PASIR TANJUNG

Siti Sri Suhartini

ASAL-USUL DESA PASIR TANJUNG

Pada zaman dahulu ada seorang ulama yang bernama Kyai mandiri dia hidup seorang diri tanpa di damping oleh seorang istri. Walaupun dia hidup seorang diri tetapi dia tak pernah merasa kesepian karena dia memiliki anak-anak asuh yang selalu datang kerumahnya untuk belajar mengaji.

Suatu hari dia pergi ke daerah pasir untuk mencari kayu bakar dan makanan untuknya makan malam,dia melangkah terus menelusuri jalan setapak, tanpa terasa ia telah sampai di tempat yang di tujunya yaitu kebun pisang. setelah selesai mengambil pisang ia lalu mengumpulkan kayu bakar karena merasa lelah lalu ia tertidur dibawah pohon salam yang sangat besar dan sudah tua. tanpa disadari ia sampai terbawa kedalam mimpi, dalam mimpinya itu ia berada di sebuah taman yang sangat indah dan sejuk bagaikan di dalam surga, kyai mandiri terus, menyelusuri taman itu, hentakan kakinya menghentikan langkahnya, alangkah terkejutnya ia melihat di depan kedua matanya Nampak 7 (tujuh) sumur berwarna-warni seperti warna pelangi dan di atasnya terdapat gayung berwarna emas berkilauan. Dalam hatinya iya berkata ”ya Allah maha besar kekuasan yang sedang kau tunjukan kepada hambamu ini”. Ketika iya hendak menghampiri gayung tersebut tiba-tiba semua keindahan yang ada didepan matanya menghilang lalu kyai mandiri pun terkejut dan tanpa terasa dia bangun dari tidurnya ketika itu hari sudah gelap kemudian kyai mandiri pulang dengan hati penasaran dan aneh dengan apa yang dimimpikan nya tadi siang.

Keesokan harinya ia kembali ketempat pohon salam yang besar itu dan dia duduk kembali, duduk dan tidur disana lalu ia bermimpi kembali tapi dalam mimpinya itu ada yang berbeda dia melihat di sumur itu ada tujuh gadis yang luar biasa cantiknya sedang mandi di sumur itu menggunakan gayung emas yang dia lihat kemarin,” astagfirrullah hal’azim” dia langsung membalikan badannya, tapi salah seorang wanita itu menghampiri kyai mandiri lalu berkata “ wahai kisana apa yang kau lakukan di sini,” lalu kyai mandiri menjawab,” aku hanya ingin memiliki salah satu dari kalian, dan gayung emas karena dengan begitu aku bisa menjadi peminpin di daerah sini,” kemudia wanita itu menjawab,” baiklah kalo begitu, aku memiliki satu syarat untukmu kisana, kau lihat itu sungai yang membelah pasir dan tanjung. Aku mau menyatukan kedua daerah itu dan memindahkan sungai itu dari arah kidul menjadi arah kewetan,” baiklah aku penuhi syarat itu.” akhirnya kyai mandiri menyanggupi persyaratan tersebut. Lalu ia bangun dan segera memikirkan bagaimana cara memindahkan sungai itu.

Suatu malam ia melaksanakan shalat istiqoroh memohon petunjuk kepada yang maha kuasa, lalu ia mendapatkan ptunjuk bahwa ia harus membuat rakit lalu ia bersemedi di atas rakit itu. Lalu dibuatnya rakit dan ditaruh di tengah sungai kemudian ia bersemedi diatas rakit itu selama 7 (tujuh) hari tujuh malam, dengan kekuasaan yang maha pencipta kedua daratan itu menyatu dan arah sungai dari kidul berubah mengalir jadi kewetan. Setelah berhasil memenuhi syarat dari bidadari itu kyai mandiri pergi menemui bidadari. Akhirnya kyai mandiri menikah dengan bidadari itu, mereka pun hidup bahagia dan mempunyai anak. Kyai mandiri pun membuat pondok pesantren, pesantren itu sangat maju. Namun pada saat pesantren itu maju yang maha kuasa memanggil kyai mandiri kembali kepangkuannya, dan sang bidadari itu pun kembali ke kayangan.

Kyai mandiri dimakamkan di dataran pasir di bawah pohon salam tempat di mana ia bermimpi dan bertemu sang istri lalu masyarakat di sana menamakan daerah itu pasirtanjung. Sampai sekarang makam kyai mandiri banyak orang yang berziarah ke sana, bahkan menurut cerita masyarakat setempat kalau ada orang yang berziarah hari jum’at dan dia bisa melihat sumur tujuh warna itu, ia akan mendapatkan kebahagiaan yang abadi apa bila dia bisa mandi dan meminum air sumur tujuh warna itu.

SEJARAH KAMPUNG CIKIRAY YANG ADA DI DESA PASIRTANJUNG

Ketika masa penjajahan belanda, ada seorang pemuda yang bernama abdul barry, yang hidup di suatu kampung yang bernama kp. Cikiray, kampung ini dinamakan kp. Cikiray karena pada saat itu, banyak pohon kiray yang tumbuh di sekitar rumah penduduk, sehingga nama kampungnya pun di namakan kp. Cikiray. Dan kampung tersebut di jajah oleh belanda. Pada waktu itu, para penjajah belanda heran melihat seorang pemuda yang bernama abdul barry, melihat tangannya yang halus, karena beliau hidup di sebuah pesantren, sehingga tangannya pun halus. Kemudian para penjajah belanda memukuli tangan si pemuda tersebut, dengan sepotong kayu yang sudah di haluskan, tangan si pemuda di letakkan di atas kayu yang berbentuk tongtrong, dan di pukuli tangan si pemuda, hingga pemuda tersebut merasa kesakitan. Beriringnya waktu Indonesia pun merdeka dan si pemuda tersebut menjadi seorang kiyai atau ulama besar di kampung cikiray, memimpin, mengayomi masyarakat yang hidup pada masa itu.

Ketika tiba waktunya shalat lima waktu, beliau melarang santri – santrinya untuk memukul tongtrong, yang mengisyaratkan bahwa waktu shalat sudah tiba. Alasan beliau melarang santri – santrinya untuk memukul tongtrong, yaitu Karena beliau trauma atas kejadian yang di alaminya ketika masa penjajahan belanda. Karena beliau adalah salah satu tokoh yang di hormati oleh masyarakat atas jasa – jasa yang telah di berikan kepada masyarakat pada masa itu, sehingga nama beliau di ambil dan di jadikan nama jalan, sehingga alamat kp. Cikiray, yaitu jalan kiyai abdul barry kp. Cikiray.

 

SILAKAN BERI KOMENTAR

Temui Kami di Facebook

Statistik

  • 5Dibaca Hari Ini:
  • 1839Dibaca Kemarin:
  • 13942Dibaca Per Bulan:
  • 346842Total Pengunjung:
  • 5Pengunjung Hari ini:
  • 13279Kunjungan Per Bulan:
  • 4Pengunjung Online: