Pendidikan Seumur Hidup

Menurut Knowles dalam (Dave, 1975) pendidikan seumur hidup merupakan sejarah dinamika peradaban manusia yang terjadi pada perubahan budaya individu, dimana pendidikan adalah suatu proses pengiriman pancaran budaya yang menggambarkan peran guru sebagai sumber informasi dan menganggap pendidikan sebagai suatu agen untuk peserta didik. Dalam setiap jengkal waktu terjadi perubahan budaya untuk itu manusia perlu mempersiapkan diri menghadapi perubahan-perubahan baru dengan pelatihan-pelatihan. Peran guru harus bergeser dari sebagai sumber informasi ke arah penelitian dan pendidikan harus dihormati sebagai suatu proses panjang, karena pengetahuan akan dapat diperoleh pada setiap titik waktu.

Secara mendasar penetapan dalam bidang pendidikan sudah ditekankan melalui banyak kritikan analis-analis sosial. Masih menurut Knowles dalam (Dave, 1975) pada umummnya inti kritikan yang dimaksudkan menilai bahwa sekolah telah gagal menerapkan sistem pendidikan, dimana pendidikan tidak dapat menyatukan antara sifat manusia dengan sifat alami proses perubahan manusia. Karena itu model pendidikan seumur hidup harus dikembangkan.

Sifat yang menyeluruh dari pendidikan merupakan suatu proses yang kekal, secara teoritis kelebihan dari variasi tentang aspek dan keterlibatan kompleksitas dan kesempurnaan praktis tentang pendidikan pada kenyataannya merupakan pekerjaan perorangan, kelompok atau bahkan lembaga (institusi). Secara konseptual seperti halnya pada tingkat operasional, usaha-usaha substansi telah banyak dibuat suatu kebijakan oleh pemerintah atau suatu Negara dari tahun ke tahun, dalam skala nasional dan global, yang dalam pengaturan dan operasionalisasi kini dalam dunia pendidikan disebut sebagai pendidikan seumur hidup.

 

Model pendidikan seumur hidup ini menurut Knowles dalam (Dave, 1975) terdiri dari beberapa asumsi dan unsur  antara lain :

 

Mengembangkan Kemampuan Peran Pendidikan Seumur Hidup

Asumsi pertama tujuan pendidikan adalah pengembangan kemampuan dalam melaksanakan berbagai peran yang diperlukan di dalam hidup manusia yaitu peran kemampuan taksonomi seperti tergambar dalam daftar berikut :

 


           
Peran

Kompetensi

Pelajar Membaca, menulis, komputerisasi, merasa, konsepsi, evaluasi, bayangan, keingintahuan
Keunikan diri sendiri Analisa diri sendiri, merasakan, keberhasilan pembangunan, obyektifitas, kejelasan nilai, ekspresi, spritual
Kekerabatan Kasih sayang, empati, mendengarkan, kolaborasi, berbagi rasa, saling menolong, saling memberi dukungan
Warganegara Kepedulian, partisipasi, kepemimpinan, pengambilan keputusan, akting “konkrit”, musyawarah, perspektif (budaya dan historis)
Anggota keluarga Pemeliharaan Kesehatan, perencanaan, manajemen, pertolongan, pembagian, belanja, simpanan tabungan, kasih sayang, tanggung jawab
Pekerja Perencanaan karier, mempunyai keterampilan teknis, supervisi, bagian dari kelompok, kerja sama, perencanaan, mendelegasikan, manajemen
Penggunaan waktu sumber daya pengetahuan, apresiasi seni dan humanisme, performa, bermain, rilex, refleksi, perencanaan, mengambil resiko
Perencanaan Cita-cita, merencanakan kebutuhan, prioritas kebutuhan, strategi, evaluasi, agenda, tindakan, ketekunan

 

Pengembangan Keterampilan Siswa

Asumsi yang kedua dari tujuan pendidikan di sekolah adalah untuk membantu peserta didik belajar keterampilan-keterampilan. Sasaran akhir pendidikan adalah tingkah laku “mengarahkan diri sendiri secara efisien untuk mewujudkan ke arah mengoreksi diri sendiri”. Paling sedikit anak mengikuti keterampilan-keterampilan berikut:

1) Kemampuan untuk berkembang dengan sentuhan keingintahuan “kemampuan terlibat dalam pemikiran divergen”.

2) Kemampuan merumuskan pertanyaan-pertanyaan, didasarkan pada sifat yang dapat dipertanggungjawabkan melalui penelitian (berlawanan dengan pertanyaan-pertanyaan yang bersifat dapat dipertanggungjawabkan oleh otoritas atau iman). Ketrampilan ini adalah permulaan kemampuan untuk terlibat dalam pemikiran konvergen atau penalaran induktif.

3) Kemampuan untuk mengidentifikasi data yang diperlukan untuk menjawab berbagai pertanyaan.

4) Kemampuan untuk menempatkan sumber yang relevan dan dapat dipercaya dari data yang diperlukan (termasuk ahli-ahli, guru, literatur, rekan kerja, kepekaan perasaan, berbagai media audio visual, dan masyarakat).

5) Kemampuan untuk memilih dan menggunakan alat paling efisien untuk mengumpulkan data yang diperlukan dari sumber yang sesuai.

6) Kemampuan untuk mengorganisir, meneliti, dan mengevaluasi data agar mendapatkan jawaban-jawaban yang valid.

7) Kemampuan untuk menerapkan, dan mengkomunikasikan jawaban, dan terbuka pada kritik yang membangun.

 

Pengembangan “Kegiatan Pembelajaran”

Asumsi yang ketiga adalah kurikulum diorganisir secara efektif untuk mencapai tujuan pendidikan di sekolah harus tersusun menurut suatu rangkaian yang bersumber dari pembelajaran individu, dengan pemahaman bahwa beberapa individu dalam pembelajaran terlibat bersama-sama dalam suatu kegiatan pelajaran secara kolaboratif. Di sini, pelajar diperkenalkan sebagai suatu “pusat sumber daya pembelajaran” dan guru diperkenalkan sebagai “konsultan pembelajaran”.

Masing-masing kegiatan individu akan diproses menurut proses yang semestinya bagimana peserta didik harus belajar. Kegiatan pembelajaran bisa juga disebut “belajar untuk belajar”. Kegiatan yang pertama disebut juga “belajar untuk meminta pertanyaan-pertanyaan tentang berbagai hal yang dilihat”. Kegiatan kedua sebagai “belajar untuk mendapatkan informasi dari orang-orang sekitar”. Kegiatan yang ketiga sebagai “belajar mendapatkan informasi untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan”. Rencana selanjutnya sebagai “belajar untuk memberikan informasi apa yang dapat dijawab dan mendapatkan reaksi-reaksi orang lain”. Suatu pilinan yang kedua akan mengikuti “belajar untuk meminta pertanyaan-pertanyaan tentang berbagai hal yang terjadi di rumah”, dengan suatu rangkaian kegiatan yang sama. Pilihan berikut peserta didik akan mengikuti kegiatan secara meluas dan memperdalam pola dari pengalaman di sekolah, di rumah, tempat rekreasi, organisasi-organisasi, masyarakat, dan sebagainya.

Setiap tahap pengembangan (ditentukan oleh prosedur diagnostik) konsultan proyek pembelajaran atau dalam hal ini pemangku kebijakan akan mendorong peserta didik kepada kemampuan peran yang sesuai kemampuan pribadinya. Sebagai contoh, untuk pelajar awal, kemampuan awal dipengaruhi peran dari sesama pelajar, teman, anggota keluarga, dan keefektifan penggunaan waktu. Penggunaan kekuatan peranan tersebut harus fokus sampai tahun-tahun berikutnya sehingga kemampuan-kemampuan kompleks akan terus meningkat. Pada awal masa remaja, penekanan itu akan secara berangsur-angsur bergeser kepada peran dari diri sendiri dan masyarakat.

Masing-masing peserta didik akan memilih satu set kompetensi dimana kegiatan pelajaran akan selalu dikembangkan dengan bantuan siswa, konsultan kegiatan (guru) dan tenaga yang relevan. Penekanan penempatan penggunaan sumber belajar, peserta didik harus terus menerus secara proaktif dan melibatkan lingkungan di dalam masyarakat.

Konsultan pembelajaran atau guru akan melibatkan peserta didik dalam satu penyelesaian analisa dari pengalaman dalam bermacam dimensi, termasuk keuntungan penggunaan teori, keuntungan kemampuan pembelajaran, keuntungan sikap (dan kerugian-kerugiannya), dan hasil diagnosa dari kebutuhan-kebutuhan lebih lanjut.

Hasil yang diharapkan secara berangsur-angsur menjauh dari persepsi bahwa ia sibuk dengan pendidikan yang diterima di sekolah, dan ketika ia sudah memperoleh ketrampilan-ketrampilan belajar yang sesuai dengan cita-citanya, ia akan datang untuk melihat dirinya sebagai suatu diri sendiri belajar menggunakan sumber daya pembelajaran yang berpusat pada sumber daya yang tersedia pada dirinya dalam terminologi sisa hidupnya dan yang ada dalam dirinya pendidikan seumur hidup.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

Sumber Utama :

R. H. Dave, (1975), Reflections On Lifelong Education And The School, Hamburg, Unesco Institute For Education

 

Sumber Pengayaan :

Agus S. (2008). Pendidikan Seumur Hidup. [Online]. Tersedia: http://agussutisna-toloheor.blogspot.com/2008/04/pendidikan-seumur-hidup.html. [18 November 2008]

Arjuna (2008) Pendidikan Seumur Hidup. [Online]. Tersedia: http://my.opera.com/arjuna_kabel/blog/2008/01/04/pendidikan-seumur-hidup/ [18November 2008]

Arsyad (2008) Guru Sebagai Inspirasi Pendidikan Seumur Hidup [Online]. Tersedia: http://arsyads.wordpress.com/2008/03/12/guru-sebagai-inspirasi-pendidikan-seumur-hidup/ [18November 2008]

Ibrahim, (1988), Inovasi Pendidikan, Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Nurin. (2008). Pendidikan Seumur Hidup. [Online]. Tersedia http://pendidikanuntuksemua.wordpress.com/2008/11/18/pendidikan-seumur-hidup/ [18November 2008]

Rusman, (2008), Manajemen Kurikulum, Bandung: Mulya Mandiri Press.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

SILAKAN BERI KOMENTAR

Temui Kami di Facebook

Statistik

  • 36Dibaca Hari Ini:
  • 1839Dibaca Kemarin:
  • 13973Dibaca Per Bulan:
  • 346869Total Pengunjung:
  • 32Pengunjung Hari ini:
  • 13306Kunjungan Per Bulan:
  • 0Pengunjung Online: