NYAI, NENEK MOYANG KAUM INDO ( Resensi )

Judul                 : De njai, Het concubinaat in Nederland-Indië

Penulis              : Reggie Baay

Penerbit           : Athenaeur-Polak & Van Gennep

Tebal                 : 302 hlm

Apa hubungan antara Nyai dan Kaum Indo? Dalam salah satu kesempatan Professor Pamela Pattynama, guru besar luar biasa Universiteit van Amsterdam mengutip kalimat dari penulis buku ini, Reggie Baay. ”Nyai adalah nenek moyang kaum Indo Eropa.” Kalimat ini sebenarnya berasal dari Rob van Nieuwenhuys.

Apabila kita menyebutkan kata ’nyai’ pada masa kolonial, kemungkinan reaksi orang akan beragam. Ada yang tersenyum kecut, memasang wajah sinis atau meremehkan dan mungkin saja mengangkat bahu. Enggan membicarakannya lebih lanjut. Nyai pada masa kolonial kerap disandingkan dengan urusan dapur dan kasur yang berfungsi sebagai ’teman’ bagi para pria Eropa kesepian di tanah surga.

Sebutan nyai pada masa kolonial ditujukan pada perempuan muda, setengah baya yang menjadi ‘gundik’ ‘perempuan simpanan’ orang asing, khususnya orang Eropa. Sebutan ini menurut anggapan orang Eropa pada masa itu setara dengan concubine, bijwijf atau selir yang meniru kebiasaan para raja di Nusantara yang memang memiliki banyak selir.

Reggie Baay yang juga penulis roman De Ogen van Solo (2006), dalam buku ini menelusuri akar pernyaian dengan menggunakan titik awal sejarah keluarganya. Baay yang juga ternyata cucu dari seorang nyai (Moeinah) tidak hanya menelusuri akar keluarganya tetapi juga mewancarai anak-anak dan cucu-cucu dari para nyai yang lain serta mengumpulkan foto-foto mereka.

Seperti kata pepatah ‘sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui’, Baay tidak hanya mendapatkan informasi tentang asal-usulnya, ia juga mendapat informasi bagaimana nasib beberapa nyai tersebut sekaligus meramunya dengan sumber-sumber sejarah serta karya sastra sejaman dan modern. Deretan karya sastra dan catatan perjalanan yang digunakan membentang dari akhir abad ke-19 hingga abad ke-20 seperti Justus van Maurik, P.A. Daum, Victor Ido, Augusta de Wit, G. Francis, Louis Couperus, Dé-Lilah, Johan Fabricius, Otto Knaap, E. Du Perron, Annie Foore, H. Gorter, Thérèse Hoven, J. Kleian, Herman Kommer, M.C. Kooy-van Zeggelen, Mina Kruseman, L. Székely, M.H. Székely-Lulofs, Bas Veth, Marie van Zeggelen, Ferdinand Wiggers, Willem Walraven, Lin Scholte. Baay juga menggunakan terjemahan karya Pramoedya A. Toer Bumi Manusia dan Anak Semua Bangsa sebagai sumber.

Membicarakan nyai berarti menelusuri sejarah terbentuknya status dan institusi ini dalam masyarakat kolonial di Hindia. Khususnya pergeseran makna nyai dalam masyarakat. Dalam Encylopaedie Nederlandsch Indië (1919), nyahi (nyai) merupakan panggilan kehormatan untuk perempuan yang lebih tua. Istilah Nyai dipasangkan dengan Kyai, gelar kehormatan bagi seorang pria yang dianggap lebih tua serta kaya dalam ilmu dan pengalaman hidup. Dengan demikian istilah Nyai mengalami pergeseran seiring dengan berdatangannya perempuan kulit putih (Eropa) ke Hindia. Menurut Jean Gelman Taylor, pergeseran istilah ‘nyai’ sebagai pembantu pribumi pria Eropa sejak awal 1826, meskipun sebenarnya jauh sebelumnya istilah nyai sudah dipakai.

Bila ditelusuri lebih ke belakang, seperti yang ditulis oleh Rijckloff van Goens, utusan VOC dalam laporannya ketika melakukan perjalanan ke Mataram pada 1666, ia menyebutkan bahwa ada sekelompok perempuan setengah baya yang bertanggung jawab menjaga keamanan istana serta urusan raja dengan para selirnya di luar istana: “Over alle dese waren mijn jonghste aenwesen 2 vrouwen tot opperste hoofden, de eene genaemt Injey Maes, ende d’andere Injey ’t Chela.” (Mengenai semua ini , ada dua nyai yang ditunjuk memimpin mereka yaitu Injey -Nyai Maes dan yang lain Injey -Nyai Chela). Sebagai tambahan keterangan untuk Injey atau Nyai ini disebutkan:“Injey/Njai is eerbiedwaardigheidstitel voor een oudere vrouw van aanzien.”(Nyai adalah gelar kehormatan untuk seorang perempuan yang dianggap lebih tua)

Sebutan nyai pada masa kolonial, mengutip Kasyanto Sastrodinomo adalah eufemisme bagi para bediende atau baboe yang diangkat sebagai ‘istri gelap’ para tuan kolonial. Agar tak memalukan sang tuan, para nyai didandani. Mereka diajari beretiket dan berbahasa Belanda, menikmati budaya Eropa. De Haan dalam Oud Batavia (1922) menyebutkan para majikan juga menggunakan nama indah bagi para nyai: Saartje, Anjelier, Mawar, Roosje, sampai nama tokoh teater atau sastra klasik Corinna dan Pamela

Penggambaran nyai yang berkonotasi negatif dan murahan, terbatas pada ‘istri piaraan’, ‘gundik’ bahkan tak ubahnya seperti pelacur semakin dikukuhkan dalam berbagai karya sastra yang terbit pada masa kolonial. Terbitan Commissie voor de Volkslectuur (Balai Pustaka sekarang) yang dikenal sebagai roman picisan seperti Tjerita Njai Dasima (1896) karangan G. Francis, cerita bersambung Raden Mas Tirto Adhi Soerjo, Tjerita Njai Ratna (1909) yang dimuat di Medan Prijaji. Memang cerita-cerita kehidupan antar ras, khususnya tentang para nyai di Hindia pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20 itulah yang mendominasi. Dengan menggunakan bahasa Melayu pasar semakin mengurangi derajat kehidupan mereka. Jauh dari kata terhormat

Praktik ‘pergundikan’ ini, seperti yang diungkapkan Jean Gelman Taylor dalam The Social World of Batavia (1983) sebenarnya dilembagakan sejak adanya kebijakan VOC pada 1652 yang membatasi imigrasi perempuan Belanda serta tuntutan syarat rumit pada perkawinan resmi pria Belanda dan perempuan Jawa Seiring berjalannya waktu, praktik ‘pergundikan’ terasa berakar kuat di Hindia. Banyak perempuan pribumi bekerja sebagai nyai, memasak, mengurus rumah tangga para pria Belanda yang belum menikah, sekaligus melayani secara seksual. Praktik ini tidak hanya berlangsung dalam benteng, tangsi militer tapi juga di perkebunan di pelosok luar Jawa. Seperti di perkebunan karet dan tembakau di pantai timur Sumatera.

Di antara berbagai tulisan yang membahas kisah per-nyai-an atau yang lebih sering disebut sebagai concubinaat (pergundikan) di Hindia-Belanda dalam buku ini, diungkapkan nasib beberapa nyai. Misalnya Lamira kelahiran Surabaya tahun 1853. Ia beribu seorang Jawa dan ayahnya dari kalangan Mardijker. Lamira bertemu dengan Johannes seorang Indo-Eropa yang bekerja sebagai juru sita di Kediri, Jawa Timur. Johannes menjadikan Lamira nyai. Mereka lalu hidup layaknya suami istri. Mereka dikaruniai empat anak. Pada 1881 Johannes meninggal dunia. Anak-anak mereka diadopsi oleh keluarga Johannes sehingga mendapat hak seperti orang Eropa. Lamira kemudian menikah dengan seorang Eropa. Lamira akhirnya pergi ke Belanda dan hidup hingga tutup usia pada usia 105 tahun di Den Haag (Baay 2008:51-52)

Kisah nyai yang lain adalah kisah Saila yang lahir dari sebuah keluarga miskin di Jawa Barat pada 1884. Ia bertemu dengan Edward dari Belgia. Tahun 1900 ia dijadikan nyai oleh Edward. Dari Edward Saila mendapatkan delapan anak. Lima perempuan dan tiga laki-laki. Saila tidak bisa membaca. Ia hanya dapat bicara bahasa Melayu dan paham bahasa Belanda. Edward yang bekerja sebagai sipir penjara mendapat nasib sial. Ia tewas ketika bekerja. Saila sedih. Anak-anak yang masih kecil dititipkan di panti asuhan Vincentius, Batavia. Sementara anak-anaknya yang lebih tua telah menikah. Saila pun akhirnya menikah dengan seorang pribumi dan dikarunai seorang anak. Saila masih tetap berhubungan dengan anak-anaknya yang lain. Anak-anak yang paling tua pun membantu secara finansial di samping uang pensiun dari Edward. Ketika pecah perang, anak-anak Saila tidak dimasukkan ke dalam kamp karena asal-usul mereka yang berdarah campuran. Usai perang, anak-anak Saila berangkat ke Belanda. Saila tetap tinggal di Indonesia. Ia tinggal

dengan anak laki-lakinya yang paling kecil di sebuah rumah kecil di Jakarta. Saila meninggal pada 1972 dalam usia 88 tahun. Sebagai kenangan atas Saila, seorang cicitnya diberinama Saila (Baay 2008: 67-68)

Kisah di atas adalah sebagian dari nasib para nyai di Hindia. Mungkin ada juga nyai yang nasibnya jauh dari beruntung. Tak diingat, tak dikenang, dilupakan begitu saja. Dihilangkan sebagai sumber asal-usul suatu generasi. Namun, yang tidak dapat dihilangkan adalah peran mereka dalam salah satu budaya di Indonesia yaitu budaya Indo (Indis). Seperti halnya Rob Nieuwenhuis, Reggie Baay juga mengungkapkan bahwa nyai adalah “nenek moyang” dari para Indo-Eropa. Buku ini tidak hanya mengungkap sisi kelam kolonialisme, tetapi juga memperlihatkan jejak satu ‘institusi’ yang sebenarnya dilembagakan sejak adanya kebijakan VOC pada 1652. Jejak sejarah yang memberikan warna pada negeri ini.

* Achmad Sunjayadi, Koordinator Program Studi Belanda Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia

SILAKAN BERI KOMENTAR

Temui Kami di Facebook

Statistik

  • 1400Dibaca Hari Ini:
  • 1839Dibaca Kemarin:
  • 15337Dibaca Per Bulan:
  • 348123Total Pengunjung:
  • 1286Pengunjung Hari ini:
  • 14560Kunjungan Per Bulan:
  • 10Pengunjung Online: