengirim panglimanya bernama Anthone Rhebok ke Nusa Laut untuk mempersiapkan dan memperkuat strategi perjuangan. Tugas utama Rhebok adalah mengkoordinasi pertahanan di Nusa Laut serta mengangkat Paulus Tiahahu sebagai kapitan Nusa Laut. Keempat pejuang dari Nusa Laut yaitu, Paulus Tiahahu, Marta Christina Tiahahu, Hehanusa dan Rhebok segera mengadakan serangan terhadap benteng Beverwijk di Sila Leinitu. Benteng itu berhasil direbut oleh keempat pejuang itu. Pada saat penyerangan serdadu Belanda yang berada di dalam benteng itu seluruhnya meninggal, kecuali seorang Kopral Belanda bernama Biroe dan dua orang serdadu berbangsa Indonesia dapat menyembunyikan dirinya dengan pertolongan dua orang kaki tangan penjajah.

Dalam perjuangan untuk merebut benteng tersebut Marta Christina Tiahahu menunjukkan keberaniannya yang luar biasa. Ia telah mengobarkan semangat perjuangan dan menanam rasa permusuhan yang mendalam kepada seluruh rakyat untuk bangkit melawan Belanda. Ia adalah Srikandi dan Nusa Laut yang mempunyai sifat yang tidak takut mati dan setia kepada negerinya.

Terjadinya perebutan atas benteng Beverwijk tersebut membuat Belanda menjadi marah besar. Pada tanggal 4 Juli, pemimpin Belanda yang ada di Ambon segera mengirim satu buah ekspedisi ke Saparua, terdiri dari tiga buah kapal, yaitu kapal Maria Reibersbergen, Iris dan The Dispatch. Ekspedisi di bawah pemimpin Overste Groot ini berangkat menuju Hatawano yaitu daerah bagian utara pulau Saparua. Pada ekspedisi kali ini Belanda mengikut sertakan beberapa orang Ambon Borgor dan orang-orang Bugis sebagai awak kapalnya. Maksud kompeni beberapa awak kapal tersebut akan diadu domba dengan pasukan rakyat. Kedatangan ekspedisi ini diketahui oleh Pattimura, untuk itu mereka juga mempersiapkan diri menghadapi kedatangan musuh, selain itu untuk menghadang musuh Pattimura mengirim utusan-utusan ke negeri-negeri untuk memerintahkan para kapitan serta pasukannya bergerak ke Hatawanu.

Dari tanggal 9-12 Juli di Hatawanu terjadi pertempuran besar-besaran suara tembakan terdengar selama beberapa hari. Di pihak Kompeni dan pasukan rakyat sama-sama bertahan karena tidak dapat dilumpuhkan oleh karena itu pihak Overste Groot, pemimpin ekspedisi memutuskan untuk menghentikan tembak-menembak. Pihak Belanda mengambil inisiatif menaikkan bendera merah putih serta mengajak rakyat untuk berunding.

Walaupun sudah diadakan perundingan-perundingan pihak kompeni sering mengabaikan kesepakatan itu, sehingga menimbulkan amarah bagi rakyat. Dalam jumlah yang besar pasukan rakyat berhasil mengalami kemenangan sehinga sebahagian daerah-daerah dapat dikuasai.

Namun Jazirah Hitu bagian Barat dan pulau Haruku berhasil pula dikuasai Belanda, membuat rakyat lebih berhati-hati, karena daerah Saparua akan menjadi sasaran pihak kolonial, upaya yang dilakukan oleh pihak pasukan rakyat adalah membuat kubu-kubu pertahanan. Kubu-kubu itu didirikan di berbagai tempat dengan konstruksi cukup kuat. Kemudian di sekitar benteng, sepanjang pantai serta pinggir lautan yang diperkirakan akan dilalui musuh, digali lobang dan diberi ranjau. Sementara itu Anthone Rhebok ditugaskan menuju daerah Nusa Laut, supaya raja Patih, para Kapiten beserta pasukan segera ke Saparua untuk memperkuat pertahanan.

Upaya yang dilakukan cukup baik namun Belanda lebih licik mengupayakan agar daerah-daerah di seluruh Maluku dapat dikuasai. Yang dilakukan Belanda adalah memutuskan hubungan Saparua dengan Nusa Laut dan daerah Seram. Akhirnya setelah daerah Saparua di Blokade, dari Saparua pula Belanda melakukan penyerangan secara serentak ke berbagai daerah lain.

Terjadi tembak menembak yang cukup seru, pasukan rakyat mencoba untuk bertahan namun tidak berhasil sehingga satu persatu daerah-daerah di Maluku dapat dikuasai Belanda bahkan daerah Porto dan Harian dibumihanguskan oleh Belanda, juga daerah Saparua dan Tiowu.

Aksi pada 13 Nopember 1817 itu mengakibatkan para pemimpin rakyat ditangkap dan ditahan pihak kolonial termasuk Paulus Tiahahu dan Marta Christina Tiahahu. Pemeriksaan atas kedua orang ini dilakukan oleh Buyskes di atas kapal Eversten. Keputusan dari hasil pemeriksaan itu adalah Paulus divonis untuk dijatuhi hukuman mati dan tempat pelaksanaannya di daerah Nusa Laut. Mendengar berita itu Marta sangat histeris dan tidak dapat menerima keputusan itu. Upaya yang dilakukannya adalah memohon kepada Buykes agar vonis itu dijatuhkan untuknya saja dengan alasan ayahnya sudah tua. Permintaan itu ditolak oleh Buykes dengan alasan umurnya masih terlalu muda, bahkan ia dibebaskan dari hukuman.

Di daerah Nusa Laut dilakukan eksekusi terhadap Paulus, dengan alasan supaya rakyat Nusa Laut tidak berani lagi menentang Belanda. Jalannya eksekusi berlangsng sesuai rencana, Paulus ditembak mati tanpa disaksikan putrinya Marta. Kepergian ayahnya itu membuat Marta tidak semangat untuk hidup, ia menjadi sering sakit. Walaupun pihak Belanda berusaha menghibur hatinya bahkan suka mengirim obat-obatan ia tidak pernah menggubris pemberian itu.

Pada 2 Januari 1818 akhirnya Marta Christina Tiahahu meninggal dunia, kemudian jenazahnya dibuang ke Laut Banda atas perintah Ver Huel. Untuk mengenang perjuangannya ditetapkan tanggal 2 Januari sebagai hari Marta Christina Tiahahu dengan latar belakang Laut Banda. Di Kota Ambon juga didirikan patung Marta terbuat dari perunggu terdapat di daerah Karang Panjang.

1 Komentar

  • badarudin riyanto

    Jun 19, 2011

    ternyata masih banyak pahlawan wanita yang belum terungkap oleh sejarah. terimakasih atas tylisannya

SILAKAN BERI KOMENTAR

Temui Kami di Facebook

Statistik

  • 25Dibaca Hari Ini:
  • 1839Dibaca Kemarin:
  • 13962Dibaca Per Bulan:
  • 346860Total Pengunjung:
  • 23Pengunjung Hari ini:
  • 13297Kunjungan Per Bulan:
  • 2Pengunjung Online: