Materi 3

MANUSIA SEBAGAI MAKHLUK SOSIAL

A. Keharusan Manusia hidup Berkelompok

Cara yang sangat mudah untuk memahami mengapa manusia harus hidup berkelompok adalah membandingkan antara anak manusia dengan anak hewan pada waktu lahir dan beberapa waktu sesudahnya.

Hewan yang terlahir, kemudian hidup tanpa bantuan dan perlindungan induknya tetap dapat hidup dan setelah dewasa mereka akan hidup dengan cara yang sama dengan jenisnya masing-masing. Misal: anak ayam yang baru menetas ditinggal induknya, sampai besar ia akan tetap hidup sebagaimana seekor ayam.

Berbeda dengan manusia, ia tak akan dapat hidup terus tanpa ada manusia lainnya. Ia tak akan hidup sebagai manusia, jika tidak dirawat oleh manusia. Misal: Manusia yang dirawat Kera, maka ia akan hidup seperti kera, bukan seperti manusia.

Pembeda lainnya antara manusia dengan hewan adalah kemampuan biologis manusia yang dianggap “kurang” dibanding hewan. Manusia tidak dapat berenang selincah ikan, berlari secepat ceetah atau kuda, memburu mangsa secepat harimau, dan berayun melompat sepandai kera.

Di balik kekurangan tersebut, manusia dianugerahi kelebihan berupa kemampuan mental dan fisik yang lebih fleksibel. Kemampuan mental yang bersumber dari akal dan nurani, merupakan modal berharga yang digunakan untuk mengendalikan gerakan-gerakan anggota badan, sehingga kemampuan fisiknya menjadi beragam dan fleksibel.

B. Manusia Berbudaya

Kemampuan fisik dan kemampuan mental manusia membentuk apa yang disebut Kebudayaan. Manusia hidup berbudaya. Manusia hidup dengan cara yang ditempuh oleh sesamanya sesuai dengan kebudayaan yang telah mereka kembangkan. Manusia tidak selalu harus menemukan/menciptakan sendiri satu persatu dalam hidupnya, tetapi cukup mempelajarinya dari manusia lainnya.

Kemampuan manusia untuk mengakumulasikan pengetahuan hasil belajar dari sesamanya, dapat mendorong terciptanya temuan unsur-unsur budaya yang baru yang dapat memperbaiki dan melengkapi unsur kebudayaan yang telah ada.

Menurut Selo Soemarjan, Kebudayaan Adalah keseluruhan hasil cipta, rasa, karya dan karsa manusia. Adapun hal tersebut mengandung pengertian:

– Cipta adalah proses yang menggunakan daya fikir dan nalar.

– Rasa adalah kemampuan panca indera dan hati.

– Karya adalah hasil keterampilan seluruh tubuh.

– Karsa adalah kehendak atau kemauan.

Terdapat unsur-unsur yang bersifat universal di dalam setiap kebudayaan, seperti yang dikemukakan oleh Koentjaraningrat, yaitu:

1. Sistem religi dan upacara keagamaan.

2. Sistem dan organisasi kemasyarakatan.

3. Sistem pengetahuan

4. Bahasa

5. Kesenian

6. Sistem matapencaharian

7. Sistem teknologi dan peralatan

C. Manusia Gregarius

Selain sebagai makhluk budaya, manusia mempunyai “gregariousness” yaitu naluri untuk selalu hidup bersama dengan orang lain. Jadi, manusia dalam hidupnya selalu berhubungan dengan manusia lainnya. Hal ini dapat menimbulkan reaksi yang menyebabkan tindakan seseorang makin bertambah. Manusia bereaksi cenderung sesuai dengan apa yang dilakukan/tindakan orang lain. Misal reaksi berupa pujian terhadap peserta didik yang pintar. Pujian ini akan membuat peserta didik ini semakin termotivasi untuk lebih maju lagi.

Sejak lahir, manusia mempunyai dua hasrat atau keinginan pokok dalam hidupnya, yaitu: (1) keinginan untuk menjadi satu dengan manusia lain disekelilingnya (masyarakat), dan (2) keinginan menjadi satu dengan suasana alam sekelilingnya. Kedua hal tersebut menuntut manusia dapat beradaptasi dengan menggunakan pikiran, perasaan dan kehendaknya.

D. Kelompok SosialManusia sebagai individu hidup dalam kelompoknya, yang disebut masyarakat. Masyarakat merupakan kelompok sosial yang didalamnya terdapat sistem yang terdiri dari berbagai komponen yang satu sama lain memiliki fungsi dan saling melengkapi.

Masyarakat sebagai kelompok sosial memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

– Ada sekelompok manusia yang hidup bersama

– Terjadi interaksi antar anggota kelompok tersebut dalam jangka waktu relatif lama.

– Setiap anggotanya menyadari sebagai satu kesatuan.

– Bersama membangun suatu kebudayaan yang membuat keteraturan dalam kehidupan bersama.

E. Interaksi Sosial

Seseorang yang hidup ditengah masyarakat, haruslah berhubungan dengan sesamanya. Proses terjadinya hubungan yang bersifat dinamis (timbal balik) antara manusia baik individu dengan individu, individu dengan kelompok, maupun kelompok dengan kelompok, di sebut Interaksi sosial. Adapun faktor dasar yang mendorong terjadinya interaksi sosial adalah : imitasi, sugesti, identifikasi, simpati, dan empati.

Interaksi sosial dapat terjadi dengan syarat adanya : (1) kontak sosial/ social contact, (2) komunikasi sosial/social comunication.

Dalam kehidupan bermasyarakat , interaksi sosial dapat dijumpai dalam bentuk-bentuk:

1. Kerjasama ( coorporation).

2. Kompetisi (competition).

3. Konflik/pertentangan (conflict).

4. Akomodasi (accomodation).

Interaksi sosial penting untuk mewujudkan integrasi atau satu kesatuan dalam suatu masyarakat. Intergrasi suatu masyarakat terwujud berdasarkan pada general agreements, yaitu kesepakatan atau kesepahaman bersama terhadap keberadaan nilai-nilai sosial tertentu. General agreement memiliki kekuatan untuk mengatasi perbedaan-perbedaan pendapat dan kepentingan diantara para anggota masyarakat yang bersangkutan.

Perbedaan pendapat dan kepentingan antar anggota masyarakat, dapat menyebabkan konflik sosial. Adapun cara penyelesaian konflik dalam masyarakat dapat dilakukan dengan cara:

1. Konsiliasi, yaitu penanganan konflik melalui lembaga-lembaga sebagai wadah untuk melakukan diskusi dan mengambil keputusan diantara pihak-pihak yang bertentangan.

2. Mediasi, yaitu penanganan konflik, dimana kedua belah pihakyang bersangkutan bersepakat menunjuk pihak ketiga untuk memberikan pandangan dan nasehat mengenai penyelesaian konflik secara baik.

3. Perwasitan/arbitrasi, yaitu penyelesaian konflik, dimana kedua belah pihak terpaksa menerima keputusan-keputusan dari pihak ketiga.

Adapun pengendalian atau kontrol atau pengawasan sosial terhadap konflik dalam masyarakat, dapat dilakukan dengan cara-cara berikut ini:

1. Persuasif, adalah pengendalian sosial yang dilakukan tanpa kekerasan. Bisa dilakukan dengan cara pengarahan, bimbingan, nasehat, serta ajakan. Hal ini bersifat Preventif, artinya usaha yang dilakukan untuk mencegah konflik.

2. Coersif, adalah pengendalian sosial yang menggunakan tekanan , kekuatan fisik, bahkan dilakukan secara paksa. Hal ini bersifat Represif , artinya usaha yang dilakukan merupakan pemulihan kondisi setelah terjadinya konflik.

SILAKAN BERI KOMENTAR

Temui Kami di Facebook

Statistik

  • 12Dibaca Hari Ini:
  • 1839Dibaca Kemarin:
  • 13949Dibaca Per Bulan:
  • 346847Total Pengunjung:
  • 10Pengunjung Hari ini:
  • 13284Kunjungan Per Bulan:
  • 2Pengunjung Online: