PANDUAN PENYUSUNAN SKRIPSI

I. PENDAHULUAN

Panduan penulisan proposal dan skripsi Program studi Pendidikan Sejarah STKIP SETIA BUDHI Rangkasbitung ini disusun dengan harapan terdapatnya kesamaan persepsi tentang teknik dasar penulisan skripsi untuk mahasiswanya. Dengan adanya buku panduan ini diharapkan mahasiswa memiliki format dasar yang sama dalam melakukan tahap demi tahap proses yang harus dilalui dalam penulisan karya ilmiah, sehingga standar-standar tulisan ilmiah yang diharapkan dapat tercapai.

Sebagai sebuah standar penulisan ilmiah di lingkungan program studi Pendidikan Sejarah STKIP SETIA BUDHI Rangkasbitung, buku Panduan ini mengacu pada berbagai literatur yang relevan antara lain : Panduan Penulisan Skripsi dan Makalah STKIP SETIA BUDHI Rangkasbitung yang telah ada sebelumnya, Panduan Penyajian Karya Ilmiah Seri Pustaka IPB, Panduan Penulisan Proposal dan Skripsi Sejarah keluaran Jurusan Sejarah Universitas Negeri Padang, Panduan Penulisan Proposal Penelitian dan Tesis terbitan Program Pascasarjanan Universitas Andalas, Panduan Pelaksanaan Hibah Penelitian, Pengabdian Kepada Masyarakat dan Program Kreativitas Mahasiswa, Edisi VII oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi, disamping referensi lainnya.

II. ATURAN PROGRAM STUDI PENDIDIKAN SEJARAH STKIP SETIA BUDHI

Syarat mahasiwa yang bisa ikut menyajikan (seminar) proposal dan diuji dalam ujian skripsi adalah :

  1. Telah mengikuti seminar proposal minimal 1 kali, yang dibuktikan dengan kartu hadir seminar.
  2. Mahasiswa yang menyajikan proposalnya minimal telah menyelesaikan 110 sks perkuliahan, sedangkan bagi yang ujian skripsi haruslah telah menyelesaikan seluruh mata kuliah.
  3. Telah menyelesaikan konsultasi proposal dan skripsi dengan dosen pembimbing dan ini terbukti dengan diberinya izin untuk seminar proposal atau ujian skripsi oleh pembimbing.
  4. Siap, sehat, dan bersedia mengikuti seminar proposal dan ujian skripsi dengan baik.
  5. Memperbanyak proposal dan skripsi, sesuai dengan jumlah dosen yang ditunjuk.
  6. Menyerahkan perbanyakan proposal dan skripsi minimal seminggu sebelum seminar atau ujian skripsi dilangsungkan.
  7. Peserta ujian diwajibkan mengenakan pakaian rapi, bersih, dengan baju warna putih dan celana / rok warna hitam serta memakai jas almamater.
  8. Pembimbing harus hadir saat seminar atau ujian skripsi berlangsung. Minimal salah seorang dari 2 orang pembimbing yang telah ditunjuk.
  9. Nilai ujian skripsi berasal dari akumulasi nilai-nilai yang diberikan pembimbing, penguji.

III. PROPOSAL PENELITIAN

PENGERTIAN PROPOSAL

Proposal adalah suatu rencana, yang kalau diterjemahkan, rencana itu terkadang diterima bahkan ada kemungkinan di tolak, tentu dengan alasan yang menguatkan tentang keberadaanya apakah diterima atau ditolak. Proposal dapat diartikan secara sederhana dengan: Suatu pernyataan tentang sebuah rencana yang mempunyai tujuan tertentu dengan langkah-langkah kegiatan yang direncanakan sebaik mungkin. Secara sederhana proposal akan mencakup: pernyataan suatu program atau rencana tertentu, janji untuk melakukan sesuatu, rencana penelitian dan yang terakhir adalah mengikuti alur, renca kerja dan jadwal kerja.

Untuk menyusun sebuah proposal penulis seharusnya telah memiliki pengetahuan awal atau Penelitian penjajakan awal tentang bahasan atau persoalan yang akan ditelitinya. Bahkan secara garis besar dapat dijelaskan bahwa seorang yang telah memiliki proposal yang bagus, matang telah memiliki 50 % data dari penyelesaian tulisan ilmiahnya.

BAGIAN-BAGIAN DALAM PROPOSAL PENELITIAN SEJARAH

Latar Belakang Masalah

Latar belakang masalah adalah bagian awal dari sebuah proposal penelitian. Bagian ini merupakan jawaban atas pertanyaan mengapa sebuah topik penelitian yang diusulkan oleh mahasiswa itu layak diteliti. Didalamnya terdapat argumen ilmiah yang dipaparkan berkaitan dengan kebaruan (novelty) topik penelitian dan relevansinya dengan masa sekarang sehingga patut diteliti. Dengan demikian latar belakang masalah dalam sebuah penelitian atau proposal penelitian berisikan alasan atau argumen apa pentingnya masalah tersebut diangkat menjadi sebuah penelitian ilmiah.

Masalah penelitian secara ilmiah diawali dengan melihat adanya perbedaan antara konsep ideal (das solen) dengan realitas (das sein). Pada bagian latar belakang ini juga telah mulai diidentifikasi pokok masalah yang akan diteliti. Penelitian ini dapat dilakukan dengan dasar survey kepustakaan, dengan menunjukkan ada aspek atau dimensi yang belum ditulis atau perlu ditinjau kembali. Jadi perlu digaris bawahi bahwa pada latar belakang masalah tidak menuliskan latar belakang sejarah atau latar belakang peristiwa dari topik yang diteliti. Bagian ini, tegasnya harus memuat latar belakang penulis memilih topik tersebut. Dengan membaca sub bab ini orang akan paham atau mengerti alasan atau dasar pemikirannya kenapa kita memilih topik atau masalah tersenut.

Batasan dan Rumusan Masalah

Pada bagian ini masalah harus dirumuskan secara lebih tegas. Apa persisnya masalah yang akan dibahas dalam rancangan penelitian. Biasanya dimunculkan dalam bentuk pertanyaan penelitan (reseach question).

Studi sejarah memiliki 3 batasan masalah:

  1. Ruang lingkup masalah, apa masalah yang akan diteliti dan yang tidak akan diteliti.
  2. Batasan geografis (scope spatial) , yaitu menerangkan batasan ruang lingkup secara geografis.
  3. Batasan waktu (scope temporal), yaitu menjelaskan batasan waktu dan sekaligus menerangkan mengapa batasan waktunya dibuat demikian.

Dalam model penelitian sejarah ada dua kualifikasi pertanyaan yang berpengaruh kepada bobot jawaban yang diberikan.

Pertama, Pertanyaan deskriptif yaitu mengajukan pertanyaan SIAKIB (Siapa, Apa, Kapan, Dimana, dan Bagaimana).

Kedua, Pertanyaan analitik, biasanya diajukan dengan kata-kata ”mengapa”. Artinya jawaban pertanyaan memerlukan penjelasan (eksplanasi) hubungan sebab akibat, atau korelasi bebepara faktor atau aspek tertentu. Pertanyaan deskriptif biasanya akan menghasilkan sejarah diskriptif, sedangkan pertanyaan analitik akan menghasilkan sejarah analitik.

Pertanyaan analitik dapat juga dilihat dari pertanyaan yang biasanya diawali dengan kata: sejauhmana, sampai seberapa jauh, apa hubungan —– dengan—-. Yang penting dari pertanyaan analitik adalah akan tergambarnya adanya hubungan antara dua variabel (faktor) atau lebih.

Tujuan dan Manfaat Penelitian

Dalam kata tujuan dan manfaat terkandung arti yang berbeda, tetapi mestilah sejalan atau tidak bertentangan satu sama lain. Tujuan penelitian adalah sasaran apa yang akan dipelajari dan yang akan dicapai dalam sebuah penelitian. Tujuan penelitian ini harus sejalan dan relevan dengan pertanyaan penelitian.

Tujuan penelitan biasanya dimunculkan dengan menggunakan kata-kata antara lain :

1). Untuk memperoleh gambaran tentang hubungan ………

2). Untuk mendeskripsikan…….

3). Untuk memberikan telaah tentang ……

4). Untuk menganalisis hubungan……

5). Untuk menjelaskan latar belakang terjadinya……

Tujuan harus sejalan (relevan) dengan perumusan persoalan atau pertanyaan penelitian yang diajukan pada bagian perumusan masalah. Pertanyaan penelitian atau rumusan masalah yang relevan dengan tujuan penelitian akan membuat atau memperlihatkan konsistensi sebuah penelitan.

Manfaat penelitian menerangkan apa yang diperoleh dari penelitian tersebut. Manfaat penelitian ilmiah dapat dilihat dalam dua tingkat yang berbeda:

  1. Riset untuk riset. Sumbangan bagi ilmu pengetahuan atau terhadap disiplin ilmu tertentu, baik dalam bentuk pengayaan informasi faktual, maupun sumbangan pengetahuan teoritis atau metodologis.
  2. Riset untuk sesuatu. Kemungkinan sumbangannya untuk kegunaan praktis atau penerapan, baik sebagai masukan terhadap kebijakan pada lembaga tertentu maupun penerapannya di lapangan.

Contoh pernyataan manfaat penelitan yang menggambarkan: Riset untuk riset:

a). Penelitian ini dapat menjadi awal dari penelitian tentang ……… selanjutnya.

b). Penelitian ini dapat menambah pengetahuan kita tentang ilmu…….

Contoh pernyataan manfaat penelitan yang menggambarkan: Riset untuk sesuatu :

a). Penelitian ini dapat menjadi masukan bagi dinas…….tentang….

b). Menambah koleksi perpustakaan………tentang……..

c). Penelitian ini menambah pengetahuan penulis dan pembaca tentang……..

Tinjauan Pustaka

Tinjauan pustaka memuat tiga aspek penting yaitu: Kerangka konseptual, kajian kepustakaan relevan,dan kerangka pemikiran peneliti.

Kerangka konseptual adalah: Kajian kepustakaan yang membeberkan konsep-konsep, teori-teori, ide-ide, pengalaman-pengalaman dari para ahli dalam area masalah yang akan diteliti. Paling tidak kerangka konseptual itu berfungsi untuk:

  1. Mensistematiskan pengetahuan tentang dunia realitas atau gejala yang tengah depelajari atau yang akan diteliti.
  2. Menerangkan jalan fikiran peneliti tentang bagaimana masalah yang diteliti harus dibedah dengan mengacu pada alat bantu konseptual yang relevan.

Kerangka berfikir merupakan konstruksi pemikiran yang dikembangkan dari kerangka berfikir dan konseptual dalam kaitan dengan topik penelitian yang dipilih.

Dalam bagian ini perlu dikemukakan:

  1. Definisi-difinisi operasional tentang variabel penelitian. Jadi definisi-definisi penting dan perlu diketahui oleh peneliti dan pembaca yang perlu diperdalam, maka di jelaskan dalam tinjauan pustaka.
  2. Menempatkan variabel yang telah didefinisikan ke dalam kerangka pengertian-pengertian (konsep-konsep) tertentu. Konsep-konsep ini dapat dipinjam dari penelitian yang telah ada, dan dari penelitian-penelitian ilmu lain seperti: Konsep-konsep dari ilmu sosiologi, antropologi, geografi, ekonomi, danlain-lain yang akan bermanfaat dalam proses penelitian. Dari teori biasanya akan ditemukan penjelasan mengenai skema-skema konseptual dalam rangka menerangkan sebab akibat suatu masalah. Jadi permasalaha pada umumnya adalah bagaimana menentukan konsep yang cocok untuk digunakan dalam sebuah penelian. Untuk menyelesaikan masalah itu kita harus paham terlebih dahulu tentang penelitian dan kajian apa yang akan kita kupas.
  3. Hubungan konsep-konsep yang dipinjam (dari studi kepustakaan), ilmu sosial lainya akan membuat peneliti (ilmu sejarah) memahami dan dapat mengusahakan kedalaman penelitian yang dilakukannya.

Artinya, kerangka pemikiran dalam sebuah penelitian lebih dekat dengan kerangka konseptual atau teori yang dipakai tetapi lebih memperlihatkan pilihan kerangka pikir yang diperkirakan dengan masalah yang akan diteliti.

Kajian kepustakaan relevan yaitu: Uraian yang memuat buku atau karya yang telah ditulis tentang topik yang hendak diteliti, baik berupa makalah, skripsi, tesis atau disertasi. Kajian kepustakaan yang relevan ini juga berasal dari hasil penelitian yang dicetak menjadi buku. Uraian yang dituliskan adalah selain segi yang bertautan, penting juga diungkapkan sisi yang tidak dibicarakan, tetapi dalam topik penelitian yang direncanakan menjadi fokus utama atau uraian yang (akan) sangat berguna bagi peneliti nanti ketika menulis skripsinya. Jadi dalam uraian ini akan sangat berguna bagi penelitian yang bersangkutan dengan mengkaji tulisan-tulisan sebelumnya, atau sekiranya telah ditulis akan memperlihatkan segi-segi yang masih relevan untuk dikembangkan atau diteliti.

Dari proses awal penelitian sampai ke tahapan penulisan ada beberapa kata penghubung yang harus diperhatikan, karena dapat membawa kita pada kesalah pahaman atau kesesatan seperti kata: karena, meskipun, dan tetapi, dan lain-lain. Kata-kata tersebut harus diperhatikan dimana kita menempatkan dan bagaimana posisinya dalam kalimat.

Metode Penelitian

Pada bagian ini diuraikan metode yang akan digunakan. Metode dasar (basic method) dalam disiplin sejarah mencakup serangkaian langkah-langkah dan prosedur kerja melalui 4 (empat) tahap berikut:

  1. Heuristik (Pengumpulan data), menerangkan tentang kemungkinan dimana tempat data penelitian bisa ditemukan dan jenis data yang akan dikumpulkan. Pada penelitian sejarah akan dikumpulkan data tertulis dan lisan, yang bila dikategorikan pada kualitas sumber disebut data primer ataupun data skunder. Pengumpulan data ini dapat diperoleh dari perpustakaan, dapat berupa buku, hasil penelitian, makalah, koran, majalah, dan lain-lain. Bahkan akan lebih baik sumber penelitian yang berasal dari zaman yang sama dengan periode temporal penelitian seperti surat-surat penting, dokumen, foto, buku terbitan dan bahasan yang sama. Untuk membantu penelitian kita bisa juga melakukan wawancara dengan golongan (kelompok), orang-orang penting yang dirasa perlu untuk mengungkapkan persoalan yang diteliti. Pada bagian ini peneliti juga menjelaskan golongan apa yang akan diteliti dan pokok-pokok apa yang akan ditanya. Dalam pelaksanaannya peneliti telah menyusun daftar pertanyaan yang akan diajukan dalam wawancara.
  2. Kritik Sumber (analisis / verifikasi data), Kritik sumber dapat dikelompokkan pada kritik ekstern dan kritik intern.
  • Kritik Eksteren. Yaitu proses melihat keaslian sumber, terutama dilihat dari segi kasat mata, apakah sumber dari hasil foto copy, tulisan tangan, stensilan, percetakan. Apakah sumber itu dapat teruji kebenarannya atau ada yang menimbulkan kecurigaan seperti bekas hapusan, tambahan, atau terdapat ketidak sesuaian antara sumber dengan zamannya.
  • Kritik Interen. Kritik yang bertujuan untuk mengkaji keaslian, kebenaran data. Pada bagian ini proses yang mungkin dilakukan adalah dengan melihat ejaan yang digunakan.-
  • 3. Sintesis dan Interpretasi. Dibagian ini dilakukan kegiatan tahap analisis dan interpretasi dengan menggabungkan, mengelompokkan sumber-sumber yang se-tema dan kegiatan membandingkan serta kegiatan menghubungkan berbagai jenis data yang telah teruji kebenaran dan kesesuaiannya.
  • 4. Historiografi, Penulisan Laporan Penelitian. Penyajian hasil penelitian dalam bentuk tulisan yang telah melewati seluruh aturan, tahap atau proses yang direncanakan. Hal ini disebut juga dengan penyajian hasil temuan atau rekonstruksi sejarah secara keseluruhan dalam bentuk tulisan.

Kerangka Isi Sementara (Outline Sementara)

Pada bagaian ini penulis menuangkan rencana isi tulisan yang akan di buat. Dapat dibuat dengan langsung menyajikan struktur bab yang akan dikembangkan bila proposal penelitian diterima.

Penegmbangan kerangka isi sementara ini dapat dilakukan dengan membuat:

  1. Sistematika Penulisan : Bagian ini memberi gambaran isi masing-masing bab yang direncanakan.
  2. Daftar isi tentatif : Menjelaskan kemungkinan isi tulisan hasil penelitian dengan merinci masing-masing bab kedalam sub-sub bab yang telah berupa daftar ini sementara.

Daftar Pustaka

Daftar pustaka memuat sumber-sumber yang menjadi acuan dalam penulisan (proposal) karya ilmiah. Susunan daftar pustaka ini disesusaikan dengan abjad nama penulis (sesuai acuan penulisan daftar pustaka.).

Dalam penelitian dan karya ilmiah ilmu sejarah dapat dibagi atas tiga kelompok:

1. Daftar pustaka dan sumber-sumaber dari buku.

2. Sumber yang termasuk pada kelompok makalah, skripsi, tesis, dan disertasi.

3. Sumber-sumber yang termasuk dalam kelompok dokumen, arsip.

SKRIPSI

Skripsi merupakan karangan ilmiah yang harus disiapkan oleh mahasiswa sebagai salah satu syarat untuk mencapai gelar sarjana (S-1). Sebagai sebuah tulisan ilmiah, skripsi memiliki bagian sebagai berikut:

BAB I. Pendahuluan

Bab ini memuat :

a) Latar Belakang Masalah

b) Batasan dan Rumusan Masalah

c) Tujuan dan Manfaat Penelitian

d) Tinjauan Pustaka

e) Metode Penelitian

f) Sistimatika Penulisan

Bagian a sampai f sama dengan yang dibuat pada proposal penelitian sementara pada metode penelitian pada skripsi memiliki sedikit perbedaan dengan proposal penelitian, karena pada skripsi metode yang direncanakan pada proposal telah peneliti lakukan jadi langkah-langkah itu telah dilalui. Sehingga perlu di tambahkan dengan beberapa buah sumber yang digunakan, dengan siapa wawancara yang telah dilakukan, bagaimana proses kritik sumber yang telah dilakukan, bagaimana proses analisi-sintesis dan interpretasi hingga sampai pada tahapan historiografi sehingga jelas terlihat bagaimana proses yang anda lalui sewaktu dilapangan. Tapi jangan sampai penjelasan ini berlebihan. Dapat dikatakan bahwa pada bagian metode penelitian pada skripsi lebih aplikatif karena sudah anda kerjakan atau alami dilapangan.

Bab II Pembahasan

Pada bagian ini memuat hasil yang diperoleh dari penelitian yang telah dilakukan. Bagian ini tentu sangat relatif bentuknya, karena masing-masing peneliti (mahasiswa) memiliki masalah yang berbeda dan tentunya dalam bagian pembahasan yang juga berbeda.

a. Bab dan Sub Bab.

Pembahasan bab dan sub bab merupakan pancaran dari penelitian secara keseluruhan. Bab memiliki sub-sub bab, sub-sub bab bisa juga didukung lagi oleh anak sub bab. Semua bagian-bagian ini akan dijelaskan dengan fakta, analisa yang melibatkan pemikiran atau analisis peneliti. Dalam melibatkan pemikiran atau analisi peneliti tentu harus berdasarkan fakta sejarah. Fakta adalah kekuatan dalam uraian penelitian.

Sebagai peneliti muda (pemula) untuk mahasiswa S-1 sejarah, bagian (Bab) pembahasan ini bisa terbagi atas beberapa bab saja. Umumnya pembahasan terbagi pada Bab II, Bab III, Bab IV. Kunci yang biasanya selalu dipakai dalam penelitian sejarah adalah memperlihatkan perubahan yang terjadi antar waktu. Dengan demikian bab pertama bagian pembahasan cendrung memperlihatkan awal, latar belakang peristiwa (faktor-faktor yang mendahului sebuah peristiwa berlangsung). Biasanya pada penjelasan berikut menjelaskan perkembangan, perubahan dari suatu peristiwa sejarah. Peristiwa sejarah tesebut dapat berupa peristiwa dibidang politik, ekonomi, sasial, budaya, seni, tekhnologi, biografi dan bebagai bidang lainnya yang mempengaruhi hidup orang banyak. Sehingga muncul sejarah kebudayaan, sejarah ekonomi, sejarah sosial ekonomi, sejarah politik, sejarah kesenian, biografi, dan lain-lain.

b. Tiga Unsur Penulisan Sejarah

1). Deskriptif.

Penulisan sejarah secara deskriptif maksudnya adalah usaha penggambaran atau pencatatan pengalaman panca indra. Biasanya penulisan secara deskripsi menjelaskan dengan rinci tentang wujud fisik, seperti ruang, orang, benda, keadaan alam, dan suasana nyata yang ditangkap panca indra. Penulisab deskriptif biasanya dikelompokkan dalam:

a. Deskriptif konkrit artinya membuat sesuatu diketahui secara rinci atau rekaman tentang hal yang bersifat materi atau fisik, termasuk tindakan.

b. Deskripsi Impresionistik artinya membuat sesuatu hal yang berdasarkan suasana jiwa, perasaan hati.

Naskah rekonstruksi deskriptif dalam sejarah biasanya menjawab pertanyaan ”SIAKIB”, tapi jawaban itu belumlah dapat dikatakan risalah sejarah, sehingga diperluakn unsur naratif yang mengikat jawaban ”SIAKIB”.

2). Naratif

Naratif adalah proses penyampaian cerita dalam urutan-urutan peristiwa dan tempat tertentu. Dalam penulisan dengan sifat naratif biasanya memuat :

a. Unsur kronologis dan tempat. Pada prinsipnya penulisan sejarah memerlukan unsur ini karena peneliti/penulis akan mengkaji konsep waktu yang menjelaskan sebelum, sesudah, atau secara periodik.

b. Pernyataan sejarah dalam naratif harus berkaitan dengan fakta sejarah.

Pada beberapa penulisan sejarah juga dapat dilakukan dengan cara regresif tidak kronologis (ber-urut). Regresif yaitu penulisan yang bolak balik, seperti mendahulukan periode penting, baru menjelaskan kejadian sebelumnya. Hal itu bisa diterima asalkan mampu menjelaskan periode waktunya dengan baik dan mudah dipahami.

Kalau dilihat secara sederhana penulisan sejarah naratif yang menjelaskan pertanyaan ”SIAKIB” adalah cara yang mudah, tetapi kalau telah di lakukan, tekhnik naratif ini juga memiliki kesulitan karena peneliti/penulis juga harus memiliki kemampuan menyeleksi, membuat kriteria, dan seni menulis.

3). Argumen

Argumen adalah bagian dari debat, suatu dialog antara pandangan-pandangan yang berbeda. Sehingga penulis sejarah yang lebih bersifat analitik sehingga harus mampu memiliki argumen, memilki sumber dan dasar yang kuat. Inilah nanti yang disebut dengan tesis yang merupakan butir argumen sentral yang ”ditegakkan” oleh penulis dalam karya ilmiahnya.

Argumen memerlukan penjelasan (yang cendrung bersifat kausalitas) dari bukti empirik yang ditemukan, dan untuk mampu mencapai tesis sejarah yang baik tentunya penulis harus memahami juga unsur kausalitas (sebab akibat) sehingga mencapai kesimpulan yang diyakininya.

Dalam argumen sejarah bisa terdapat perbedaan (kontraversi) dengan pandangan umum sebelumnya, atau bisa juga berupa argumen dengan pembuktian dari pendapat atau tesis sebelumnya.

Kesimpulan

Kesimpulan adalah hasil penelitian yang diperoleh berdasarkan metode yang telah dilalui penulis/peneliti. Kesimpulan bukan berarti ringkasan tetapi ia adalah temuan dari penelitian. Jawaban konkrit atau singkat dari pertanyaan penelitian yang diajukan peneliti dalam rumusan masalah (pada bab I).

Lampiran

Memuat bukti-bukti utama yang digunakan untuk menulis skripsi. Lapiran dapat berupa peta lokasi penelitian, arsip, foto, surat keputusan penting yang mendukung penelitian, data-data primer (yang dianggap penting dalam mendukung isi penelitian), surat kabar, yang tentunya harus menunjang pada pemahaman skripsi.

Daftar Pustaka

Daftar pustaka terdiri dari : daftar bacaan yang digunakan dalam penelitian atau yang dipakai sebagai referensi dalam penelitian. Daftar ini adalah sumber-sumber yang dirujuk, di kutip dalam penulisan. Dapat berupa buku, dokumen, skripsi, disertasi, sampai pada daftar informan yang penjelasannya digunakan dalam penulisan skripsi.

TATA CARA PENULISAN

Bahan dan Ukuran

Naskah

Naskah dibuat diatas kertas HVS 80 g/m2. Tulisan hanya memanfaatkan satu bagian halaman kertas atau tidak bolak balik.

Sampul

Sampul dibuat dari kertas buffalo atau sejenis, dan sedapatnya diperkuat dengan kertas karton dan dilapisi plastik.

Warna Sampul

Sesuai dengan warna umum yang dipakai untuk Jurusan Pendidikan Sejarah STKIP Setia Budhi rangkasbitung

Ukuran

Ukuran naskah ialah 21 cm x 28 cm.

Pengetikan

Jenis Huruf

1). Naskah diketik dengan huruf Time New Roman karakter (ukuran huruf) 12 untuk seluruh naskah.

2). Huruf miring digunakan untuk tujuan tertentu seperti istilah asing, bahasa daerah dan kata-kata yang tidak baku (memiliki makna yang lebih dari 1, sehingga perlu penjelasan, atau kata-kata uyang tidak berdasarkan EYD lainnya.

3). Lambang, huruf Yunani, atau tanda-tanda yang tidak dapat diketik bisa ditulis dengan rapi menggunakan tinta hitam.

Bilangan dan Satuan

1). Bilangan diketik dengan angka, kecuali di permulaan kalimat harus dibuat dengan huruf.

2). Bilangan desimal ditandai dengan koma, bukan dengan titik. Misalnya : berat meriam peninggalan Belanda itu 120,7 Kg.

3). Satuan dibuat dengan singkatan resminya tanpa titik di belakangnya. Misalnya : kg, g, mg, cm.

Jarak Baris

Jarak antar baris dibuat 2 spasi, kecuali inti sari, kutipan langsung, judul daftar tabel, daftar pustaka.

Batas Tepi

Batas pengetikan yang diukur dari tepi kertas cetakan adalah: batas tepi atas 4 cm, tepi bawah 3 cm, tepi kiri 4 cm, tepi kanan 3 cm.

Pengisian Ruang

Ruang yang terdapat pada naskah ketikan harus terisi penuh, jadi gunakanlah setting rata kiri kanan, jangan sampai ada ruang yang terbuang, kecuali kalau akan mulai alinea baru, adanya persamaan daftar, gambar, sub judul, atau hal-hal khusus.

Alinea Baru

Alinea baru dimulai pada ketikan ke-6 dari batas tepi kiri.

Permulaan Kalimat

Bilangan angka yang terdapat diawal kalimat harus dieja dengan suatu kalimat misalnya : Sepuluh orang tentara.

Judul, Sub Judul, Anak Sub Judul dan lainnya

1). Judul harus ditulis dengan huruf besar (Kapital) dan diatur supaya simetris, dengan jarak 4 cm dari sisi tepi atas tanpa diakhiri dengan titik. Usahakan dalam membaca tulisan judul di tiap barisnya tidak memutus arti kalimat pada judul skripsi.

2). Sub judul ditulis simetris ditengah-tengah, semua kata dimulai dengan huruf besar, kecuali kata penghubung atau kata depan. Sub judul tanpa diakhiri dengan titik.

3). Anak sub judul diketik mulai dari batas tepi kiri dan huruf pertama dimulai dengan huruf besar tanpa diakhiri dengan titik. Kalimat pertama sesudah anak sub judul dimulai dengan alinea baru.

4). Sub anak sub judul diketik dimulai pada ketikan ke-6 dari batas tepi kiri diakhiri dengan titik.

Rincian ke Bawah

Jika pada penulisan naskah proposal maupun skripsi ada rincian yang harus disusun ke bawah, pakailah nomor urut dengan angka atau huruf yang sesuai dengan derajat rincian. Penggunaan garis (-), bintang (*), pagar (#), untuk rincian tersebut tidak dibenarkan.

Letak Simetris (sentral)

Judul, sub judul, gambar, tabel, daftar, persamaan harus ditulis simetris (sama jarak kekiri dan kanan pengetikan).

Penomoran

Halaman

1). Bagian awal naskah dimulai dari halaman judul sampai ke halaman intisari[7], di beri nomor halaman dengan angka Romawi kecil (i, iii,iiii, iv…..).

2). Bagian utama sampai bagian akhir[8], diberi nomor dengan angka Arab (1, 2, 3, 4,…).

3). Nomor halaman ditempatkan di sebelah kanan bawah, kecuali untuk penomoran angka Romawi dan halaman bagian utama, penomoran ditempatkan di bawah dengan letak simetri (di tengah-tengah).

4). Nomor halaman diketikkan dengan jarak 3 cm dari tepi kanan dan 1,5 cm dari tepi bawah.

Tabel (daftar)

Tabel (daftar) diberi nomor urut dengan angka Arab.

Gambar

Gambar dinomori dengan angka Arab.

Pengembangan Uraian Skripsi

Pengembangan uraian skripsi dibuat dengan menggunakan angka Romawi untuk Bab, huruf abjad secara berurutan untuk sub bab, angka Arab untuk anak sub bab, huruf abjad kecil unuk anak-anak sub bab demikian seterusnya, dengan posisi seperti anak tangga.

Contoh :

I.

A.

1.

a.

1).

2).

B.

1.

b

II.

A.

2.

a.

1)

2).

Tabel (daftar dan gambar)

Tabel (daftar)

1). Nomor tabel (daftar) yang diikuti dengan judul ditempatkan simetris di atas tabel (daftar) tanpa diangkhiri dengan titik.

2). Tabel (daftar) tidak boleh dipenggal, kecuali kalau memang panjang.

3). Kolom-kolom diberi nama dengan menjaga agar pemisahan antara satu kolom dengan yang lainnya jelas dan tegas, serta nama yang dapat dieja dengan baik.

4). Kalau tabel (daftar) dibuat memanjang (lanscape) maka bagian atas tabel letakkan di bagian kiri kertas.

5). Tabel (daftar) diketik simetris (ditengah-tengah kertas kerja.

6). Tabel (daftar) yang lebih dari 1 halaman atau harus dilipat karena menggunakan kertas yang lebih besar diletakkan di bagian lampiran.

Gambar.

1). Bagan, grafik, peta, foto, semuanya disamakan disebut gambar.

2). Nomor gambar yang diikuti dengan judulnya diletakkan simetris dibawah gambar tanpa diakhiri titik.

3). Gambar tidak boleh dipenggal.

4). Keterangan gambar dibuat di tempat-tempat yang lowong di dalam gambar dan jangan pada halaman lain.

5). Kalau gambar dibuat memanjang (lanscape) maka bagian atas tabel letakkan di bagian kiri kertas.

6). Ukuran gambar diusahakan seimbang dan wajar, jangan terlalu panjang, pendek, kurus atau gemuk.

7). Skala pada grafik, peta harus dibuat supaya lebih mudah memahaminya.

8). Letak gambar harus diatur dengan simetris.

9). Bagan dan grafik dibuat dengan tinta hitam yang tidak larut dalam air dan garis lengkung grafik dibuat dengan bantuan kurva Prancis (French curve).

Untuk tabel dan gambar yang menggunakan keterangan atau penjelasan tertentu, langsung dibuat di bawah tabel dan gambar dengan menggunakan huruf berukuran 10 dan spasi 1.

Bila didapatkan dari sumber tertentu buat juga sumbernya pada bagian bawah tabel dan gambar dengan menggunakan huruf berukuran 10 dan spasi 1.

Bahasa

Bahasa yang Digunakan

Bahasa yang dipakai dalam penulisan proposal maupun skripsi adalah bahasa Indonesia yang baku. Dan untuk setiap kalimat memuat subjek, predikat, dan supaya lebih sempurna di tambah dengan objek dan keterangan.

Bentuk Kaliamat

Kalimat dalam proposal maupun skripsi tidak boleh menampilkan orang pertama, atau orang kedua, seperti kata : saya, aku, kamu, kami, kita kalian, dan lain-lain. Kalimat harus dibuat pasif. Pada penyajian ucapan terima kasih pada prakata, kaya saya diganti dengan penulis.

Istilah

1). Istilah yang dipakai ialah istilah Indonesia atau yang telah di Indonesiakan.

2). Jika terpaksa harus memakai istilah asing, bahas daerah bubuhkan garis bawah atau istilah itu bisa dicetak miring.

Kesalahan yang sering terjadi

1). Kata penghubung: seperti, sehingga, sedangkan, dan, dan lainya tidak boleh dipakai untuk memulai suatu kalimat.

2). Kata depan, misalnya, pada, sering dipakai pada tempat yang tidak pas. Terkadang diletakkan di awal kalimat sebagai subjek, hal itu akan merusak susunan kalimat.

3). Kata dimana dan dari kerap kurang tepat pemakainannya, diperlakukan seperti kata where dan of pada Bahasa Inggris. Padahal fungsinya untuk bahasa Indonesia dan bahasa Inggris jauh berbeda.

4). Awalan ke dan di harus dibedakan dengan kata depan ke dan di.

Penulisan Nama

Nama Penulis Dalam Daftar Pustaka

1. Format A

Dalam daftar pustaka yang penulisnya lebih dari 1 orang harus dituliskan nama semua penulisnya, tidak boleh hanya nama orang pertama yang dilanjutkan dengan dkk, atau et al. Penulisan nama orang Indonesia mengikuti pola penulisan nama orang asing.

Contoh :

1). Meisel, S.L, Mc Mullough, J.P, Leckghaler, C.H, 1976,…..

2). Etek, Azizah, Mursjid AM, Arfan BR, 2007,……

2. Format B

Sebagian ahli bidang bahasa dan tata penulisan dari Indonesia berpendapat bahwa nama penulis yang berasal dari Indonesia tidak perlu di balik dalam daftar pustaka, karena nama orang Indonesia tidak menunjukkan nama keluarga dan nama panggilan (nama kecil) seperti para peneliti dari Eropa / Amerika. Sehingga nama-nama penulis dari Indonesia dapat ditulis seperti nama biasa.

Contoh :

1). Azizah Etek, Mursyid AM, Arfan BR, 2007,…..

2). Sutan Takdir Alisyahbana, 1955,…….

Penulisan Nama Yang Lebih Dari Satu Suku Kata

Jika nama penulis terdiri dari 2 suku kata atau lebih, penulisannya dengan menulis nama akhir dikuti dengan koma, singkatan nama depan,tengah. Singkatan nama diakhiri dengan titik.

Contoh :

1). Nama Sutan Takdir Alisyahbana ditulis : Alisyahbana S.T, atau Alisyahbana, Sutan Takdir.

2). Nama Ajat Sudrajat ditulis : Sudrajat, Ajat.

Kalau nama asli, atau nama pada sumber yang digunakan pada sumber ditulis dengan garis penghubung (-) maka namanya dianggap satu kesatuan (tidak ubah).

Nama Yang Diikuti Singkatan.

Nama yang diikuti dengan singkatan, dianggap bahwa singkatan itu menjadi satu kesatuan dengan kata depannya

Contoh :

1). Nama Mursjid A. M. Ditulis Mursjid AM.

Derajat Kesarjanaan

Gelar, derajat kesarjanaan tidak boleh dicantumkan.

Catatan Kaki, Istilah Baru dan Kutipan

1). Catatan Kaki atau Footnote

Catatan kaki dapat diumpamakan sebagai saksi dalam persidangan, Untuk menjelaskan suatu keterangan yang kita buat di bagian isi, maka di perkuat dengan catatan kaki/ catatan bawah[9]. Dua fungsi catatan kaki yaitu:

1). Untuk memenuhi etik kesarjanaan,

2). Untuk menyatakan penghargaan atas karya orang lain. Penulis harus menyatakan secara jujur bahwa suatu ide, pendapat, atau kesimpulan ”dipinjam” dari pihak lain atau penulis lain.

Untuk catatan kaki yang menjelaskan tentang referensi yang digunakan maka ditulis dengan urutan :

Nama penulis, tahun terbit, judul buku, skripsi, makalah atau jenis lainnya, tempat terbit, halaman.

Contoh :

Arita, Syafni, 2001, Bukittinggi Kota Wisata, Suatu Kajian Historis 1984-2000, Padang, Hal 5. ( Format Penulisan Nama A )

Syafni Arita, 2001, Bukittinggi Kota Wisata, Suatu Kajian Historis 1984-2000, Padang, Hal 5. ( Format Penulisan Nama B)

Tujuan pembuatan catatan kaki ;

a). Untuk memberikan penjelasan tambahan tentang sesuatu masalah yang ditemukan dalam teks atau untuk menjelaskan defenisi istilah secara lebih cepat.

b). Untuk menunjang data, fakta, konsep, gagasan yang disampaikan dalam naskah.

Tekhnik pembuatan catatan kaki:

a). Ruang atau tempat pada kaki (bagian bawah sebuah halaman proposal atau skripsi) harus disediakan dengan cukup. Minimal 3 cm dari akhir catatan kaki masih tersedia untuk penomoran halaman (batas bawah).

b). Sesudah baris terakhir teks dari suatu halaman, dalam jarak 2 spasi harus dibuat garis mulai dari batas kiri sepanjang 15 buah ketikan.

c). Dalam jarak 2 spasi dari garis tadi, dalam jarak 7 ketukan kosong ke kiri, dibei nomor petunjuk.

d). Langsung setelah nomor petunjuk, spasi, diktik baris pertama catatan kaki. Perlu diingat baris 1 catatan kaki di sejajarkan dengan penjorokan baris pada awal paragraf sedangkan baris kedua kembali haris rata ke pinggir kiri (seperti penulisan biasa).

e). Jarak antar baris dalam catatan kaki adalah 1 spasi.

f). Untuk operasional pada komputer (microsoft word) dapat langsung membuka tool bar, insert kemudian bukalah reference dan buka footnote maka kita akan lansung dibantu untuk membuat catatan kaki (footnote).

g). Untuk keseragaman dalam penulisan catatan kaki, kita juga perlu memahami istilah-

istilah seperti : Ibid, op. cit, loc. Cit.

2). Istilah Baru

Istilah-istilah baru yang belum dibakukan dalam bahasa Indonesia dapat di gunakan asal konsiten. Pada penggunaan yang pertama kali perlu diberi Panduannya dalam bahasa asing atau bahasa Indonesia yang dibuat di dalam kurung. Kalau banyak menggunakan istilah-istilah baru dan belum dibakukan sebaiknya buatlah daftar istilah.

3). Kutipan

Kelompok data :

a). Data berupa teks tertulis yang dapat dikelompokkan pada prosa, drama, puisi, catatan, laporan, foto, dll.

b). Data tidak tertulis seperti informasi media radio, televisi, rekaman kaset.

Tang kesemuanya dapat di kutip.

Jenis kutipan :

a). Kutipan langsung : Persis seperti kata-kata dalam sumber asli. Kutipan langsung ini terbagi pada kutipan langsung pendek (kurang dari 5 baris pengetikan ), kutipan langsung panjang ((kutipan terdiri dari dari 5 baris atau lebihg pengetikan ).

b). Kutipan tidak langsung : kutipan yang hanya mengambil intisari pendapat orang lain atau di olah dalam kakat-kata sendiri.

Hal yang harus diperhatikan dalam membuat kutipan langsung :

a). Kutipan langsung harus sama dengan aslinya, baik mengenai susunan kata, ejaan, maupun tanda bacanya.

b). Kutipan langsung pendek yaitu kutipan yang kurang dari 5 baris dibuat dengan memasukkan langsung ke dalam teks biasa, hanya saja diberi tanda petik (”) di awal dan diakhir kutipan.

c). Kutipan langsung panjang yaitu kutipan yang panjangnya 5 baris atau lebih. Untuk kutipan ini dibuat terpisah dari ketikan biasa, dibuat dengan spasi 1 dan mengosongkan 4 pukulan tik dari garis batas tepi sepelah kiri, jadi kutipan ini lebih menjorok ke dalam halaman pengetikan dari pada ketikan umumnya. Kutipan langsung panjang ini tidak diberi tanda petik.

d). Kalau dalam kutipan itu ada bagian yang akan dihilangkan maka pada bagian itu diberi tanda titik 3 buah.

e). Kalau perlu disipkan sesuatu kedalam kutipan maka beri tanda kurung siku [ ].

f). Kalau didalam kutipan langsung pendek terdapat tanda petik maka harus diganti dengan tanda petik tinggal ( ’ ).

g). Kalau dalam kutipan terdapat kata yang menurut penulis perlu ditandai dapat digaris bawahi, tetapi untuk keterangan, harus dibuat kalimat dari penulis bahwa garis bawah barasal dari penulis dalam tanda kurung siku. Contoh : [ garis bawah oleh penulis].

h). Apabila dalam kutipan terdapat kesalahan penulis terdahulu, maka penulis hanya dapat memberikan catatan dengan menulis [sic]. Sedangkan kutipan tidak dapat diubah.

Kutipan dalam penulisan proposal, skripsi sejarah dirasa memang perlu karena kutipan langsung ini akan memberi kejelasan gagasan, ide, kesimpulan yang telah diperoleh peneliti, penulis tedahulu.

VI. KELENGKAPAN SKRIPSI

Halaman Sampul Depan

Halaman Judul

Halaman Pengesahan

Daftar Tabel

Jida di dalam skripsi terdapat banyak tabel, sehingga dirasa perlu adanya daftar tabel maka penulis haruslah membuat daftar ini dengan rincian judul tabel sesuai urutan didalam skripsi, nomor halaman lokasi tabel.

Daftar Gambar

Jika dalam sebuah skripsi terdapat gambar-gambar yang perlu dibuat daftar, maka penulis perlu juga membuat daftar gambar. Tetapi bila hanya beberapa buah maka daftar ini tidak diperlukan.

Daftar Lampiran

Sama halnya dengan daftar tabel dan daftar gambar, daftar lampiran perlu dibuat bila skripsi memiliki lampiran yang cukup banyak sehingga perlu dibaut daftar lampiran. Aturan pembuatannya sama dengan daftar gambar dan daftar tabel.

Arti Lambang dan Singkatan

Arti lambang dan singkatan dibuat dalam bentuk daftar lambang dan singkatan yang digunakan didalam skripsi disertai denga arti dan satuannya. Daftar ini dibuat untuk lambang dan singkatan yang tidak lazim atau jarang ditemukan karena tidak semua orang memahami lambang dan singkatan tersebut.

Daftar Pustaka

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 2001, Panduan Umum Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan. Pusat Pembinaan Bahasa, Dep P dan K, Jakarta.

Direktorat Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi, 2006, Panduan Pelaksanaan Hibah Penelitian, Pengabdian Kepada Masyarakat dan Program Kreativitas Mahasiswa, Edisi VII, Jakarta, Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi.

Gottschalk, Louis, 2006, Mengerti Sejarah, Jakarta, UI Press.

Kuntowijoyo, 1994, Metodologi Sejarah, Yogyakarta, PT. Tiara Wacana Yogya.

Suryadi, Porang, Silmenes, 1980, Penuntun Penyeusunan, Paper, Skripsi, Thesis, Disertasi, Beserta Pengetikanny. Surabaya, Karya Anda.

Tim Penyusun STKIP SETIA BUDHI, 2004, Panduan Penulisan Skripsi dan Makalah STKIP SETIA BUDHI Rangkasbitung,

Tim Penyusun, 2004, Panduan Penyajian Karya Ilmiah Seri Pustaka IPB, Bogor, IPB Press.

LAMPIRAN

Lampiran 1 : Contoh Halaman Sampul Proposal

PROPOSAL

LEBAK MASA PENDIUDUKAN JEPANG

1942 – 1945

Oleh :

UMAR BAKRI

NIRM. 43223070301003

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN SEJARAH

STKIP SETIA BUDHI RANGKASBITUNG

2010

Contoh Halaman judul:

SEKOLAH PENDIDIKAN PEGAWAI PRIBUMI UNTUK PANGREH PRAJA

(OPLEIDING SCHOOL VOOR INLANDSCHE AMBTENAREN)

( OSVIA ) DI SERANG – BANTEN TAHUN 1900 – 1927

SKRIPSI

DIAJUKAN UNTUK MEMENUHI SALAH SATU SYARAT UNTUK MENGIKUTI

SIDANG SARJANA PENDIDIKAN STRATA 1 ( S.1 )

Oleh

USMAEDI

NIRM 4322306030040

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN SEJARAH

SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

(STKIP) SETIA BUDHI RANGKASBITUNG

2010

Contoh Lembar Pengesahan:

LEMBAR PENGESAHAN SKRIPSI

Skripsi telah diperiksa dan disetujui untuk disidangkan:

Pembimbing I

Dr. Agus Mulyana, M.Hum (…….2010)………………………………….

NIDN. 000 808 6607

Pembimbing II

Nelly Wachyudien, S.S (…….2010)…………………………….

NIDN. 041 807 7002

Diketahui/Disahkan oleh

Ketua Program Studi Pendidikan Sejarah

Kosim,M.Pd ( …2010)……………………………….

NIDN 04 060469 04

Ketua STKIP Setia Budhi Rangkasbitung

H. Suhardja,Drs.M.Pd (………2010)………………………….

NIDN 04 1805 4801

Contoh Lembar Penguji

LEMBAR PENGUJI SKRIPSI

Telah dipertahankan dalam sidang penguji skripsi

Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan STKIP Setia Budhi Rangkasbitung dan diterima untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar sarjana pendidikan strata satu (S.1)

Pada tanggal

……………………….

TIM PENGUJI

Penguji I : Dr. Ali Fadilah DEA ………………….

Penguji II : Drs. Wawan Nirwana M.Pd ………………….

Kosim M.Pd ………………….

13 Komentar

  • m Lutfi

    Oct 19, 2010

    makasih

  • Eka Nurwana

    Oct 20, 2010

    Adakah batasan tahun untuk penulisan skripsi jenis kualiitatif? misalnya sekitar tahun 1970an pada masa orde baru kira-kira boleh ga? trus data sumber yang di peroleh kebanyakan dari data wawancara karena kalo mencari menurut daftar pustaka buku sumbernya lumayan agak sulit kira-kira bagaimana mohon petunjuknya??? Terima kasih.........

  • Irpan Arfani

    Nov 10, 2010

    Sangat bagus dan menarik. Terima Kasih

  • Amirudin

    Nov 30, 2010

    reperensi mungkinkah hanya 3 buku karena rencana sekripsi saya penelitian

  • desa

    Dec 01, 2010

    tidak mungkin hanya 3 buku, karena untuk metodelogi penelitian saja ada minimal 5 ahli yang menulis buku, belum kajian pustaka

  • eri awaludin

    Jan 16, 2011

    bagaimana kaidah menulis daftar pustaka yang bersumber dari web/internet yang benar...????

  • NETI NURBETI

    Jan 24, 2011

    Susah banget nyari referensi, apalagi arsipnya! tentang bangunan yang dibuat pada masa belanda. da yang bisa bantu ga?

  • Bitbit

    Jan 24, 2011

    maksudnya bangunan dimana?

  • Bitbit

    Jan 24, 2011

    aturan formal, tidak ada dimanapun, tapi berdasarkan UU ke arsipan, termasuk arsip yg boleh dibuka apabila sudah melewati 30 tahun, supaya memudahkan ya tinggal di sesuaikan, apabila lebih muda dari 30 tahun biasanya arsip lebih sulit, karena masih terikat aturan kearsipan dan berimplikasi pidana,...jadi klo pengen mudah dan aman lebih tua 30 tahun dr sekarang.....

  • Bitbit

    Jan 24, 2011

    referensi sifatnya bukan sebagai dasar data, data harus terkoneksi langsung dengan pelaku atau saksi peristiwa,....buku mah hanya membuka pemahaman kita terhadap fenomena yang sdg kita kaji,...ingat buku bukan sumber primer.....klo dijadikan dasar riskan terhadap negasi......

  • sutrisno

    Jan 25, 2011

    ada baiknya upaya kajian sejarah diawali oleh konsep ideal dari proses terjadinya peristiwa, baru berbicara data-data dan mengujinya, baik ekstrinsik, maupun intrinsik melalui triangulasi kebenaran dengan membandingkan 3 (tiga) minimal sumber berbeda dengan bobot jaman, dan pemeranan yang sederajat, contoh kalau pelaku ya dibandingkan dengan pelaku lainnya, sama halnya dengan dokumen.... terima kasih,....

  • saraswati

    Jan 25, 2011

    saya tertarik melihat keterkaitan antara misi zending dan pengaruhnya terhadap pendidikan dan kesehatan di lebak paruh akhir abad ke-19,.....ada yang bisa bantu ngak,...

  • dimas

    Jan 25, 2011

    mana ruang interaktifnya.....kok dihilangin....

SILAKAN BERI KOMENTAR

Temui Kami di Facebook

Statistik

  • 1828Dibaca Hari Ini:
  • 1035Dibaca Kemarin:
  • 13926Dibaca Per Bulan:
  • 346829Total Pengunjung:
  • 1650Pengunjung Hari ini:
  • 13266Kunjungan Per Bulan:
  • 1Pengunjung Online: