PERANG BUBAT , DIMANA ?

Bubat, di manakah gerangan? Dicari-cari peninggalannya sampai pelosok Trowulan, tetap tak kunjung ditemukan. Padahal, Trowulan selama ini merupakan situs yang ditenggarai bekas ibu kota Kerajaan Majapahit, tempat Raja Hayam Wuruk bertahta dengan Mahapatih Gajah Mada.

Bubat merupakan nama tempat di Majapahit yang selalu menimbulkan luka emosional masyarakat Sunda. Namun tulisan ini sama sekali tidak bertujuan mengangkat luka lama. Peristiwa Bubat yang banyak disebut-sebut dalam naskah kuno Sunda, rencananya akan diangkat menjadi tema cerita film Pemerintah Daerah Propinsi Jawa Barat dan Jawa Timur. Tetapi yang menjadi pertanyaan, bisakah peristiwa itu mempertautkan budaya dua wilayah tersebut?

Jika menoleh ke belakang, sejarah masa lalu yang akan dijadikan pertautan budaya kedua wilayah ini diwakili oleh Kerajaan Sunda Galuh dan Kerajaan Majapahit. Kedua kerajaan yang setara itu berusaha menjalin hubungan yang lebih erat lewat perkawinan. Tetapi setelah tiba di Bubat, kisah yang dialami rombongan Kerajaan Sunda justru berakhir dengan tragis.

Rombongan yang dipimpin Prabu Linggabhuana itu bertujuan mengantarkan putri kesayangannya Dyah Pitaloka Sunda atau Dewi Citraresmi yang akan dijadikan permaisuri Hayam Wuruk. Namun karena kesalahpahaman, rombongan tersebut akhirnya habis tumpas karena perang yang tidak seimbang.

Prabu Linggabhuana yang merasa direndahkan karena putri kesayangannya dianggap sebagai persembahan dari kerajaan bawahan, lebih memilih mempertahankan kehormatannya. Ia gugur bersama putri kesayangannya. Seluruh rombongan memilih belapati. Karena itu, peristiwa Bubat sering disebut perang Bubat.

Walaupun Gajah Mada sudah mengeluarkan Sumpah Palapa, namun Majapahit tidak pernah meluaskan wilayahnya ke Sunda. Kedua kerajaan tersebut berdiri sejajar seperti sebelum peristiwa terjadi.

Di mana ibu kota Majapahit

Peristiwa Bubat sama sekali tidak disinggung dalam naskah Negarakretagama atau Desawarnana karya Mpu Prapanca. Sebaliknya, peristiwa itu mendapat tempat dalam naskah-naskah kuno Sunda yang ditulis dua abad kemudian. Naskah-naskah itu antara lain Pararaton, Kidung Sunda, Carita Parahyangan, dan naskah Wangsakerta. Bahkan menurut penuturan Zoetmulder (1974;1985), kisah itu terdapat pula dalam Kidung Sunda naskah Bali (I Gusti Ngurah Bagus, 1991).

Akan tetapi, tempat yang banyak disebut-sebut dalam naskah kuno Sunda itu sangat boleh jadi bukan terletak di Trowulan sebagaimana anggapan selama ini. Berdasarkan hasil foto udara dan ekskavasi situs tersebut menunjukkan, Trowulan, tempat yang ditenggarai menjadi pusat Kerajaan Majapahit itu memiliki banyak parit. Dengan demikian, secara logika, sulit dibayangkan bagaimana Prabu Hayam Wuruk datang ke lapang Bubat untuk menghadiri upacara keagamaan dan kenegaraan dengan mengendarai kereta yang ditarik enam ekor kuda sebagaimana diceritakan dalam naskah Negarakretagama. Namun, naskah yang berhasil diselamatkan saat terjadi Perang Lombok pada tahun 1894 itu, sayangnya tidak menyebutkan dimana letak Bubat.

Hayam Wuruk adalah raja terbesar Majapahit. Ia merupakan raja keempat Majapahit yang berkuasa selama tiga puluh tahun, dari tahun 1350-1389. Pendiri kerajaan ini, Raden Wijaya berkuasa selama tujuh belas tahun (1292-1309) dimulai dengan mendirikan pemukiman di hutan Tarik yang letaknya dekat Mojokerto. Di tempat inilah ia dinobatkan dan sekaligus menjadikan Tarik menjadi pusat kekuasaannya. Raden Wijaya digantikan putranya, Jayanegara (1309-1328) dan kemudian digantikan putrinya Tribhuwanatunggadewi yang berkuasa selama 22 tahun (1328-1530).

Walaupun selama Jayanagara dan Tribuwanatunggadewi berkuasa terjadi beberapa kali pemberontakan, namun ibu kota Tarik tidak jatuh ke tangan musuh. Dalam pandangan dan kepercayaan orang Jawa, widyapurbawan (arkeolog) Prof. Ayatrohaedi yang pernah lama meneliti situs Trowulan mengemukakan kepada penulis (2001), Tarik merupakan kota bertuah. Karena itu ia menyatakan, tidak ada alasan memindahkan ibu kota kerajaan ke Trowulan.

Akan halnya Bubat, menurut dia, merupakan kota bandar yang terletak di sisi sungai besar yang letaknya tidak jauh dari Tarik. Dengan mengutip keterangan penduduk setempat, Mang Ayat – begitu ia biasa disapa – lapang Bubat terletak di tepi Sungai Brantas yang palungnya membelok dari arah selatan ke utara, dan terus ke arah timur. Di tempat inilah kapal-kapal yang ditumpangi rombongan Prabu Linggabhuana berlabuh dan kemudian membangun perkemahan di atas lapang Bubat yang biasa digunakan upacara kenegaraan dan keagamaan.

Masih menurut penduduk setempat, di bagian selatan sungai ini pernah ditemukan sisa-sisa bangunan dan bata kuno dalam jumlah cukup banyak yang berserakan di mana-mana. Tempat ini ditenggarai sebagai lokasi pusat ibu kota Majapahit. Di tempat ini pula terletak Dusun Medowo yang dalam naskah Negarakertagama disebut Madawapura. Oleh karena itu, jika ingin menemukan tinggalan peristiwa Bubat, Mang Ayat (alm.) mengusulkan, penelitian harus ditujukan ke Tarik.

Sunda pasca-Bubat

Peristiwa Bubat, bukan hanya meninggalkan kesedihan mendalam. Dengan demikian, sampai sekarang, di Jawa Barat tidak dijumpai nama jalan yang menggunakan nama Hayam Wuruk dan mahapatihnya Gajah Mada. Akibat peristiwa itu pula, Kerajaan Sunda Galuh sempat mengalami kekosongan pimpinan. Calon penggantinya tidak bisa segera naik tahta.

Ketika terjadi peristiwa Bubat, Prabu Wastu yang lebih dikenal dengan Wastukancana baru berusia sekitar sembilan tahun. Sebelum dianggap cukup umur dan cakap memimpin, selama hampir sembilan tahun ia berada di bawah asuhan pamannya, patih Bunisora (Danasasmita, 1983/1984).

Wastukancana dikenal sebagai raja yang bijak dan berumur panjang sampai 104 tahun. Tinggalannya berupa enam prasasti terdapat di situs Astana Gede Kawali, Ciamis. Setelah wafat (1475), ia digantikan oleh dua orang putranya yang masing-masing berasal dari dua permaisuri. Wilayah Kerajaan Sunda yang meliputi Jawa Barat (termasuk Provinsi Banten dan DKI Jakarta) dan sebagian wilayah Provinsi Jawa Tengah akhirnya dibagi dua.

Sang Haliwungan dinobatkan menjadi Raja Sunda dengan gelar Prabu Susuktunggal. Saudara tirinya, Ningrat Kancana dinobatkan menjadi penguasa Galuh dengan gelar Prabu Dewa Niskala. Kedua wilayah kerajan dibatasi Sungai Citarum.

Tetapi di tengah perjalanan, Dewa Niskala harus turun tahta karena melakukan dua kesalahan. Setelah peristiwa Bubat, Raja Sunda dan kerabatnya tabu menikah dengan kerabat dari Majapahit. Dewa Niskala justru menikahkan putrinya, Ratna Ayu Kirana dengan Raden Baribin, kerabat Kerajaan Majapahit yang mengungsi bersama rombongannya ke Galuh karena pergolakan politik di sana dengan jatuhnya Prabu Kertabhumi (Brawijaya V). Yang kedua, ia sendiri menikah dengan salah seorang gadis dalam rombongan tersebut. Gadis tersebut sudah bertunangan namun terpisah dengan kekasihnya, yang dalam Carita Parahyangan dinamakan “estri larangan ti kaluaran”. Wanita yang tidak boleh dikawin.

Dewa Niskala digantikan putranya yang bernama Jayadewata. Ia berhasil mempersatukan dua wilayah yang sebelumnya terpisah. Lewat perkawinannya dengan Kentring Manik Mayang Sunda, putri Prabu Susuktunggal dari Sunda, untuk kedua kalinya ia dinobatkan dengan gelar Sri Baduga Maharaja.

Sri Baduga Maharaja memilih berkedudukan di Pakuan yang terletak di kota Bogor sekarang. Ia berhasil mengantarkan Kerajaan Sunda Pajajaran ke puncak kejayaanya. Dalam karya sastra, namanya sering diidentikkan dengan Prabu Siliwangi. (Her Suganda, wartawan/penulis lepas)***

________________________________________

Sumber: Harian Pikiran Rakyat, Kamis 22 Oktober 2009

SILAKAN BERI KOMENTAR

Temui Kami di Facebook

Statistik

  • 1534Dibaca Hari Ini:
  • 1035Dibaca Kemarin:
  • 13632Dibaca Per Bulan:
  • 346608Total Pengunjung:
  • 1429Pengunjung Hari ini:
  • 13045Kunjungan Per Bulan:
  • 18Pengunjung Online: