MASA BERSURUT KESULTANAN BANTEN DAN ANEKSASI KOMPENI BELANDA

Halwany Michrob)*

Dengan tertangkapnya Sultan Ageng Tirtayasa, Pangeran Purbaya, Syekh Yusuf beserta sejumlah pahlawan Banten pada sekitar tahun 1683 sebenarnya Kompeni Belanda dan Sultan Haji sudah merasa aman dan lega hatinya. Karena pahlawan-pahlawan itu bagi Kompeni merupakan penghambat bahkan penentang cita-citanya. Bagi Sultan Haji yang mempunyai ambisi besar menjadi penguasa tunggal di seluruh kesultanan Banten tertangkapnya ketiga pahlawan besar Banten itu merupakan kemenangan pula meskipun nyatanya mengorbankan kepentingan rakyat Banten yang cinta akan kemerdekaannya. Justru karena kedua kepentingan yang sejajar itulah maka Sultan Haji dengan Kompeni Belanda melakukan perlawanan-perlawanan dan bertempur mati-matian dengan tentara Sultan Ageng Tirtayasa tanpa menghitung kerugiannya.

Bagaimana setelah mereka berhasil menumpas tentara Sultan Ageng Tirtayasa bahkan menangkap tokoh-tokoh perlawanan itu Setelah itu hanyalah tinggal menghitung untung ruginya. Kompeni Belanda dengan bangganya segera memaksakan tawarannya untuk melaksanakan perjanjian yang memang sudah lama dicita-citakannya.

Sultan Haji tak berdaya. Bagaimanapun juga ia harus menanggung resiko atas bantuan Kompeni dalam peperangan yang menumbangkan kekuasaan ayahnya. Pelaksanaan cita-cita Kompeni Belanda tersebut terjadi pada tanggal 17 April 1684, yaitu dengan penandatanganan perjanjian antara Sultan Haji dengan Kompeni-Belanda yang terdiri dari 10 pasal. Dan juga merupakan pembaharuan perjanjian tanggal 10 Juli 1659 antara Kompeni dengan Banten ketika masa pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa. Isi pokok perjanjian yang terdiri dari 10 pasal itu ialah sebagai berikut

1. Bahwa semua pasal serta ayat yang tercantumkan pada perjanjian 10 Juli 1659 mendapat pembaharuan, dan pasal yang masih dipercayai dan menguntungkan bagi kedua belah pihak tetap akan dipelihara baik-baik tanpa pembaharuan. Di samping itu kedua belah pihak menganggap sebagai kedua kerajaan yang bersahabat yang dapat memberikan keuntungan bagi kedua belahnya. Tambahan bahwa Sultan Banten tidak boleh memberikan bantuan apa pun kepada musuh-musuh Kompeni, baik berupa senjata, alat perang atau bahan perbekalan, demikian pula halnya kepada sahabat Kompeni dan terutama susunan atau susuhunan atau putera-putera mahkota Cirebon tidak boleh mencoba melakukan penyerangan atau permusuhan karena ketenangan dan perdamaian di Jawa bagaimanapun juga harus terlaksana.

2. Dan oleh karena penduduk kedua belah pihak harus ada ketenangan dan bebas dari segala macam pembunuhan dan perampokan yang dilakukan oleh orang-orang jahat di hutan-hutan dan di pegunungan maka orang Banten dilarang mendatangi daerah termasuk Jakarta baik di sungai-sungainya maupun di anak-anak sungainya. Sebaliknya juga bagi orang Jakarta tidak boleh mendatangi daerah dan sungai ataupun anak sungainya yang termasuk Banten. Kecuali kalau disebabkan keadaan darurat masing-masing diperbolehkan memasuki daerah tersebut tetapi dengan surat izin jalan yang sah, dan kalau tidak maka akan dianggap sebagai musuh yang dapat ditangkap atau dibunuh tanpa memutuskan perjanjian perdamaian itu.

3. Dan karena harus diketahui dengan pasti sejauh mana batas daerah kekuasaan yang sejak masa lampau telah dimaklumi, maka tetap ditentukan daerah yang dibatasi oleh sungai Untung Jawa atau Tanggerang dari pantai laut hingga pegunungan sejauh aliran sungai tersebut dengan kelokannya dan kemudian menurut garis lurus dari daerah selatan hingga utara sampai di Lautan Selatan (Kidul). Bahwa semua tanah di sepanjang sungai Untung Jawa atau Tanggerang akan menjadi milik atau ditempati Kompeni.

4. Dalam hal itu setiap kapal Kompeni atau kepunyaan warganya, begitu pula kepunyaan Sultan Banten dan warganya, jika terdampar atau mendapat kecelakaan di laut atau pantai Jawa atau Sumatra harus mendapat pertolongan baik penumpangnya maupun muatannya.

5. Bahwa atas kerugian, kerusakan, yang terjadi sejak perjanjian tahun 1659 yang diakibatkan oleh Sultan dan kesultanan Banten sebagaimana telah jelas dinyatakan pada tahun 1680 oleh utusan Banten dan demikian pula akibat pembunuhan dan perampokan oleh Pangeran Aria Sura di loji Kompeni sehingga ada pembunuhan kepala Kompeni Jan van Assendelt, dan segala kerugian-kerugian lainnya harus diganti oleh Sultan dengan uang sejumlah 12.000 ringgit kepada Kompeni.

6. Setelah perjanjian ditandatangani dan disahkan oleh kedua belah pihak maka baik tentara-pengawal, pembunuh atau pelanggar hukum Kompeni atau juga orang partikelir yang bersalah tanpa membedakan golongan dan kebangsaan dari sini atau dari tempat lainnya di daerah Kompeni, jika datang ke daerah Banten atau tempat lain yang ada di bawah daerah hukum Kompeni akan segera ditahan dan kemudian diserahkan kembali kepada perwakilan Kompeni.

7. Bahwa karena Banten tidak merupakan satu-satunya penguasa terhadap Cirebon maka harus dinyatakan bahwa kekuasaan raja-raja Cirebon dapat ditinjau kembali sebagai sahabat yang bersekutu di bawah perlindungan Kompeni yang juga di dalam ikatan perdamaian dan persahabatan ini telah dimengerti oleh kedua belah pihak.

8. Bahwa berkenaan dengan isi perjanjian tahun 1659 pasal empat di mana dinyatakan bahwa Kompeni tidak perlu memberikan sewa tanah atau rumah untuk loji maka menyimpang dari hal itu Kompeni akan menentukan pembayaran kembali dengan cara debet.

9. Akhirnya Sultan berkewajiban untuk di waktu yang akan datang tidak mengadakan perjanjian atau persekutuan atau perserikatan dengan kekuatan atau bangsa lain karena bertentangan dengan perjanjian ini.

10. Karena perjanjian ini harus tetap terpelihara dan berlaku terus hingga masa yang akan datang, maka Paduka Sri Sultan Abdul Kahar Abu Nasar beserta keturunannya harus menerima seluruh pasal-pasal dalam perjanjian ini dan dimaklumi, dianggap suci, dipercaya dan benar-benar akan dipelihara dan kemudian oleh segenap pembesar tanpa penolakan sebagaimana pula dari pihak Kompeni yang diwakili oleh misi Komandan dan Presiden Francois Tack, Kapten Herman Wanderpoel, pedagang Evenhart Van der Schuer dan Kapten bangsa Melayu Wan Abdul Bagus dari atas nama Gubernur Jenderal Kompeni dan Dewan Hindia juga atas nama Dewan Jendral Kompeni Belanda.

Perjanjian tersebut dibuat dalam 3 bahasa dan yang sama pula maksud dan isinya yaitu bahasa Belanda, Jawa dan Melayu. Kecuali itu oleh Sultan dan Pangeran Dipa Ningrat, Kiai Suko Tajudin, Pangeran Natanagara dan Nata Wijaya diucapkan dan di taruh di atas Kuran seperti cara-cara Islam, kemudian ditandatangani dan diberi segel kesultanan yang besar sebagaimana halnya dari pihak Kompeni. Perjanjian itu ditandatangani dan disetujui oleh kedua belah pihak di keraton Intan Surosowan, ibukota kesultanan Banten pada tanggal 17 April 1684. Penandatangan dari pihak Kompeni ialah Komandan dan Presiden Komisi Francois Tack, Kapten Herman Dirkse Wanderpoel. Evenhart van der Schuer dan Wan Abdul Bagus. Dari pihak Banten terdiri dari Sultan Abdul Kahar Abu Nasar, Pangeran Dipa Ningrat, Kiai Suko Tajudin dan Pangeran Nata Nagara dan Nata Wijaya.

Dengan demikian maka jelaslah perjanjian tersebut di atas merupakan kemenangan Kompeni. Isinya terang banyak menguntungkan Kompeni. Tetapi bagaimanapun juga memang harus diterima sebagai akibat perbuatan Sultan Haji sendiri yang amat ingin akan kekuasaan, tidak perduli mengurbankan rakyat dan negaranya. Perjanjian 17 April 1684 dan perjanjian berikutnya merupakan kunci pembuka jalan ke penjajahan yang semula hanyalah merupakan monopoli perdagangan.

Dengan perjanjian itu maka masa kebesaran serta kejayaan Banten redup bahkan lenyap ditelan monopoli dan unsur penjajahan kompeni Belanda. Namun demikian pada saat tertentu niscaya jiwa besar, jiwa kepahlawanan, api semangat pahlawan-pahlawan seperti Sultan Ageng Tirtayasa, Pangeran Purbaya, Pangeran Kidul, Syekh Yusup dan yang lainnya, baik yang bersifat daerah maupun nasional, akan tetap muncul dan terpelihara pada rakyat dan bangsa kita dalam menghadapi usaha pihak mana pun juga untuk merong-rong kemerdekaan bangsa dan negara.

Semoga jiwa besar dan. kepahlawanan Sultan Ageng Tirtayasa yang pada masa lampau merupakan teladan bagi rakyat dan bangsa kita dapat tetap menjiwai dan apinya menyala-nyala pada setiap warga bangsa Indonesia dalam menuju dan mencapai Indonesia yang adil dan sejahtera berdasarkan Panca Sila

Ayip Ismail Muhammad, Banten & Penunjuk Jalan dan keterangan Bekas Kerajaan Kesultanan tersebut Banten, 1375 H/1956 M.

Chijs J.A. Mr. van der, “Oud-Bantam” T.B.G. 26, 1881.

Colenbrander, Dr. H.T., Koloniale Geschiedenis, tweede deel, ‘S-Gravehage, Martinus Nijhoff 1925. (khusus mengenai Locale Geschiedenis XIV).

Corpus Diplomaticum Neerlando Indicum , Uitgegeven door Prof. Mr. J.E. Heeres,derde (1676 -1691) BKI. 91,1934.

Dagh Register 1651 – 1682 gehouden in’t Casteel Batavia, Uitgegeven door het Koninlijk Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen.

Deventer, M.L. van, Geschiedenis der Nederlanders op Java, eerste dan tweede deel, 1886, 1887, Haarlem, H,D. Tjeenk Willink.

Drewes, Dr. G.W..J., “Sech Joesoep Makasar” Jawa 1926, 6e jrg,

Graaf Dr. H.J., Geschiedenis van Indonesia, N.V. Uitgeverij W. van Hoeve, ‘s-Gravenhage-Bandung,1949.

Haan, Dr. F., Priangan. De Preanger Regentschappen onder bet Nederlandsch Bestuur tot 1811, derde deel, Commentaar I 1-1500, Uitgegeven door het Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen, batavia-‘S-Gravenhage, 1912.

Haan, Dr. F., Oud Batavia tweede herziene druk, A.C. Nix & Co., Bandung, MCM XXXV.

Hazen, Dr. G.A.J., “Een Beschreven Koperen Plaat uit de Lampongs”. T.B.G. XLVIII, 1902 hal. 1-12.

Hoesein Djajadiningrat, Critische Beschouwing van de Sejarah Banten, bijdrage ter ken Schetsing van de Javaansche Gesehiedschrijving, Academisch Profefsdrift, Leiden, Haarlem, Joh Enschede en Zonen,1913.

Holle, K.F., “Bijdragen tot de Geschiedenis der PreangerRegentschappen.” T.B.G. XVII, 1868.

Jonge, Mr. Jhr. J.K.J., “De Opkomt van bet Nederlandgch Gezag in Oost Indie”, verzameling van onuitgegeven stukken uit het Oud-Koloniaal Archief, zesde, zevende deel, ‘s-Gravenhage, Martinus Nijhoff, MDCCLXXII, MDCCLXXlll.

Leur, J.C. van, Indonesian Trade and Society, W. van Hoeve, Bandung, 1955.

Chijs, J.A.W. “lets over het ontstaan van eenige regentschappen assistent-residentie Bengkoelen. ” T.B.G. XI, 1862

Raffles, Th. St., The History of Java, vol. 1,11, London, 1817.

Stapel, Dr. F.W., Cornelis Janszoon Speelman, ‘s-Gravenhage, Martinus Nijhoff,1936.

Terstra, Dr. H., Insulinde Nederland’s verleden in Verre Oosten, N.V. Uitgeverij W. Van Hoeve, Den Haag, 1949.

Valentijn, Fr., Francois Valentijn’s Oud en Nieuw Oost-Indien, Derde deel Tweede uitgave, Uitgegeven door Mr. S. Keijzer, Amsterdam, Wed. J.C. van Kesteren & Zoon 1862, Ibid., IVe deel.

Veth, Prof. P.J., Java, Geographisch, Etnologisch, Historisch, tweede deel gewerkt door Johff. Snellemen en J.F. Niermeyer, Haarlem, De Erven-F. Bohn, 1898.

Warnsinch, J.C.M., Reisen van Nicolous De Graff Gedaan naar alle Gewesten des Werelds. Beginnende 1639 tot 1687 incluis,’S-Gravenhage, Martinus Nijhoff,1930.

Wawancara dengan pejabat-pejabat pemerintah di Serang dan informan di kampung Kasunyatan, Banten Lama, Tirtayasa, Pontang, Tanahara, Pandeglang dan sebagainya sewaktu kami mengadakan fieldwork antara tanggal 26-30 Mei 1964.

In Memoriam Halwany Microb, putra Banten yang memiliki perhatian serius pada perjalanan sejarah kampung halamannya,….

SILAKAN BERI KOMENTAR

Temui Kami di Facebook

Statistik

  • 742Dibaca Hari Ini:
  • 1839Dibaca Kemarin:
  • 14679Dibaca Per Bulan:
  • 347513Total Pengunjung:
  • 676Pengunjung Hari ini:
  • 13950Kunjungan Per Bulan:
  • 14Pengunjung Online: