ORANG JAWA DI SUMATRA

Sejarah datangnya Orang Jawa ke Sumatera

Terjadinya arus migrasi penduduk yang deras dari pulau Jawa untuk menjadi kuli kontrak di Sumatera berlangsung menjelang terjadinya depresi ekonomi dunia. Para penduduk miskin di Jawa yang terutama berada di desa-desa terpencil, dibawa ke Sumatera Timur untuk di jadikan pekerja di sejumlah perkebunan di wilayah tersebut. Selain itu pemerintah kolonial Belanda mengubah kebijakan kolonisasi, dengan menciptakan koloni penduduk asal Jawa di perkebunan-perkabunan yang telah mereka buat. Kebijakan kolonisasi penduduk dari pulau Jawa ke luar Jawa dilatarbelakangi oleh:(1) Melaksanakan salah satu program politik etis, yaitu emigrasi untuk mengurangi jumlah penduduk pulau Jawa dan memperbaiki taraf kehidupan yang masih rendah. (2) Pemilikan tanah yang makin sempit dipulau Jawa akibat pertambahan penduduk yang cepat telah menyebabkantaraf hidup masyarakat di pulau Jawa semakin menurun. (3) Adanya kebutuhan pemerintah kolonial Belanda dan perusahaan swasta akan tenaga kerja di daerah-daerah perkebunan dan pertambangan di luar pulau Jawa. Politik etis yang mulai diterapkan pada tahun 1900 bertujuan mensejahterakan masyarakat petani yang telah dieksploitasi selama dilaksanakannya culture stelsel (sistem tanam paksa).

Pembukaan Onderneming (perkebunan besar) yang dilaksanakan oleh perusahaan perkebunan asing (orang-orang Eropa) baik Hindia Belanda maupun perusahaan asing lainnya yang dilindungi oleh Pemenritah Hindia Belanda. Perkembangan yang pesat dalam pembangunan perkebunan ini, karena pada masa itu Belanda sudah mulai memasuki era imperialism modern dengan memberlakukan Undang-Undang Agraria tahun 1870 bagi seluruh wilayah HIndia Belanda, yang menciptakan iklim kemantapan berusaha bagi para pengusaha Belanda atau orang lainnya.

Bersamaan dengan pesatnya pembukaan lahan baru untuk perkebunan tembakau, tahun 1890-1920 adalah era dimana masuknya gelombang kuli untuk bekerja di perkebunan tembakau swasta milik Belanda datang secara besar-besaran. Para kuli yang disebut kuli kontrak adalah kebanyakan dari Jawa. Kebanyakan dari mereka tertipu oleh bujukan para agen pencari kerja yang mengatakan kepada mereka bahwa Deli adalah tempat dimana pohon yang berdaun uang (metafor dari tembakau). Dijanjikan akan kaya raya namun kenyataannya mereka dijadikan budak. Selama puluhan tahun mereka menjalani kehidupan yang sangat tidak manusiawi, upah yang sangat rendah, perlakuan kasar majikan.

Orang-orang asing berlomba menanamkan modal ke Sumatera Timur. Oleh karena sulit mendatangkan buruh Cina dan India ke Sumatera Timur, maka kuli kontrak didatangkan dari Jawa. Masuknya kuli kontrak asal Jawa dan China ke Medan tentu mengubah warna daerah ini . Mereka datang karena tertipu bujuk rayu makelar pencari tenaga kerja. Pada masa Hindi Belanda orang Jawa didatangkan dari kampung miskin di Jawa. Awalnya “Werk” atau agen pencari “kuli” datang kepelbagai kampung/desa di Jawa yang dilanda paceklik, menggoda mereka untuk bekerja ke sumatera. Kedatangan kuli asal Jawa di mulai pada tahun 1880, pemerintah Tiongkok makin mempersulit buruhnya ke deli. Sementara itu, pemerintah Inggris di India juga mengajukan berbagai persyaratan bagi pekerja Tamil yang hendak ke Deli. Namun, calo buruh kebun di penang dan singapura tetap memasok tenaga ke Deli, dengan tipuan hendak memperkerjakan meraka ke Johor. Oleh karena itu, tahun 1880 awal kedatangan buruh Jawa ke Deli, yaitu masukya 150 orang dari bagelen. Jumlah ini mengalir terus, sampai akhirnya mengalahkan jumlah buruh kebun asal Cina dan Tamil Selain itu, upah para buruh Jawa lebih rendah dari pada buruh Cina yang pada waktu itu juga merupakan kuli kontrak. Mereka (orang Cina) datang lebih dulu ke Sumatera Timur untuk sebagai kuli kontrak ketimbang kuli kontrak asal Jawa. Sehingga Pemerintah colonial mendorong kedatangan perempuan dari Jawa dan mengizinkan majikan mengerahkan mereka sebagai tenaga kerja penuh. Pada tahun 1905, diantara 33.961 orang kuli kontrak Jawa terdapat 6.290 orang perempuan. Istilah “koeli” diperkirakan berasal dari bahasa Inggris cooli yang mengadopsi kata kuli dari bahsa Tamil yang artinya upahan untuk pekerjaan kasar. Perkelahian pemberontakan sampai dengan pembunuhan, merupakan cerita sehari-hari di perkebunan. Jadi kuli kontrak adalah sebutan bagi mereka yang hidup sengsara di Jawa, kemudian mengikatkan diri pada perjanjian kerja yang akhirnya tetap membuat mereka sengsara di negeri seberang, yakni Sumatera. Pada tahun 1900-an, liberalisasi ekonomi dipandang sebagai kunci menuju “kamakmuran” di negeri jajahan Belanda ini. Dimana konsentrasi terbesar terlatak di Sumatera Timur, saat terjadi ledakan ekspansi capital swasta di berbagai jenis perkebunan seperti tembakau dan karet. Saat itulah, pertumbuhan kuli kontrak dari Jawa mengalami ledakan. Ribuan kuli kontrak didatangkan guna menyulap hutan belantara menjadi perkebunan. Tinggal di barak-barak perkebunan dengan kondisi mengenaskan, nyaris tanpa kemajuan selain sekedar bisa makan. Malah berbagai kesenian yang mereka bawa dari tanah leluhur porak-poranda.

Di Sumatera Utara, Kuli Kontrak akhirnya menjadi suatu istilah yang menunjukkan betapa parahnya kehidupan manusia. Hubungan seks sangat longgar, kawin cerai merupakan hal yang biasa. Setiap kali para kuli menerima gaji, pengusaha kolonian menggelar perhelatan besar, berbagai tarian-tarian digelar, alcohol, seks, dan judi dihalalkan. Para Bandar datang dari kota untuk menguras isi kantong Kuli Kontrak. Hal ini memang dirancang untuk terus memiskinkan mereka, sehingga terus memperpanjang kontrak, karena gaji yang mereka terima tidak pernah tersimpan.

Semakin padatnya penduduk Jawa dan dugaan itulah penyebab semakin miskinnya sebagian penduduk pedalaman, itu juga mendorong pemerintah kolonial bersikap toleran terhadap pengiriman tenaga kerja ke Sumatera Timur. Keengganan masa lalu karena rasa tak puas dengan tingkat upah yang terlalu rendah telah lenyap dan kini kian kuat anjuran pemerintah kepada mereka yag tak mempunyai mata pencaharian di daerah kelahirannya untuk nerangkat ke Sumatera Timur. Karena Jawa semakin penting sebagai pemasok kuli pada sekitar pergantian abad ini jumlah kuli yang diangkut berkisar sekitar 7.000 orang setahun. Pada tahun 1926, kuli kontrak laki-laki Jawa berjumlah 142.000 orang, sedangkan buruh wanita Jawa 52.400 orang. Namun, catatan Belanda lainnya menunjukkan tahun 1920 saja, jumlah orang Jawa di Sumatera Timur ada 353.551 orang, melebihi jumlah orang Melayu yang tercatat 285.553 orang. “sampai menjelang Perang Dunia II, 3/5 penduduk Sumatera Timur adalah orang Jawa”. pada masa Orde Lam, kondisi para kuli ini tidak banyak berubah. Gawatnya urusan pangan, telah menghasilkan migrasi besar-besaran kembali ke buruh tani dari Jawa ke Sumatera. Namun, di perantuan pun situasi mereka tidak lebih baik. Politik Berdikari penguasa Orde Lama telah menimbulkan kesulitan pangan dimana-mana . Baru pada tahun 1980-an, ketika ekonomi Indonesia mulai memasuki era Industri dan jasa keadaan mulai berubah. Pertumbuhan ekonomi di Sumatera Utara mencapai delapan persen per tahun, telah mendorong peningkatan belanja masyarakat. Sector jasa, perdagangan, dan industry melaju sesuai laju permintaan. Karenanya, para kuli kontrak dan keluarganya sebagaian mulai bergerak ke kota, untuk bekerja sebagai buruh pabrik, pelayan toko, kuli bangunan, sampai penjual pecel dan juga pembantu rumah tangga. Perkembangan tersebut menghasilkan banyak perubahan. Dalam tempo dua puluh tahun. Bedeng-bedeng (batas tanah) warisan generasi silam nyaris tak kelihatan lagi. Kebanyakan telah berubah menjadi rumah permanen atau semi permanen, berbarengan dengan itu, secara cultural mereka telah menjadi bagian dari Kota

SILAKAN BERI KOMENTAR

Temui Kami di Facebook

Statistik

  • 10Dibaca Hari Ini:
  • 1839Dibaca Kemarin:
  • 13947Dibaca Per Bulan:
  • 346845Total Pengunjung:
  • 8Pengunjung Hari ini:
  • 13282Kunjungan Per Bulan:
  • 2Pengunjung Online: