MAULANA MUHAMMAD KANJENG RATU BANTEN SUROSOWAN (1580 – 1596)

Keadaan Banten pada masa Maulana Muhammad ini dapat kita ketahui dari kesaksian Willem Lodewycksz, juru tulis Cornelis de Houtman yang mendarat di pelabuhan Banten pada tahun 1596. Dari catatan mereka dapatlah diketahui keadaan kota Banten secara lebih jelas.

Ketika itu, Banten telah mempunyai tembok-tembok yang tebalnya lebih dari depa orang dewasa dan terbuat dari bata merah. Tembok-tembok itu tidak mempunyai menara-menara, melainkan semacam tiang gantungan setinggi tiga stagie yang terbuat dari kayu besar (kira-kira 3 m). Orang dapat melayari kota seluruhnya melalui banyak sungai. Diperkirakan besar Kota Banten sebesar kota Amsterdam pada tahun 1480 ketika kota itu dikelilingi tembok untuk pertama kalinya. (Chijs, 1881:18 dan Djajadiningrat, 1983:144).

Mulai dari pintu gerbang besar istana sampai di luar, terdapat bangunan-bangunan: made bahan, tempat tambak baya melakukan jaga, made mundu dan made gayam, selanjutnya sitiluhur atau sitihinggil yang di dekatnya terdapat bangunan untuk gudang senjata dan kandang kuda kerajaan. Kemudian terdapat pakombalan yaitu penjagaan untuk “wong gunung”. Di sebelah utara terdapat tempat perbendaharaan dan di sebelah barat berdiri masjid dengan menara di sampingnya. Kemudian terdapat satu perkampungan yang disebut Candi Raras, yang di antaranya terdapat bangunan-bangunan made bobot dan made sirap. Di sebelah timur made bobot terdapat mandapa yaitu suatu bangunan terbuka yang di sana dipasang meriam Ki Jimat yang mengarah ke utara. Dekat srimanganti terdapat waringinkurung dan watugilang. Di tepi sungai terdapat panyurungan atau galangan kapal kerajaan. Di sebelah barat laut terdapat pasar dan di sebelah baratnya terdapat masjid besar kerajaan. Dekat panyurugan terdapat tonggak yang mengikat gajah raja yang bernama Rara Kawi. Di sebelahnya terdapat jembatan besar dari kayu jati melintasi sungai yang selanjutnya terdapat jalan raya dengan pagar kembar menuju ke arah utara ke perbentengan. Perbentengan sebelah dalam atau baluwarti dalem disebut lawang sademi atau lawang seketeng yang di sebelah baratnya berdiri pohon beringin besar dan perbentengan Sambar Lebu (Djajadiningrat, 1983:57).

Banten mempunyai kapal perang yang menyerupai kapal galai dengan dua tiang layar. Keistimewaan kapal ini mempunyai serambi yang sempit dengan geladak luas. Hal ini memungkinkan tentara lebih leluasa bergerak dalam perang. Di bagian depannya ditempatkan empat pucuk meriam. Sedangkan ruang pengayuh ditempatkan di bagian bawah. Untuk perjalanan jauh seperti ke Maluku, Banda, Kalimantan, Sumatra dan Malaka digunakan kapal jung besar dengan layar kecil di depannya. Di samping itu ada juga perahu-perahu lesung kecil yang bisa berlayar dengan cepat yang belum pernah dilihat oleh orang Belanda sebelumnya (Tjandrasasmita, 1975:17-18). Setiap kapal asing yang hendak berlabuh di Bandar Banten diharuskan melalui semacam pintu gerbang dan membayar bea masuk (Michrob, 1984:5).

Tentang pasar sebagai pusat perekonomian, dapat dilihat dari catatan Willem Lodewyckz yang mengatakan sebagai berikut: “Di sebelah timur kota yaitu daerah Karangantu, terdapat sebuah pasar yang pagi maupun siang terdapat pedagang-pedagang dari Portugis, Arab, Turki, Cina, Keling, Pegu, Malaya, Bengali, Gujarat, Malabar dan Abesinia. Juga terdapat pedagang-pedagang dari Nusantara seperti dari Bugis, Jawa dan lain-lain. Pasar kedua terletak di Paseban, yang memperdagangkan keperluan sehari-hari. Dan pasar ke tiga terletak di Pacinan yang dibuka sebelum dan sesudah pasar-pasar lain tutup. Barang-barang yang diperdagangkan di pasar ketiga ini bermacam ragam, mulai dari kain sutra dari Cina dan Gujarat sampai sisir dan kipas. Diceritakan pula, bahwa barang-barang tekstil dari Gujarat ini 20 jenis. Transansi perdagangan di pasar ini berjalan mudah, karena mata uang dan pertukaran mata uang (money changer) sudah dikenal” (Tjandrasasmita, 1975: 218-231).

Maulana Muhammad terkenal sebagai orang yang shaleh [4]. Untuk kepentingan menyebaran agama Islam ia banyak mengarang kitab-kitab agama yang kemudian di-wakaf-kan kepada yang membutuhkan. Sultan sangat hormat kepada gurunya yang bernama Kiyai Dukuh yang bergelar Pangeran Kasunyatan di Kampung Kesunyatan (Djajadiningrat, 1983:39 dan 164). Untuk sarana ibadat dibangunnya masjid-masjid sampai ke pelosok-pelosok yang di sana terdapat banyak masyarakat muslim. Dalam shalat berjamaah terutama pada shalat Jum’at dan Hari Raya, Sultan yang selalu menjadi imam dan khotib. Mesjid Agung yang terletak di tepi alun-alun diperindahnya. Tembok masjid dilapisi dengan porselen dan tiangnya dibuat dari kayu cendana (Michrob, 1981:32). Untuk tempat shalat perempuan disediakan tempat khusus yang disebut pawestren atau pawadonan (Tjandrasasmita, 1975:131-132).

Peristiwa yang menonjol pada masa Maulana Muhammad adalah peristiwa penyerbuan ke Palembang. Kejadian ini bermula dari hasutan Pangeran Mas yang ingin menjadi raja di Palembang. Pangeran Mas adalah putra dari Aria Pangiri, putra dari Sunan Prawoto atau Pangeran Mu’min dari Demak. Aria Pangiri tersisih dua kali dari haknya menjadi raja di Demak, dan karena ketahuan hendak melepaskan diri dari kuasa Mataram, Sutawijaya, raja Mataram, hendak membunuhnya. Tapi atas bujukan istrinya hal itu tidak dilakukannya setelah Aria Pangiri berjanji tidak akan kembali ke daerah Mataram untuk selamanya. Akhirnya dia menetap di Banten sampai meninggalnya.

Terdorong oleh darah muda dan pandainya Pangeran Mas membujuk, Sultan pun dapat dipengaruhinya. Saran Mangkubumi dan pembesar-pembesar senior lainnya tidak diindahkannya, sehingga akhirnya disiapkanlah pasukan perang untuk segera mengadakan penyerbuan ke Palembang. Dengan 200 kapal perang berangkatlah pasukan Banten dipimpin oleh Sultan Muhammad yang didampingi Mangkubumi dan Pangeran Mas. Lampung, Seputih dan Semangka diperintahkan untuk mengerahkan tentaranya menyerang dari darat. Maka terjadilah pertempuran hebat di Sungai Musi sampai berhari-hari lamanya. Dan akhirnya pasukan Palembang dapat dipukul mundur. Tapi dalam keadaan yang hampir berhasil itu, sultan yang memimpin pasukan dari kapal Indrajaladri tertembak yang mengakibatkan kematiannya. Penyerangan ke Palembang ini tidak dilanjutkan, pasukan Banten kembali tanpa hasil (Djajadiningrat, 1983: 41-42). Peristiwa gugurnya Maulana Muhammad ini terjadi menurut sangsakala prabu lepas tataning prang atau tahun 1596 M (Djajadiningrat, 1983: 168).

Adapun tentang Pangeran Mas, diceritakan bahwa setelah pulang dari Palembang tidak berani lama-lama menetap di Banten karena rakyat menganggap dialah penyebab kematian sultan, sehingga ia pergi kepada Pangeran Ancol di Jayakarta untuk bisa menetap disana. Tetapi di Jayakarta pun Pangeran Mas tidak disenangi, akhirnya di suatu malam didapati Pangeran Mas dibunuh oleh anak kandungnya sendiri (Hamka, 1982:84).

Maulana Muhammad meninggal dalam usia yang sangat muda kurang lebih 25 tahun dengan meninggalkan seorang anak yang baru berusia 5 bulan dari permaisuri Ratu Wanagiri, putri dari Mangkubumi. Anak inilah yang menggantikan pemerintahannya. Maulana Muhammad, setelah meninggalnya diberi gelar Pangeran Seda ing Palembang atau Pangeran Seda ing Rana, dan dikuburkan di serambi Masjid Agung (Djajadiningrat, 1983:169).

SILAKAN BERI KOMENTAR

Temui Kami di Facebook

Statistik

  • 1336Dibaca Hari Ini:
  • 1839Dibaca Kemarin:
  • 15273Dibaca Per Bulan:
  • 348066Total Pengunjung:
  • 1229Pengunjung Hari ini:
  • 14503Kunjungan Per Bulan:
  • 8Pengunjung Online: