PERANG SALIB A

PERANG SALIB 1
Ilustrasi Kekejaman Pasukan Perang Salib I
Ada beberapa versi tentang periode perang salib. Dari kedua belah pihak, Muslim dan Kristen menyebut jumlah yang berbeda. Pihak Muslim mengatakan bahwa ada 8 episode perang salib. Sedangkan pihak Kristen mengatakan bahwa perang salib ada 9 episode. Dibawah ini akan saya coba uraikan episode perang salib dengan ringkas dan jelas tanpa mengurangi esensi utama dari tiap episodePerang salib I (1095-1101)
Penyebab utama terjadinya perang salib adalah permintaan kekaisaran Byzantium (Eropa timur) kepada gereja katolik Roma. Permintaan bantuan oleh kekaisaran Byzantium (Eropa timur) terjadi dua kali yaitu pada tahun 1074, dari Kaisar Michael VII kepada Paus dan sekali lagi pada tahun 1095, dari Kaisar Alexius I Comnenus kepada Paus Urbanus II.

Maka, permintaan yang datang dari Kekaisaran Byzantium yang sedang diancam oleh kaum Muslim Seljuk, menjadi perhatian semua orang. Dan menjadi momentum yang dinanti oleh Paus Urbanus II (pengganti Paus Gregorius VII).

Paus mengumumkan dan mengirimkan surat ke semua Raja-Raja di seluruh Eropa. Paus menjanjikan kejayaan, kesejahteraan, emas, tanah di Palestina, dan surga bagi para ksatria yang mau berperang. Paus menyebutnya “Ini Perampasan,” oleh karena itu tanah suci Palestina harus direbut kembali. Perang ini diumumkan sebagai “Perang Salib” dan dimulai tahun 1096 dipimpin oleh tahta suci Roma.

Sebelumnya raja-raja dan para bangsawan Eropa asyik bertempur sesama mereka. Paus mendorong mereka untuk berdamai satu sama lain dan memusatkan kekuatan militer mereka untuk tujuan yang konstruktif yaitu membela kekristenan dari agresi Muslim, membantu Kristen Timur, dan mengambil alih kembali Kubur Kristus. Dia juga menekankan perlunya pertobatan dan motif spiritual dalam melakukan kampanye ini, menawarkan pengampunan total bagi mereka yang berkaul untuk melakukan tugas ini. Jawaban dari para hadirin sangat antusias, para hadirin berteriak “Deus Vult!” (Tuhan menghendakinya!).

Dalam Kosnili Clermont juga ditetapkan bahwa mereka yang pergi untuk melaksanakan tugas akan memakai Salib Merah (Latin:Crux) yang kemudian membuat kampanye ini disebut Perang Salib.
Anak-anak muda, bangsawan, petani, kaya dan miskin memenuhi panggilan Paus. Peter The Hermit dan Walter Si bokek memimpin kaum miskin dan Petani-petani ke Perang Salib tapi mereka dikalahkan dan dihancurkan oleh Pasukan Turki suku Seljuk di Medan pertempuran Anatolia dalam perjalanan menuju Jerusalem. Para pencatat sejarah tidak membuktikan keberadaan tentara salib pertama ini dan mereka meniadakan penyebutan tentara ini dalam semua catatan mereka. Mereka hanyalah dianggap sebagai gerombolan petani yang fanatik, dan dianggap bukan pasukan resmi gereja. Kegagalan tentara salib pertama ini tidak diakui secara resmi karena ini akan membuat seluruh gerakan ini dipertanyakan. Kekalahan dari Turki adalah hal yang sangat memalukan. Tentara salib pertama ini diabaikan dan lebih populer dengan legenda “Perang Salib Petani”.

Pasukan yang benar-benar tentara sebenarnya berasal dari Perancis dipimpin oleh Baldwin dari Flanders, Robert dari Normandia, dan beberapa bangsawan. Pasukan ini menang melawan Khalifah Abdul Hakim pertama di medan Perang Anthiokia (sekarang Syiria) tanggal 3 Juni 1098 dan setahun kemudian memasuki dan merebut Jerusalem pada tanggal 15 Juli 1099 mereka mengalahkan pasukan Muslim dan Yahudi. Terjadilah pembantaian keji oleh Orang Kristian terhadap umat Islam dan Yahudi di Yerusalem. Sebanyak 40.000 orang tak berdaya dibunuh dalam dua hari.

PERANG SALIB 2
Ada beberapa penafsiran tentang berapa kali Perang Salib itu terjadi. Batas antara Perang Salib yg satu dgn yg lainnya secara pasti tidak dapat ditentukan. Menurut K. Hitti tiga kali menurut Shalaby tujuh kali sedangkan menurut Sa’ad Abd Fatah ‘Asyur delapan kali. Karena itu utk memastikan kebenarannya perlu penelitian lebihn lanjut. Saya akan menguraikan apa yg ditulis Syalaby. Perang salib I Ide Perang Salib I bersumber dari pidato Paus Urban II pada tahun 1095 di Clermont daerah tenggara Prancis. Ia menganjurkan perang suci melawan kaum muslimin di Timur dgn satu teriakan “Inilah kehendak Tuhan” . Hal ini sebagai hasil pendekatan berkali-kali kepada Paus Urban II oleh Emperor Alexius Comnenus yg posisinya sedang terdesak di Asia kecil oleh dinasti Saljuq. Pada tahun 1097 sebanyak 150.000 orang sebagian besar dari Jerman dan Normandia dikerahkan dalam tiga angkatan di bawah pimpinan Raja Godfrey Raja Bohemond dan Raja Raymond. Mereka bertemu di Konstantinofel. Tetapi tampaknya tidak semua raja di Eropa menopang gerakan salib ini. Dalam pertemuan bersejarah di Clermont itu ada juga yg tidak hadir utk menyatakan keikutsertaannya. Dari semula Paus Urban II merasa perlu dukungan dari kekuatan sekular. Para uskup bersidang dan mengeluarkan keputusan yg menyatakan bahwa tiap yg turut serta dalam perang suci akan mendapatkan pengampunan dosa dan kekayaan para bangsawan selama berperang dalam pengamanan gereja. Sidang itu juga enghasilkan kesepakatan sebagai simbol gerakan bahwa pakaian tiap orang yg turut berperang akan diberi tanda salib merah pada bagian pundak dan punggung dan gerakan diarahkan menuju Konstantinofel. Keputusan lainya siapa saja yg pulang tanpa menunaikan tugasnya akan menerima hukuman dari gereja. Angkatan Perang Salib I ini terdiri dari tiga kelompok. Kelompok pertama dipimpin oleh Raja Godfrey of Bouillon dari Lorraine dan saudaranya Baldwin. Kelompok kedua dipimpin oleh Bohemond dari Normandia. Dan angkaan ketiga dipimpin oleh Raymond IV dari Provinve yg didampingi utusan pribadi Paus Uskup Adheman. Di samping itu Raymond memperingatkan Paus akan pentingnya bantuan dari Genoa yaitu bantuan angkatan lautnya. Akhirnya Gemoa memberikan bantuan dua belas kapal perang utk menopang Perang Salib ini. Karena itu Genoa mendapat hak atas pelabuhan-pelabuhan Syiria. Ketiga kelompok tentara Salib tersebut setelah sampai di Konstantinofel harus tunduk kepada pimpinan dan komando Kaisar Alexius Comenus. Pada mulanya ada perlawanan terutama dari Godfrey dan Raymond. Namun akhirnya mereka terpaksa tunduk kepada kekuasaan Bizantium. Di samping itu Kaisar Bizantium dapat memaksakan suatu perjanjian “Setelah menaklukan daerah-daerah di Asia Kecil dan dan di Syam para raja harus mengembalikan daerah-daerah bekas kekuasaan Bizantium yg di rebut oleh Saljuq”. Dari fakta-fakta tersebut nampak bahwa pihak Bizantium Timur Alexius cukup berpengalaman dalam memaksakan keinginannya mempertahankan daerah-daearah jajahannya. Dari pihak raja-raja juga sebenarnya hendak mendirikan pemerintahan masing-masing. Perlawanan terhadap kekaisaran Bizantium dibalas dgn pemboikotan bahan makanan sehingga mereka tidak berdaya menghadapi Kaisar Alexius itu seperti terjadi terhadap Godfrey. Peselisihan Emperor dgn Raymond tidak setajam dgn Godfrey krn dapat diredakan oleh utusan Paus Adhemar. Namun perselisihan ini berlanjut ampai raja-raja mengingkari janjinya. Ini merupakan kelemahan pihak tentara Salib sehingga Paus menjadi kecewa. Pada permulaan 1097 tentara Salib mulai menyeberangi Selat Bosforus bagaikan air bah. Mereka berkemah di Asia Kecil yg ketika itu dikuasai oleh Dinasti Saljuq Qolej Arslan. Mula-mula mereka mengepung pelabuhan Naicaea selama sebulan sampai jatuh ke tangan tentara Salib pada tanggal 18 Juni 1097. Ini berarti Bizantium telah merebut kembali apa yg telah dikuasai dari Antioch selama enam tahun. Tentara Bizantium di bawah pimpinan Emperor mengadakan perundingan dgn penguasa kaum muslimin seputar penyerahan kota itu kepadanya dgn jaminan muslim Turki akan diselamatkan. Hal ini mengejutkan tentara Salib krn merasa kalah cepat oleh kelihaian Emperor. Tentara Salib terus maju. Pertempuran di Darylaeum meluas ke tenggara Nicaea sampai akhir 1097. Tentara Salib meraih kemenangan krn Saljuq dalam keadaan lemah. Mereka berhsil memasuki selatan Anatolia dan Provinsi Torres. Di bawah pimpinan Baldwin mereka mengepung Ruha yg penduduk Armenianya beragama Kristen. Rajanya Turus telah melantik Baldwin utk menggantikannya setelah ia mati sehingga Baldwin dapat menaklukan Ruha pada tahun 1098. Bohemond menaklukan Antioch ibu kota lama Bizantium pada tanggal 3 Juni 1098 setelah susah payah mengepungnya selama sembilan bulan. Antioch termasuk benteng yg sangat kuat krn secara geografis sangat strategis-setelah konstantinofel- dgn gunung-gunungnya yg mengelilingi sebelah utara dan timur dan sungai yg membatasinya. Jatuhnya Antioch dari Yagi Sian disebabkan oleh berpecah-belah dan lambatnya bantuan dari Salajiqoh Persia serta terjadinya pengkhianatan di dalam Antioch sendiri oleh bangsa Armenia yg tentu memihak Kristen. Bantuan logistik dan perlengkapan dari Inggris dan armada laut Genoa yg tiba di pelabuhan Suwaida semakin memperkuat tentara Salib. Bahemond telah menunjukan keberaniannya yg luar biasa. Ketika tentara Salib mengalami krisis dalam pengepungan Antioch ini ia pura-pura bersedia pulang ke Italia. Dengan sendirinya tentara meminta-minta agar tidak ditinggalkan oleh pemimpinnya terutama pada saat yg kritis ketika mendapat serangan tentara gencar dari tentara Saljuq. Ia menuduh panglima Bizantium Titikios telah mengkhianati tentara Salib krn mengadakan hubungan rahasia dgn penguasa Saljuq-Turki utk menghancurkan tentara Salib. Hal ini menyebabkan kemarahan tentara Salib meluap-luap. Akhirnya Tatikios dgn tentaranya lari melalui pelabuhan Suwaida ke Pulau Cyprus krn takut dibunuh tentara Salib. Nampaknya kali ini Bahemond berhasil menempatkan dirinya sebagai satu-satunya panglima- setelah mendapat pengalaman menghadapi kaki tangan Emperor di Nicaea-sehingga ada alasan utk tidak menyerahkan Antioch kepada Emperor Bizantium. Di sini nampak persaingan kekuasaan antara Bizantium dan raja Eropa. Setelah penaklukan Antioch Bohemond dapat menguasai daerah-daerah sekitarnya. Raymond menguasai sebelah barat daya Antioch dan tidak mau menyerahkannya kepada Bohemond krn sebenarnya ia pun berambisi menguasai seluruh Antioch. Krisis ini baru bisa diselesaikan setelah Raymond diserahi pimpinan utk penyerangan ke Yerusalem krn ia mempunyai peluang utk menguasai daerah yg lbh luas di tanah suci itu. Akhirnya Antioch berada di bawah kekuasaan Kristen selama kurang lbh seperempat abad. Dalam perjalanan ke Baitul Maqdis Raymond mengadakan hubungan kerja sama dgn amir-amir Arab antara lain dgn Muwaranah yg memberikan bantuan kepada tentera Salib. Pemerintah Tripoli dan Beirut juga memberikan bantuan kepada tentara Salib mungkin krn Solidaritas agamanya lbh diutamakan daripada tanah airnya atau krn tidak tunduk kepada tentara Turki. Dalam tempo satu bulan Yerusalem sudah dapat direbut pada tanggal 15 Juli 1099. Kekalahan kaum muslimin Dinasti Fatimiyah yg menguasai Bait al-Maqdis sudah dapat dipastikan krn kota-kota penting yg merupakan pintu gerbang satu-persatu telah ditaklukan. Jumlah tentara Salib jauh lbh banyak daripada tentara Fatimiyah yaitu 40.000 orang . Penaklukan Bait al-Maqdis oleh tentara Salib diwarnai dgn pembantaian yg tak pandang bulu . Kaum muslimin-meliputi semua umur dan jenis yg tak berdaya-dibantainya. K. Hitti menuliskan “Heaps of heads and hand feet were to be seen throughout the street and squares of the city.” Para ahli sejarah mencatat jumlah korban pembantaian itu sekitar 60.000-100.000 orang lebih. Peristiwa yg kejam ini tentu menimbulkan pertanyaan “Benarkah motivasi agama menjiwai perang ini?” Akhirnya misi tentara Salib tercapai yaitu merebut Bait al-Maqdis dan berhasil mendirikan pemerintahan masing-masing Baldwin memegang tampuk kekuasaan di Ruha Bohemond menguasai pemerintahan di Antioch dan Godfrey menjadi penguasa di Yerusalem krn Raymond tidak terpilih menjadi penguasa di sana. Godfrey meninggal dunia dan digantikan saudaranya Baldwin I tanpa ada yg menyaingi krn Bohemond ditawan Raja Al-Ghazi Kamusytakin Turki. Meskipun Yerusalem telah dikuasai peperangan di Syam terus berlangsung. Raja Yerusalem menyerahkan kepemimpinan kepada Raymond utk menaklukan Tripoli di Syam. Kaum muslimin di Tripoli dapat mempertahankan pengepungan Salib selama delapan tahun. Pada tahun 1109 Tripoli jatuh ke tangan tentara Salib tetapi Raymond tidak sempai menyaksikan kejatuhan kota itu krn meninggal dunia ketika pengepungan mencapai puncaknya. Ia digantikan oleh Wiliam Yordan yg meninggal dunia pada tahun 1108. Wiliam kemudian diganti oleh Bertrand. Pada zaman Bertrand Tripoli dapat ditaklukan. Kota-kota penting lain yg ditaklukan ialah Akka dan Sur . Bersambung?! Sumber Gerakan Kembali ke Islam; Warisan Terakhir A. Latief Mukhtar K.H. Abdul Latief Mukhtar M.A. Al-Islam – Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

PERANG SALIB 3
Perang salib III (1188-92)
Episode perang salib III inilah yang paling legendaris. Karena adanya pertarungan sengit antara Raja Richard versus Sultan Saladin.

Pada tahun 1157, Nuruddin jatuh sakit yang cukup berat dan tak kunjung sembuh hingga dua tahun kemudian. Para amirnya telah diberitahukan dan mengusulkan untuk merebut Antiokhia, tapi Nuruddin menolaknya. Nuruddin tahu, ini belum saatnya untuk menyerang Yerusalem dan kota-kota sekitarnya. Kaisar Manuel dari Byzantium baru saja menaklukan Anatolia dengan kekuatan militernya. Kemenangan Byzantium di utara ini memaksa Nuruddin untuk mencari front pertempuran yang lain, karena adalah tindakan yang konyol melawan Byzantium yang tengah kuat secara moral setelah penaklukan Anatolia. Jika pun menang, itu pasti diraih dengan sangat tidak mudah dengan risiko banyak kehilangan nyawa prajurit. Pada tanggal 15 Mei 1174, Nuruddin wafat karena serangan jantung di usianya yang ke 60., tetapi kaum muslimin mendapatkan pengganti yang sepadan. Sultan Salahuddin/Saladin!
Sepeninggal Nuruddin pada tahun 1183, Saladin yang telah berhasil mengambil alih kekuasaan khalifah dari bani Fathimiyah yang syiah, memulai gerakannya untuk membebaskan Palestina dari tentara Salib. Pasukan Saladin menyeberangi Yordania dan menyerbu Galilea. Guy dari Lusignan, yang kini menjadi wali Kerajaan Yerusalem, segera saja memobilisasi tentaranya. Kedua pasukan kemudian berkemah berhadap-hadapan di kolam Goliath.
Disinilah terjadi perang Hittin yang berakhir dengan kemenangan gilang gemilang Sultan Saladin. Dimana kemenangan di perang Hittin berujung pada terbebasnya Yerusalem yang akan bertahan selama lebih dari 800 tahun, sampai tahun 1967 ketika Israel berhasil menginjak-nginjak kedaulatan bangsa Palestina. Dimana secara rinci kisah tentang perang Hittin akan saya posting tersendiri.

Setelah penaklukan Yerusalem, Bahauddin, sang penulis biografi Saladin, menceritakan pada kita sebuah kisah yang menunjukkan pandangan baru akan orang-orang Kristen. Waktu itu Bahauddin dan Saladin sedang berkuda di sepanjang pantai Palestina, memandang gelombang laut yang liar di musim dingin. Saladin berkata, “Aku pikir ketika Allah memberiku kemenangan atas seluruh tanah Palestina, maka aku akan membagi wilayahku, membuat wasiat untuk menyatakan harapan-harapanku, dan kemudian berlayar ke negeri-negeri mereka yang jauh dan memburu kaum Frank di sana, agar dunia terbebas dari orang-orang yang tak beriman pada Allah.”

Saladin sebenarnya sudah berniat untuk menyeberang ke Eropa dan menegakkan kalimat Allah di sana. Tapi untuk berjihad, Saladin tak perlu pergi ke Eropa karena tak lama setelah kemenangannya di Hittin, Raja William dari Sisilia segera berlayar ke Tirus dengan tujuan segera mengkonsolidasi kekuatan Kristen. Raja Guy dari Lusignan yang dibebaskan oleh Saladin, bukannya berterimakasih, tapi malah ikut bergabung dengan sisa kekuatan Kristen di Tirus dan kemudian berlayar ke Acre untuk mengepung sebuah benteng muslim di kota itu. Tentara Salib dalam jumah besar sedang berlayar dari Denmark dan Frisia untuk membantu Guy mengepung Acre.

Seiring dengan jatuhnya Yerusalem, Paus Gregory VIII menyerukan Perang Salib ketiga. Sayang waktunya bersamaan dengan matinya raja-raja yang pertama kali menjawab panggilan.

Namun tentara salib yang menanggapi seruan perang salib jilid tiga yang dilontarkan oleh Paus Gregory III, tidak terlalu semangat dalam menanggapinya. Baru pada 1191, hampir 4 tahun setelah perang Hittin, tentara salib yang utama sampai di Acre. Keterlambatan ini sebenarnya dikarenakan mereka sedang sibuk dengan masing-masing pertempurannya. Raja Philip Agustus dari Perancis dan Raja Henry II dari Inggris saling menyerbu tiada henti. Pada 6 Jui 1189 Henry II wafat dan Richard The Lion Heart mewarisi kerajaan Inggris.
Raja pertama yang menjawab seruan tersebut adalah William II dari Sisilia. Dia mengirimkan armada ke Timur tapi kemudian mati pada 1189. Henry II dari Inggris setuju untuk berpartisipasi, tapi juga mati di tahun yang sama. Kaisar Jerman, Frederick Barbarossa, yang telah ber-rekonsiliasi dengan Gereja (setelah sebelumnya sempat di ekskomunikasi), berpartisipasi dengan memimpin tentara yang besar yang mengalahkan Pasukan Seljuk pada 1190. Tapi bulan berikutnya, Kaisar yang sudah lanjut ini mati tenggelam saat dia iseng berenang di sungai Calycadnus yang terletak di dataran Seleucia dalam perjalanan ke Yerusalem.

Dua raja yang akhirnya memimpin Perang Salib ini adalah Richard I (“Si Hati Singa, Lion-Hearted), kakak Henry II dan penerusnya. Dan Raja Philip II Agustus dari Prancis.

Setelah wafatnya Henry II, perang pun berhenti dan Richard berkeinginan untuk berangkat ke timur sebagai tentara salib. Sebenarnya keinginan Richard bukan berdasarkan motivasi religius. Karena Richard adalah seorang prajurit, perang salib memberikan tantangan yang menggairahkan sebagai prajurit. Sedangkan Philip Agustus jauh lebih tidak bersemangat menanggapi perang salib, tapi ia sadar bahwa jika ia tidak mengikuti opini pubik dengan menunda keberangkatannya lebih lama, maka itu akan menjadi sebuah kesalahan politik yang cukup fatal. Philip Agustus dan Richard The Lion Heart sepakat untuk berdamai secara resmi dan berangkat bersama meninggalkan Eropa menuju Acre pada tahun itu.

Gerak maju kedua raja, Richard dan Philip, sangatlah lambat. Berangkat dari masing-masing negerinya, kedua raja ini sepakat untuk ketemu di Sisilia. Rencana mereka akan berlayar menuju Acre dan tidak menempuh jalur darat yang berbahaya.Philip sampai lebih dulu dan langsung mengatur pasukannya untuk mengepung Acre. Sedangkan Richard tertunda kedatangannya karena asih harus merebut Siprus dan menyerang sebuah kapal logistik kaum Muslim. Baru pada 6 Juni Richard sampai di Acre dan langsung ikut membantu pengepungan Acre.

Pengepungan Acre adalah sebuah pengepungan yang berkepanjangan dan membuat semua orang putus asa. Di dalam kota, pasukan Muslim berjaga-jaga dan kaum sipil menderita akibat pengepungan yang telah berlangsung 2 tahun. Di sekeliling benteng kota tentara salib berkemah mengepung. Sementara itu, di sekeliling kemah tentara salib, berkemahlah ribuan prajurit Muslim Saladin. Di dalam perkemahan tentara salib merebak wabah penyakit dan perseteruan politik antara Richard melawan Philip. Kondisi ini yang membuat mereka tak mampu menaklukkan Acre dengan cepat.

Tentara salib kali ini sangatlah berbeda dengan tentara salib sebelumnya yang sangat termotivasi dengan semangat kristus. Tentara salib pimpinan Richard dan Philip ini sangat sekuler dan terlihat sangat duniawi. Mereka sangat bersemangat ketika Richard menawarkan kepingan emas untuk setiap orang dalam pasukan yang dapat mengambil bongkahan batu dari benteng kaum Muslim. Ini berkebalikan dengan yang terjadi dalam pasukan Muslim, di mana setiap orang bertempur berlandaskan jihad membela agama. Saladin tetap mempertahankan kebiasaannya untuk membacakan hadist-hadist Rasulullah SAW di depan pasukannya sehingga motivasi jihad pasukannya tetap terjaga

Setelah pengepungan panjangnya, akhirnya kota Acre jatuh ke tangan tentara salib. Ketika melihat bendera Kristen dikibarkan dari benteng kota Acre pada tanggal 12 Juli, Saladin menangis bagaikan seorang anak-anak. Acre kemudian dikepung rapat oleh Saladin dari segala penjuru. Dan tentara salib ingin berunding dengan Saladin.

Dalam perundingan itu disepakati bahwa Acre akan diserahkan terhadap kaum Kristen bersama 15.000 orang Kristen yang menjadi tahanan Saladin. Begitu kesepakatan terjadi, Philip merasa telah selesai tugasnya dan kembali ke Perancis. Sedangkan Richard, yang kini menjadi pimpinan tentara salib satu-satunya, tetap tinggal di Acre dan mulai merencanakan operasi-operasi militer baru untuk melawan kaum Muslim. Karena merasa terbebani dengan besarnya jumlah tahanan, Richard menggiring keluar dari benteng 2700 orang Muslim termasuk anak-anak dan perempuan, untuk kemudian dibantai dengan darah dingin.

Di penghujung tahun perundingan menemui jalan buntu lagi, sedangkan pertempuran terus berlanjut. Richard berencana untuk merebut beberapa kota lagi di pantai sepanjang Askelon tapi Saladin selalu mampu merebut lagi satu kota ketika Richard baru saja berhasil menaklukkan kota lain. Ini adalah jalan buntu militer.

Sedangkan di pihak kaum Muslim, ada kepanikan yang melanda para amir. Banyak di antara mereka melarikan diri karena ketakutan ketika tentara salib maju hingga Beit Nuba. Seperti Saladin, Richard juga dalam kondisi putus asa. Setelah dua kali pasukannya dipukul mundur menjauh dari Yerusalem, para tentara salib ini marah dan nyaris timbul pemberontakan. Richard juga mendapatkan kabar buruk; Philip -temannya yang juga memimpin tentara salib bersamanya- kini tengah menyerbu tanah kekuasaannya di Perancis. Akhirnya Richard jatuh sakit. Saladin dengan ramah mengirim dokter pribadinya dan memberi hadiah buah-buahan dan es untuk dibuat minuman dingin.

Akhirnya pada 2 September Richard menyerah dan sebuah kesepakatan ditandangani yang mengatakan bahwa kedua belah pihak harus berkompromi dalam waktu 5 tahun ke depan. Saladin berjanji tidak akan mengusir semua orang Kristen dan memburunya ke Eropa. Sebagai gantinya akan ada suatu wilayah kecil sepanjang pantai, dari Jaffa hingga Beirut, yang dikuasai sebuah kerajaan Kristen dengan ibukota Acre. Raja kerajaan itu menyebut dirinya sebagai Raja Yerusalem. Sedangkan Ricahrd berjanji untuk tidak menyerang Yerusalem lagi tapi para peziarah Kristen masih diperbolehkan datang ke Yerusalem. Tentara salib pun akhirnya pulang kembali ke Eropa tanpa menaklukkan Yerusalem.

Setelah Richard The Lion Heart, Raja Inggris, beserta tentara salib yang dipimpinnya mampu diusir oleh Saladin dari Palestina, masih ada saja raja-raja, baron-baron Kristen Eropa yang mengadakan serbuan ke Palestina dan bermimpi untuk bisa menguasai Yerusalem sebagai ekspresi religius mereka. Tapi, sejarah mencatat tak satu pun dari mereka yang mampu menaklukkan Yerusalem hingga pada 1967 Palestina jatuh ke tangan orang-orang Yahudi dengan dukungan kuat negara-negara Kristen. Bahkan salah satu jenderal negara-negara Kristen ini menendang makam Shalahuddin Al-Ayubbi atau Saladin, seakan-akan cita-cita perang salib telah tercapai.

SILAKAN BERI KOMENTAR

Temui Kami di Facebook

Statistik

  • 1581Dibaca Hari Ini:
  • 1839Dibaca Kemarin:
  • 15518Dibaca Per Bulan:
  • 348289Total Pengunjung:
  • 1452Pengunjung Hari ini:
  • 14726Kunjungan Per Bulan:
  • 13Pengunjung Online: